Bang Akmal menyerahkan uang dua ratus ribu setelah pulang kerja di hari ke dua. Uang itu ia taruh di meja di hadapanku.
"Aku dikasih segini sama Ilham."
"Kan aku bilangnya kasbon seratus."
"Aku juga udah bilang begitu. Tapi kata dia yaudahlah dua hari ini dibayar."
Aku mengambil uang itu, memperhatikannya yang kini ada di tanganku.
"Jadi, sehari seratus ribu?"
"Iya, dapat makan siang dan kopi."
"Alhamdulillah ...."
Aku berucap syukur senang. Bagiku upah segitu cukup besar ditambah dapat makan segala. Syukurlah, Bang Ilham mengerti kondisi kami.
"Aku akan membeli minyak dan beras udah abis. Sekalian beli sabun dan pasta gigi juga abis."
"Beliin aja kebutuhan yang udah abis."
"Aku mau ke warung sekarang." Aku berdiri dari kursi.
"Beliin aku rokok sebungkus, ya!"
"Iya, bang."
"Udah tau 'kan rokok apa?"
"Tau. Yaudah, aku ke warung dulu."
Aku meninggalkan bBang Akmal sendiri di meja dapur pergi dengan membawa satu lembar uang merah itu. Membelanjakannya di warung tidak jauh dari rumahku. Kembaliannya bisa buat besok. Aku akan menghemat upah kerja Bang Akmal.
****
[Sudah dibaca bukunya?]
Pesan dari Bang Ilham di inbox f*******: saat aku baru online. Aku mengetik pesan balasan.
[Sudah. Ceritanya bagus.]
Tanda titik tiga di bawah namanya bergoyang, pertanda dia sedang mengetik untuk membalasku kembali.
[Kamu suka?]
[Iya, sangat menarik.]
[Syukurlah kalau suka dan udah dibaca. Sayang sekali kalau sampai tidak dibaca.]
[Aku pasti baca kok, aku hobby membaca, apalagi novel sebagus itu.]
[Sudah tamat bacanya?]
[Belum. Bukunya cukup tebal, aku tidak bisa membacanya sekaligus.]
Bang Ilham tidak membalas lagi setelah itu. Tanda titik tiga itu diam. Aku kembali ke beranda. Melihat-lihat status teman dan status di grup.
"Ibuu ... Inda beli es krim. Inii."
Datang-datang putriku Winda memamerkan es krim padaku. Menyusul di belakangnya Bang Akmal membawa satu bungkus makanan.
"Ini nasi gorengnya." Dia meletakkan bungkusan itu di meja di hadapanku. Aku membukanya, wanginya enak sekali dan masih hangat.
"Kamu mau? Barengan. Aku sendiri gak akan abis."
"Winda mau gak?" Bang Akmal malah bertanya pada Winda yang langsung menyalakan televisi bukannya menjawabku.
"Gaak!" Anak itu menyahut keras.
"Yaudah kamu makan duluan aja, kalo gak abis sisanya aku makan nanti."
Aku mengulum senyum mendengarnya. Dia selalu begitu, mengutamakan istri. Tanpa berkata-kata lagi aku memakan nasi goreng kesukaanku yang dibelikan Bang Akmal di jalan perempatan. Lumayan jauh kalau berjalan kaki. Ia tadi mengajak Winda pergi dengan motor.
****
Maaf, parti ini pendek ??
Next.