"Kenapa? Apa yang terjadi padanya?" Sian bertanya setelah Tri menghentikan isakannya. Gadis itu mendongak dengan wajah basah karena air mata.
Gadis itu menggelengkan kepala. Jujur ia belum sanggup menceritakan apapun.
"Sian, tolong katakan padanya untuk bicara yang jelas. Aku mohon!" desak Arsen dengan gelisah seraya menggoyangkan lengan pria di sampingnya.
Sian menoleh ke samping. Mendapati Arsen yang tengah gelisah menunggu gadis yang ada di hadapan mereka ini bercerita lebih jelas.
"Bisa gak, kamu ceritain sesuatu yang kamu tahu. Aku belum bisa bilang kenapa aku pengen tahu tengang orang ini. Tapi, aku mohon, ceritain apa yang kamu tahu tentangnya," pinta Sian dengan sungguh - sungguh seraya menatap gadis di hadapannya itu dengan wajah memelas.
Tri mengangguk, "Aku bakal cerita," jawabnya dengan terbata - bata. Pipi gadia itu bahkan belum kering dari air mata. Mata kecokelatannya masih terlihat merah dan berair. Bahkan, hidung mancungnya yang kecil itu kini terlihat ikut memerah.
Setelah menghela dan mengembuskan napas dengan perlahan. Tri memejamkan matanya sejenak. Lalu mulai menceritakan semua yang ada dalam memeri ingatannya tentang Arsen.
Di mulai sejak ia masih duduk di sekolah dasar, di mana kakak keduanya mengenalkan ia dengan seorang pria bernama Nik. Arsenik, yang kerap ia panggil 'Bang Nik'.
Nik dan Diana kakakmya Tri, sudah saling mengenal sejak mereka sama - sama masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hingga berlanjut di sekolah menengah atas lalu sampai mereka sama - sama dewasa. Kuliah bersama dan berkerja. Keduanya masih dekat satu sama lain. Bahkan makin dekat.
Hubungan persahabatan antara Nik dan Di ternyata berlanjut ke jenjeng yang lebib serius. Nik pria yang baik, bertanggungjawab, dan yang pasti menerima Di secara utuh. Begitu pula dengan Diana, perempuan itu sangat menyayangi Arsen. Sejak mereka berteman hingga mereka berakhir menjadi sepasang kekasih, Di selalu menyayangi Arsen. Mencintai pria itu dengan tulus, menerima apapun yang ada pada Arsen tanpa tapi atau tanpa butuh alasan.
"Lalu, kenapa? Apa yang terjadi selanjutnya?" Sian bertanya setelah didesak oleh Arsen yang makin penasaran dan mencoba mengingat - ingat kembali kenangan di masa - masa itu.
Tri, gadis itu berkali - kali menghela napas dengan berat lalu mengembuskannya dengan perlahan. Kemudian melanjutkan ceritanya dengan hati yang terasa tergores.
Tidak ada yang salah dengan hubungn keduanya. Semuanya baik - baik saja. Bahkan terlalu baik, hingga siapapun tidak akan pernah berpikir kalau Arsen akan pergi secara tiba - tiba di menjelang hari yang sakral dan paling mereka tunggu - tunggu setelah sekian lama mengenal dan saling mencintai.
Sampai pada hari di mana semua berubah begitu cepat. Kenangan indah, memori kebersamaan mereka, rencana masa depan yang didamdbakan dan segala hal yang telah berjalan hampir sempurna. Semuanya tiba -
tiba saja hilang dari pandangan mata. Semuanya terhenti begitu saja.
Hari itu, hari di mana akan diberlangsungkannya sebuah acara suci nan sakral yang akan digelar di sebuah Masjid terbesar di jantung kota Argon. Langit yang semula biru dan cerah perlahan mengabu dan gelap seketika.
Hari itu, hari di mana Diana seharusnya duduk sebagai mempelai wanita yang sedang berbahagia karena akan segera menikah dengan pria yang dicintainya. Pada akhirnya, ia hanya menjadi perempuan yang paling berduka dan menanggung kehilangan yang amat lara.
"Maaf," ucap Sian merasa berslah. Tidak seharusnya ia mendesak Tri untuk menceritakan semuanya saat ini juga. Sebab, ia seharusnya mengerti. Kalau luka yang dialami sang kakak juga dialami oleh gadis itu.
"Gapapa, aku gak tahu apa yang mau kamu ketahui dan kenapa kamu mau tahu. Tapi, aku harap kamu tahu seauatu tentang bang Nik dan aku harap, kamu juga mau menceritakannya padaku," balas Tri seraya mengusap sisa - sisa air mata yang membasahi pipi tembamnya.
Arsen tertunduk lemas. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pasalnya, ia sudah mencoba keras untuk mengingt semuanya. Mengingat apa - apa yang barusan diceritakan oleh gadis yang ada di hadapannya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan apapun kecuali rasa nyeri yang hebat di kepala dan rasa sakit yang tiba - tiba saja menyerang jantungnya.
Sian nampak khawatir saat mendapati Arsen yang merintih kesakitan seraya menyentuh d**a bagian kiri.
"Lalu, apa yang terjadi pada Nik?" tanya Sian hati - hati.
Tri, gadia itu tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menggelengkan kepala berkali - kali.
"Gak ada yang tahu, bang Nik kenapa. Gak ada yang tahu apa yang terjadi sama bang Nik. Dan gak ada yang bisa kami lakuin setelah melakukan semuanya, namun gak ada yang kami dapatkan. Pesan, atau secarik kertas berisi kalimat perpisahan, atau apapun. " Tri kembali terisak saat cerita yang ia mulai beberapa waktu yang lalu, kini sudah mencapai bagian klimaksnya. Bagian tersulit untuk ia ingat dan ceritakan kembali.
Arsen berhenti merintih. Bukan karena sakitnya hilang, namun karena ia tidak terima kenapa cerita yang diceritakan oleh gadia itu hanya berhenti sampai di sini. Kenapa tidak ada yang bisa mengantarkannya pada petunjuk yang jelas.
Kalau orang - orang yang mengenalnya saja tidak tahu apa yang menyebabkan Arsen pergi, lalu apa? Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Apa tidak ada keluarganya yang bisa ditanya? Atau kemungkinan ia pergi ke suatu tempat di mana ada saudaranya di sana?" Sian berinisiatif untuk bertanya lebih lanjut, siapa tahu ada hal yang bisa ia pahami dan menghantarkannya pada suatu petunjuk baru.
Akan tetapi, lagi - lagi Tri hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak ada yang bisa mereka datangi untuk menanyakan di mana keberadaan Arsen.
"Bang Nik cuma sebatang kara, sejak nenek udah meninggal saat bang Nik masih kuliah."
Sian mengembuskan napas dengan lemah. Begitupun dengan Arsen. Ia nampak terduduk lesu dan putus asa.
"Orang tua bang Nik udah lama meninggal. Dulu sekali sebelum bang Nik masuk sekolah menengah pertama. Kakek nenek dan bahkan orang tau bang Nik terlahir sebagai anak tunggal." Tri lanjut bercerita seraya mengingat - ingat kembali kenangan di mana Diana dan Nik saling bercerita satu sama lain yang ditemani oleh Tri kecil.
"Gak ada yang tersisa, cuma bang Nik. Karena itu, kak Di sayang banget sama bang Nik. Kak Di udah kayak ibu, saudara, kekasih dan sahabat bagi bang Nik." Di akhir cerita, air mata yang jatuh dari sudut matanya semakin menjadi. Tri semakin sulit menghentikan isakannya. Hingga Sian memutuskan untuk mendekati gadis itu. Lalu menepuk pundaknya pelan seraya menenangkannya.
Sementara itu, Arsen yang kini telah mengetahui semuanya. Ia merasa hatinya dihantam dengan kuat berkali - kali oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Pikirannya melayang jauh mengingat seorang wanita yang diceritakan oleh gadis yang kini bersandar pada bahu Sian.
Wanita yang membuatnya kuat menerjang semua kerikil kehidupan yang mengahalanginya untuk melangkah. Seketika, wajah seorang wanita cantik dengan tatapan mata sendu menghampiri memori ingatannya.
Wanita yang memanggilnya dengan lembuh dan penuh cinta.
Diana.
"Awas saja, kalau kau berani meninggalkanku lebih dulu!"
Arsen tertawa seraya menatap wajah perempuan yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Lalu, apa lebih baik kau yang meninggalkanku, daripada aku yang meninggalkanmu?"
"Kau ini! Aku gak suka dua - duanya. Pokoknya gak ada yang boleh ninggalin satu sama lain!"
"Tapi kita gak tahu jalannya takdir."
Kenangan itu, wajah perempuan cantik itu dan percakapan itu. Semuanya perlahan datang dan terputar dengan jelas dalam memori yang entah dari mana datangnya. Seiring bertambahnya rasa sakit dan sesak pada kepala dan dadanya. Kenangan itu semakin jelas dan membuat Arsen semakin terpukul.
Tidak ada yang paling didambakannya, kecuali menemui perempuan yang ada di dalam memori ingatannya itu.
Tidak ada kata yang paling ingin ia ucapkan, kecuali kata "Maaf" karena telah meninggalkan gadisnya itu dengan menyisakan luka yang amat besar dan tak kunjung sembuh.
Lalu, ia memutuskan untuk pergi. Mencari gadisnya yang entah ke mana. Tidak banyak yang bisa Arsen ingat. Kecuali rumah, orang - orang terdekatnya dulu dan beberapa tempat yang paling sering didatanginya bersama orqng terkasih.
***