GM-48-Something wrong

1883 Words
Kata orang, bab paling menyedihkan dalam hidup adalah tidak bisa bersatu dengan dia yang kau cintai, karena terpisah dimensi. Akan tetapi, Arsen merasakan lebih dari itu. Baginya yang paling menyakitkan adalah, saat orang yang kau cintai ada di hadapanmu menatapmu dan kau tidak bisa berbuat apapun. Tidak bisa merengkuhnya dalam pelukanmu dengan erat, tidak bisa mengatakan padanya betapa kau mencintainya dan tidak bisa memberitahunya bahwa kau adalah kau. "Maaf mengganggu waktunya. Saya menemui mba, untuk menanyakan sesuatu." Diana menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan penuh tanya. Mau tanya apa nih anak? Perasaan kita gak sedekat itu deh. Pikir perempuan itu heran. "Iya, silahkan tanyakan, apa itu?" balas perempuan itu seraya mengedarkan pandangan ke setiap sudut kafe yang sering ia datangi dengan seseorang dulu. Kafe bernama Memories benar - benar seperti namanya. Tempat ini menyimpan banyak kenangan yang ia lalui bersama seseorang yang berarti dalam hidupnya. Kafe yang mempertahankan designnnya agar tidak begitu banyak berubah karena pelanggannya sangat menyukai design kafe yang minimalis dan juga aesthetic. Sebelumnya, Diana merasa ada yang aneh dengan pria yang kini menatap ke arahnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Seingatnya, Sian merupakan pria yang memberi jarak antara dirinya dengan perempuan. Enthalah, Di tidak begitu banyak tahu tentang pria yang katanya adalah calon pacar adik bungsunya ini. Di mengembuskan napas pelan seraya menunggu Sian mengatakan sesuatu. Akan tetapi, pria itu tak kunjung membuka mulutnya untuk melanjutkan obrolan mereka barusan. Yang Sian lakukan hanya menatap perempuan yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang tidak bisa Di artikan. Sedih? Rindu? Atau... Tidak tahu kenapa Sian menatapnya seperti itu. Di hanya menunggu pria itu mengatakan sesuatu. Sampai beberapa menit telah berlalu, dan mereka hanya terjebak dalam keheningan. "Apa ada yang ingin kamu biacarakan soal Tri?" Diana memutuskan untuk bertanya karena pria yang ada di hadapannya tak kunjung membuka suara. Diana rasa, ada sesuatu yang terjadi antara Sian dengan adiknya. Entah mereka bertengkar atau keduanya menjalin hubungan. Lalu Sian menemuinya untuk meminta izin. Seperti itulah yang ada di pikiran perempuan dengan hijab sederhana berwarna kecokelatan dengan mata bulan sabitnya yang indah. "Bukan soal itu," balas Sian menggelengkan kepala lalu menunduk. Diana nampak terkejut dan menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya. "Lalu, apa?" tanya Di penasaran. Sementara itu, Sian yang ada di hadapannya nampak ingin mengatakan sesustu namun lagi - lagi pria itu mengurungkannya. Membuat Di gemas dan ingin beranjak dari kafe itu secepatnya. "Kalau begitu, aku harus pergi. Lain kali kau harus mengatakan maksudmu dengan jelas." Diana berujar seraya bangkit dari kursi. Perempuan itu akan berlalu, namun Arsen tidak bisa berbuat banyak. Apa yang harus ia lakukan pada perempuan itu? Ia merindukannya, namun ia tidak bisa mengatakannnyq begitu saja. Di tidak akan mempercayainya. "Maaf aku gak bisa lama - lama." Diana sudah bersiap dan ingin berlalu meninggalkannya. Sesaat setelah perempuan itu benar - benar berlalu. Arsen merasa kalau dadanya tiba - tiba terasa sesak. Sebelum Diana benar - benar pergi meninggalkan kafe itu. Arsen bangkit dari posisi duduknya. Melangkah dengan cepat ke kasir, berniat ingin membayar pesanan mereka. Akan tetapi, penjaga kasir bilang bahwa perempuan cantik yang duduk bersamanya tadi sudah membayarnya. Arsen beranjak ke luar dari kafe. Berlari dengan cepat menuju parkiran mobil. Sesampainya di sana, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut pelataran parkiran kafe. Ia pikir Di sudah benar - benar pergi. Namun, saat ia berbalik ternyata perempuan itu ada di belakangnya. Menatap ke arahnya dan ingin mengatakan sesuatu, namun Arsen bergegas melangkah mendekati perempuan itu dengan langkah besar. Saat Diana ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tanpa aba - aba pria jangkung itu datan dan merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan. Saat ingin menolak, Di dibungkam begitu saja oleh kalimat yang ke luar dari mulut Sian. "Sebentar saja ....," pintanya seraya mempererat pelukannya pada perempuan yang sudah begitu lama ia rindukan. "Tetap seperti ini sebentar lagi," ucapnya seraya mengembuskan napas panjang dan dengan mata yang terpejam. Setelah mengatakan itu, nampak Sian tidak berniat melepaskan pelukan mereka. Diana terpaksa melepaskan diri dari pelukan pria itu dengan paksa. "Kau pasti kelelahan. Pulanglah." Diana berujar seraya memalingkan tatapannya arah manapun kecuali arah di mana pria itu berada dan sedang menatap lurus ke arahnya. Perempuan itu berbalik dan melangkah meninggalkan Sian. Lalu, sejurus kemudian. Sebuah mobil putih keluar dari barisan parkiran dan berlalu melewati Sian begitu saja. Sian hanya bisa menatap kepergian mobil itu dengan nanar. Seketika ia merasa kalau dirinya benar - benar bodoh, karena tidak berani mengambil keputusan. Pria itu berkali - kali merutukki dirinya sendiri seraya melangkah menuju parkiran sepeda motor. Meninggalkan kafe itu, lalu melaju bersama motor matic yzng ia kendarai. Tatapan matanya fokus pada jalanan kota yang ada di depan. Akan tetapi, siapa yang menyangka kalau pikirannya masih ada di kafe. Mengingat kembali setiap inci wajah perempuannya dan merasakan kembali betapa nyaman dan hangatnya pelukan yang dirasakannya saat itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, untuk memendam perasaannya yang membuncah. Di tidak akan tahu kalau ia adalah Niknya perempuan itu. Kalau Nik yang dirindukan oleh perempuan itu adalah dirinya. Ia bisa saja mengatakan kalau ia sebenarnya adalah Nik. Nik yang merindukan kekasihnya. Nik yang ingin memeluk Dinya dengan erat hingga tak ingin melepaskan pelukan itu. Tapi, siapa yang akan mempercayainya? Tidak ada satupun orang waras yang akan mempercayainya begitu saja. *** Hari itu, kota Argon kembali diguyur hujan deras. Jalanan kota seketika basah di setiap sudutnya. Hawa dingin bergerak ke setiap ruang yang bisa ditempatinya. Di sebuah kamar dengan cat putih dan abu - abu. Seorang pria nampak membuka matanya dengan perlahan. Menatap langit - langit kamarnya dengan berkedip. Lalu mengalihkan tatapan ke setiap sudut kamarnya. Entah kenapa, tubuhnya terasa begitu lelah dan sendi - sendinya terasa nyeri. Kepalanya berkedut - kedut hingga menyebabkan sensasi pusing yang cukup membuatnya membuka-tutup matanya seraya meringis. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar. Membuat pria itu bangkit dengan perlahan. Menuruni kasur dengan susah payah lalu melangkah mendekati pintu dan membukanya. "Abang kok, baru bangun?" Kuna bertanya namun lebih tepatanya berteriak seraya menatap kondisi abangnya itu dengan nanar. "Di luar ada bang Reno sama bang Rama. Katanya hari ini hari seminarnya abang. Tapi, karena abang belum datang ke kampus, makanya bang Reno sama bang Rama ke sini." Sian masih sibuk mentralkan penglihatannya seraya menahan efek nyeri yang menyerang kepalanya saat ini. "Seminar?" tanya Sian bingung. "Iyaaa. Udah ah, Una mau siap - siap ikut ibu ke pengajian di Masjid." Gadis kecil itu berlalu setelah memastikan kalau abangnya sudah mendengar apa yang ia sampaikan. Sian terbelalak seraya teringat akan jadwal seminarnya yang seharusnya dilangsungkan dua pekan dari sekarang. Tapi? Kenapa adiknya bilang Reno dan Rama ke sini, karena Sian tidak datang ke kampus untuk selinar. Sian masih ingat betul. Bahwa jadwal seminarnya dua pekan lagi. Bukannya hari ini. Pria itu menutup pintu kamar lalu melangkah mendekati meja belajarnya. Ada sebuah kalender kecil yang ia letakkan di meja belajar. Tanggal dua puluh, bulan November, tahun dua ribu sembilan belas. Sian terkejut dan hampir saja melempar benda itu tanpa sengaja. Tidak mungkin! Pikiranya seraya menggelengkan kepala berkali - kali. Tidak mungkin Sian tidur selama itu. Itu tidak masuk akal. *** Setelah bersiap dan memasukkan beberapa buku ke dalam tas. Sian bergegas ke luar kamar. Lalu, mendapati Reno dan Rama yang tengah duduk seraya menyantap sarapan pagi yang dibuatkan oleh ibunya. Sian melongo saat kedua sahabatnya itu menatapnya seraya mengunyah roti dan tersenyum padanya. "Bang, udah siap? Sini! duduk dan sarpan dulu. Ibu bikin roti isi telur sama keju buat sarapa pagi ini," ajak bu Amina pada putranya yang kini melangkah mendekati meja makan. Kedua sahabatnya itu sudah selesai menyantap sarapan masing - masing. Sian baru mengambil roti isi di hadapannya lalu mengunyahnya dalam diam dengan cepat. Reno dan Rama mengucapkan terimakasih pada ibu Sian yang telah mengajak mereka berdua untuk menyantap sarapan bersama. "Anggap rumah sendiri," ujar ibu Sian seraya tersenyum ramah. "Kalau gitu, ibu tinggal ya. Ada pengajian di Masjid dekat sini. Jangan sungkan nak Reno dan nak Rama. Ibu senang kalian berkunjung menemui Sian. Ibu khawatir akhir - akhir ini dia jadi pendiam." Sian yang baru saja selesai mengunyah roti terakhirnya hampir tersedak. Apa?! Pendiam? Sian mulai berpikir yang tidak - tidak. Setidaknya, ada hal yang terjadi selama Sian tertidur. *** Sesampainya di kampus. Reno dan Rama bergegas menariknya menuju ruang seminar hasil. "Kamu ke mana aja Ian? Aku pikir kamu sakit. Makanya aku minta Reno sama Rama buat nengokin kamu ke rumah." Sian tersenyum seraya berterimakasih pada Nisa. Perempuan itu sudah begitu peduli padanya. "Aku gapapa kok, Nis. Cuma agak kecapean aja," ujar Sian seraya melangkah mendekati kursi yang menghadap beberapa meja. Selama seminar hasil berlangsung. Sian tidak henti - hentinya merapalkan doa dalam hati. Berharap ia bisa berbicara dengan lancar dan tidak terbata - bata saat menjawab pertanyaan dari dosen penguji. Satu jam sudah berlalu. Kini Sian tengah menunggu nasib nilainya nanti seperti apa. Seminarnya pagi hingga menjelang istirahat siang itu telah dinyatakan selesai. Para dosen dan mahasiswa audients seminar sudah beranjak dari kursi dan berlalu ke luar ruangan. Kini hanya tinggal Sian dan ketiga sahabatnya, Nisa, Reno dan Rama. Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Semuanya terasa begitu tiba - tiba. Terbangun setelah tertidur selama hampir dua pekan. Sian yakin, tidak akan ada yang mempercayainya. Maka dari itu, ia hanya diam dan tidak menceritakan apapun dan pada siapapun. Jangankan orang lain. Bahkan Sian sendiri sulit untuk percaya akan apa yang terjadi padanya. "Selamat bro!" ucap Reno dan Ram seraya memeluk bangga sahabatnya itu. "Selamat ya, Ian." Nisa juga mengucapkan selamat padanya seraya menyerahkan buket bunga dan buket makanan ringan kesukaannya. "Makasih ya. Gue gak tau gimana nasib seminar hasil gue kalau gak adz kalian." Sian berujar seraya menatap ketiga sahabatnya itu dengan wajah penuh terimakasih. "Eh, banyak yang ngantri mau ngasih lo hadiah tuh!" Reno membuka suara seraya menunjuk ke arah pintu. Di sana tengah berdiri beberapa mahasiswan dan mahasiswi entah tingkat berapa. Namun, yang pasti Sian tidak begitu mengenal semuanya. "Ayo, masuk! Mumpung kak Siannya masih di sini," ajak Nisa pada mereka yang tengah berdiri di ambang pintu seraya menatap Sian malu - malu. Lalu setidaknya ada empat mahasiswi dan satu mahasiswa yang datang dan menyerahkan berbagai jenis buket. Sian tak menyangka akan menerima hadiah sebanyak ini di hari seminarnya. Maklum, ia bukan tipikal orang yang mudah bergaul dan banyak teman. Setelah proses penyerahan hadiah dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Kelima mahasiswa/i itu pergi setelah berpamitan. Kini, hanya ada mereka bertiga. Sian nampak merenung dengan tatapan kosong. Membuat ketiga sahabatnya itu menatap Sian dengan bingung. "Lo gapapa?" tanya Rama seraya menyentuh pundak Sian. Pria itu menoleh, lalu menggelengkan kepala dan berkata bahwa ia baik - baik saja. "Abis ini lo pulang aja. Gue anterin. Istirahat! Gue tau lo belajar semalaman buat seminar hari ini." Reno berujar seraya memasukkan beberapa hadiah yang didapatkan Sian tadi ke dalam plastik berwarna putih. Lalu, Nisa membantu Reno melakukannya agar lebih cepat. "Tapi, lo beneran gapapa?" tanya Rama memastikan. Sian menganggukan kepala seraya tersenyum meyakinkan sahabatnya itu. "Tapi, gue liat lo jadi sering bengong sejak selesai seminar?" Rama berujar seraya memperhatikan sahabatnya itu dengan penuh telisik. "Kalian jangan khawatir. Gue beneran gapapa. Cuma butuh istirahat aja," ujar Sian meyakinkan ketiga sahabatnya yang sejak tadi menatapnya dengan penuh tanda tanya. Setelah selesai dengan urusan kampus. Sian pulang diantar oleh Reno. Ia memutuskan untuk istirahat setelah melakukan sesi foto dan menerima surprise dari keluarga kecilnya yang hangat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD