Hari itu cukup cerah untuk meninggalkan rumah pagi-pagi dan memulai petualangannya sendiri. Taja yang cantik namun mandiri dan berani, tentu tak kesulitan untuk bepergian ke hutan atau wilayah padang pasir tanpa dijaga siapapun. Ia berangkat menggunakan kuda kesayangannya, Hammon, setelah berpamitan kepada ibunya.
Masih terngiang pesan Sang Ibu, “Jangan sampai kemalaman, Nak! Ayahmu sedang tidak ada di rumah.” Dan Taja hanya mengangguk sambil melambaikan tangan di atas kudanya. Entah, apakah gadis itu mendengar teriakannya atau tidak, tapi Taja sudah terbiasa untuk memahami dan melaksanakan tugas-tugas selama kepergian ayahnya, Dyma. Jadi, ibunya tidak terlalu khawatir.
Berbekal makanan dan minuman seadanya, Taja menuruni bukit, menyusuri jalan menuju pemukiman penduduk yang lebih padat daripada di wilayah tempat tinggalnya. Ia ingat bagaimana terakhir kali membekuk pencuri kue di pasar, yang tak lain hanyalah seorang bocah laki-laki yang kelaparan, hidup nestapa karena ditinggal wafat ibundanya. Atau pemandangan tragis tiga minggu lalu, ketika rombongan keluarga yang sedang berduka mengantar jenazah anaknya. Putra mereka wafat setelah terlibat perang antar suku yang sebenarnya jarang terjadi.
Dalam hati, Taja lebih tertarik pada masalah seperti ini, ketimbang terlalu memikirkan calon suami. Bayangan tentang figur seorang lelaki masih jauh dari hasratnya sebagai perempuan yang ingin menjadi lebih dari sekadar ibu rumah tangga. Sang Ibu, Miszha, memang menjadi teladan baginya, dan seorang ibu rumah tangga tentu sangat mulia, namun cita-citanya yang bahkan lebih tinggi dari remaja laki-laki manapun di desanya, tidak bisa dibendung lagi. Taja, sangat mengerti dengan apa yang ia inginkan di masa depan.
“Taja! Berhenti!” Seruan itu memaksanya untuk menarik tali kekang di tangannya, menghentikan laju kudanya.
Kuda itu meringkik, kemudian berhenti, tepat pada saat orang tersebut mencapai Taja. “Katakan, Mia, apa yang kau inginkan?” tanyanya, setelah mengenali seorang gadis yang terengah mengejarnya.
“Rombongan ayahmu sudah meninggalkan desa?” Gadis berusia sebaya dengannya itu malah balik bertanya.
“Seharusnya. Ada apa?”
“Dia membawa kekasihku, Amran. Padahal sebentar lagi kami akan bertunangan!” Nada suara Mia meninggi, menandakan bahwa dia sangat marah. “Jangan samakan aku dengan dirimu yang tidak suka pria dan tidak menikah. Kau dengar? Sebaiknya susul ayahmu dan bilang padanya agar tidak melibatkan Amran!”
“Ini sangat aneh,” kata Taja, “Lalu di mana kau saat Amran berangkat bersama ayahku? Masalahnya, ayahku tidak berencana mengajak kekasihmu menjadi prajurit istana. Atau, kalian sedang bertengkar sehingga Amran memutuskan untuk pergi?” Taja pura-pura berpikir, “Hm, kalau begitu, ayahku yang bodoh. Dia begitu mudah dimanfaatkan anak-anak cengeng seperti kalian. Amran yang tidak berjiwa besar dan Mia yang sangat manja. Kalau begitu baiklah, kucoba menyusul mereka di perbatasan. Tapi ingat, aku tidak menjamin hasilnya. Sama sekali.” Dua kata terakhir ditegaskannya dengan sangat jelas, sehingga Mia urung menuntut terlalu keras.
Akhirnya rencana semula berubah, dan tidak mudah mengejar laju kuda rombongan prajurit meskipun tidak secepat kudanya. Taja sudah tertinggal waktu, itu artinya ia harus mengambil jalan pintas.
Kendali kuda yang sudah menyatu dengan dirinya begitu ringan, seolah terbang bersama angin. Binatang yang dahulu ditaklukkan Dyma dan dipisahkan dari kawanannya itu tahu persis ke mana harus mengantar majikannya. Dengan kecepatan tinggi, rombongan prajurit yang terdiri dari sembilan laki-laki dari berbagai desa, termasuk ayahnya, dapat dikejar.
“AYAH!” panggilnya dari kejauhan.
Dyma terperangah. “Kau dengar itu, Amran? Mirip suara putriku?”
Semua prajurit istana menghentikan kuda-kuda mereka dan menoleh.
“Itu memang putrimu, Dyma.” Amran membenarkan.
Bola mata Dyma berputar. “Ada apa lagi?” Sudah menjadi kebiasaan Taja untuk mengejar rombongannya bila terpaksa harus membicarakan sesuatu yang terlupa. Ketika Taja dan kudanya sampai di depannya, Dyma bertanya seraya mendengus kesal, “Kau anak gadis, Taja. Hentikan kebiasaanmu menghentikan keberangkatan kami. Ini sangat memalukan!”
“Tidak apa-apa, Dyma. Bicarakan dulu masalah ini dengan putrimu. Kami akan menunggu, tapi jangan terlalu lama.” kata seorang rekannya.
“Baiklah, terima kasih.”
“Kecuali kau, Amran! Tetaplah berada di sini! Masalah ini tentangmu.” Taja mencegah berlalunya kekasih Mia dari hadapannya.
“Kenapa kau begitu kasar, Taja? Ada apa sebenarnya?” Dyma membela pemuda tersebut karena belum tahu masalahnya.
“Ayah, ‘bocah’ ini belum pantas mengabdi di istana. Dia hanya melarikan diri dari Mia. Pertunangan mereka akan terancam batal jika perjalanan ini diteruskan.” jelas Taja dengan emosi yang nyaris memuncak.
Namun, raut wajah ayahnya tidaklah menghakimi seperti keinginannya. Dyma butuh waktu sejenak, bahkan mengambil napas sebelum menjawab tudingan Taja. “Kalau begitu, sudahkah Mia memberitahumu bahwa ayah Amran baru saja meninggal? Ayahnya menginginkan Amran meneruskan pekerjaan sebagai prajurit. Sebagai kepala keluarga berikutnya, Amran wajib memenuhi permintaan terakhir ayahnya dan dia tidak merasa terpaksa. Apakah itu salah? Tapi tentang pertunangan, kurasa hanya kau yang bisa memutuskan, Nak.” Dyma beralih pada pemuda di sampingnya tersebut.
“Mia dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa. Orang tuanya memperingatkanku untuk menjauhi putri mereka hanya karena keinginanku meneruskan pekerjaan ayah. Sebagaimana keluargamu yang satu-satunya mengabdi di istana di antara seluruh penduduk desa, apakah aku harus aku menjilat ludahku sendiri dengan mengatakan tidak? Ayahku juga mengandalkan pekerjaannya di istana, sementara yang lain pergi berdagang, sulitkah kau memahami itu? Bukankah kita memiliki latar belakang keluarga yang sama?”
Taja terdiam. Bagian itu tidak diketahuinya. Mia telah memanfaatkannya untuk mendapatkan kembali kekasihnya yang tinggal di lain desa. Dalam hati, ia merasa terhina.
“Taja … .” Dyma berusaha menyadarkan putrinya agar mampu berpikir jernih.
Lambat laun terlepas dari lamunan, gadis itu mengangguk pelan dan berkata, “Ikutlah dengan ayahku. Untuk kesalahanku terlalu cepat menghakimimu, aku minta maaf. Ayah, maaf, aku telah menghambat perjalananmu.” Taja bersungguh-sungguh.
“Pulanglah, dan jangan beritahukan tentang hal ini pada ibumu. Ini bukanlah masalah besar yang mesti dikhawatirkan. Bukankah begitu, Amran?” Dyma menepuk bahu pemuda itu yang sebentar lagi akan dipenuhi tonjolan otot pada bagian lain di tubuhnya. Latihan-latihan keras akan mengubah pemuda tersebut menjadi pria sejati yang akan mengharumkan nama keluarga dan negerinya. Sempat terlintas keinginan untuk menyandingkan pemuda itu dengan putrinya kelak apabila mereka bisa berjodoh, sebab rata-rata orang tua tidak menginginkan menantu dari keluarga kesatria, tapi Dyma dengan senang hati akan menerimanya sebagai calon suami Taja.
Amran mengangguk penuh keyakinan. Menangkap bulat tekad pemuda itu, Taja pun pamit dan memutuskan kembali ke pasar, tempat ia bertemu Mia.
“Jangan tersinggung. Taja memang kasar, tapi dia memiliki satu hal yang tidak dimiliki gadis lain seusianya.” Dyma mulai berusaha menumbuhkan daya tarik Amran terhadap putrinya. “Sembilan belas tahun, lajang dan berbuat semaunya sendiri. Tapi juga tegar dan mandiri. Walau bagaimanapun, aku tetap bangga padanya.” jelasnya sembari mengarahkan Amran untuk menemui rombongan kesatria yang masih menunggu.
Tiba di depan Mia, Taja langsung menghentikan laju kuda kesayangannya.
“Nah, bagaimana?” tagih gadis itu tanpa merasa malu bahwa keputusan Amran tidak ada hubungannya dengan keluarga Taja.
“Dia bilang kalian sudah putus,” ungkap Taja tanpa turun dari tunggangannya. “Ayah dan ibumu-lah yang mengakhiri hubungan kalian. Seharusnya kau bertanya pada mereka, bukan menyalahkan ayahku maupun Amran. Para kesatria yang hendak berangkat untuk kembali melaksanakan tugas, pastilah mengemban tugas suci. Tetapi yang kau lakukan justru menghambat mereka, dan yang terburuk kau berani memanfaatkan aku, Mia.”
Mendengar itu, tampang garang Mia menyurut. Tak lagi berkacak pinggang, dia pun segera pergi meninggalkan Taja begitu saja.
***