Jika kebahagiaan memiliki rasa seperti buah. Rasa apakah yang tepat untuk mendeskripsikan kebagahagiaan? Rasa Melon? Atau rasa semangka? Kedua - duanya sama - sama manis.
Bagi Dian sendiri, kebahagiaan tidak bisa diwakilkan dengan hanya sebatas rangkaian kata demi kata. Sebab kebahagiaan adalah rasa di dalam d**a. Rangkaian kata rasanya tak cukup dapat mewakilkan sebab kata terucap dari mulut yang kadang bisa saja berdusta.
Tindakan sepertinya adalah cara yang paling baik menurutnya untuk mengekspresikan sebuah rasa. Seperti saat ini, tangannya tak bisa diam. Kadang ia mengusap puncak kepala adik bungsunya, kadang juga menyentuh tangan kecil adiknya itu dengan lembut. Seolah itu dapat mewakilkan perasaanya saat ini.
"Kakak gak makan?" tanya Tri seraya menatap kakaknya itu dengan heran. Dari tadi, yang dilakukan kak Di hanya mengganggunya. Bagaimana tidak, kakaknya bahkan sibuk mengusap - usap puncak kepalanya atau menyentuh tangannya. Seolah perempuan itu begitu merindukan sosok adiknya yang sebenarnya hanya tidak bertemu kurang dari tiga hari.
"Lihat kamu makan aja, kakak udah kenyang rasanya," balas Di seraya tersenyum menatap gadis cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Gadis itu memutar bola matanya dengan malas. Yang benar saja, kakaknya kenyang hanya dengan melihatnya makan?
Diana rasanya ingin terkekeh melihat ekspresi adik bungsunya saat ini. Tri sudah menghabiskan cukup banyak menu makanan di kafe itu. Mulai dari makanan berat hingga beberapa ceilan ringan yang dipesan oleh kakaknya itu ia habiskan tanpa sisa.
Bagi Tri setiap butir nasi atau makanan lainnya itu adalah berkah. Maka dari itu, ia tak boleh menyisakan apalagi membuang-buangnya begitu saja. Sebab itu sama saja mebuang keberkahan.
Setelah meneguk segelas air yang ada di hadapannya hingga tandas, gadis itu beralih mengelap sisa-sisa makanan yang sekiranya masih menempel di sekitar wajahnya dengan menggunakan tisu.
“Habis ini, kita ke mall, mau?” Di bertanya ada adik bungsunya itu dengan antusias. Sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama di luar rumah seperti ini.
Gadis di hadapannya itu tampak sedang berpikir sejenak sebelum menjawab.
Di mulai harap-harap cemas saat menunggu jawaban adik bungsunya itu.
“Oke! Beliin es krim, ya kak?” Sejurus kemudian perempuan di hadapan Tri itu mengembangankan senyumnya dengan lebar.
“siyap! Tapi jangan banyak-banyak ya?! Ntar kamu sakit lagi,” balasnya ada adik bungsunya yang kini tersenyum girang seraya
menyampirkan tasnya di bahu kanan.
“kakak bayar dulu. Adek langsung ke mobil aja, ya.” Tri meraih kunci mobil yang diserahkan kakaknya kemudian berlalu ke luar kafe.
Tri senang, karena kakaknya itu tidak membahas apapun mengenai orang tua mereka. Tidak menyalahkannya atas tindakan yang ia ambil dan tidak menyudutkannya seolah dialah yang bersalah. Meski ada sesuatu yang masih terasa mengganjal di hatinya. Ia bimbang antara benar-benar memilih untuk pulang ke rumah atau tidak. Akan tetapi, ia sudah berjanji bahwa ia akan ikut kakaknya pulang ke rumah bersama.
Selama perjalanan, Diana menanyakan banyak hal pada adik bungsunya itu. Mengenai bagaimana dengan sekolahnya, ujian-ujian serta les tambahan yang barangkali adiknya itu jalani di sekolah. Menanyakan apa saja yang adiknya itu lakukan saat ia tidak pulang ke rumah.
Rasanya ia ingin menanyakan begitu banyak hal mengenai apa-apa saja yang dirasakan oleh adiknya itu akhir-akhir ini. Akan tetapi, perempuan itu cukup paham bahwa tidak semuanya harus ia tanyakan sekarang. Akan ada waktu lain kali dan suasana yang lebih tepat untuk menyelam ke dalam pikiran dan perasaan adik bungsunya itu.
Meski di luar titik-titik air hujan sudah semakin besar dan berlomba-lomba membasahi bumi dan hawa dingin mulai menyelimuti, akan tetapi hati keduanya saat ini terasa hangat satu sama lain. Setelah mengutarakan beberapa hal yang masing-masing mereka simpan beberapa waktu yang lalu.
Mungkin, hujan akan selalu menjadi alarm kesedihan bagi seorang Diana. Akan tetapi, perempuan itu terlalu lihai menyembunyikannya saat ia menatap sang hujan di balik kaca mobil bersama sang adik.
Untuk hari ini saja! Pintanya dalam hati. Setidaknya hari ini ia tidak mendekap bantal dan bergelung di atas kasur dengan mata bengkak karena terlalu sering menangis. Setidaknya saat ini ada si bungsu yang menemaninya melewati hari ini dengan lebih baik.
_____
Sian mengembuskan napas lega saat motor matic yang ia kendarai mencaai rumah sederhana bercat biru putih. Setelah mematikan mesin kendaraan dan menggenggam kunci motornya di tangan, lelaki itu melangkah mendekati pintu rumah. Kemudian mengetuknya beberapa kali dengan pelan seraya mengucakan salam.
“Wa’alaikumussalam,” jawab seseorang di balik pintu. Sejurus kemudian, pintu berwarna kecokelatan dengan gagang berwarna senada itu terbuka dan menampilkan sosok seorang wanita cantik yang lelaki itu panggil ‘ibu’.
“Abang udah pulang. Loh! Kok gak barengan sama Kana? Kana nungguin abang loh di sekolah. Dia sms ibu, katanya dia nungguin abang.” Sian melongo sesaat setelah mencium punggung tangan ibunya.
“Abang gak buka hp tadi, bu. Yaudah, kalau gitu sekarang abang langsung ke sekolah Kana aja bu. Si Kena sama Kuna udah pulang kah?” ibu Sian mengangguk mengiyakan.
“Udah pulang dari tadi siang. Si Kana tadi ada les tambahan di sekolah, makanya pulangnya agak sore,” jelas ibu Sian dengan harap-harap cemas karena anak gadisnya masih di luar rumah.
Sian sudah bersiap mengendarai motornya setelah berpamitan kembali pada sang ibu. Semoga saja adiknya itu masih ada di sekolah, pintanya khawatir.
Sian jadi khawatir karena Kana sudah menunggunya dari sejam yang lalu. Sepanjang perjalanan ke sekolah adiknya, Sian terus berdoa agar adiknya itu baik-baik saja dan masih ada di sana. Akan tetapi, kekhawatirannya seolah menjafdi kenyataan saat setelah motor yang ia kendarai mencapai gerbang sekolah dan di sana sudah sepi. Hanya ada seorang satpa sekolah yang sedang duduk di pos sekolah.
Sian semakin cemas saat ia bertanya apakah semua siswa/i sudah ulang, dan dijawab ‘iya’ oleh
bapak itu. Lelaki itu beralih merogoh ponsel yang ada di saku celana yang ia kenakan. Mengusap layarnya ke samping kanan dan mencari kontak adiknya di sana. Lalu mengetuk ikon panggilan yang tertera di layar ponsel.
Tidak aktif!
Nomor Kana tidak dapat dihubungi. Sian beralih menelpon ibunya. Barangkali Kana sudah di perjalanan pulang saat ia mencapai sekolah adiknya itu, pikirnya menenangkan diri dari rasa khawatir. Akan tetapi, setelah panggilan tersambung dan Sian bertanya ‘apakah adiknya sudah di rumah?’ jawaban ibunya kembali membuat Sian cemas.
Lelaki itu nampak mengembuskan napas lemah seraya melajukan kembali seeda motornya membelah jalanan kota Argon seraya melakukan panggilan berulang kali ke nomor adiknya. Sian bingung harus ke mana. Kembali ke rumah sementara adiknya belum dapat dipastikan keberadaannya, itu sama saja membuat ibunya ikut cemas.
Sudah hampir sepuluh menit Sian mengendarai sepeda motornya tanpa tujuan dan nomor Kana masih saja tidak dapat dihubungi.
Sementara itu, di tempat lain, Kana baru saja turun dari sebuah mobil mewah berwarna putih. Disusul oleh gadis seumuran dengannya dan seorang perempuan cantik.
______