GM-43-Bersyukur

1478 Words
Setelah bekerja seharian dan berlanjut dengan bertemu dengan ayah dari gadis yang ia sukai. Cukup membuat Sian merasa kalau tubuhnya butuh istirahat yang cukup. Setelah selesai salat isya. Sian memutuskan untuk merangkak ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di sana. Menarik selimut dan memejamkan mata dengan kuat. Arsen tahu kalau temannya ini pasti kelelahan. Ah iya, bicara soal pertemanan. Arsen merasa akan cocok kalau Arsen dan Sian memanggil satu sama lain dengan sebutan teman. "Kenapa?" Arsen tidak tahu kalau Sian belum benar - benar terlelap sepenuhnya. "Ku pikir kau sudah tidur," duga Arsen seraya mendekat ke kasur dan duduk di pinggirannya. "Sejak kapan kau berani duduk di kasurku?" tanya Sian dengan mata masih terpejam. Arsen berdecak seraya mentap tajam ke arah temannya itu. "Kita kan, teman. Sudah seharusnya kita berbagi tempat tidur." Sian mendengkus setelah mendengar apa yang Arsen katakan barusan. "Teori dari mana itu?" Sian membuka mata lalu menyandarkan punggungnya ke punggung kasur. "Lupakan soal itu. Aku mau tahu, apa yang kau rencanakan untuk besok?" Sian nampak diam lalu menatap Arsen dengan saksama. "Kenapa kau mentapku seperti itu?" tanya Arsen skeptis seraya bangkit dari kasur dan berpindah ke kursi yang menghadap meja belajar Sian. Sian sedang berpikir. Bagaimana caranya ia menceritakan soal Arsen pada Tri. Gadis itu bisa saja menolak untuk percaya. "Apa menurutmu Tri akan percaya dengan ceritaku nanti?" Sian menanyakan pendapat Arsen seraya memandang lurus ke depan. Bagaimana caranya meyakinkan gadis itu? Sian terus memikirkannya sejak Arsen menceritakan apa yang arwah itu alami. "Aku akan ikut menemuinya. Siapa yang tahu kalau ia bisa melihatku?" Arsen berujar seraya menatap Sian dengan penuh keyakinan. "Ayolah. Kita coba saja dulu. Ini sangat berarti untukku. Usaha sekecil apapun itu." Sian mengembuskan napas lelah dengan perlahan. "Baiklah. Kita akan mencobanya. Dan seperti yang kau katakan, ia bisa saja dapat melihatmu karena Tri juga pernah menyentuh foto itu." Sian memutuskan untuk menyetujui ide Arsen. Ia kan mencoba menghubungi Tri dan mengajaknya untuk bertemu esok hari. "Terimakasih Sian. Kau memang pria yang baik." Arsen berhambur memeluk Sian tanpa aba - aba. Membuat pria itu mendadak kaku selama beberapa detik. Sebelum akhirnya ia sadar dan mendorong Arsen sekuat tenaga. "Gak ada acara pelukan kayak teletabis ya!" ancam Sian dengan mata menedelik ke arah Arsen yang kini hanya nyengir kuda. "Reflek. Sorry," ucapnya lalu berjalan ke sisi kanan kasur. Mengambil bantal dan selimut tipis yang Sian letakkan di atas nakas. Sian mencebik lalu kembali mengambil posisi berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga d**a. Arsen, arwah dengan mata yang kini terasa lelah memilih untuk melakukan hal yang sama. Berbaring dan memarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga pinggang. Keduanya terlelap. Menyebabkan ruangan yang semula berisi suara mereka yang berdiskusi. Kini hening senyap. Hanya suara detak jarum jam yang terpatri di dinding yang menjadi pengisi keheningan. *** Semenjak kepulangan Sian setelah salat maghrib. Tri, gadis itu kini terlihat uring - uringan di kasur. Berbaring seraya menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Lalu, sejurus kemudian, gadis itu bangun dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Kepalanya kembali memutar memori di mana Sian ditanya - tanya oleh sang papa hingga pria itu merasa tidak nyaman. Bagaimana ini? Ia harus bagaimana? Gadis itu tak henti - hentinya bertanya - tanya pada dirinya sendiri yang sudah jelas tidak mengetahui jawabannya. Tri harus menghubungi pria itu segera. Menanyakan apa ia sampai di rumah dengan aman. Setelah berpikir berulang kali. Ia memutuskan untuk mengirimkan chat pada Sian di w******p. Diraihnya benda persegi--yang kini tergeletak di atas nakas--itu dengan cepat. Menggulir layarnya hingga membuka obrolan mereka di aplikasi berlogo hijau itu. Dalam diam, ia melakukan respirasi dengan benar. Mengehela napas dengan pelan lalu mengembuskannya dengan perlahan. Perlahan jarinya mulai mengetikkan beberapa kata di atas layar ponsel yang menyala. To : Sian Kamu tadi pulangnya gimana? Sebelum menyentuh tombol sent, gadis itu kembali berpikir sejenak seraya membaca kembali pesan yang baru saja ia ketik. Sejurus kemudian ia menggelengkan kepala. Lalu menghapus pesan itu dengan cepat. Kemudian mengetikkan pesan baru. Kamu gapapa kan? Papa aku gak nanya ke kamu yang aneh - aneh, kan? Seperti sebelumnya, ia tidak langsung mennyentuk tombol sent di layar. Akan tetapi, gadis itu membaca ulang pesan itu terlebih dahulu. Saat dirasa tidak cocok atau tidak bagus, ia akan menghapusnya lalu menggantikannya dengan mengetikkan pesan baru. Seperti saja terus menerus hingag jarum jam yang semula berada di angka sepuluh, kini sudah menyentuh angka setengah dua belas lewat tengah malam. To : Sian Bisa gak, kita ketemu besok? Ada yang mau aku bicarain. Semenit setelah ia mengirimkan pesan itu. Tidak ada balasan dari pria itu. Jangankan balasan. Bahkan pesan itu hanya terkirim dengan tanda cecklist satu. Itu artinya, Sian sudah menon-aktifkan jaringannya. Gadis itu mendesah seraya menundukkan kepala dengan lemah. Seketika ia teringat akan satu hal. Waktu. Matanya kini menatap layar ponsel yang menampilkan homescreen dengan waktu yany sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh enam menit. Pantas saja pria itu sudah tidak onnline di w******p. Ini sudah hampir lewat tengah malam. Gadis itu meringis lalu melemparkan ponselnya ke sembarangan arah di atas kasur. Sepertinya ia harus segera tidur. Ia tidak boleh overthinking sebelum mengetahui bagaimana perasaan Sian padanya setelah pria itu bertemu dengan sang papa. Meski begitu, tetap saja berbagai rangkaian asumsi dan pertanyaan itu kini memenuhi kepalanya. Manari - nari dan membuatnya sulit untuk terlelap. Diambilnya bendah persegi itu lalu meletakannya di atas nakas. Menuruni kasur lalu mendekati saklar untuk mematikan lampu kamar. Kemudian kembali menaiki kasur setelah menyalakan lampu tidur terlebih dahulu. Setelah menarik selimut dan membaca doa sebentar. Gadis itu mulai memejamkan matanya kuat - kuat. *** Pagi hari, suhu kota Argon terasa jauh lebih dingin. Selain karena pusat kota masih cukup banyak ditumbuhi pepohonan rindang di samping dibang.unnya bangunan megah yang tinggi menjulang, semalam kota Argon diguyur hujan deras. Tak ayal, suhu kota di pagi hari menjadi sepuluh derajat lebih rendah dari biasanya. Sian yang semula nampak menggeliat dengan mata terpejam. Kini membuka mata sepenuhnya. "Kamu ngapain di sini?!" teriak Sian seraya mendorong Arsen sekuat tenaga. Hingga hantu itu terjatuh dengan mengenaskan. Buggh!! Seketika Arsen yang semula tidur nyaman dalam balutan selimut tebal Sian. Kini terjatuh ke lantai dengan naas. "Awwwhh!" rintihnya seraya menyentuh punggung dan pinggangnya dengan meringis kesakitan. Sian, pria itu nampak merasa bersalah setelah melihat Arsen terjatuh dengan begitu malang. Salahkan saja hantu itu! Kenapa tiba - tiba berada di balutan selimut yang sama dengannya. Pikir Sian tidak ingin disalahkan. Arsen sebenarnya tidak merasa begitu kesakitan hanya saja, ia merasa dianiaya oleh temannya sendiri. Bagaimana bisa Sian mendorongnya begitu saja dengan sekuat tenaga tanpa berpikir dua kali. "Sorry. Kamu bikin saya kaget," ucap Sian lalu kembali berbaring dan bergelung dalam selimutnya. Arsen hanya mencebik ke arah pria itu. "Aku rasa kau memamg berniat membuatku patah tulang," balas Arsen seraya bangkit dari posisi teesungkurnya saat ini. Ingin rasanya ia mengeluhkan betapa teganya Sian terhadapnya. Akan tetapi, ia urungkan. Mengingat pria itu masih setia menerima dan tidak mengusirnya dengan paksa. Meski terkesan jahat dan tak berbelas kasihan. Arsen tetap berterima kasih karena dipertemukan dengan seseorang seperti Sian. Pria itu tidak hanya menerimanya untuk tinggal di kamar ini. Tetapi juga bersedia membantunya untuk bisa kembali pada Sang Illahi tanpa ada penyesalan dan dendam. Meski banyak hal - hal yang buruk menimpamu. Pikirkanlah beberapa hal baik yang kau terima. Karena dengan begitu, hatimu tidak akan disibukkan dengan mengeluh. Tetapi lebih kepada bersyukur atas hal - hal baik yang ada di hidupmu. Barangkali hari ini langit nampak gelap dan hujan turun dengan deras. Namun, bukankah masih ada hari esok yang lebih baik. Langit biru yang cerah dengan awan indah bersebaran. Lagi pula, hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk meratap dan mengeluhkan hal - hal yang buruk, menyedihkan dan menyesakkan. Akan lebih berarti jika kita bersyukur, menerima dan menjaga hal - hal baik, orang - orang baik dan menabur kebaikan sebanyak yang kita bisa. Arsen kembali duduk, menatap lurus ke luar jendela kamar Sian. Entah kenapa, ia merasa dadanya terasa nyeri setiap hujan turun dengan deras. Awalnya, ia tidak begitu mengkhawatirkan hal itu. Sebab, sakitnya hanya saat hujan turun deras saja. Akan tetapi, ia mulai berpikir, apa yang menyebabkan dadanya terasa nyeri setiap kali hujan deras mengguyur kota Argon. Ingin Arsen bertanya pada Sian. Siapa tahu, pria itu punya jawaban yang logis mengapa dadanya terasa sesak dan nyeri tiap kali hujan deras. Sian bilang kalau ia kuliah di jurusan Sains. Siapa tahu, ia bisa menjelaskan pada Arsen alasannya secara ilmiah. "Sian!" Panggilnya pada pria yang kini masih bergelung dengan kasur. Seolah tidak ingin beranjak dari sana. Selama beberapa menit, Arsen tak kunjung mendapat sahutan dari orang yang ia panggil. Membuatnya mendengkus lalu kembali menatap hujan yang terlihat dari jendela kaca kamar Sian. Entah kenapa, semakin lama ia mentap hujan, hatinya seolah semakin sendu. Entah untuk alasan apa. Perasaan sedih yang ia tidak tahu kenapa dan apa penyebabnya. Apa mungkin ini berhubungan dengan dirinya sebelum mati atau apa. Ia belum bisa menyimpulkan apapun tanpa ada petunjuk dan bukti yang jelas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD