Langit yang cerah bewarna biru indah yang di padukan dengan putih lembut awan. Matahari berada di puncak dan bersiap untuk kembali turun.
Angin menggulung seperti ombak melalui arus membawa kelopak bunga yang berguguran beserta wangi harum tak terlupakan.
Jayden tertegun dan berhenti spontan membuat dua orang di belakangnya ikut terhenti. Ia menoleh ke belakang menatap ke arah langit.
"Jay? Ada apa? " Kiki bertanya mengikuti arah pandang Jayden. Sementara Irgy mengamati wajah pria di depannya, ia selalu mencoba menerka apa yang tengah di pikirkan oleh Jayden setiap kali ia melakukan hal yang aneh dengan ekspresi yang begitu sulit terbaca.
"Tidak apa, kita beristirahat sebentar. Hari ini panas sekali"
Mereka memutuskan berhenti di pinggiran sebuah sungai kecil yang jernih airnya. Pohon pohon tumbuh subur di sekitar sungai, banyak hewan hutan yang juga memilih tempat peristirahatan di sungai ini namun mereka pergi segera saat kedatangan Jayden dan yang lainnya.
Kiki duduk di bawah sebuah pohon tua yang masih rimbun. Ia mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia bawa selama sepuluh tahun ini dan juga sebuah batu pipih bundar yang di dapatnya di desa beberapa hari lalu. Dia mulai memainkan ujung pisau di atas batu itu melanjutkan ukiran yang juga ia buat sebelumnya. Ukiran yang ia buat sama dengan tanda segitiga dalam lingkaran yang ada di lengan bawah bagian dalam di sebelah kiri.
Lain dengan Irgy yang mencari tempat di atas batu besar di tengah sungai. Ia duduk di sana sambil membasuh pedang yang selalu menemaninya selama ini, pedang itu selalu terkait di punggung nya.
Sementara Jayden, melihat kepada kedua teman nya bergantian, ia kemudian memilih menyusuri ke arah hulu sungai.
"Hey, "
Jayden menoleh pada orang yang memanggilnya, yaitu Irgy.
"Jangan jauh jauh nanti kau bisa hilang" Ujar Irgy ringan sambil mengacungkan pedangnya, kemudian ia tersenyum konyol.
"Sangat buruk" Komentar Kiki menggelengkan kepala lalu kembali menunduk fokus pada ukirannya.
Jayden berdehem pelan dengan sedikit malas lalu kembali menyusuri sungai itu. Semakin ia melangkah semakin jelas terdengar suara air yang mengalir deras. Lebih deras dari gemericik air sungai yang tenang ini.
Semakin ke hulu semakin banyak di temui tumbuhan sejenis akar gantung yang memiliki bunga bunga kecil berkelopak tiga, dengan warna merah muda pucat yang lembut. Wanginya juga harum, sama seperti hal yang di terbangkan angin beberapa saat lalu.
Ternyata dari sini kalian berasal.
Jayden menyibakkan segerombol akar akar yang menggantung menghalangi pemandangan di depannya.
Dari sana cahaya terang menyeruak, lalu tampak lembah yang di selubungi kabut putih di depan sana. Yang paling menakjubkan air terjun yang jatuh bebas dari ketinggian ratusan meter di atas tebing.
Dari sini Jayden dapat merasakan tempias air menyapa wajahnya. Wangi harum menyebar memenuhi indra, berpadu dengan aura bewarna biru yang sangat cantik dan menawan, serta di iringi nyanyian jiwa yang indah, sangat lembut dan penuh dengan kedamaian.
Menaikkan pandangannya, Jayden menemui sesuatu yang bersinar di tengah air terjun. Sinar yang berpadu dengan segala warna menimbulkan kesan yang lebih cantik lagi.
Ia menatap untuk waktu yang lama sampai secara tiba tiba atmosfer berubah lain. Awan di langit berpacu dengan cepat dalam sekejab berubah menghitam. Kelopak matanya melebar menyaksikan perlahan titik hitam berputar di langit lalu semakin besar hingga menjadi sebuah lubang hitam yang menggulung seperti tornado. Sebuah bayangan berbentuk tangan keluar dari lubang hitam dan menjangkau Jayden dalam sekali genggaman lalu menariknya kedalam pusaran hitam itu.
Keadaan berangsur cerah bersamaan dengan hilangnya Jayden dari pandangan ke dua rekannya yang masih terengah setelah berlari mencari keberadaannya.
"J-Jay... "
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
???'??, 23 ??????? 2020
(20:19 ???)
????????