"M A... ma T A... ta... H A... ha... R I... ri... mataha...ri." "Jadi Mika mengidap disleksia?” Sadin memalingkan kepalanya, dari Arah Mika ke arah Nadia. "Ya, psikolognya bilang dia istimewa." Nadia mengangguk pelan. "Benar. Aku juga pernah mendengar anak disleksia memiliki kecerdasan diatas rata-rata, hanya saja memang perlu usaha lebih untuk menggalinya." "Kakak bersyukur karena Mika selalu bersemangat dan nggak terlalu terpengaruh tiap ada yang mengejeknya bodoh." Keduanya lalu memalingkan perhatian ke arah Mika lagi. Di atas tempat tidurnya, Mika tampak tak terusik oleh sekitar. Tetap tekun mengeja setiap huruf dalam buku khusus yang dirancang untuk anak-anak sepertinya. "Mama pasti senang bisa bertemu dengan cucunya." Tanpa Nadia sadari, senyuman Sadin menudar. "Mama bilang dia

