Dia Tahu

1000 Words
Ada inbox masuk saat aku kembali ke beranda setelah sebelumnya masuk grup Komunitas Bisa Menulis di f*******:. [Pasti sedang membaca cerbung. Iya, kan?] Dari M Iham Satyawan. Betul sekali tebakannya. Aku memang sehabis membaca cerbung di komunitas itu. Bang Ilham tau. [Bang Ilham kok tau sih?] Dia hanya memberikan aku emotikon senyum. Aku kirim saja tanda tanya. [Tau kok, Akmal suka cerita.] Ya ampun, ternyata suamiku yang memberi tahunya. [Bang Akmal memang pernah cerita soal aku?] [Sering.] [Hah? Cerita apa saja?] [Banyak hal.] Tiba-tiba pipiku memanas, malu. Ember sekali mulut suamiku. [Tenang aja, Akmal tidak pernah bercerita buruk soal kamu. Dia selalu menceritakan kebaikan-kebaikan istrinya. Salah satunya soal istrinya yang hobby membaca.] Aku termenung. Apa hobby membacaku disebut kegiatan baik? [Oh, ya? Apalagi yang kamu ketahui tentang aku?] Aku jadi terpancing untuk berbalas pesan. Dia mengetik lagi. [Istri yang rajin, istri yang bisa membantu suami, istri yang tidak banyak menuntut, istri yang pandai, istri yang baik. Banyak yang Akmal katakan tidak bisa kutulis di sini.] Aku tertegun lagi. Lama kupandangi tulisan balasan panjang itu. Jadi, selama ini Bang Akmal sering curhat padanya? Setiap berkunjung ke rumah Bang Ilham suamiku suka bercerita padanya? [Bisakah aku mendapatkan pasangan seperti itu?] Aku mengerut kening membaca balasan pesan baru Bang Ilham yang itu. [Seperti apa?] [Seperti kamu.] [Tentu. Banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari aku.] [Tidak ada. Buktinya sampai saat ini aku belum menemukannya.] [Alah, kamunya aja yang pilih-pilih kali.] Sengaja menyelipkan emotikon tertawa di teks terakhir, biar lebih rileks. Dia membahas diriku, membuat aku tegang berbalas pesan selanjutnya. Aku tidak biasa berbalas pesan dengan teman lelaki. Dia mengirim emotikon tertawa juga. [Tuh, kan, benar. Jangan kebanyakan pilih-pilih cewek mangkannya bang, nanti gak dapet-dapet keburu tua.] Kuselipkan emotikon tertawa lagi di akhir biar dia tidak merasa tersinggung, aku tidak serius mengatainya. [Emang aku udah terihat tua?] [Enggak, sih. Menurutku udah dewasa, udah pantas berkeluarga.] [Maunya ... ] [Yaudah nikah, ajak calonnya ke KUA. Udah sukses ini.] [Aamiin dibilang sukses.] [Udah mau punya rumah lagi.] [Alhamdulillah, tapi belum jadi.] [Nanti juga selesai. Hebat ya, masih lajang udah bisa bangun rumah.] Menurutku laki-laki yang bisa membangun rumah sendiri sebelum menikah itu luar biasa. Dia hanya perlu memboyong istrinya untuk tinggal mandiri bersamanya. Sehingga jauh dari campur tangan mertua atau ipar dalam rumah tangganya. Lebih aman dari pihak ke tiga. [Tidak semua menggunakan uangku Sarah, dibantu orang tua juga. Tidak ada yang patut dibanggakan sebenarnya.] [Setidaknya hasil kerja kerasmu bisa lebih terlihat dengan begitu.] [Terimakasih Sarah, motivasinya.] Hah? Aku tidak sedang merasa memotivasi, gak nyambung yang dia katakan. Aku tidak membalasnya lagi. Kembali ke beranda dan membaca-baca tulisan di grup dan larut dalam cerita-cerita yang ada. **** Satu minggu Bang Akmal bekerja. Sepulang dari tempat Bang Ilham dia menyerahkan uang lima ratus ribu padaku, meletakkannya di meja. Aku mengambil satu lembar uang merah itu. "Aku pinjam ke tetangga seratus ribu dua hari lalu. Ini buat aku ganti." "Kok gak bilang kamu pinjam?" "Maaf." "Kalo gak ada, kita bisa kasbon lagi ke Ilham." "Biar gak usah kasbon maksudnya. Jadi nanti bayarannya seminggu sekali. Gitu, bang." Aku menjelaskan pelan. Aku gak mau harus kasbon lagi. Jadi gak matuh bayarannya nanti. "Yaudah, sisanya dicukupin buat satu minggu ke depan ya, Sar?" Aku menatap empat lembar uang merah itu yang masih tergeletak di meja. "Pasti cukup kok, bang." "Yasudah, simpan uang itu aku mau mandi." Bang Akmal berdiri dari kursi, segera ke kamar mandi. Di bahunya sudah tersampir handuk yang aku berikan ketika baru datang. "Oh, ya. Uang lembur aku pakai beli bensin." Aku melihat pada Bang Akmal yang menunda langkahnya demi mengatakan itu. "Iya, gak apa-apa," kataku tak masalah. Suamiku pun melanjutkan langkahnya untuk ke kamar mandi. Hasil lembur satu kali tak seberapa, aku bahkan tidak mengingatnya jika dia tidak bilang. Tidak apa-apa tidak diberikan padaku juga, apalagi untuk kebutuhan ongkos bensin. Aku memaklumi. Membawa uang di meja aku ke kamar menyimpannya. Satu minggu full kerja harusnya dapat tujuh ratus ribu, tapi karena sudah diberikan dua ratus ribu sebelumnya tinggal sisa lima ratus ribu. Alhamdulillah, segini juga. Terimakasih ya Allah .... **** [Pasti lagi baca cerbung.] Lagi, pesan inbox masuk dari Bang Ilham ke esokan harinya. Aku melirik jam pukul setengah satu siang. Aku sehabis chat dengan Bang Akmal menanyakan dia sudah makan atau belum. Dia menyudahi karena mau solat dzuhur. Kubuka f*******: setelahnya dan mendapati pesan dari akun M Ilham Satyawan itu. Setiap aku online Bang Ilham menyangka begitu. Tapi benar, aku sedang membaca cerbung. Hapal banget sih dia, seperti Bang Akmal saja. Kalau aku sedang memegang handphone pasti bilangnya begitu. [Iya.] [Ceritanya berepisode gitu, ya. Kayak sinetron.] [Iya.] [Sampai berapa episode?] [Ada yang sampe puluhan bab ada yang cuma belasan bab doang.] [Sampe tamat] [Ada yang tamat ada yang ngegantung. Yang gak tamat biasanya lanjutin di novel, atau di aplikasi jadi bab berbayar.] Sebenarnya aku enggan menanggapinya, tapi tak enak. Dia orang yang kukenal soalnya. Nanti dikira sombong. [Jadi, itu sebabnya kamu suka ikut PO buku?] [Iya, bang.] Kukasih emotikon senyum. Ketahuan deh. Malu sebenarnya. Tidak punya Atm tapi maksa ingin ikutan PO buku dan numpang ke orang lain. Setiap aku mau ikut PO, pasti Bang Akmal larinya ke Bang Ilham. Numpang transfer ke dia. Bukan ke sodara atau teman lainnya. "Ilham itu orangnya nyantai, gak banyak omong. Ada perlu apa-apa ke dia enak. Gak rese." Itu yang Bang Akmal katakan padaku, aku mengerti. Jadi, sudah percaya dan aman. Gak bakal nyebar. Entah kalau ke orang lain. Bisa dikata-katain mungkin? [Mau numpang tf lagi, gak? Nanti aku kirimin ke norek tujuan.] Dia nawarin transfer? [Tidak, bang. Terimakasih. Belum ada buku yang aku suka.] Tapi, bohong. Sebenarnya banyak buku yang ingin kubeli dari penulis-penulis hebat di KBM. Tapi aku harus menyesuaikan budgetku sebelum memutuskan membeli. Aku harus nabung dari jualan dulu. Upah kerja Bang Akmal untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya yang lebih penting dari sekedar buku. Nanti sajalah, kalau tahun ajaran sudah dimulai dan aktif berjualan di sekolah. Tidak ada balasan lagi. Aku meletakkan handphone di sofa yang tengah kududuki dan bergegas untuk solat dzuhur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD