Ahnsera Gillien Artois

850 Words
Debu berterbangan di udara, langit gelap tertutup kesuraman. Kehancuran terpampang jelas. Dalam bentangan ribuan kilometer semuanya rata. Bangunan, perumahan, tumbuhan, bahkan makhluk hidup lain tak tersisa satupun. Aku berdiri pada sebuah tumpukan batu batu sisa sisa dari kehancuran. Memandang sekeliling, dalam debu hitam yang mematikan. Satu lagi telah di hancurkan "Sera! " Menoleh pada sisi lain, seorang pria bertubuh tegap dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya serta sebuah topeng abstrak dengan simbol segitiga dalam lingkaran di salah satu sisinya. Penampilannya tak berbeda denganku karena kami memang dari kelompok yang sama. Sekelompok orang pilihan Claderyos yang diutus untuk menghancurkan bumi. Kami manusia bumi, di perintah untuk menghancurkan rumah kami sendiri. "Segera bergerak, target selanjutnya 17 mil ke utara" Sosok itu berbalik menuju arah yang disebutkannya tanpa keraguan. "Ha-a, Ivan" Ivan semakin jauh ke utara penuh kemantapan walau aku tahu hatinya tak pernah setuju pada langkah kakinya. Tapi seperti itu lah seharusnya. Peraturan pertama: jangan percaya pada hati. Claderyos adalah kebenaran. Aku berjalan mengikuti langkah Ivan dalam kabut yang tebal, semua nya semakin kelam. ,,,,,,,,,,,,,,, Hamparan hijau terbentang di depan kami, terlihat indah di bawah langit biru yang cerah. Dari atas sini, aku melihatnya. Orang orang yang hidup sederhana dan bahagia. Anak anak berlarian di lapangan hijau tertawa dan bahagia, begitu polos dan ceria. Para orang dewasa berbaur dan bercengkrama dan melakukan pekerjaan mereka. Pedesaan yang damai ya.. Indah sekali terlihat dari sini. Pada akhirnya tetap sama saja. Peraturan kedua:hancurkan untuk keabadian. Claderyos adalah kedamaian. "Ada I'Cord lain" "Hm? " Aku mengikuti arah pandang Ivan, yaitu pada sekelompok anak anak desa yang sedang bermain. Diantara mereka berbaur beberapa orang dewasa, aura hitam disekitar tubuh orang orang itu jelas sama dengan kami. Tapi apa apaan dengan mereka yang berbaur dengan orang orang desa? Membuat kontrak perjanjian paksa? Salah satu dari mereka sepertinya menyadari kehadiran kami, terbukti dari pandangannya yang menatap lurus kearah sini. Dia seorang pria berambut putih dengan manik zamrud pucat. Tatapannya tajam, penuh kewaspadaan tapi juga lembut di saat bersamaan. Saat itu juga aku menyadari dia yang satu satunya bersinar terang di sana. "Laki laki itu menyadari kehadiran kita. Dia terlihat berbeda. Bagaimana menurutmu Sera? " Aku mendengarkan tapi tak menoleh, masih menatap pada laki laki yang di maksud Ivan. Pandangan matanya bergeser dan bertemu dalam satu garis lurus denganku. Mata itu.. Jelas itu seorang pembunuh. "I'Cord tetaplah I'Cord. Kita membunuh untuk hidup" Selesai berkata aku beranjak menuruni bukit tempat kami berpijak. Sepanjang jalan banyak pohon pohon yang sedang berbuah. Burung burung berkicau an, tupai tupai berkejaran memperebutkan makanan, kupu kupu berterbangan ke sana-kemari. Dibalik itu, terdapat hewan buas yang sedang mengintai mangsa. Sementara mangsa itu sendiri masih berlarian dengan bahagianya. Tak tau bahwa kematian siap menerkam mereka. ,,,,,,,,, Dunia yang luas yang ditempati banyak makhluk ini bukanlah hal mati yang sekedar sebagai tempat berdiam saja. Dunia ini sebenarnya memiliki kehidupan, kehidupan itu di sebut soul soil. Terdapat sembilan ratus sembilan puluh sembilan soul soil yang menyebar di seluruh bumi dan memberi kehidupan untuk penghuninya seperti pedesaan kecil yang hijau dan damai ini. Tanah yang subur dan indah, soul soil ke sembilan ratus ada disini. Sembilan puluh sembilan lagi tersisa untuk di temukan. Setelah semua soul soil disatukan, Claderyos akan mengambil alih kendali dunia. Bumi akan hancur dan kemudian dia membentuk kehidupan dan peradaban baru, sebuah kehidupan damai di masa depan dan berada di bawah kendali Claderyos sepenuhnya. Memasuki desa kecil ini ternyata lebih ramai dari kelihatannya. Kami kini memasuki area sebuah pasar tradisional. Walau bagaimanapun, untuk mendapatkan soul soil kami masih harus mencari tahunya. Aku bisa merasakannya, aura kehidupan yang sangat kuat di sini. Pasti tidak jauh lagi dari sini. Jika mengikuti auranya, itu berasal dari sebuah kedai makanan dan minuman yang terlihat sepi pengunjung. Kami memasuki tempat itu dan duduk di tempat yang tersedia. Seorang pelayan datang dengan muka berseri penuh bahagia, dia masih kanak kanak, tapi terlihat sudah terlatih untuk melakukan pekerjaan disini. Aku hanya diam, Ivan yang berbicara memesan minuman untuk kami. Sementara itu melihat dari seluruh tempat ini, aura kehidupan itu bertambah pekat. Aura nya bewarna hijau terang, dan menebarkan wangi yang sangat harum. Hanya kami para I'Cord yang memiliki kemampuan untuk merasakan semua itu. Sementara manusia biasa tak akan bisa menyadarinya. Tapi yang mengherankan, kenapa pusat dari soul soil seperti ini malah sepi. Dari sekian banyak tempat keberadaan soul soil yang pernah ku temui, itu selalu ramai karena aura kehidupan memiliki daya tarik terhadap alam bawah sadar yang membuat orang secara tak langsung senang berada di sekitarnya. "Sera, kau menyadarinya? " "Hm" Beberapa saat lonceng di pintu masuk berbunyi lalu masuk beberapa orang. Mereka para I'Cord yang kami lihat bersama anak anak desa. Aku memperhatikan mereka, tepatnya fokus ku lebih di tujukan pada pria yang melihat kami waktu itu. Mereka terdiri dari satu wanita dan dua pria termasuk pria berambut putih itu. Mereka tidak datang untuk menetap, hanya sebentar lalu pergi lagi setelah mendapat sebuah kantong kecil dari pemilik kedai. Aku terperangah, kantong itu, didalamnya... Aura kehidupan dan warna warna kehijauan yang membalut tempat ini semula berlangsung hilang surut bersama kepergian ketiga orang itu. Soul soil telah diambil, tapi kenapa desa ini baik baik saja? ,,,,,,,,,,, ??????, 20 ??????? (21:42 ???) ????????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD