GM-49-What happend?

2090 Words
Setelah kejadian di mana ia tertidur hampir dua pekan, Sian memutuskan untuk lebih banyak berdiam diri di kamar dan berpikir keras apa yang terjadi padanya selama itu. Baiklah, anggap saja ia tertidur selama dua pekan. Akan tetapi, jika benar itu yang terjadi, tidak mungkin keluarga dan sahabatnya tidak mengatakan apa - apa mengenai ia yang tidur selama itu. Baiklah, kalau begitu, bagaimana dengn lupa ingatan?. Sian merasa betah dan sehat betul. Sehingga tidak mungkin atau kecil kemungkinan ia menderita amnesia atau bahkan alzeimer atau... dimensia? Tidaktidak! Itu kemungkinan yang amat sangat kecil. Tapi, sepertinya Sian bisa mempertimbangkan untuk pergi ke rumah sakit dan memeriksa kesehatan otak dan tubuhnya yang lain. "Abang kenapa sih?! sejak kemaren betah banget di kamar? Padahal beberapa hari yang lalu sering banget ke luar rumah dengan alasan mau nongki sama temen," tanya Una, adik perempuannya yang ketiga seraya menyerahkan nampan sarapan ke kamar abangnya itu. Pasalnya, saking sibuknya ia meneliti, mencari alasan dan penjelasan di balik semua yang terjadi pada dirinya akhir - akhir ini, Sian gak ke luar kamar untuk sarapan dan bahkan ia gak tahu kalau hari sudah pagi. Sejak semalam, ia hanya tidur beberapa jam saja. Selebihnya yang ia lakukan adalah mencari di internet kasus - kasus yang barangkali pernah dialami oleh orang - orang lain di luar sana yang mirip dengan apa yang ia alami, lalu apa penyebab serta bagaimana mengatasinya. "Abang kecapean abis seminar, dek. Jangan bawel ah. Abang nanti siang abis zuhur dan makan siang, bakalan tidur siang dan gak ada jadwal buat ngampus. Jadi tolong jangan bangunin abang sebelum masuk waktu ashar, oke?" pintanya pada si bungsu yang menatapnya dengan memutar bola mata malas. Meski begitu, gadis dengan rambut sebahu itu tetap menganggukkan kepalanya dengan berat. Lalu memutuskan untuk ke luar kamar setelah memastikan abangnya itu menyantap sarapan pagi yang dibikin oleh ibu. Setelah menutup pintu kamar, Sian beranjak kembali ke kursi yang menghadap meja belajarnya. Di sana ada sebuah benda berbentuk kotak yang layarnya masih menyala. Gejala amnesia Ciri - ciri penderita alzehimer dan masih banyak lagi history pencariannya di sana mengenai gejala hilang ingatan dan penyakit serupa. Saat matanya sibuk menatap layar benda berbentuk kotak itu, sebuah pesan masuk sari ponsel berhasil mengalihkan atensinya. Pasalnya bunyi notifikasi pesan masuk itu tidak hanya sekali tetapi berkali - kali. "Ini siapa sih, nafsu banget spam chat pagi - pagi begini?" gumamnya seraya mengedarkan pendangan. Mencari keberadaan benda berbentuk pipih itu, karena suaranya nampak terdengar dekat dan jelas, namun ia tidak mendapatinya di atas meja belajar ataupun di atas kasur. Dan .... ternyata benda itu tengah tergeletak di atas rak buku. Entah kenapa bisa di sana, Sian bahkan lupa kapan terakhir ia menyentuh benda itu. Karena aktivitas mencari penyebab di balik kebingungan yang ia alami, itu semua di benda berbentuk kotak bernama laptop. Kemudian diraihnya benda berbentuk pipih itu dan kembali ke posisi duduk seperti semula seraya menatap layar ponselnya yang nampak menyala. Ada puluhan pesan masuk serta panggilan tak terjawab dari aplikasi w******p di sana dan yang paling menyita atensinya adalah pesan dari seorang perempuan yang selama ini hampir tidak pernah ia hubungi lewat pesan seperti ini. Sian mulai bertanya - tanya. Apa yang ia lakukan selama dua pekan terakhir? Jangan - jangan ia mnyebabkan masalah dengan pergi ke rumah gadis yang memang akhir - akhir ini menyita perhatian dan perasaannya. Akan tetapi, kenapa malah kakaknya yang mengirimkan pesan seperti ini? Sian mulai ovethinking padahal ia belum membuka ruang obrolan itu. Diana kknya Tri Kemarin kamu nampak kurang sehat Apa sekarang kamu baik - baik saja? Maaf kalau sikap saya kemarin membuatmu tidak nyaman Sian cukup tecengang dan mulai berpikir yang tidak - tidak. Jangan - jangan ... ia pernah salah bersikap atau salah berbicara di depan Diana? Tapi, hal yang membuatnya lebih terkejut dan tercengang adalah .... pesan yang ia kirimkan pada perempuan itu sebelum - sebelumnya. Damasian Malam kak Maaf kalau mengganggu waktunya. Besok apa kita bisa ketemu? Diana kknya Tri Malam juga Gak ganggu kok Besok? Sepertinya bisa, tapi ada hal apa yang bikin kamu mau ketemu saya? Apa kamu dan adik saya ada masalah? Damasian Gak ada masalah sama Tri kak Saya hanya ingin menyakan hal yang penting ke kakak yang gak bisa saya tanyakan lewat pesan(emot sungkem) Diana kknya Tri Syukurlah kalau hubungan kalian baik - baik saja InsyaaAllah kalau besok saya tidak ada halangan, kita bisa ketemu Kamu bisa kirimkan ke saya alamat tempat ketemunya di mana Damasian Baik kak. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih(emot sungkem) Diana kknya Tri Santai saja Sama - sama. Sampai pada obrolan terkahirnya dengan perempuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak dari gadis yang disukainya. Sian masih tidak percaya dan bertanya - tanya. Kapan ia mengirimkan pesan - pesan ini? Oke, ada keterangan waktu di riwayat pesan Siaaan. Gumam batinnya mengoreksi. Lalu, pria itu mulai memperhatikan dengan saksama semua pesan yang dikirimkannya pada Diana dan anehnya, Sian tidak bisa mengingat apapun. Ia tidak ingat kenapa ia mengirimkan pesan pada Diana. Ia tidak ingat apa yang terjadi saat mereka bertemu dan bagaimana bisa Sian mengalami semua kejanggalan ini. Semua pertanyaan mengapa dan bagaimana bisa, itu menumpuk di kepalanya tapi ia melupakan sesuatu. Saat Sian mulai merasa pusing dan meringis karena sejak semalam pikirannya dikuras habis - habisan. Sepertinya ia butuh tidur sebelum waktu zuhur tiba. Kalau menunggu selesai zuhur, sepertinya rasa nyeri di kepalanya akan terasa dua kali lipat. Ia sudah sarapan dan jiga minun air yang cukup. Meski begitu, nyeri di kepalanya masih belum beranjak. Karena ia tipikal orang yang tidak sedikit - sedikit minum obat ini minum obat itu. Maka dari itu, yang ia pikirkan saat ini adalah tidur. Namun, sebelum ia. Ia menyempatkan diri untuk membersihkan dan merapikan meja belajar dan menyapu sedikit lantai kamarnya. Lalu merebahkan tubuh ke kasur empuk yang dilapisi sprei abu - abu kotak. Kemudian menarik selimut agar menutupi bagian kaki sampai ke pinggang. Lalu mulai mencari posisi berbaring yang enak dan nyaman. Di tempat lain, seroang perempuan nampak menatap layar ponselnya dengan wajah bosan. Pasalnya, pesan yang ia kirimkan lima menit yang lalu masih belum ada balasan, hanya dibaca oleh pria itu. Entah kenapa, Diana nampak kecewa tanpa alasan. Toh, memang sebelumnya mereka tidak pernah saling berbalas pesan, kan? Tapi, sungguh, ia masih merasa heran dan bertanya - tanya. Apa maksud dari perlakuan Sian padanya waktu itu? Pria itu tiba - tiba mengajaknya untuk bertemu. Tiba - tiba menatapnya dengan tatapan asing dan aneh. Lalu, tiba - tiba memeluknya tanpa izin, tanpa aba - aba dan tanpa permisi. Terakhir, pria itu menatap kepergiannya dengan wajah sedih dan kehilangan. Baiklah, anggap saja ia yang baperan. Namun, tidakkah semua perempuan yang perlakukan seperti secara tiba - tiba akan merasakan hal sama dengannya? "Kakak mikirin apa sih? Dari tadi aku liatin kakak bengong sambil liatin layar ponsel mulu, kenapa?" Tri bertanya seraya meletakkan sepiring buah yang sudah dikupas dan dipotong kecil - kecil. Lalu ikut mendaratkan bokongnya di kasur empuk sang kakak. Diana yang menyadari kehadiran adik bungsunya itu segera mengalihkan pandangan dari layar ponselnya dan nampak sedikit terkejut. Bagaimana kalau Tri melihatnya menatap pesan masuk dari Sian? Biaa - bisa adiknya berpikir yang tidak - tidak. "Enggak apa - apa kok, dek hehee. Cuma kepikiran sama kerjaan." Diana nampak tersenyum kikuk seraya memastikan layar ponselnya tidak menampilkan ruang obrolannya dengan Sian. "Besok Tri ujian. Kak Di, bangunin ya.. Takutnya alarm gak berguna buat aku yang tidurnya ngebo," pinta si bungsu seraya menampilkan wajah memelasnya yang khas. "Gitu aja, pake acara ngerayu kakak segala. Pasti ada yang lain nih," tebak Diana seraya menatap adiknya itu dengan skeptis. "Eng... sekalian besok anrterin juga hehehe," ungkap gadis itu seraya nyengir kuda. Diana menghela napas seraya tersenyum. "Iyaaa kakak anterin. Asal jangan kesiangan aja." "Makanya Tri udah wanti - wanti minta kakak bangunin, gitu." Diana bangkit seraya memasang wajah seolah sedang mempertimbangkan. "Makanya, pasang alarm double bila perlu triple." Kadang, Tri sedikit kesal dengan sifat kakaknya yang suka mengungkit hal yang sebenarnya sudah clear. Kan, masalahnya Tri takut kesiangan. Lalu ia akan memasang alarm dan sebagai penunjang, ia akan meminta tolong kak Di buat bangunin agar ia tidak kesiangan. Kenapa diungkit lagi soal pemasangan alarm? "Siyaaap! Tri bakalan pasang tiga sampai sepuluh alarm yang hanya berbeda menitnya aja." Diana terkekeh melihat tingkat adiknya itu. Meski sudah pasang alarm sampai supuluh kali pun, Tri tetap terlambat bangun pagi karena keenakan tidur. "Kalau gitu, Tri balik ke kamar dulu." Diana menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Makasih loh, buahnya," ucapnya pada sang adik terasa melangkah mendekati pintu kamar. Tri tersenyum dan mengatakan sama - sama seraya mulai membuka pintu kamar dan beranjak ke luar. Sesampainya di kamar. Tri, gadis itu nampak murung dan menahan air matanya agar tidak jatuh. Dikuncinya pintu kamar lalu beranjak mendekati kasur dan menghempaskan tubuhnya di sana. Manik matanya bergerak ke sana ke mari bersamaan dengan pertanyaan yang menumpuk dan berenang - berenang di dalam kepalanya. Tri tahu, Diana masih setia menyembunyikan hubungan kakaknya itu dengan Sian darinya. Tapi, ia tidak tahu kenapa kakaknya melakukan hal itu. Mata yang semula berkaca - kaca, kini sudah banjir dengan air mata yang perlahan membasahi pipi tembemnya. Bahkan Sian terlihat begitu tertarik dengan kakaknya, dilihat dari isi pesan yang sempat Tri baca saat kakaknya melamun. Seketika pikirannya mulai memutar kembali kenangan indah bersama pria itu. Dan itu membuat rasa sakitnya menjadi dua kali lipat. Apa selama ini Sian hanya memanfaatkannya agar bisa dekat dengan kakaknya? Tapi, bagaimana bisa pria itu melakukan semuanya dengan begitu terencana? Tidakkah Sian sangat jahat padanya? Jam dinding terus berdetak seiring bergeraknua jarum besar dan kecilnya. Sementara Tri, gadis itu masih larut dengan pikiran dan sakit hatinya, sementara besok ia akan ujian. Butuh waktu yang cukup lama untuknua agar bisa mengalihkan semua perasaan sakit hati dan beban pikirannya soal Sian dan kak Di. Ia baru bisa memulai altivitas belajarnya setelah jarum kecil jam dinding menunjuk ke angka setengah sepuluh malam. *** Sian terbangun saat pintu kamarnya digedor cukup seperti rentenir menagih hutang. Gak kira - kira kalo ngetuk pintu. Udah kayak mau ngajak baku hantam aja. Gumamnya seraya menyingkirkan selimut dari tubuhnya lalu menuruni kasur. Berjalan mendekati pintu kamar dan membukanya dengan cepat. "Abang udah zuhuuur!" Hampir saja wajah Sian dijitak oleh tangan dari seorang gadis yang hampir memekik karena abangnya lama membuka pintu. "Ini muka abang ya, bukannya pintu. Ngetuk pintu gak liat ke arah pintunya ckckck," dexak Sian seraya menatap adik bungsunya itu dengan wajah setengah sadar. "Ya maaaf. Abis, abang bilangnya mau tidur setelah zuhur, malah gak nongol - nongol. Adzan udah mau selesai, tuh bang-," "Iyaiya bawel. Ini abang mau siap - siap." Kuna mencebik seraya menatap pintu kamar yang ditutup itu seraya menghela napas panjang. Lalu berbalik dan melangkah menuju kamarnya dan bersiap - siap untuk salat zuhur di kamar salat. Sementara itu, di dalam kamar. Sian bergegas melangkah ke kamar mandi, mencuci muka dan sekalian berwudhu. Kemudian bersiap dan bergegas ke Masjid dengan mengendarai motor maticnya karena ia akan terlambat untu salat berjamaah, jika berjalan kaki. *** Hari ini matahari nampak terik dan menyengat. Sian yang memang tidak berniat ke luar rumah kini semakin betah bersemedi di dalam kamarnya. "Abaaang.." itu pasti Kuna. Tebak Sian saat mendengar suara teriakan adiknya yang berasal dari luar pintu kamar. Sian bangkit dari posisi duduknya lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya dengan cepat. "Kenapa sih, deeek. Udah kayak tarzan aja, teriak - teriak. Siang hari ini, orang - orang pada mau tidur siang." Kuna hanya diam saat abangnya itu berkomentar panjang. Salahkah saja abangnya ini yang sejak tadi dipanggil tidak menyahut sama sekali. Bahkan pintu kamar abangnya itu, sudah ia ketuk dengan sopan dan pelan. Tapi karena tidak mendapatkan respon, tentu saja menggedor pintu adalah salah satu pilihan yang tepat, bukan? "Ini apa?" tanya Sian seraya menatao nampan yang ada di tangan adik bungsunya itu. Kuna menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya dengan kuat. "Menurut abang, apa?" tanyanya balik. Membuat abangnya berdecak sebal. Nih anak, ditanya malah nanya balik. Sian mendesah seraya meraih nampan berisi menu makan siang itu dari tangan adiknya. "Udah kayak orang sakit aja, tiap waktu makan musti dianterin," gumam Kuna pelan seraya ingin berlalu. "Abang masih bisa denger loh ini," celetuk Sian yang masih berdiri di depan pintu seraya menatap punggung kecil adik bungsunya itu. "Orang Kuna lagi nyanyi kok," dalih gadis itu seraya mencebikkan bibir lalu berlalu meninggal Sian yang hanya bisa menatap kepergian adiknya itu dengan gelengan kepala. Sian masuk ke kamar dengan nampak makan siang ditangannya. Menutup pintu dengan tangan sebelahnya lalu melangkah menuju meja belajar. Menggeser sedikit benda berbentuk kotak yang layarnya masih menyala kemudian meletakkan nampan berisi makan siang itu di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD