Satu hal yang sangat ingin Arsen lakukan setelah mendengar cerita panjang dari gadis kecil--yang ia kenal sebagai Tri--beberapa saat yang lalu, yaitu menemui perempuan yang entah sudah berapa lama ia rindukan.
"Udah mau maghrib. Aku antar pulang, ya," ajak Sian pada gadis dengan wajah tembam yang masih memerah. Mata bulat kecokelatan dan hidung mancung yang kecilnya itu bahkan terlihat merah jambu.
Beberapa saat yang lalu, Tri memutuskan untuk mencuci wajahnya setelah menyelesaikan cerita panjang yang ia ceritakan pada Sian.
Ia mengangguk pelan.
"Na, aku pulang, ya." Kana, adik pertama Sian mengangguk lalu merengkuh sahabatnya itu ke dalam pelukan.
"Ibu mana?" tanya Tri seraya menatap ke dalam, namun wanita cantik dan ramah itu tidak muncul.
"Ibu lagi nyiapin makan malam. Apa gak abis makan malam aja, kamu pulangnya?"
Tri nampak menggigit bibir bagian dalamnya sejenak seraya berpikir ulang.
"Loh, nak Tri mau pulang?!" Ternyata bu Amina baru selesai memasak menu makan malam hari ini. Karena terdengar suara dari ruang tamu, ia beranjak ke depan dan mendapati ketiganya di sini.
"Iya bu," jawab Tri terbata. Ia tidak enak karena bartamu kemalaman seperti ini untuk beberapa kalinya. Akan tetapi, siapa sangka kalau bu Amina malah senang dan sangat welcome pada gadis itu tiap kali Tri berkunjung.
"Soalnya udah ngabarin orang rumah, kalau Tri pulangnya sebelum maghrib," cicit gadia itu seraya tersenyum sungkan.
Sian masih menunggu seraya menatap ke sekeliling. Seperti mencari keberadaan seseorang.
Arsen, hantu itu sudah menghilang entah ke mana. Entah kenapa, Sian jadi khawatir. Pasalnya, hantu itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
"Yaudah. Hati - hati ya, nak. Salamin ke mama papamu." Tri menganggukan kepala mengiyakan seraya tersenyum. Lalu membalas pelukan hangat dan nyaman dari bu Amina.
Sian berpamitan untuk mengantarkan gadis itu.
Beberapa saat kemudian motor yang dikendarai Sian sudah bergabung dengan kendaraan lain yang berlalu lalang membelah jalanan kota Argon.
Di perlajalanan. Tri, gadis itu seolah ingin menanyakan sesuatu pada pria yang saat ini memunggunginya.
Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Sian. Sejak beberapa saat yang lalu. Akan tetapi, sepertinya waktunya tidak tepat.
Sementara itu, Sian nampak beberapa kali menatap kaca spion dan mendapati gadis di belakangnya itu ingin mengatakan sesuatu. Namun mengurungkannya.
"Kamu mau bilang sesuatu?" tanya Sian pada akhirnya seraya memfokuskan tatapan pada jalanan yang ada di depan mereka.
Tri nampak meringis. Ia bingung mau menanyakan dari mana.
"Eng-gapapa," balas Tri seraya menggelengkan kepala pelan.
"Maaf ya," ucap Sian membuat Tri bingung. Pria itu meminta maaf untuk apa.
"Maaf karena aku belum bisa cerita sekarang. Weekend nanti ... Bisa gak kita ketemu di kafe uno?" jelas Sian lalu bertanya pada gadis yang ada si belakangnya.
Tri mengangguk dengan cepat, "boleh."
Perjalanan dari rumah Sian ke kawasan perumahan di mana Tri tinggal itu berlangsung setidaknya menghabiskan waktu selama lima belas menit.
Sesampainya di rumah Tri adzan maghrib pun berkumandang dengan nyari dari pengeras suara Masjid perumahan di sana.
"Gak mau mampir dulu, sekalaian solat di sini?" tanya Tri pelan seraya menyerahkan sebuah helm berwarna merah.
Sian menggeleng, "Aku mau salat ke Masjid dekat sini aja. Kapan - kapan aku mampir. Salam ke mama papamu," pinta Sian seraya mengaitkan helm itu pada kaitan yang ada di bagian depan.
"Kamu masuk, gih," pinta Sian seraya menunggu gadis itu memasuki gerbang rumahnya yang sudah dibukakan oleh pak satpam.
"Iya. Kamu duluan," balas Tri seraya menunggu Sian berlalu.
Sian menganggukan kepala. Menagalah dan berpamitan lebih dulu.
"Mari pak." Pak satpam tersenyum seraya menganggukan kepala.
Sian benar - benar berlalu dengan motor maticnya setelah mengucapkan salam.
Tri menatap punggung Sian yang kian menjauh dan menghilang di balik belokan jalan.
Lalu beranjak masuk setelah berpamitan pada pak satpam.
Sesampainya di rumah ia tidak mendapati siapapun. Gadis itu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar.
Ia merasa lega saat dirinya memasuki ruangan dengan nuansa putih biru. Meletakkan slingbag ke tempatnya. Lalu meraih handuk dan segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Setelah siap dengan setelan baju tidurnya. Ia segera menggelar sajadah berwarna biru itu lalu meraih mukemah dengan warna senada. Mendirikan salat maghrib sendirian di ruangan yang sepi itu.
Menolehkan wajah ke kanan lalu ke kiri seraya mengucapkan salam. Lalu menengadah seraya mengangkat telapak tangan yang kedua sisinya disatukan.
Air matanya mengalir seiring dilangitkannya doa - doa serta harapan - harapan yang setiap harinya ia ucapkan.
Setelah itu, Tri melipat kembali sajadah dan menggantung mukenah itu ke tempat semula. Lalu melangkahkan kaki mendekati kasur. Mendarakan bokongnya di sana seraya menatap ke arah meja belajar dengan tatapan sendu.
Didekatinya meja belajar berwarna biru putih itu, lalu mendaratkan tubuh di kursi yang ada di sana.
Dibukanya lemari yang di dalamnya terdapat sebuah kotak besi. Diraihnya benda itu, lalu membukannya dengan pelan.
Foto itu masih di sana. Foto yang menampilkan dirinya saat kecil dan dua orang dewasa yang tersenyum lebar.
Ditatapnya foto itu seraya memutar kembali kenangan yang ada di kepalanya.
Lagi. Lagi - lagi bulir air mata itu jatuh tanpa ia sadar kapan keluar dari kedua sudut matanya.
***
Langit kota Argon ternyata terlihat sangat indah pada malam hari. Taburan bintang yang tersebar lalu bulan sabit yang melengkung dengan menawan.
Setelah selesai salat maghrib. Sian bergegas untuk pulang sebelum waktu isya tiba.
Motor maticnya melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota Argon yang terlihat cukup lenggang.
Aktivitas masyarakat kota Argon akan semakin berkurang di malam hari. Sebagian perusahaan - perusahaan besar, intansi pemerintahan dan lain sebagainya tidak memberlakukan lembur.
Jalanan kota nampak masih basah dan genangan air hujan masih terlihat di beberapa titik jalanan kota.
Sian mematikan mesin motornya saat mencapai teras rumah. Menutup kembali gerbang berwarna hijau itu, lalu melangkah mendekati pintu rumah yang tertutup.
"Assalamu'alaikum." Sian mengucapkan salam seraya mengetuk pintu dengan pelan.
Sejurus kemudian, terdengar suara pintu dibuka dari dalam diiringi oleh jawaban salam dari seseorang.
"Tadi solat di rumah nak Tri?" tanya ibu Sian seraya menutup pintu dan melangkah mengekori Sian lalu duduk di ruang tamu.
"Enggak bu. Abang mampir ke Masjid yang ada di dekat sana." Bu Amina mengangguk.
"Adek - adekmu udah di dapur. Kami nungguin abang buat makan malam bersama." Sian tersenym lalu melangkah mengekori ibunya ke dapur rumah mereka.
Terlihat ketiga adiknya yang kini duduk manis seraya menatap hidangan yang ada di hadapan mereka.
Sian dan Bu Amina ikut bergabung. Menarik kursi lalu duduk menghadap meja makan.
Setelah membaca doa makan bersama. Mereka menyantap makan malam yang terdiri dari ayam sambal pedas manis kesukaan Sian, tahu goreng krispi kesukaan Kena dan Kuna. Lalu tumis capcai kesukaan Kana dan Bu Amina.
Seperti biasa, Bu Amina membuka obrolan kecil di sela - sela aktivitas makan malam itu.
Menanyakan bagaimana sekolah ketiga putrinya lalu kuliah sang putra.
Selain membuat kedekatan antara ibu dan anak menjadi lebih erat. Mengobrol dengan anak - anak juga hal yang harus dilakukan orang tua guna mengetahui apa - apa saja yang dilalui sang anak di hari - harinya. Membuat anak merasa berarti dan tidak menutup diri.
Meski sederhana, pertanyaan seperti, "Bagaimana harimu? Apa ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik?" atau "Gimana dengan sekolah? Apa sudah memasuki masa ujian?"
Memberikan pertanyaan semacam itu termasuk kepedulian dan bentuk kasih sayang yang dibutuhkan sang anak dari orang tua.
Meski sang anak tengah melalui hari yang sangat buruk sekalipun, mereka akan mengatakan kalau hari mereka berjalan dengan baik. Saat orang tua memberikan pelukan hangat dan dukungan alih - alih tuntutan yang membuat anak tertekan. Anak akan merasa lebih baik dan dapat menghadapi hari beratnya.
***
Setelah makan malam serta obrolan hangat bersama ibu dan ketiga adiknya. Sian beranjak ke kamar. Merindukan kasurnya yang seharian ini tidak ia sentuh karena misi yang harus ia jalankan bersama Arsen.
Ngomong - ngomong soal Arsen. Sian jadi bertanya - tanya ke mana hantu itu perginya?
Setelah mendengar cerita panjang lagi menguras hati dari Tri. Arsen menghilang begitu saja. Tanpa berpamitan pada Sian.
Pria itu menghela napas panjang lalu mengembuskannya dengan berat. Meski ia tidak mengenal Arsen sebelumnya. Tetap saja, Sian ikut merasakan bagaimana pilu dan menyesakkannya kehidupan Arsen.
Sian bergegas membersihkan diri. Lalu bersiap dengan setelan tidur. Seraya menunggu waktu isya tiba, ia merangkak ke atas kasur. Menyandarkan punggungnya di kepala kasur.
Sian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Kalau - kalau Arsen mengurung diri di kamar ini tanpa ia ketahui. Akan tetapi, ia tak menemukan apapun.
Sian mendesah pelan lalu beralih menatap ponselnya yang kini tergelatak di atas meja belajar. Ia terpaksa menuruni kasur melangkah mendekati meja belajar lalu meraih benda berbentuk pipih itu. Membawanya bersama ke atas kasur.
Digulirkannya layar ponsel yang terlihat menyala. Mengetuk ikon galeri yang ada si layar.
Sejurus kemudian, ia teringat akan keadaan Tri. Gadis itu cukup banyak menangis hari ini. Apa sekarang dia baik - baik saja? Sian bertanya - tanya seraya menatap pada foto yang menampilkan dirinya dan gadis mungil itu.
Tidak hanya itu, Sian kembali teringat akan teman hantunya itu, Arsen. Di mana dia sekarang? Sian merasa khawatir karena Arsen menghilang begitu saja tanpa mengatakan apa - apa. Dan yang paling membuat Sian cemas, Arsen sempat mengeluhkan kalau kepala dan dadanya terasa nyeri dan sesak.
Sampai setelah salat isya berlalu. Sian kembali memikirkn banyak hal mengenai Arsen.
Pria itu memilih untuk duduk di kursi yang menghadap meja belajarnya. Menimbang apa yang dapat ia lakukan untuk membantu Arsen.
Apa ia temukan Arsen dengan kakaknya Tri? Apa itu akan berguna? atau malah membuat Arsen merasa tersiksa. Karena tidak bisa berbicara pada kekasih hatinya.
Lalu, apa? Apa yang harus ia lakukan.
Mencari tahu, alasan si balik kematian Arsen?
Tapi bagaimana caranya? Sementara ia tidak punya petunjuk apapun yang berarti. Bahkan Tri dan keluarganya tidak menemukan petunjuk apapun selama bertahun - tahun.
Bagaimana caranya Sian bisa menemukannya?
Seraya memikirkan banyak hal. Sian iseng menggulir layar ponselnya. Tidak sengaja membuka email masuk yang berisi jurnal penelitian biologi.
Tidak ada yang penting dari email itu. Pasalnya Sian hanya menuggu waktu seminar hasilnya dilangsungkan.
Akan tetapi, sebelum menutup halaman itu. Matanya tertarik untuk menatap sebuah email masuk dari seseorang yang nampak asing di ingatannya.
Regiaqu@gmail.com
Sian mengingat - ingat siapa pemilik email ini. Sudah cukup lama ternyata. Hampir sepekan yang lalu. Sian sangat jarang mengecek ponselnya terutama mengecek kota masuk di email.
Lalu, Sian makin bertanya - tanya saat ia membuka email yang isinya memberitahukan pada Sian untuk segera menyelesaikan naskah novel yang Sian tawarkan pada Ways Publisher
Sian baru ingat. Aqua Regia, salah satu penulis novel bergenre Mystery-Thriller ternama di kota Argon.
Aneh. Kenapa bisa seorang penulis terkenal seperti Gia mau mengirimkannya email seperti ini.
Sian jadi teringat akan sosok Axen, editor sekaligus staf Ways Publisher. Pria itu sudah lama tidak menagih naskah Sian. Terakhir, Sian menghindarinya karena ingin fokus pada kuliah dan pekerjaan paruh waktunya.
Sian mendesah, ia kembali teringat akan nasib naskah novelnya yang belum ada tujuh puluh persen.
Lalu, sekarang Arsen menghilang. Hantu itu berjanji ingin membantunya untuk menyelesaikan naskah itu.
Kepala Sian terasa berdenyut - denyut. Buku yang dibukanya beberapa saat yang lalu, ia kembalikan ke rak seperti semula.
Ia kembali melangkah mendekati kasur. Membaringkan tubuhnya setelah meletakkan ponsel di atas nakas.
Energi dan emosinya hari ini terkuras cukup banyak. Tidak heran ia merasa kelelehan yang luar biasa.
Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh hingga sebatas d**a. Lalu membaca doa dan memejamkan matanya dengan kuat.
Sementar itu, sesosok bayangan hitam mendekati tubuh Sian. Perlahan - lahan ikut membaringkan diri, namun bukan di samping pria itu. Melalainkan di atas tubuhnya.
Sejurus kemudian, mata Sian terbuka. Akan tetapi, tatapan mata itu berbeda dari sebelumnya. Mata yang sebelumnya nampak menahan kantuk dan layu, itu, kini terlihat lebih segar.
Mata itu kini menatap jam dinding di kamar Sian. Sudah hampir tengah malam. Sepertinya ia akan melancarkan aksinya esok hari. Sebab ini sudah terlalu malam untuk mengunjungi kediaman seorang perempuan.
***