16

787 Words
As a fear. Semua benar benar hening. Sibuk pada pemikiran masing masing. Untuk beberapa saat mereka seakan tengah terpaku akan sesuatu. Irgy memulai dengan memimpin jalan melalui jalur lain disisi berseberangan dengan arah terowongan sempit yang semula ia lalui. "Kalian tak benar benar akan terus diam disini hingga mati membeku kan? " Tanyanya tanpa menoleh dan terus berlalu memasuki jalan yang luas itu sehingga bisa lebih leluasa bergerak. Menatap tak percaya pada jalan itu, Sera memutar mata menatap pada Jayden yang langsung memalingkan muka. 'Kekanakan sekali' cibirnya dalam hati. "Aku bisa mendengar mu" Jayden menoleh tampak kesal " Apa yang kau katakan dan pikirkan aku bisa mendengarnya. " "Bagus bukan? " Sera mengembalikan kata kata pria itu dengan nada ejekan yang kentara. Kemudian ia berlalu mengikuti jejak Irgy. 'Sejak kapan kita mulai saling bermusuhan? ' ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Hanya dalam waktu beberapa detik dia sudah bisa mencapai jalan keluar. Jalan itu berakhir pada sebuah gua dengan temperatur lebih hangat tapi juga sedikit lembab. "Ini gua di samping bukit. Wah s**l sekali ya? " Sera berujar sambil menatap Irgy yang sibuk meregangkan tubuhnya. Pria itu terhenti, dengan gugup ia menggaruk tengkuknya "Ah ya, s**l sekali jalan yang kita temui di awal sangat buruk...ha ha...." Melihat tak ada respon ia hanya bisa melangkah menjauh secara teratur "Jangan salahkan aku " Ujarnya secepat kilat langsung pergi entah kemana. "Salahkan dirimu terlalu bodoh. " Sera hanya bisa menggeram marah saat Jayden melaluinya begitu saja dan sedikit tertawa di sana. Tawa yang sangat menyebalkan. Tiba tiba sesuatu melintas di benak Sera, ia berpikir sesaat lalu melangkah mengikuti Jayden secara terang terangan. Pria itu ternyata menuju ke sebuah sungai, ia menelusuri ke hulu sungai dan berhenti saat melihat sebuah pohon besar tua yang tumbuh subur di pinggir sungai. Ia berhenti dan memilih duduk di bawah pohon itu. "Jadi.... Kau menguntit sekarang? " Ia menoleh dan sedikit mendongak menatap Sera yang berdiri menatap ke arah aliran sungai yang tenang. "Tidak. Hanya mengikuti. " 'Sama saja kan? ' "Aku bisa mendengar mu. " "Yah, ikatan kita begitu kuat. Aku terharu. " Sera berdecih dan tertawa sinis " Pembual" Lalu hening diantara mereka. Tak ada kata kata, semilir angin yang menjelaskan atmosfer. Suara air mengalir, berpadu dengan nyanyian hutan yang lambat laun kian hilang dan hilang kemudian benar benar lenyap. Air yang perlahan mengering menyisakan tanah kerikil dan bebatuan yang tandus, terlihat ikan ikan yang mengepak berusaha bertahan hidup tanpa air walau mustahil. Tanah hijau yang di penuhi rerumputan berubah menghitam. Pohon pohon berdaun lebat semakin layu dan tampak daun daun hijau itu mengering dan gugur di terbangkan angin. Hanya tinggal batang batang dengan cabang ranting ranting kering yang gersang. Hewan hewan hutan berlarian penuh ketakutan. Mereka meringkuk mencari persembunyian, mencoba lari dari kematian yang pekat. Sera merasa miris melihat perubahan drastis yang terjadi. Ia melirik Jayden yang tetap tenang seakan tak terusik sama sekali. Pertanyaan yang sama kembali terulang di benaknya sehingga ia memutuskan untuk mengambil posisi duduk di samping pria itu. "Kiki bilang.... Setiap orang memiliki rasa takut, apa itu juga berlaku untukmu? " Tangan Jayden yang memainkan batu kecil berhenti bergerak. Ia terdiam untuk beberapa saat, menimang nimang bagaimana seharusnya ia menjawab " Bagaimana denganmu? "Ia balik bertanya. Sera menjawab tanpa ragu " Di kehidupan dulu dan sekarang aku paling takut ditinggalkan. " Ujarnya tampak sedang bernostalgia dengan pikirannya sendiri. "Dulu ada banyak orang yang selalu setia di sisiku hingga aku takut mereka akan pergi sewaktu waktu dan aku tak bisa mencegahnya. Dan sekarang, aku terlahir untuk hidup sendiri tapi aku memiliki seseorang yang juga selalu setia di sisiku. Dan.... Baik dulu atau sekarang, ketakutan ku benar benar terjadi. Dan aku pikir setelah semua itu akan lebih baik. Karena, bukankah dengan begitu tak ada lagi yang perlu ku takuti? " Jayden menghela nafas singkat kemudian melempar batu kecil di tangannya secara asal. Ia kembali diam setelahnya tanpa ada niat untuk merespon ucapan Sera yang panjang lebar. "Tapi.... Malah timbul ketakutan baru dalam diriku. Jay apa kau tau sekarang aku tak lagi takut ditinggalkan, namun aku takut meninggalkan sesuatu yang sangat berharga di dunia ini. " Sera melanjutkan menatap Jayden yang juga menoleh menatapnya. "Aku takut memikirkan apa jadinya sesuatu yang berharga itu bila aku tinggalkan nantinya? Apakah... Akan baik baik, saja? " "Aku... " Jayden menggantung ucapannya, ia menatap manik ruby yang bersinar cantik di depannya. Pandangan matanya berubah sendu, secara halus Jayden memalingkan wajahnya. "Kau tau untuk seorang seperti ku, hidupku adalah kegelapan. Aku takut pada suatu harapan yang akan menuntunku jatuh semakin dalam. "Jelasnya kemudian bangkit, ia melanjutkan dengan suara tercekat yang membuat Sera tak bisa merespon apapun. " Jadi... Jangan memberi ku harapan apapun dan walau sekecil apapun. Aku terlalu takut untuk meyakininya. " ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ???'??, 1 ??????? 2021 (11:45 ???) ????????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD