Satu hari berlalu tanpa ia pahami apa yang membuat semua orang di hidupnya terasa muakkan.
Tidak ada yang membuatnya merasa lebih baik kecuali menyendiri di sebuah tempat yang sunyi dan jauh dari kepelikkan hidup.
Tidak, ia belum ingin mati. Ia hanya ingin menjauh dan ke luar sejenak dari peredaran aktivitas dunia yang memuakkan.
Seharusnya ia sudah cukup dengan pria yang selalu ada di sampingnya. Seharusnya ia sudah cukup dengan kehidupan yang serba ada yang ia punya.
Tapi, bukan manusia namanya, kalau tidak menginginkan lebih dan lebih dari apa yang sudah ia dapatkan sebelumnya.
Lalu kehadiran orang ketiga, membuatnya semakin buas dan serakah. Ia ingin memiliki seutuhnya, bukan seadanya.
"Abis ini aku pulang ya," ucap seorang pria seraya membawakan secangkir teh hangat dari dapur apatemen, lalu meletakkannya di atas meja.
"Kalau ada apa - apa kamu bisa hubungin aku atau Axen, ya. Jangan lakuin hal bodoh lagi, karena itu gak akan membuat kamu lebih baik."
Ucapan pria itu terdengar penuh perhatian sekaligus larangan untuk sosok yang sedang menatapnya dengan mata yang merah dan sembab.
Gia tiba - tiba tersadar saat air matanya jatuh mengenai kulit tangannya sendiri.
Kenangan bertahun - tahun yang lalu sesekali menyapanya. Kenangan yang membuatnya tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan saat itu. Saat ia memutuskan untuk serakah dan memiliki pria itu seutuhnya.
Lalu, pertemuannya dengan Diana beberapa hari yang lalu seolah memutar kembali episode - episode menyedihkan di dalam hidupnya.
Akan tetapi, lagi - lagi kewarasan yang masih tersisa membuatnya susah payah untuk bangkit. Melupakan semua kejadian bertahun - tahun silam. Lalu merekahkan senyuman penuh kepuasan saat matanya kembali menangkap sosok yang tengah terbaring dengan wajah tenang di atas ranjang tidur yang besar itu.
Hampir setiap malam Gia memutuskan untuk tidur di kamar ini bersama pria yang terlihat terbaring tak berdaya itu. meski dokternya mengatakan kalau pria itu tidak boleh diganggu, tetap saja perempuan tidak mengindahkannya.
Sementara di sebuah kamar dengan cat putih abu minimalis terdapat seorang pria yang tengah komat kamit seraya menatap udara hampa.
"Menurut lo, si perempuan bernama Gia ini ada hubungan apa sama lo dan Diana?" tanya Sian seraya berpikir hubungan pertemanan yang seperti apa yang terjalin antara Diana dan perempuan bernama Gia itu.
"Kan, kamu bilang tadi mereka teman. Bisa dipastikan dia juga teman saya semasa saya hidup," ujar sosok arwah yang termyata berdiri di hadapan Sian sejak tadi.
Sian berdecak, "Ya maksud gue, hubungan pertemanan yang seperti apa, gitu loh? Soalnya, melihat dari raut wajah kak Diana, ia tidak begitu senang saat bertemu dengan perempuan bernama Gia ini," ungkap Sian lebih rinci seraya mengingat makan siang mereka hari itu yang entah kenapa terasa canggung.
Arsen nampak bingung, karena ia tidak punya memori apa - apa mengenai perempuan bernama Gia ini.
Atau, bisa saja dia belum mengingatnya saat ini. Siapa tahu, perempuan itu juga cukup dekat dengannya di masa lalu.
"Coba dong, lo ingat - ingat lagi. Siapa tahu Gia ini bisa jadi titik terang buat kita menyelidiki kasus kematian lo," pinta Sian seraya mendesak agar Arsen mau menggunakan otaknya untuk membongkar memori jangka panjangnya yang sekiranya masih berfungsi.
Arsen bingung, bagaimana caranya agar ia bisa mengingat apa saja ya g berhubungan dengan perempuan bernama Gia itu.
"Apa sebaiknya kita tanya langsung aja sama kak Diana, seperti apa hubungan mereka di masa lalu?" usul Sian seraya menatap Arsen dengan wajah menunggu persetujuan.
Arsen nampak berpikir. Ia bisa saja menggunakan cara itu, akan tetapi ... Apakah itu tidak membuat Dinya merasa terluka karena harus mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan. Lebih parah lagi kalau perempuan bernama Gia itu ada hubungannya dengan Arsen di masa lalu.
Bagaimana kalau luka di hati perempuan yang dicintainya itu kembali terbuka?
Tidak! Arsen tidak menginginkan itu terjadi.
"Kenapa lo geleng - geleng kepala? ... Gak setuju sama ide gue?" tanya Sian seraya menatap Arsen dengan wajah tidak suka.
"Terus? lo punya ide lain gak?" imbuhnya seraya menghela napas dan bangkit dari posisi duduknya saat ini.
"Laper gue ngobrol sama lo lama - lama." Sian mendengkus seraya berlalu ke luar kamarnya. Meninggalkan Arsen yang hanya bisa menatap kepergian Sian dengan cengo.
Padahal ia sedang berusaha untuk mengingat apa saya yang mungkin menghubungkannya dengan perempuan bernama Gia yang Sian maksud.
Sepeninggalan Sian ke luar kamar, Arsen hanya sibuk mondar - mandir seraya memikirkan bagaimana caranya memecahkan kasus pertama mereka ini.
Ya, perempuan bernama Gia, dirinya dan Dinya sepertinya ada benang merah yang menghubungkan mereka di masa lalu. Kalau menurut dari informasi yang Sian sampaikan, Gia adalah teman kuliah Diana. Itu artinya, kemungkinan besar, Gia juga merupakan teman Arsen di masa kuliahnya dulu.
Arsen mulai dengan mengingat kenangannya bersama Diana. Barangkali kenangan lain bersama orang lain juga akan melintas, siapa tahu.
"Abis ini mau ke mana?" tanya seorang gadis cantik yang kini menatap kedua pasangan yang ada di hadapannya dengan tersenyum.
"Mau nganterin MyDi pulang, Gi. Kamu mau sekalian aku anter aja gak? abis ini udah gak ada kelas, kan?" Arsen, pria berwajah ramah dan juga tampan itu nampak tersenyum seraya menatap perempuan yang ia sapa dengan Gi.
Akan tetapi, perempuan itu menggelengkan kepala.
"Gak usah, Ar. Aku nanti pulang bareng Axen aja. Bentar lagi dia juga ke luar kelas," ungkap perempuan itu seraya menatap jam tangannya sekilas.
"Beneran gak mau bareng nih, Gi?" Kali ini Diana yang bertanya.
Gia, gadis itu nampak menahan kesal namun, tentu saja ia berhasil menutupinya dengan senyuman ramah yang ia punya.
"Gak usah Dii. Lagian abis ini aku mu ke perpus dulu, ada buku yang mau aku pinjem." Diana nampak mengangguk mengerti. Lalu kedua pasangan itu berpamitan pada Gia seraya melambaikan tangan.
"Lo kenapa begitu?"
Heran Sian saat menatap Arsen yang sedang melambaikan tangannya dengan mata yang terpejam.
Dasar setan aneh! Bukannya cari ide malah bertingkah absurd begitu.
Sian tidak menyadari kalau Arsen yang ia lihat, kini tengah terjun ke masa lalunya dan berenang - renang mencari memori mengenai perempuan bernama Gia.
"Kenalin, namaku Aqua Regia, panggilnya Gia aja."
"Ar, kamu mau ke perpus juga?"
"Kamu pacaran sama Diana?"
"Aku suka sama kamu, Ar."
"Hei, lo kenapa?!" Sian baru menyadari kalau sejak tadi Arsen hanya memejamkan matanya seraya menarik rambut dan memukul kepalanya sendiri dengan kuat.
Sian tidak punya kemampuan untuk menyentuh Arsen.
"Hei, bangun!!!" ucap Sian suara tertahan. Ia tidak mungkin berteriak di siang bolong begini.
Arsen masih setia mengguncang kepalanya yang kian berdenyut seiring kenangan singkat itu datang.
"Aku udah punya Di. Maaf Gi, aku sayang sama kamu sebagai saudara perempuanku."
"Kamu gak mau mempertimbangkan aku, Ar? Aku selalu ada buat kamu saat Diana sibuk, aku,-"
"Gi, cukup. Jangan rusak semua yang sudah terjalin dengan baik selama ini," bentak Arsen seraya menghentakkan tangan gadis itu yang menggenggam erat tangannya.
Gadis itu terpaku. Wajahnya memerah semerah bola mata indah yang kini mualo berkaca - kaca.