Bab 22 Pilunya Rindu

1713 Words

"Bang." Nadia membuka pintu kamar abangnya, Dimas, lebar-lebar. "Dipanggil Papa, tuh." Dimas yang kala itu sedang sibuk di depan komputer jinjingnya, menoleh. "Kenapa?" Nadia mengangkat bahu tak tahu. Dimas pun terpaksa meninggalkan pekerjaannya, untuk memenuhi panggilan sang ayah yang hingga detik ini tak berani dibantahnya. Sepasang kakak adik itu lantas turun ke lantai satu dimana sang ayah berada. "Jangan, Pa." Suara Mama membuat langkah Dimas dan Nadia melambat ditengah anak tangga. Lalu berlari setelah mendengar suara mama berubah parau disertai isakan. Tepatnya di ruang keluarga, Dimas dan Nadia melihat mama memegangi baju papa sambil menangis. Niat mama menahan papa yang sibuk menurunkam bingkai-bingkai foto dimana terdapat gambar Sadin didalamnya. "Papa jangan, Sadin itu an

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD