Pada har Ke-4 bekerja, Bang Akmal tidak lekas pulang. Jam lima sore aku menantinya di luar rumah, suamiku itu belum datang. Kemarin-kemarin jam empat lewat dua puluh menit Bang Akmal sudah sampai, sekarang belum.
Sampai adzan maghrib belum juga ada suara motornya. Aku menanyakannya di w******p hanya centang satu dan tidak diangkat saat di telepon.
Kuputuskan masuk dalam rumah berwudhu dan solat. Winda mengikuti gerakan solatku di samping, dia mengenakan mukena kecilnya. Sampai selesai. Putriku mencium tanganku dan aku mencium keningnya.
"Kita sama-sama doain Bapak Inda yang belum pulang, ya."
"Iya, Bu."
Baru kami memangku tangan terdengar suara motor datang. Tanpa bisa kucegah Winda bergegas berlari ke luar. Aku menyusulnya.
"Bapaak!" Winda berteriak kegirangan melihat Bang Akmal datang. "Kok, baru pulang?"
"Iya, Bapak abis lembur kerja."
"Pantesan jam segini baru pulang," kataku yang sudah cemas menunggunya sedari tadi.
"Aku gak datang sendiri."
Tidak lama Bang Akmal berujar seperti itu satu motor lain datang menyusul. Orang itu turun dan membuka helem. Bang Ilham?
"Sini, masuk!" Suamiku mempersilahkannya untuk ke dalam rumah. Bang Ilham berjalan ke arah kami.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumasalam." Aku menjawab sapaan salamnya. Dia menyalamiku dan aku mengatupkan tangan yang terhalang kain mukena.
"Abang udah solat?" tanyaku pada Bang Akmal.
"Belum."
"Solat dulu, nanti ke buru abis waktunya."
"Iya, sekalian mandi. Ilham juga belum solat itu. Kemagriban di jalan."
Aku melihat Ilham kembali ke motornya. Mengambil sesuatu dan membawanya pada kami.
"Ini buat Winda, roti bakar sama martabak manis."
"Horee!"
Winda mengambil bungkusan plastik bening itu dengan senang hati. Aku terbengong, tak kusangka anak itu akan berteriak girang. Dia tidak ada canggung-canggungnya dengan Bang Ilham. Mungkin karna sering diajak Bang Akmal ke rumahnya jadi tampak akrab.
"Mamanya nanti dikasih, ya."
"Iya, Om."
"Mau solat duluan, Ham?" tanya Bang Akmal kepada temannya itu.
"Iya."
"Ayo."
Mereka memasuki rumah. Aku menyusul pelan dari belakang bersama Winda.
Bang Akmal mempersilakan Bang Ilham ke kamar mandi. Aku kembali ke luar sebentar mengambilkan handuk dan memberikannya pada Bang Akmal.
"Siapin sarung buat Ilham solat."
"Sebentar."
"Tidak usah. Pake celana ini aja, bersih baru ganti. Di mana solatnya?"
Aku yang hendak ke kamar mengambilkan sarung tidak jadi. Bang Ilham datang dari arah dapur sudah berwudhu.
"Di sana." Aku menunjuk sebuah ruangan.
Untungnya di rumah ini ada kamar khusus solat. Tidak besar, hanya berukuan 2x2 meter saja. Bang Akmal mempersilahkan Bang Ilham solat di ruangan itu. Letak ruangannya tepat di belakangnya. Bang Ilham solat dan suamiku membersihkan diri.
Aku dan Winda membuka bungkusan pemberian Bang Ilham di meja dapur. Winda memakan sepotong roti bakar duduk di kursi. Mukenanya sudah dibuka, aku juga. Sudah menggantinya di kamar dengan hijab.
Aku mengambil piring memindahkan separuh martabak manis dari kotaknya ke piring dan memindahkan separuh roti bakar ke piring itu juga. Sisanya aku satukan dalam satu kotak saja. Bekas kotak satunya aku buang pada tong sampah.
Bang Akmal baru selesai mandi. "Bikinin kopi, dua, ya."
"Kopi hitam semua?"
"Iya." Bang Akmal bergegas solat setelah selesai memakai sarung dan peci.
Aku menuangkan air panas ke dua gelas yang sudah di isi kopi sachet dan mengaduknya. Kupindahkan pada nampan bersama kue di piring. Aku membawanya ke ruang tengah. Tidak ada Bang Ilham. Di kamar solat pun hanya ada Bang Akmal sedang wirid. Aku melihat keluar, Bang Ilham ada di teras duduk bersandar pada tiang. Dia memainkan handphone di tangannya.
Aku mematung dengan nampan di tangan. Rasanya segan dan malu. Kurutuki Bang Akmal yang lama solatnya belum selesai juga. Kalau ia lewat aku berikan nampan ini padanya.
Jarang ada tamu laki-laki ke rumah, jika pun ada selalu Bang Akmal yang menjamu. Aku hanya menyediakannya saja di dapur. Sebenarnya ini bukan kali pertama Bang Ilham ke rumahki. Sudah tiga kali dia berkunjung ke sini. Tetapi, saat itu tidak sendiri ada teman lainnya juga.
Aku melirik ke belakang, meringis sendiri saat Bang Akmal tak kunjung datang. Mungkin hal seperti ini biasa dan tidak sungkan bagi perempuan lain, tapi tidak bagiku. Aku sungan pada lelaki yang bukan mahram.
Akhirnya, aku beranikan diri menghampirinya. Tidak mungkin aku terus mematung saja.
"Ini kopinya, silakan." Aku meletakkan nampan di hadapannya.
"Terimakasih Sarah, tidak usah repot-repot."
"Tidak apa-apa."
"Akmalnya masih solat?"
"Iya."
Kulihat Bang Ilham meletakkan handphone-nya di teras. "Sakit paru-paru kamu udah sembuh?"
Aku baru akan pamit ketika dia menanyakan itu, tapi urung dan memilih duduk sejenak tidak jauh darinya.
"Sudah. Alhamdulillah."
Sewaktu berkunjung ke rumahnya dia menanyakan ini, sekarang menanyakan ini lagi.
"Sudah selesai berobat jalannya?"
"Sudah."
"Syukurlah."
Dan kemarin juga jawabannya seperti itu.
Satu tahun lalu aku mengalami sakit Tbc paru dengan komplikasi di perut. Menjalani rawat inap satu minggu di rumah sakit dan berobat jalan berbulan-bulan. Banyak teman Bang Akmal yang tahu termasuk Bang Ilham. Teman Bang Akmal yang lainnya pun menanyakan hal serupa jika bertemu denganku.
"Masih pantrang makanan?" tanya Bang Ilham lagi.
"Masih. Asam pedas gak, mie, bakso juga gak. Kalo ke mana-mana pake masker terus sekarang," kataku terus terang.
"Memang kalo udah sakit paru itu gak boleh sering kena polusi. Pola makan juga harus dijaga biar imun tubuh tetap bagus. Asap rokok dihindari. Aku pernah mengalaminya. Sekarang udah gak ngerokok lagi sejak sembuh dari sakit paruku dulu."
Aku merespon dengan menganggukan kepalaku. Aku tahu Bang Ilham juga pernah sakit paru dari Bang Akmal dan sudah tidak merokok.
"Kalo sampai kambuh pengobatannya gak mudah. Penyembuhannya agak sulit dan dalam jangka lebih panjang. Efek samping obatnya juga lebih berat dari sebelumnya. Mangkannya kalo bisa usahakan menerapkan pola hidup sehat. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, iya, 'kan?"
Aku tersenyum canggung dan mengangguk lagi. Aku tahu semua yang dikatakannya dan paham.
Mereka yang kambuh biasanya karena tidak rutin minum obat, sehingga bakteri tuberculosis menjadi resistant alias kebal. Atau, bisa terjadi karena sistem imun tubuhnya lemah akibat pola hidupnya yang tak sehat, membuat sisa bakteri yang ada dalam paru hidup kembali. Itu, mengapa pasien yang sembuh dari sakit Tbc harus bisa menjaga pola hidup sehat. Menjaga-jaga untuk tidak terjadi kekambuhan.
"Tau sendiri 'kan rasa sakitnya gimana?"
"Iya."
"Setahun aku gak putus-putus minum obat. Selama enam bulan pertama gak bisa kemana-mana, cuma tiduran, mau jalan aja susah. Semua anggota tubuh saat itu sakit untuk digerakkan. Aku sampai tidak bisa bekerja dan harus nunggu benar-benar sembuh dulu untuk bisa beraktivitas di luar." Bang Ilham menceritakan kronologi sakit parunya dulu yang disebabkan rokok dan sering bergadang.
"Aku cuma enam bulan aja minum obat. Dan cuma tiga bulan pertama yang gak bisa jalan normal," kataku, menceritakan juga pengalamanku.
"Mending, aku lebih lama dari itu."
Pembicaraan kami seterusnya mengalir begitu saja. Tidak kusangka situasinya bisa secair ini. Mungkin karena pengalaman yang sama itu.
Baru kali ini aku bicara panjang lebar dengan Bang Ilham. Sebelum-sebelumnya tidak pernah. Sudah beberapa kali diajak ke rumahnya hanya bicara seperlunya. Aku lebih banyak diam dan hanya mengajak Winda. Bang Akmal lah yang akrab mengobrol dengannya.
"Minum, Ham." Bang Akmal tiba-tiba sudah ada di dekatku menaruh dua gelas air mineral di nampan.
"Iya, Mal." Bang Ilham menimpalinya.
Ya, ampun. Aku keasikan ngobrol dengan temannya sehingga tidak menyadari kedatangannya. Kutatap suamiku yang baru keluar, aku sampai lupa.
"Habis makan dulu di dapur, laper," katanya pelan menjawab tanya-tanya dalam hatiku.
"Pantesan lama."
Suamiku itu hanya tersenyum saja. Aku bangkit meninggalkan mereka di luar. Itu kesempatan untuk aku pergi.
Sambil menonton televisi aku memakan camilan martabak manis bersama Winda. Suara obrolan dari dua orang di luar terdengar tapi tidak jelas. Biarlah, aku tidak mau tahu juga.