"Assalamualaikum!"
Dari dalam rumah aku langsung ke luar membuka pintu.
"Waalaikumsalam."
"Paket, Mba."
"Paket?"
"Iya, paket atas nama Sarah. Mba sendiri 'kan?"
"Iya, betul. Tapi, saya gak pesan barang."
"Mohon diterima mba, paketnya. Alamat dan namanya sudah betul di sini."
Terheran-heran aku mengambilnya.
"Kalau begitu saya permisi."
Bapak kurir itu langsung pergi dengan motornya. Membiarkan aku mematung sendiri di rumahku.
Di dalam rumah aku membuka bingkisan plastik pemberian kurir tadi. Aku berdiri dari sofa yang kududuki meniti sebuah gamis bewarna marun.
"Bagus sekali ... "
Jujur, aku terkesima melihatnya. Tidak tahu baju model apa ini, ada kerut di pergelangan tangan, dres susun ini berbahan halus. Aku mencoba menempelkan di depan tubuhku. Tingginya pas, hanya lebih sedikit.
Tapi, dari siapa?
Aku akan menanyakannya pada Bang Akmal. Kuaktifkan data perangkat di handphone. ingin memberitahu Bang Akmal. Melakukan panggilan w******p tapi tidak diangkat. Saat mataku tertuju pada jam dinding baru pukul dua siang. Bang Akmal sedang kerja, pantas tidak diangkat.
Yasudah, nanti sepulang dari bekerja aku beritahukan pada.nya. Aku malah lanjut berselancar di dunia maya. Tidak betah rasanya jika sudah online langsung dimatikan.
[Sudah sampai belum bajunya?]
[Bagus tidak?]
[Suka tidak?]
Langsung kubuka tiga pesan di inbox f*******:. Semua dari akun M Ilham Satyawan.
"Jadi, paket gamis ini dari Bang Ilham?" gumamku. Tidak menyangka.
Aku lekas mengetik balasan untuknya.
[Ada. Bagus bajunya. Tapi, kenapa kamu beliin itu untuk aku?]
Jelas aku bertanya-tanya. Apa-apaan?
[Pengen aja beliin.]
Kupikir tidak akan langsung dijawab. Nyatanya dia juga sedang Online. Aku ingat ini hari sabtu. Dia bekerja setengah hari dan sudah pulang.
[Tapi, tidak perlu seperti ini.]
[Udah, terima aja. Jangan nolak rejeki. Pake, ya, nanti najunya. Bisa buat ke pengajian.]
Enteng sekali dia ngomong begitu. Aku malah tidak enak.
[Kalo nanti Bang Akmal nanyain, gimana?]
Itu yang aku pikirakan. Aku tidak berbelanja ke pasar dan tidak bilang mau membeli baju.
[Bilang aja kamu beli di s****e. Jangan bilang dari aku, ya.]
Dia nyuruh aku bohong?
[Aku gak punya aplikasi Shopee.]
[Bilang dari Lazada.]
[Gak punya juga.]
[Masa? Dari toko pedia aja deh bilangnya.]
[Gak ada aplikasi belanja Online di handphoneku, bang.]
Aku tidak bohong. Handphoneku masih android jadul. Ram kecil, tidak muat banyak aplikasi. Sering lemot, kameranya buram. Aku hanya menggunakan untuk f*******: dan w******p saja.
[Kalo begitu bilang aja numpang di hape sodara atau teman atau siapa kek. Pokoknya bajunya jangan dibuang ya, kamu pasti cocok mengenakannya.]
Aku terbengong menatap layar handphoneku. Dia repot sendiri mencari-cari alasan.
[Iya, deh. Aku simpan. Terimakasih banyak.]
[Sama-sama. Pokoknya jangan bilang dari aku kalo Akmal nanya.]
Aku tidak membalasnya lagi. Kumatikan saja data perangkatnya.
Aku ingat suamiku yang sedang panas-panasan bekerja di rumahnya memasang pondasi dan bata. Sedangkan dia malah berbalas inbox denganku. Dia pasti sedang santai rebahan di temat tidur atau di sofa. Tak sepantasnya aku meladeni pria itu.
Aku melirik pada gamis di pangkuanku. Gamis itu baru aku rapikan, kumasukan dalam lemari di kamar. Biarlah kusimpan dulu saja. Aku tidak mau buru-buru memakainya atau mungkin tidak akan memakainya.
****
"Mau diajak ke mana Winda sore-sore begini?" tanyaku pada Bang Akmal saat ia menaikkan Winda yang sudah rapi dan wangi sehabis mandi di motor.
"Ke rumah Ilham, mau ikut?"
Aku tidak langsung menjawabnya dan malah menghampirinya yang sudah naik ke motor. Winda berada di depannya.
"Ada perlu apa memangnya? Apa gak capek, baru pulang dari rumah Ilham mau ke sana lagi?"
"Maenlah, Sar. Sore-sore jangan di rumah terus," jawab Bang Akmal seraya mengelus rambut kepang Winda. "Ilham mau ketemu Winda. Katanya ada hadiah buat Winda."
"Hah? Hadiah?"
"Iya."
"Apa itu?"
"Tidak tahu. Mangkannya mau ke sana."
"Buat apa dia ngasih Winda?"
"Ya, gak tau. Pengen ngasih aja kali. Ilham itu sayang sama anak kecil. Memberi pada Winda, bukankah sudah biasa?"
"Iya, sih."
"Kamu mau ikut, gak?"
"Enggak, deh."
"Bener? Biasanya kalo aku pergi suka pengen ikut."
"Enggak, ah."
Aku bersikeras menolak. Entah, aku tidak berhasrat pergi ke rumah orang itu. Rasanya lain semenjak dia memberiku hadiah dan gencar mengajak interaksi di f*******:. Ditambah dia mau memberi Winda hadiah juga? Aku semakin sungkan dan tidak enak.
"Ibu, kenapa gak ikut?" Si cantik Winda bertanya padaku.
"Ibu nunggu di rumah aja, ya."
Winda beralih ke depan, Bang Akmal memakai helemnya.
"Yaudah, aku pergi, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku memperhatikan kepergian Bang Akmal dan Winda. Setelah tidak kelihatan kembali ke dalam rumah.
****
Malam pukul delapan Bang Akmal dan Winda baru pulang. Gorden sedikit kutiraikan dari dalam. Kulihat Winda turun dari motor membawa boneka didekap di depan dadanya. Anak itu berjalan ke teras disusul bang Akmal di belakangnya. Aku lekas membuka pintu, ke luar menghampirinya.
"Ibu liaat. Inda punya ini." Winda berujar bangga menunjukkan boneka beruang pink berukuran sedang padaku.
"Oh, iyaa. Bagus sekali."
Winda tampak semakin senang aku memuji barang yang baru di milikinya.
"Inda juga punya susu." Dia menunjukkan s**u kotak kecil yang dikeluarkan dari saku bajunya, "Punya dua, tapi yang satunya udah diminum. Ini buat ibu aja."
Winda memberikan s**u kotak itu padaku.
"Oh, terimakasiih. Nanti sama Ibu disimpan di kulkas."
"Si Om baik. Inda dikasih boneka sama susu."
Winda masih berceloteh riang. Dia tampak terkesan atas kebaikkan yang Bang Ilham berikan dan puas sudah diajak ke sana.
"Bilang makasih, gak?"
"Udah."
Winda lalu masuk ke dalam membawa bonekanya. Bang Akmal tersenyum-senyum sedari tadi mendengar putri kami bercerita.
"Abang mau makan?" tanyaku padanya.
"Enggak, ah. Kenyang. Dikasih bakso tadi sama Ilham. Kita ngebakso di sana, kamu sih gak ikut."
Dia tampak seperti menggodaku. Tapi aku tidak tergiur, biasa saja.
"Syukurlah, kalau kenyang," pungkasku sambil masuk ke dalam. Bang Akmal mengikuti dan menutup pintu kembali.
****
[Kenapa kamu gak ikut sama Winda?]
Pesan baru dari Bang Ilham di f*******:. Dia tau aja aku sedang online di jam setengah sebelas malam ini.
[Gak apa-apa. Terimakasih hadiah buat Windanya.]
[Sama-sama. Sayang sekali kamu gak ikut.]
[Emang kenapa?]
[Pengen ketemu sama kamu.]
Aku terperangah membaca balasan itu. Keningku mengerut dalam berpikir keras.
Pelan-pelan aku turun dari ranjang meninggalkan Bang Akmal yang sudah pulas. Aku beralih duduk di sofa ruang tengah depan.
[Kamu sudah sebaik ini padaku. Memberi Winda memberi aku, apa maksudmu? Ada apa sebenarnya?]
Pernyataannya tadi sangat menjurus. Aku bertanya seperti itu, aku yakin dia tau maksudnya.
Aku deg-degan menanti balasannya dan tidak enak diam. Kurasakan hawa panas dingin pada tubuhku. Mengapa aku gelisah seperti ini?
Sepuluh menit berlalu, tapi Bang Ilham belum juga membalas. Padahal, dia masih online. Terlihat warna hijau di poto profilnya. Aku semakin resah. Kenapa laki-laki ini? Aku masih menunggunya.
Di menit ke dua belas aku mengecek lagi dan ada balasannya.
[Maaf, aku suka sama kamu ... ]
Aku bersandar pada sofa. Tubuhku lemas.