GM-44-Firts Mission?

2144 Words
Setelah tragedi yang tidak menyenangkan yang dialami oleh Arsen. Ia memutuskan untuk mendesak Sian agar segera bersiap untuk menemui Tri, gadis yang kemungkinan mengenalnya semasa ia hidup. Akan tetapi, untuk pertama kalinya Sian memutuskan untuk tetap bergelung di dalam selimut hangatnya. Bahkan jam dinding yang tepatri di dinding kamar pria itu, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. "Kenapa kau tidak mengajaknya bertemu di pagi hari?" keluh Arsen seraya menatap pada Sian yang berpura - pura tidak mendengar keluhan Arsen barusan. "Aku tahu kau tidak tidur Sian!" Sian masih setia menutup matanya kuat - kuat dan berpura - pura tidak mendengar tuduhan Arsen barusan. Apa hantu itu tidak tahu ini hari apa? Pikir Sian dengan sebal. Arsen masih berusaha untuk mengusik Sian sampai membuat pria itu menyerah dan bangkit dari kasur. "Hentikan!!!" Sian memperingati dengan nada tajam. Sementara Arsen, hantu itu tetap pada pendiriannya. Ia harus membuat Sian bangun dan bergegas untuk menemui Tri. Gadis yang membuat Arsen penasaran. Kenapa gadis itu bisa ada dalam ingatannya. "Arsenik Dominick, kau tahu ini hari apa?!!" Sian bangkit lalu bertanya dengan nada tinggi dan penuh penekanan. Arsen menghentikan aksinya saat mendengar Sian memanggil nama lengkapnya. "Memangnya kenapa? Apa hubungannya hari ini dengan pertemuanmu dengan gadis bernama Tri itu?" tanya Arsen seraya kembali duduk di kursi belajar Sian. Menatap sang tuan kamar itu dengan mata wajah sebal. "Kalau kau lupa, gadis bernama Tri itu masih seorang pelajar Sekolah Menengah Atas. Dan itu artinya ia harus ke sekolah dan ini masih jam belajar, kau paham?!!" Sian menjelasakan dengan d**a naik turun menahan emosi. Sementara itu, Arsen yang baru menyadari bahwa Tri tidak bisa ditemui sekarang karena gadis itu masih di sekolah, memilih untuk bungkam lalu menghilang sebentar. Sian bangkit lalu menuruni kasur. Merapikan tempat tidurnya yang berantakan karena acara tarik - menarik selimut antara dirinya dengan Arsen. Sian hampir saja berteriak pada hantu itu, kalau saja ia tidak ingat bahwa orang rumahnya bisa saja curiga. Entah ke mana hantu itu. Sian mendesah seraya meregangkan otot - otot tubuhnya. Melakukan pergerakan kecil lalu melangkah mendekati kamar mandi. Meraih handuk berwarna abu yang tergantung bebas di dinding lalu melangkah memasuki kamar mandi. Sejurus kemudian.... KYAAAA!!! hampir saja Sian terpeleset saat ingin memalingkan tubuhnya ke luar kamar mandi. Pasalnya, Arsen, hantu itu tengah berdiri menatap cermin tanpa sepengetahuan Sian kapan hantu itu masuk ke sini. "Kau," Sian berujar dengan geram. Seraya menatap Arsen dengan tajam. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sian seraya menetralkan detak jantungnya. "Mencuci muka," jawab Arsen dengan wajah tanpa dosa. Sian memejamkan matanya sejenak seraya mendengkus kuat. "Sekarang, keluarlah! Aku mau mandi," pinta dengan wajah menatap hantu itu dengan jengah. Arsen, hantu itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang kecil dan rapi. Lalu menghilang di balik pintu kamar mandi. Sian menggelengkan kepala heran. Bisa - bisanya ia berteman dengan seorang hantu macam Arsen. Setelah menyelesaikan kegiatan mandi dan bersih - bersih. Sian ke luar dan bersiap mengenakan pakaian santai. Karena pagi ini, ia tidak punya keperluan di kampus juga tidak ada jadwal bekerja di kafe. "Kau akan tidur lagi?" tanya Arsen dengan wajah tidak percaya saat Sian kembali merangkak ke atas kasur lalu menyandarkan punggungnya pada kepala kasur. "Menurutmu," jawab Sian retorik. Lalu membuka sebuah buku yang sebelumnya ia ambil dari rak pada meja belajar. Saat Sian mengalihkan seluruh atensinya pada buku yang ia genggam. Arsen malah mendekat lalu merebut buku itu tanpa permisi dan tanpa aba - aba. Membuat Sian kembali murka dan ingin sekali mencekik hantu itu andai ia bisa menyentuhnya. "Berhenti menggangguku atau rencana hari ini tidak akan pernah terlaksana," ancam Sian seraya mengulurkan telapak tangan meminta buku itu dikembalikan padanya. Arsen yang merasa khawatir akan ancaman Sian itu, langsung menyerahkan kembali buku yang sempat ia rebut tanpa permisi itu pada Sian. Pagi itu, mereka disibukkan dengan perdebatan kecil yang membuat Sian seringkali ingin merutukki Arsen, si hantu yang membuatnya merasa jengkel. Sementara Arsen, ia menimakti kemarahan Sian yang baginya seperti hiburan. Jujur saja, Sian tipikal orang yang tidak mudah marah, namun saat berasama Arsen, entah kenapa ia menjadi lebih mudah tersulut emosi. Entah karena kelancangan hantu itu atau sikap innocent Arsen yang terlihat menjengkelkan di matanya. *** Semnetara di Sekolah Menengah Atas Negeri Krypton. Seorang gadis tengah menatap layar ponselnya yang gelap seraya menuliskan sesuatu pada selembar kertas. Hari ini rapat ekskul Literasi Lovers Club SMA Negeri Krypton. Semua anggota terlihat menghadiri rapat itu termasuk Tri dan sahabatnya Kana. "Kali ini kita mengadakan sebuah callenge menulis cerpen bersama," seru Merkurina di depan semua anggota LLC. "Untuk tema cerpen, kita memilih satu tema yang relate dengan kehidupan remaja seusia kita, yaitu Student's Life Story." "Silahkan dimulai menulis cerpennya dari sekarang. Waktu penulisan berakhir tepat jam setengah empat nanti." Semua anggota LLC bergegas menuliskan sesuatu pada kertas masing - masing. termasuk Kana yang kini nampak memikirkan sesuatu lalu menuliskan beberapa penggal kalimat pada kertas yang ada di meja. Di sela - sela menulis cerpen itu, Kana memalingkan wajahnya menatap ke arah tri, sahabatnya. Entah apa yang sahabatnya itu pikirkan, akan tetapi Kana merasa aneh saat melihat kertas yang ada pada gadis di sampingnya itu masih bersih tanpa coretan apapun. Disenggolnya lengan Tri dengan pelan hingga gadis itu menoleh menatap Kana. "Kamu kenapa?" tanya Kana dengan setengah berbisik. Tri menggelengkan kepala. "Gapapa kok, hehe" balasnha seraya nyengir kuda. Lalu mereka kembali pada kertas masing - masing. Menulikan beberapa paragraf yang di dalamnya terdapat narasi yang mereka ceritakan lewat berbagai sudut pandang. Ada yang memilih untuk bercerita lewat sudut pandang orang pertama ada juga yang memilih menulis cerita lewat audut orang ketiga. Waktu berlalu begitu cepat, sampai pada saat jarum jam yang terpatri di dinding ruangan LLC menunjukkan pukul tiga siang lewat dua puluh lima. Itu artinya lima menit dari sekarang, waktu penulisan cerpen akan segera berakhir. Kana nampak mengembuskan napas lega setelah menyelesaikan penulisan cerpennya yang cukup menguras otak dan energi. Tri, gadia itu juga menyelesaikan cerpennya tepat waktu. Setelah selesai dengan kegiatan penulisan cerpen, mereka pun memutuskan untuk menutup rapat hari itu dan pulang. Tentu saja, Kana dan Tri memilih pulang bersama. Karena selain Tri ingin menemui Sian, ia juga ingin mengembalikan helm Sian yang belum sempat ia kembalikan waktu itu. *** Sesampainya di rumah. Kana mengetuk pintu rumah dengan pelan seraya mengucapkan salam. Sementara itu, Tri ikut berdiri di depan pintu bersama sahabatnya itu. "Wa'alaikumussalam." Seseorang keluar dari bakik pintu seraya menjawab salam. Bu Amina. Wanita itu tersenyum saat mendapati anak perempuannya sudah pulang dan bersama dengan seorang gadis yang tidak asing di matanya. "Wah, ada nak Tri. Apa kabarnya sayang?" Bu Amina menyapa dengan ramah dan mengajak mereka masuk. "Alhamdulillah baik bu. Ibu bagaimana kabarnya? Sehat - sehat kan?" Bu Amina mengangguk seraya tersenyum hangat. Tri sangat senang tiap kali bertemu dengan ibunya Sian. Sebelum mengobrol lebih jauh. Mereka berdua memutuskan untuk berpmatan ke kamar untuk mengganti pakaian seragam dengan pakaian santai. "Kalian udah makan siang?" tanya Bu Amina dari luar kamar. "Udah, bu. Tapi udah laper lagi," balas Kana seraya membuka pintu setelah menyelesaikan kegiatan ganti pakaiannya barusan. Tri ikut mengekori sahabatnya itu. Mereka menuju ke dapur dan mendapati Kuna dan Kena tengah duduk manis menghadap meja makan. "Kalian gak sekolah?" tanya Kana pada kedua adiknya. Keduanya memutar bola mata malas. "Sekolah lah. Kami pulangnya duluan," balas keduanya dengan kompak lalu melanjutkan aktivitas membubuhkan nasi ke dalam piring. "Ayo nak Tri. Silahkan duduk dan nikmati makan siangnya!" ajak bu Amina seraya menaruh beberapa potong tahu goreng hangat yang ada dalam piring berwarna putih gading. "Iya bu. Terimakasih banyak udah repot - repot," balas Tri seraya mengangguk. Mereka duduk menghadap Kena dan Kuna yang kini sudah menikmati makanan yang kedua kalinya. Nafsu makan Kena dan Kuna memang di atas kakak mereka, Kana. Tak heran, tubuh keduanya terlihat lebih berisi daripada Kana. Setelah menyelsaaikan makan siang. Tri dan Kana memutuskan untuk duduk di ruang tamu. "Abang kamu ke mana ya, Na?" tanya Tri seraya menyalakan ponselnya yang sempat mati karena kehabisan baterai. "Katanya ada janji sama temen. Makanya abang chat di w******p gak bisa jemput," jawab Tri seraya menggulirkan layar ponselnya. Lalu, Tri nampak terkejut saat membaca notifikasi pesan dari Sian di w******p. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa chat yang masuk, semuanya dari Sian. Tri menoleh menatap Kana. "Abang kamu nelpon sama ngechat aku. Aku baru nyalain ponsel karena di sekokah td habis batre. Makanya numpang ngecharge di kamar kamu." "Iya nih. Abang juga nelpon aku. Bentar ya." Kana mengangkat panggilan dari Sian lalu mengucapkan salam lebih dulu. "Iya, bang. Kenapa? Mau ngomong sama Tri?" tanya Kana pada abangnya di seberang sana. "Ini, ada di rumah. Abang pulang aja kalo mau ketemu." Tri nampak mengerutkan alis. Tidak mengerti kenapa Sian ingin menemuinya. Pasalnya, gadis itu belum membuka pesan masuk dari Sian. "Abang bilang mau ketemu kamu. Makanya bang Sian tadi ke sekolah." Kana menatap Tri seraya memberi tahu sahabatnya itu kalau abangnya baru saja menanyakan gadis itu. "Oh iya, abang kamu chat kalo dia mau ketemu aku. Aku baru baca chatnya," ujar Tri seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan obrolan ia dan Sian di w******p. Setelah menerima telepon itu. Tri dan Kana melanjutkan obrolan mereka mengenai penulisan cerpen yang di sekolah tadi. Tri mengatakan kalau ia menceritakan dirinya dan Kana. Persahabatan mereka dan hal - hal yang mereka lalui bersama akhir - akhir ini. Kana tersenyum. Gadis itu juga melakukan hal yang sama. Ia menceritakan keluarga sederhananya dan sahabatnya, Triana. Gadis canti, baik, dan penuh kejutan. Sementara itu, di depan Sekolah Menengah Atas Negeri Krypton. Sian tengah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. "Aku baru tahu kalau anak SMA bisa pulang sesore ini?" Arsen, hantu yang duduk di belakang Sian berujar seraya menatap ke arah gerbang sekolah yang sudah tertutup. "Barangkali masa SMA itu sepuluh tahun yang lalu. Jadi wajar kau tidak tahu," jawab Sian dengan sarkastik. Arsen mendengkus sementara Sian kembali melajukan sepeda motornya membelah jalanan kota Argon menuju rumah. *** Sesampainya di rumah. Sian mendapati Kana dan seorang gadis yang ia cari sejak tadi. Gadis yang ingin ditemuinya karena desakkan Arsen. Meski sebenarnya, Sian ingin menghindari gadis itu sejenak. Namun ia tetap memikirkan Arsen. Hantu itu sudah begitu bersemangat untuk menemui Tri. Arsen bahkan mengusiknya sejak pagi tadi hingga saat ini. "Jangan kelamaan intronya. Buruan tanyain soal foto itu!" desak Arsen seraya menyikut lengan pria yang ada di sampingnya itu. Sian menahan rasa geramnya sejenak seraya mengembuskan napas perlahan. Ditatapnya adik perempuannya itu. "Na, bisa ke dalam bentar? Abang mau bicara sama sahabat kamu," pinta Sian pada adiknya, Kana. Gadis itu nampak terkejut. Akan tetapi, ia tetap menganggukkan kepala lalu berlalu meninggalkan ruang tamu. Tri, gadis itu nampak gugup. Entah apa yang akan Sian tanyakan atau katakan. Namun, semoga saja pria itu tidak kecewa mengenai papanya. "Aku mau tanya sesuatu," ucap Sian seraya duduk di salah satu kursi yang bersebrangan dengan kursi yang diduduki oleh Tri. Tri mengangguk. Sian nampak terdiam selama beberapa saat seraya merogoh kantung jaket yang ia kenakan. Sebuah foto yang tidak asing di mata gadis itu. Sian mengeluarkan selembar foto lalu meletakannya di atas meja. "Kamu pernah pegang foto ini, kan?" tanya Sian seraya menatap dengan wajah serius. Tri nampak bingung, kenapa Sian menanyakan soal foto yang menampilkan sosok mereka di masa lalu. Akan tetapi, ia tetap menganggukkan kepala mengiyakan. "Iya. Waktu itu kamu kasih liat ke aku kan," balasnya lalu bertanya dengan hati - hati. Lalu, Sian kembali mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Secarik kertas yang bertuliskan sesuatu. "ARSENIK DOMINICK" Tulisan pada kertas itu membuat Tri nampak berpikir sejenak. Sementara itu, si yang punya nama nampak menatap gadis itu dengan harap - harap cemas. "Apa kamu pernah mengenal seseorang dengan nama ini?" tanya Sian seraya menatap Tri dengan serius. "Bang Nick?" gumam gadis itu dengan pelan. Entah kenapa wajah kini berubah menjadi sendu. Sian nampak menunggu dengan wajah penasaran. Begitu pun dengan Arsen. ia nampak menunggu seraya menatap gadis di depannya dengan lekat. Tri belum bisa berkata lebih banyak. Ia masih mencerna setiap penggalan nama yang ada pada secarik kertas yang Sian berikan. Nama itu mengingatkannya pada seseorang yang dulu amat dekat dengan dirinya, terutama dengan kakak keduanya, Diana. Tanpa bisa ia tahan, kenangan - kenangan bersama pria yang kerap ia panggil Bang Nick itu datang dan terputar kembali dalam kepala. Hingga kenangan buruk yang membuat semuanya hilang itu datang. "Kamu gapapa?" tanya Sian dengan cemas saat menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan mata memerah dan berkaca - kaca. Tanpa Tri sadari, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Hatinya memdadak merasa sedih. Ia kembali ingat akan keadaan kak Di nya yang memprihatinkan setelah ditinggalkan oleh pria itu. "Kenapa dia menangis?!" tanya Arsen pada Sian dengan wajah penuh pertanyaan. "Apa dia benar - benar mengenalku?" "Kenapa? Kenapa ia menangis? Apa aku meninggal dengan cara mengenaskan?!" Arsen terus mencecar seseorang di sampingnya itu dengan penuh harap. Sian masih bungkam. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis yang ada di hadapannya ini menangis. Akan tetapi, ia ingin memberikan waktu, sampai Tri benar - benar siap bercerita. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD