perjalanan ke masa lalu part1

1206 Words
Angin gurun bertiup pelan kesana kemari menambah beku suasana yang mencekam. Di tengah gelap malam berbintang, asap mengepul dari sebuah gua di padang pasir. Cahaya kemerah merahan meredup lalu terang dan hilang timbul di tiup angin. Dalam sebuah gua berdinding batu yang kering dari luar, siapa sangka bahwa di dalamnya menetes air dari setiap sisinya. Membuat hawa di dalam sama dinginnya dengan diluar. Diatas lantainya yang basah, beruntung api dapat menyala dengan sedikit kerja keras dari Jayden. Kalau tidak, sia sia saja mereka mencari perlindungan. Bisa bisa mati beku. Walau mereka berada di padang gurun yang tandus dan kering, tetap saja hawa dingin gurun malam hari selalu mematikan di manapun itu. Tak heran bahkan Sera harus meringkuk lebih dekat pada api unggun. "Apa kita saling kenal sebelumnya? " Jayden sedang sibuk meruncing tombaknya saat pertanyaan itu terlontar. Ia melirik sekilas lalu mengalihkan pandang dengan seulas senyum samar. "Kau datang ke mimpiku , ingat? " Balasnya dengan kilatan mata jahilnya yang berbinar terkena pantulan cahaya api. Kedua alis Sera dibuat bertaut oleh pernyataan sekaligus pertanyaan itu, beberapa kerutan muncul di keningnya. "Tidak ingat. Kapan? " Tanyanya dengan mimik serius. Ia merasa tak pernah seserius ini sebelumnya,tapi... Apakah pernyataan konyol semacam itu pantas ia tanggapi seserius ini? Benar saja, bahkan Jayden nyaris tak bisa menahan tawanya oleh pertanyaan gadis itu, di tambah dengan wajah serius nya. "Kau terlihat sungguh sungguh, seakan--" Ia menggantung ucapan lalu meletakkan pisau dan tombaknya lalu mencondongkan badan lebih dekat kearah sosok di sampingnya "--seakan.... Kau menunggu aku menerima lamaran mu" Sera"... " Jika Kiki dan Irgy di sini, mereka akan menganggap Jay berkepribadian ganda. "Oke oke, jangan terlalu serius. " Pasrah lelaki itu melihat muka datar gadis di depannya, ia menarik diri menjauh kembali kepada kegiatan semula"Kita tak saling kenal, tapi pernah bertemu. " "Ya? " Sera menyahut dengan memeluk lutut dan tangan yang menjangkau kayu bakar, memainkan asal. "Apa yang terjadi--... Maksudku apa yang... " "Kau terlalu banyak bertanya. Bukankah itu buruk? " Potong Jayden tanpa menoleh. "Pernah dengar bahwa rasa penasaran dapat membunuhmu? " Sera diam, mengatupkan mulutnya dan tak bicara lagi. Ia menarik tangannya yang semula memainkan api dengan kayu bakar, dan menenggelamkan wajah sepenuhnya di lipatan tangan nya yang bertumpu di atas lutut. 'Aku tahu, bukan hanya mendengar tapi juga melihat' "Melihat apa? " "Rasa ingin tahu yang mampu membunuh seseorang dengan sendirinya" "Kalau aku... Bukan mendengar atau melihat... Aku merasakannya.. " Rasa ingin tahu yang membunuhku perlahan dalam kebingungan. "Mm? EH?! " Sontak Sera mengangkat kepalanya menatap tak percaya pada sosok di sampingnya "K-kau... " Sementara yang diberi tatapan itu hanya memasang wajah tanpa dosa dan tersenyum polos "Ya? " Tanyanya masih tersenyum hingga matanya menyipit seperti bulan sabit, sangat manis dan menawan. Ekspresi Sera melunak, ia menoleh kearah lain bersikap tak peduli "Kau mendengarnya? Bagaimana bisa bahkan aku bicara dalam hati" Gumamnya pelan, sangat pelan terdengar seperti kumuran. Jayden melirik dengan skor matanya sambil terus sibuk dengan kegiatan semula, ia berhenti dan mengangkat ujung tombak tepat di depan wajah terlihat mengamati. Sekilas senyum samar hadir di wajahnya, senyum penuh misteri yang sulit dimengerti. "Aku akan keluar mencari sesuatu untuk di makan. Tetaplah di sini. " Ujarnya lalu bangkit membawa peralatan yang baru ia buat. "Apa yang bisa kau dapat di tengah gurun seperti ini? " "Kaktus, kau mau? " Berdiri di mulut gua Jayden menoleh dan tersenyum, senyum yang tampak sangat menyebalkan di mata Sera. Melihat gadis itu memalingkan wajah dengan kesal Jayden terkekeh pelan kemudian beranjak pergi mencari buruannya. Keheningan bersahut sahutan. Antara angin yang bertiup dan suara ranting ranting yang terbakar. Memandangi api yang berkobar di depannya, Sera hanya diam. Semakin lama ia semakin hanyut dalam buaian waktu. Perlahan satu demi satu kepingan asing bergumul dan semakin banyak hingga ia tersadar dan dirinya sudah berada.... Dimana ini? Sebuah ruang kosong yang hampa, dan ia melayang diantara berjuta benda benda kecil yang berkerlip seperti taburan berlian di angkasa. Angkasa?! Ini.... 'Alam semesta' Siapa? Sera menoleh mencoba mencari sumber suara itu. 'Ini hanya potongan kecil dari alam semesta yang tak terhingga' Dimana? Ia melihat ke segala arah, untuk mencari pemilik suara. Namun yang ditemuinya hanyalah dirinya yang mengambang diantara gugusan bintang. 'Menurutmu, pantaskah sesuatu tanpa batas ini memiliki penguasa yang memiliki keterbatasan dan kekurangan? ' Sera semakin gencar mengamati sekitarnya, melihat segala arah yang hanya ruang hampa di udara. Sesosok bayangan putih menyelimuti nya dari belakang, mendekapnya dengan lembut dan perlahan. Memberinya kehangatan dan rasa nyaman, rasa yang ia pikir tak akan mungkin lagi ia temui. Rasanya hangat dan nyaman, seperti dirumah... 'Baik atau buruk, semua hanyalah keangkuhan dalam keserakahan akan kekuasaan' Suara yang berbisik lembut mengalun di telinganya, merdu dan damai membawa ia pada ketenangan. Ia merasakan sebuah tangan lembut yang hangat menutup pandangannya, dengan rasa nyaman yang begitu akrab. 'Dulu sekali, keputusan untuk mengangkat pemimpin ternyata keliru, hingga kita sampai pada perpecahan dan kehancuran.... ' Tangan itu perlahan menyingkir, cahya silau menyambut Sera saat ia membuka mata. Seketika ia terpaku. Dirinya tiba tiba saja sudah berada di sebuah negri yang indah dan damai sekali. Orang orang terlihat bahagia, hidup dengan rukun satu sama lainnya. Ia berada di tengah penduduk yang saling berlalu lalang dan berinteraksi satu sama lain, tapi... Mereka berlaku seakan dirinya tak ada. Dalam kebingungan Sera melangkahkan kaki di negri asing yang tak dikenalnya ini. Sepertinya sebuah pedesaan. Terlihat dari penduduk yang mayoritas petani dan berpakaian sederhana. Juga kebun kebun yang membentang luas. Sungai jernih mengalir tak jauh dari pemukiman, di dekat sungai terdapat kincir air, juga ada kincir angin di lapangan luas yang hijau. Tak tau sejauh mana ia berjalan, tak peduli apa yang ia lakukan, orang orang ini seakan menganggap ia tak ada. Lalu sepasang tangan kembali menutup matanya. 'Negri yang damai, tak menjamin apa apa untuk kebaikan di depannya' Suara itu lagi, berbisik di telinganya. Lalu matanya terbuka namun kini gelap. Ia tertegun tanpa bisa berkata. Darah menggenang di bawah purnama bulan merah. Raga raga tak bernyawa memenuhi pemandangan di sekitar. Surat teriakan, tangisan, jeritan kematian. Decak kekejaman, langkah keangkuhan diiringi ketidak manusiawian. Tak satupun terbebas dari jerat kematian, semuanya.... Mereka... Sera melangkah di antara mayat mayat yang bergelimpangan. Ini.... 'p*********n oleh Ziom ratusan tahun lalu telah menjadi sejarah kelam yang sulit dilupakan' Lagi lagi mata Sera ditutup, dan kembali dibuka beberapa saat kemudian. Kali ini, ia berada di sebuah aula kosong yang hanya memiliki penerangan dari cahaya bulan. Di depannya seorang duduk tegak di singgasana yang melambangkan kekuasaannya. Wajah yang tegas penuh wibawa juga menawan di saat bersamaan, terlihat lebih dewasa dan mencerminkan bahwa dia bukanlah lagi seorang remaja. Lalu, tak jauh dari sosok itu, seorang memakai baju zirah berlutut memberi hormat di depannya. Caranya menghormati tidak membuat dirinya terlihat rendah dengan kharisma dan wibawa yang ia sandang di punggung tegapnya. "Selesaikan tugasmu secepatnya, tak ada waktu untuk ragu" Tukas pria di atas singgasana itu. "Yes, Your Majesty" Kstria itu menjawab dengan pasti, penuh kepatuhan dan loyalitas tinggi. Ia bangkit, berdiri dalam diam. Hingga sekejap kemudian pedangnya terpisah dari sarungnya dan melesat menembus jantung sosok di depannya. Sera tersentak, sama sekali tak menyangka dengan apa yang akan terjadi. Pedang yang menancap sempurna di dadanya, tak sedikitpun membuat pria itu goyah. Masih dengan wajah penuh keyakinan dan wibawa tanpa sedikitpun tebersit penyesalan, hanya tampak sekilas.... rasa bersalah.... Perlahan matanya menutup bersamaan dengan hilangnya tanda tanda kehidupan dari raga itu. Sementara itu.... Apa dia menangis? ......................,,,................. ?????, 14 ???????? 2020 (19:48 ???) ????????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD