Vella membuang napas gusar, tanda bahwa gadis itu sedang bimbang. Vella menyedot minumannya sedikit, lalu menatap sang lawan bicara. "Aku tidak tahu, Nad, apa Sadin sudah siap bertemu kamu atau tidak." "Kenapa tidak, Kak?" Sisa - sisa harapan bercampur dengan wajah letih Nadia sepulang kuliah terlihat jelas. "Kak Sadin kakakku, dan aku adiknya. Nggak ada alasan Kak Sadin nggak siap bertemu aku." Vella berdecak pelan. "Kamu nggak tahu masalahnya, Nad. Jangankan selfie dan meluk Sadin, untuk aku dan Rena menatap dia lebih dari lima detik saja butuh waktu berbulan-bulan sejak pertama kali kami ketemu lagi." "Aku yakin Kak Sadin juga kangen aku." Nadia berkaca - kaca, begitu besar keinginannya untuk bertemu sang kakak lagi. "Tolong, Kak. Tolong kasih tahu aku dimana kak Sadin sekarang." Ve

