GM-13-Future imam?

1177 Words
Jejak - jejak air hujan masih menggenang di beberapa titik jalanan kota Argon. Sian mengehela napas lemah seraya menepikan sepeda motornya di pinggiran jalan. Tepatnya di depan sebuah toko yang sudah ditutup oleh pemiliknya. Rasanya rintik - rintik kecil yang masih turun masih cukup mampu membuat tubuh lelaki itu sedikit basah karenanya. Udara dingin terasa menyelusup pelan - pelan mendekap tubuh Sian. Sayang sekali dia tidak berpikir untuk membawa jaket atau hoodie yang biasa ia pakai saat akan kerja di kafe. Merasa bosan berdiri, dia beranjak menuju teras toko dan duduk di pinggiraannya sejenak. Sejurus kemudian, benda berbentuk persegi di dalam sakunya tiba - tiba bergetar dan merangung. Merogoh ponselnya dengan cepat. Sian tampak tak berpikir dua kali saat ID caller yang tertera di layar merupakan nama adiknya, Kana. Digesernya ke kakanan pada layar ponsel hingga panggilan terhubung. "Wa'alaikumussalam. Dek? Kamu di mana?" Tengu saja hal pertama yang lelaki itu tanyakan adalah, where are you now? Suara yang berada di seberang telepon terasa kaget karena mendengar Sian yang tiba - tiba bertanya dengan cepat dan dengan nada suara yang cemas. Kana menjawab bahwa ia baru saja sampai di rumah. Selanjutnya, tentu saja abangnya itu mencecarnya dengan banyak kata mengapa dan bagaimana. Mengapa tidak mengabari Sian jika ingin dijemput di sekolah? Mengapa nomor Kana tidak dapat dihubungi beberapa saat yang lalu? Bagaimana bisa Kana sampai di rumah? "Kana mau hubungin abang di w******p, tapi abang gak aktif. Tau sendiri, Kana gak punya pulsa cuma punya kuota," "Terus, pas lama nungguin abang, ternyata baterai ponsel Kana lowbat. Untungnya Tri sama Kakaknya lewat di depan sekolah, mereka lihat Kana sendirian jadinya iba dan nawarin buat pulang ikut mereka. Terus-," "Ya sudah, nanti aja abang dengerin penjelasannya. Ini udah mau malem. Di luar juga masih rintik, takutnya hujan deras turun lagi," sela Sian seraya mulai menunggangi sepeda motornya. "Iya, iya. Wa'alaikumusalam." Ditutupnya panggilan oleh Kana dan Sian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya di bagian yang paling aman. Agar tidak basah karena air hujan yang bisa saja merembas ke dalam tas yang ia kenakan saat ini. Sian mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Sepeda motor yang ia kendarai mulai bergabung dengan kendaraan lainnya membelah jalanan kota Argon yang masih setia di temani rintik hujan dan hawa dingin. Di rumah Sian, Kana terikihat sedang sibuk meletakkan air minum dan juga teh hangat di atas meja yang ada di ruang tamu rumahnya yang tak begitu luas. Perempuan cantik yang sesang duduk di sana merasa tidak enak hati, karena rasanya ia membuat repot tuan rumah. Sejurus kemudian, seorang wanita cantik muncul dari dari dapur dengan senyuman tulus yang tercetak di wajahnya. Buru - buru Di bangkit dan menyalami tangan wanita itu dengan begitu sopan. "MaasyaAllah, ini kakaknya Tri?" tanya Bu Amina saat seorang perempuan cantik di samping Tri itu menyalami tangannya seraya tersenyum. "Iya bu. Kenalkan, saya Diana kakaknya Tri." Bu Amina ikut duduk di salah satu kursi dan mempersilahkan Di duduk kembali. "Ibu berterima kasih sekali, ya nak Di. Karena sudah berbaik hati mengantar Kana sampai rumah." Di tersenyum dengan begitu tulus seraya mengatakan kalau bantuannya itu tidak seberapa dibandingkan kebaikan yang keluarga bu Amina lakukan pada adiknya. Diana sudah mendengar cerita dari Tri, adik bungsunya. Di mana Tri bertemu dengan kakaknya Kana dan berakhir menginap di rumah bu Amina yang disambut dengan senang hati oleh mereka. "Jangan sungkan nak Di. Ibu mana tega lihat nak Tri waktu itu. Anak gadis sendirian di luaran sana, itu membuat ibu ikut khawatir. Makanya ibu izinkan menginap sementara di sini," jelas bu Amina bersamaan dengan pintu rumah yang diketuk beberapa kali oleh seseorang dari luar. Kana yang sudah berganti pakaian dan ikut bergabung ke ruang tengah. "Kayaknya itu abangmu dek. Tolong bukakan pintu," pinta ibu Kana padanya yang langsung Kana kerjakan. Sian, lelaki itu mengucapkan salam seraya masuk ke dalam rumah. Sedetik kemudian lelaki itu kaget saat mendapati siapa yang kini duduk di ruang tamu bersama ibunya. Tri, gadis itu tak bisa menahan senyuman lega yang semula tertahan karena Sian tak kunjung memampakkan wajahnya. "Ada tamu bu?" tanya Sian basa - basi seraya melayangkan senyuman pada seorang perempuan dan gadis yang tak asing di matanya. "Iya bang, disapa dulu ini!" Sian menurut dan menyapa Di dengan tulus. Di tersenyum seraya melakukan hal yang sama. Bersamaan dengan itu, adik bungsunya tiba - tiba saja berbisik di samping telinga Di dengan cukup keras. "Calon imam masa depan Tri. Adik iparnya kak Di," tutur gadis di samping seraya tersenyum begitu lebar seraya menatap wajah Sian dengan lekat. Buru - buru Di menyenggol bahu adiknya itu dengan tatapan tajam. Bagaimana bisa gadis kecil seperti Tri mengatakan hal seperti tadi. Di benar - benar tidak habis pikir. Setelah itu, mereka memutuskan untuk makan malam bersama. Mengingat hari sudah sore menjelang malam serta hujan di luar juga masih setia berlomba - lomba untuk membasahi bumi. Awalnya Di menolak, merasa tak enak hati dan takut merepotkan, namun akhirnya ia menerima tawaran dari keluarga bu Amina sebab situasi dan kondisi juga sedang tak memungkinkan untuk pulang. Meski ia membawa mobil, namun Di masih saja khawatir kalau jalanan di luar menjadi licin, mengingat ia yang belum begitu pandai mengendarai mobil. ______ Di sebuah apartemen mewah, terdapat seorang perempuan sedang berkutat dengan benda berbentuk kotak yang ada di hadapannya. Belum juga ia menemukan inspirasi dalam melanjutkan cerita yang ia garap belakangan ini, tiba - tiba saja ponselnya berdering dan meraung - raung. "Ada apa?" tanyanya ketus pada si penelpon setelah berhasil menggeser panel hijau ke samping kanan. "Lakukan saja apa yang pria tua itu minta! Jika ia meminta mata, ya kau berikan mata! Jika telinga, ya kau berikan telinga! Apa susahya?!" cecarnya pada ssesorang di seberang sana. "Kau sudah pernah melakukannya, bukan? Lalu, apa yang membuatmu takut kali ini?" Seseorang di seberang sana terdengar mendesis geram padanya. Akan tetapi perempuan itu hanya acuh tak acuh. "Masa bodo dengan hati nuranimu itu! Aku sibuk. Jangan menghubungiku untuk hal yang tidak penting seperti ini lagi!" Gia memutuskan panggilan dari Xenon secara sepihak dan melemparkan benda pipih itu ke sofa dengan asal. Sementara itu, di sebuah ruangan kecil yang tertutup. Seorang pria bertubuh tegap itu nampak bingung dan merinding sekaligus. Saat seseorang yang ia sandera beberapa saat yang lalu, kini tiba - tiba saja menatapnya dengan tatapan tajam dan membunuh. Ia baru saja menelpon perempuan gila itu, barangkali dapat membantunya untuk tidak melakukan perbuatan keji itu kali ini, namun jawaban perempuan itu sungguh membuatnya ingin membekap mulut Gia hingga perempuan itu kehabisan napas. Ia sengaja mengatakan bahwa hati nuraninya mulai berfungsi dan menolaknya melakukan perbuatan keji ini. Mana mungkin ia mengatakan bahwa ia mulai takut, saat pria yang ia sandera tiba - tiba saja menatapnya dengan tajam dan dengan tatapan membunuh seperti sekarang ini. Xenon semakin was - was saat pria itu berhasil melepaskan diri dengan begitu mudahnya dari ikatan yang ia buat sebelumnya. Lalu, tanpa aba - aba, pria itu menerkamnya hingga ia tersungkur dan tiba - tiba tangan seseorang sudah berada di lehernya. Bersiap mencekiknya tanpa ampun. Mata pria itu bahkan mengeluarkan darah segar. Cairan merah pekat itu mengalir dari setiap sudut mata pria yang sedang mencekiknya. _______
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD