GM-54-Setelah dua tahun berlalu

1086 Words
Saat kau bertemu dengan seseorang di masa lalu. Apa yang terpikir dalam benakmu? Seseorang yang sudah bertahun - tahun tidak kau temui dan tidak kau tahu seperti apa ia setelah dua tahun berlalu. Seseorang yang membuatmu kembali teringat akan luka lama. Seseorang yang begitu kau yakini bisa membantumu menemukan sepotoh hatimu yang hilang, tapi ternyata ia tidak bisa melakukannya. Seseorang yang kau hindari karena setiap melihat wajahnya, kau kembali teringat akan kejadian di masa lampau yang membuat hatimu retak, lalu pecah hingga serpihannya tercecer entah di mana. "Diiii!" Seorang perempuan dengan rambut sebahu serta wajah yang nampak lebih dewasa setelah dua tahun di mana terakhir kali mereka bertemu. "Apa kabar?" Perempuan itu melangkah dengan cepat saat tatapan matanya dengan mata seorang perempuan dengan khimar hitam itu bertemu. Gia, perempuan itu memeluk tubuh seorang teman lamanya seraya menanyakan kabarnya, setelah dua tahun mereka lost contact. Diana, perempuan itu nampak terdiam sejenak. Kehadiran seorang Gia membuatnya kembali terlempar ke masa lalu yang buram. Namun, bukankah hidup harus tetap berjalan setelah semua luka, air mata dan lara yang kau rasakan. "Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar, Gi?" tanya Diana balik seraya mencoba tersenyum ramah. Semoga saja Gia tidak menyadari perubahan ekspresi wajahnya. Karena jujur, Diana belum sepenuhnya baik - baik saja saat ia harus di hadapkan dengan bagian dari masa lalu yang suram dan menyesakkan d**a itu. "Sama siapa nih?" tanya Gia saat matanya menangkap sosok pria tinggi yang nampak asing. Sepertinya ia belum pernah melihat pria itu. Terang saja belum pernah. Mereka bahkan sudah hampir dua tahun penuh tidak bertemu padahal menetap di dalam kota yanh sama. "Ah iya. Kenalkan, ini Sian," ucap Diana seraya melirik pria yang ada di sampingnya. Sian berdehem seraya memperkenalkan dirinya. "Sian, temennya kak Diana," ucapnya seraya menundukkan kepala rendah. Gia nampak tersenyum seraya mengangguk dan menyapa Sian balik. "Gia, temennya Di sejak jaman kuliah," ucap Gia seraya tersenyum dengan ramah. Diana, perempuan itu tidak pernah berpikir kalau hari ini akan menjadi hari beratnya karena lagi - lagi kenangannya bersama Nik kembali menyergap. Kedatangan Gia seolah menjadi alarm luka bagi seorang Diana. Mereka yang katanya tidak sengaja bertemu setelah hampir dua tahun berlalu, tentu saja memutuskan untuk makan siang bersama. Selain untuk berbincang lebih banyak, mereka juga bertukar kontak ponsel dan saling follow akun sosmed. Formalitas yang sangat normal dilakukan oleh banyak orang. "Kamu sendirian, Gi?" tanya Diana sesaat setelah mereka mengambil posisi duduk mengahdap meja di salah satu resto yang ada di mall itu. Gia, perempuan itu nampak menggelengkan kepala pelan. "Enggak Di, aku ke sini sama temen lama aku, Axen. Tadi, katanya dompetnya ketinggalan di mobil jadi balik ke parkiran," ungkap Gia seraya meletakkan tas berwarna hitam elegan itu di atas meja di dekat lengannya. Diana nampak menganggukkan kepala. Sementara itu, pria di sampingnya nampak teringat akan sesuatu. Tunggu! Nama yang disebutkan perempuan yang ada di hadapannya itu sepertinya tidak asing di telinga Sian. Axen? Sian seolah terkoneksi dengan informasi yang ia simpan pada hipokampus. Saat Sian merasa yakin kalau ia mengenal na seseorang yang disebutkan perempuan bernama Gia iti, saat bersamaan dirinya sendiri pun menyangkalnya. Lo kira di kota Argon ini nama Axen cuma satu? Batin Sian mengingatkan kalau ia bisa saja salah orang. Toh, berapa banyak orang dengan nama yang sama yang menetap di kota yang sama pula. "Sian masih kuliah?" Gia bertanya seraya mulai membuka buku menu resto itu lalu mebolak balik lembarannya. "Ah, iya. Sian baru selesai sidang skripsi beberapa pekan yang lalu," jawab Diana seraya tersenyum. Sian yang menyadari hubungan di antata kedua perempuan itu tidak nampak seperti kelihatannya, hanya bisa tersenyum kakus seraya menganggukkan kepala pelan. "Nah, itu! Axen, temen aku," Gia berseru seraya menatap ke belakang Diana dan Sian. Sontak keduanya ikut menoleh untuk melihat sosok Axen, teman Gia. Editor Axen? Sian bergumam dalam hati seraya terpaku menatap sosok yang pria jangkung yang kini melangkah dengan langkah besar ke arah meja mereka. Sesaat setelah itu, Sian, pria itu kembali menyadari sesuatu. Kalau ... seorang perempuan yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang penulis novel thriller ternama di kota bahkan penjuru negeri. Ya, Aqua Regia. Kenapa Sian baru menyadarinya sekarang? Dasar otak lo aja lemot! Baiklah, sepertinya akhir - akhir ini Sian seringkali kehilangan fokus dan daya ingatnya menurun. Ia tak begitu paham pastinya karena apa. Akan tetapi, Sian menyadari kalau jam tidurnya makin absurd dan kesabaran seringkali diuji oleh arwah tunawisma yang akhir - akhir ini membuat Sian lagi - lagi melakukan banyak hal di luar kebiasaanya. Seperti makan di sebuah resto di sebuah mall seperti ini. Sian lebih baik menghabiskan banyak uang untuk membeli makanan di warteg lalu menyantapnya bersama keluarganya di rumah. "Sian?" Tak disangka, Axen menatap Sian dengan wajah tidak percayanya seraya menunjuk Sian. "Kebetulan sekali kita ketemu di sini," ujar Axen seraya mengulurkan tangan kanannya dan disambut baik oleh Sian. "Iya, nih. Maaf saya belum bisa memberikan kepastian naskah saya," balas Sian langsung menyingung soal kerja sama yang Axen tawarkannya waktu itu. Saat kedua pria itu saling menyapa dan bertukar kabar. Gia yang baru saja selesai memilih beberapa menu favoritnya, kini beralih menatap pria yang duduk di samping Diana itu dengan penih telisik. "Jadi, ini yang namanua Sian yang mau kerja sama sama penerbitan Ways?" celetuk Gia seraya menatap Sian dengan tatapan tidak percaya dan cukup terkejut. "Iya, Gi. Tapi, sepertinya memang Sian sedang hectic dengan urusan kuiah dan lainnya. Makanya belum memberikan kabar mengenai naskah yang rencananya mau terbit di Ways," Makan siang Sian kali ini sangat berbeda dan di luar ekspektasinya. Maksudnya ingin bertemu dan berbicara empat mata dengan Diana. Malah berakhir membicarakan naskah yang Sian sendiri masih ragu untuk melanjutkannya atau tidak. Selain karena memang belum ada kontrak antara dirinya dengan pihak penerbitan Ways, Sian juga merasa kalau meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya, Diana dan juga Tri adalah hal yang lebih ia prioritaskan. Karena diabaikan oleh orang yang sebelumnya paling peduli padamu, itu sangat tragis dan ironis. "Mau pulang?" tanya Sian seraya bersiap melangkah mendekati helm yang tergantung di dinding. Sementara yang ditanya hanya menganggukan kepala pelan, tanpa repot - repot menjawab pertanyaan Sian barusan. "Aku antar ya," tawarnya seraya menyerahkan helm yang biasa gadis itu kenakan saat bersamanya. Namun naas, Sian tidak mendapatkan respon yang berarti karena gadis itu bahkan tidak berniat berbicara panjang lebar padanya. "Tidak usah, bang. Aku udah minta pak Ura buat jemput," balas gadis itu seraya tersenyum Untuk pertama kalinya, Sian merasa kalau hatinya mencelus saat gadis yang begitu ceria dan peduli serta bersikap manja padanya, kini malah bersikap anomali dari sebelumnya. Gadis itu lebih murung, diam dan menghindari Sian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD