Di bawah terik matahari di siang ini, dua sosok berjubah hitam berjalan menuju ke arah sang surya yang akan segera menenggelamkan diri nya.
Suasana disekitar bisa dikatakan sunyi tapi juga riuh. Itu karena dua orang yang saling diam sementara alam terus bersenandung dengan merdunya.
Kicauan burung memanggil untuk beristirahat, disahuti oleh tupai tupai yang saling berlarian berebut makanan. Semilir angin dan suara gemericik air melengkapi suasana hutan yang rindang dan damai.
"Ivan.. "
Sera menghentikan langkahnya di belakang Ivan, wajahnya menunduk dan ekspresi datar sudah jelas terpampang di balik topeng abstrak bewarna gelapnya itu. "Aku... "
Ivan yang di depan hanya diam sambil juga menghentikan langkah nya. Ia menunggu apa yang akan diucapkan rekannya itu.
"Aku tidak mengerti.. " Ucap Sera dengan perubahan gelombang pada suaranya. Bahkan mungkin ekspresi di balik topeng itu juga berubah menjadi lebih rumit dan tak dapat dipahami. "... Mereka sama seperti kita tapi... " Sera masih ragu ragu dalam ucapannya, pertama kalinya ia memiliki keraguan sejak sepuluh tahun yang sudah berlalu.
"Tidak! Mereka berbeda" Ivan membantah dengan tegas.
"Tapi itu I'Cord... Bukankah semua I'Cord bertindak berdasarkan Claderyos dan hanya bekerja untuk Claderyos? "
"Entahlah... Terlalu banyak yang tidak kita ketahui, karena kita ditakdirkan buka untuk mencari tahu itu semua"
Hening..
Seolah mengerti dengan pikiran satu sama lain kaki mereka kembali melangkah dalam pikiran yang masing masing membuncah memikirkan hal yang ingin di pikirkan masing masing nya.
Saling diam adalah hal yang sudah melekat erat sejak di awal mereka bertemu. Berbicara seperlunya, lalu diam untuk waktu yang lama. Seolah mereka hanya dua orang bisu yang mencoba mengerti arti dari satu sama lain. Memikirkan banyak hal tapi lagi lagi tertumpu pada satu titik buntu jalan pikiran itu. Dimana mereka tak lagi mendapat kesempatan merancang masa depan saat takdir mereka di masa yang akan datang sudah berada dalam genggaman yang jelas namun tidak sesuai keinginannya.
Menyerah akan takdir?
Mereka sama sekali tak pernah berpikir akan hal itu. Menyerah? Bagaimana mungkin bisa menyerah saat tak pernah memulai untuk berjuang sama sekali. Tak pernah berusaha untuk memperjuangkan takdir sendiri, mereka justru di tuntut dalam genggaman orang lain memperjuangkan apa yang orang itu inginkan dan mengabaikan apa yang seharusnya mereka dapatkan dalam kehidupan.
Matahari semakin merendah seakan memaksa kedua sosok itu semakin bergegas menggapainya sebelum hilang di balik kegelapan, walau pada kenyataannya sekuat apapun berusaha mereka tak akan pernah mendapatkannya. Semakin melangkah maka terasa semakin jauh, yang terlihat usaha untuk mengikis jarak tapi justru yang terjadi malah menambah nominal jarak itu hingga hanya akan bertambah jauh, jauh, dan jauh saja.
Semakin mereka melangkah maju itu artinya tak ada alasan lagi untuk mundur. Bahkan kesempatan untuk menoleh kebelakang pun tak mungkin di dapatkan, karena semua itu hanya akan mendatangkan keraguan dan kebimbangan dalam berbagai pilihan. Dan itulah masalahnya. Mereka tak di beri kesempatan untuk memilih di kehidupan ini, tak ada pilihan yang ada hanya satu kenyataan untuk dijalankan.
Seiring dengan menjauhnya kedua orang itu, tempat yang mereka tinggalkan di belakang pun perlahan memunculkan hawa gelap dan aroma kematian yang pekat.
Pohon pohon mengering, daun daunnya berubah jadi hitam dan layu jatuh satu persatu. Tumbuh tumbuhan lain pun berubah layu dalam sekejap semua mati sampai hewan hewan yang hidup pun kehilangan kehidupannya dan mati dalam berbagai pertanyaan. Air sungai yang bergemericik tak lagi terdengar saat perlahan air bening nan jernih itu berubah menghitam dan menguap entah kemana menyisakan tanah kering bebatuan yang pekat akan hawa kematian.
Bahkan desa yang mereka lalui sebelumnya pun....
Dipastikan bernasib sama. Hal baiknya orang orang di sana dengan segala kedamaian nya ternyata berakhir lebih baik dari yang lainnya. Setidaknya mereka berakhir dalam kebingungan bukan kesakitan dan ketakutan yang mengerikan.
Atmosfer tiba tiba berubah, angin berembus mengumpulkan hawa menakutkan yang mencekam. Awan awan tertiup angin melaju cepat saling berkumpul dan menutupi langit cerah dengan kegelapan nya.
Angin yang semula berhembus pelan mendadak bertransformasi menjadi badai mengerikan. Kegelapan menggulung di angkasa. Langit menghitam. Sebuah lubang kecil berputar putar pada satu pusat lalu semakin besar dan menakutkan.
Ivan dan Sera sudah menghentikan langkah mereka semenjak atmosfer yang sudah berubah menjadi tak bersahabat tadi. Mereka berdiri kokoh di tengah badai yang menggila menerbangkan berbagai hal yang di lalui nya.
Mendongak pada langit, kelopak mata Sera melebar seiring dengan nafas nya tercekat membuat nya merasa sesak, juga ketakutan yang menjalar di seluruh tubuh. Ketakutan yang juga ia rasakan di malam sepuluh tahun lalu yang membawa takdirnya berpindah kedalam arena permainan yang begitu menyesakkan.
Lubang hitam mengembang di angkasa membawa seribu hawa kematiannya. Sebuah bayangan berupa tangan dari dalam sana melesat secepat kilat menuju ke arah gadis yang masih terpaku dalam ketakutannya akan masa lalu.
???????
Cuaca berangsur cerah, badai perlahan berhenti. Awan awan gelap menyingkir satu persatu. Pemandangan kelam berganti dengan warna Oranye di ufuk barat dan menghiasi seluruh lingkup semesta dengan kilau indah sangat surya tersebut.
Sera terperangah, garis garis tak beraturan muncul di sekitar topeng abstrak nya diiringi bunyi retakan kecil yang entah mengapa begitu jelas terdengar.
Entah berasal dari mana setetes cairan bening menggantung di rahangnya mengalir ke ujung dagu dan terjatuh di sana. Setetes cairan bening yang indah di bawah cahaya oranye mengambang di udara hingga sampai pada tanah kering yang memecah keindahannya.
"I.. I-van.. "
Sera berujar, suaranya terdengar bergetar juga sedikit tertahan. Entah ekspresi apa yang mengiringi ucapannya.
Dari balik topengnya, mata itu terpejam perlahan sejalan dengan kepala yang ia tundukan lalu memaksa kakinya kembali berjalan mencari persinggahan untuk menyambut malam.
Entah mengapa aku merasa hampa....
.... Juga sakit di sini... di tempat yang di sebut orang orang sebagai hati.
Rasanya sesak untuk perjalanan kali ini...
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
?????, 31 ??????? 2020
(00:35 ???)
???????