15

1078 Words
Kiki:Completed the mission "Seakan kau sangat menantikan kelenyapan ku saja" Kiki menggerutu pada sosok yang kian menjauh dan bersikap acuh tak acuh. Ia bertambah kesal saat Irgy ikut serta meledeknya dan berlalu dengan muka menyebalkan. Menyaksikan interaksi itu Sera hanya diam dan tak beranjak dari tempatnya. Ia masih fokus pada punggung tegap Jayden yang berjalan di depan sana saat tiba tiba Kiki menarik tangannya tanpa aba aba. "Waktuku tidak banyak lagi, kenapa kita tak saling bercerita saja? Jarang sekali bisa bergaul dengan I'Cord lain selain dua pria itu. " Ujar gadis berambut pendek itu. Mata nya bulat dan berbinar sangat kontras dengan mimik wajahnya yang dominan datar. Namun siapa sangka di balik wajah datar itu ia ternyata adalah orang yang cerewet. Bahkan Sera tak mendapat kesempatan untuk berbicara. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan celotehannya. "Sebenarnya..... Aku merasa takut" Bersamaan dengan pernyataan itu langkahnya terhenti tiba tiba. Sera melihat jelas keragu raguan yang di pendam oleh gadis itu. Belum sempat ia bertanya Kiki sudah lebih dulu menyela. "Tapi setiap orang tentu memiliki rasa takut kan? " Ia bertanya dengan tersenyum menoleh pada Sera hanya sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Sera yang masih mencoba mencerna setiap kata yang ia dengar, menatap heran penuh tanya. Ia terpaku untuk beberapa saat sampai sebuah seruan menyadarkannya. Dari sebuah bukit berbatu yang landai, Irgy memberi petunjuk untuk mendekat. Sepertinya ia menemukan sesuatu. Sera menimang nimang untuk datang atau tidak. Ia melihat sekitar lagi, tak ada tanda tanda keberadaan Jayden disini. Jadi ia memutuskan bergabung dengan yang lainnya. Cukup mudah untuk mencapai tempat itu. Sesampainya di tempat Irgy berdiri kemudian ditemui celah berukuran sedang. Setidaknya muat untuk ukuran tubuh mereka. "Apakah kita akan merayap seperti tikus tanah kedalam sana? " Kiki bertanya dengan berlapis kerutan di keningnya. Jelas ia tak suka jika jawabannya adalah iya. "Apa boleh buat" Irgy menghela nafas berat kemudian memimpin jalan masuk lebih dulu. Beringsut pelan, bergesekan dengan kerikil dan bebatuan yang keras dalam lorong yang sempit. Sial Sera mengutuk dalam hati, ia benci tempat sempit. 'Haish... Rasanya sama seperti peti mati 769 tahun lalu'. Dalam lorong sempit yang minim cahaya itu, Sera di urutan paling belakang selain sibuk mengutuk juga sibuk bernostalgia dengan masa masa ia terkurung di peti mati dulunya. Bukan masalah besar karena ia ditempatkan di peti yang bersih, rapi dan wangi. Yang membuatnya kesal.... 'Sensasi pegal ratusan tahun silam yang kembali menyerang.... Aish... Ini benar benar reuni dengan kisah masa lampau. ' 'Bagus bukan? ' "Eh, apa? " ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Jayden terkekeh pelan sambil memainkan pisau di tangannya. Ia bersandar di dinding es yang beku, dan kita kira sudah berusia ribuan tahun. Seluruh tempat di sekitarnya diliputi es hingga menimbulkan kabut putih. Bayangkan betapa dinginnya.... Tepat di depannya, kristal biru bersinar cantik tersegel dalam dinding es yang kokoh dengan array pelindung yang meliputi sekitarnya dalam radius dua meter. 'Aish... Ini benar benar reuni dengan masa lampau' Sontak Jayden tertawa pelan saat mendengar seseorang menggerutu dari lorong yang ada di sebelah kirinya. Ia menoleh kearah sana, kira kira orang itu masih berjarak seratus meter dari sini. 'Bagus bukan? ' tanyanya dalam hati sambil tertawa mengejek. 'Eh, apa? ' Mendengar nada kaget itu Jayden semakin gencar "Bukankah menyenangkan bernostalgia dengan masa lalu? " Gumamnya sambil melemparkan pisau ke arah kristal biru di depan sana. Namun pisau itu jatuh menyentuh tanah sebelum sempat mendekatinya. 'Jay? Bagaimana kau..... s**l! Kau balas dendam huh?! ' "Ya, rasakan itu" Jayden berwajah masam saat mengucapkannya. Ia memungut pisau yang terjatuh lalu kembali menggerutu. "Kejam sekali kau menyiksaku kemarin" ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 's**l! Harusnya aku tau ada yang tidak beres dengan otak pintar orang itu' Irgy yang memimpin jalan hanya bisa menangis dalam hati saat mengingat penyebab mengapa mereka berakhir harus merangkak seperti tikus tanah begini. 'Dia menyuruh kami melalui lorong sempit pengap ini sementara ada jalur lain yang lebih mudah. Bahkan lebih dekat! ' Rasanya Irgy ingin menangis saat Jayden menyatakan alasan mengapa dia harus membawa Kiki dan Sera melalui jalan ini. 'Hal seperti itu bagus untuk kenang kenangan, lebih menantang juga sangat mengharukan bukan? ' Dan bodohnya ia malah mengikuti ucapan makhluk astral itu. Mengharukan apanya? Yang ada dia mendapat kutukan dan sumpah serapah sepanjang jalan dari Kiki di belakangnya. Untungnya Sera hanya diam tak bersuara. "Eh, apa? " "Ada apa Sera? " Irgy berhenti sejenak dan menoleh kebelakang untuk memastikan, sebab sosok yang sedari tadi membisu mendadak bicara. "Tidak apa. Lanjutkan. " Sera menjawab datar. 'Ya tidak apa. Setidaknya ia mengutuk dalam hatinya. Aku malang sekali. T_T' ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Makin ke ujung rasanya semakin dingin. Lalu seberkas cahaya menyeruak samar dan semakin jelas. Saat keluar dari lorong sempit itu mereka disambut oleh bongkahan es dimana mana. "Waw" Kiki bedecak kagum melihat tempat yang 100% berisi es ini. Sera terfokus pada rasa dingin yang menusuk tulang. Ia menatap setiap dinding dinding mengkilap berlapis es, juga langit langit yang digantungi oleh es es runcing yang tajam. Kemudian mata nya terkunci pada seseorang yang bersender malas menunggu kedatangan mereka. 'b******n tengik itu.. . ' 'Aku dengar kau mengumpatiku' Jayden menoleh dengan tatapan menghakimi kearah Sera dan pandangan mereka langsung beradu satu sama lain. Sementara Irgy yang sudah kesini sebelumnya tak ada waktu untuk berkagum kagum. Dia memang berniat menghajar seseorang, tapi lupakan saja akan ia lakukan lain kali kalau situasi aman. "Ini dia. Hanya sebesar biji jagung dan membuat aku merangkak seperti tikus tanah. Menyebalkan! " Irgy menjelaskan dengan menggerutu sambil menunjuk. Kristal biru di depannya. "s**l sekali ada array pelindung" Keluhnya di akhir. Belum sempat Kiki mengeluh, Jayden maju dengan pisaunya menebas udara hampa tapi kemudian kepingan transparan berjatuhan. Ia telah menghancurkan array nya, lalu kemudian ia melempar pisau yang sama hingga menancap tepat di dinding penghalang yang melindungi kristal biru itu. Dinding itu bernasib sama dan hancur luluh lantah. Ia berbalik seakan menunjukan hasil karyanya. "Oke silahkan. End your missions" Kiki menyengir kuda lalu melangkah semangat. Ini misi terakhir nya. Kedua tangannya menangkup benda kecil yang berkilauan itu. Lalu cahaya cahaya kecil lain keluar mengelilinginya. Lima kristal dengan warna dan kepekatan aura yang berbeda mengitari Kiki secara horizontal. Ia berbalik dengan binar tak menentu dari wajahnya. "Terima kasih. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya. " Itu pertama kalinya Sera melihat binar yang nyata di wajah Kiki. Dia tersenyum dan menghapus semua keraguan hingga dirinya benar benar hilang menjadi debu yang beterbangan. 'Tapi setiap orang tentu memiliki rasa takut kan? ' Mengingat itu Sera menolehkan wajahnya pada Jayden yang memiliki wajah kosong tanpa ekspresi. 'Setiap orang memiliki rasa takut' ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ???'??, 1 ??????? 2021 (00:03 ???) ????????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD