“Taja! Makan malam sudah siap, Nak!” panggil Miszha yang seharusnya terdengar dari istal. Putrinya sedang berada di sana untuk mengistirahatkan kuda yang setia menamani selama sehari penuh.
Tak lama, Taja muncul dari balik pintu dan menutupnya kembali.
“Bagaimana dengan Hammon? Sudah kau pastikan dia tidur nyenyak dengan perut kenyang malam ini?” tanya Miszha serius, mengingat kuda itu dipaksa menemani Taja selama seharian dan mungkin belum istirahat.
“Tentu, bahkan aku baru saja menyanyikan lagu untuknya,” canda Taja, mencoba menenangkan hati dan pikiran ibunya yang sering kali berkelana ke mana-mana. Satu hal, Sang Ibu masih menganggapnya seperti gadis kecil yang sama seperti lima belas tahun yang lalu.
“Baiklah, aku percaya. Ini, sudah kusiapkan untukmu. Makan yang banyak!”
Sesuap demi sesuap, makanan yang disajikan ibunya telah masuk ke mulut dan memberinya energi baru. Hidangan yang sederhana tapi menjadi kesukaan keluarga. Lain dengan Miszha yang pandai memasak, putrinya itu sangat anti menyentuh pekerjaan dapur. Bila dibiarkan saja, tentu akan menjadi masalah pada keesokan hari.
“Dengar, Taja. Jangan ke mana-mana besok. Temani Ibu di rumah, ya?” rayu Miszha tanpa mengungkap keinginannya.
“Baik, tidak masalah.”
Jawaban itu melegakan perasaan Miszha. “Hm, bantu Ibu memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Ini penting untuk masa depanmu.”
Taja menghela napas. “Masa depan? Masa depan seperti apa yang Ibu maksud?” tanyanya.
“Seperti yang pernah dibicarakan ayahmu. Pernikahan. Kau akan menikah dan menjadi tanggung jawab pria yang mencintaimu.”
“Tentu, Ibu. Aku akan memasak, menjahit, merias diri, apapun yang engkau inginkan.Terus terang, itu bukan masalah besar bagiku.” ujar Taja pura-pura menyanggupi diri.
“Bagus!”
“Tapi tidak demi sebuah pernikahan, Bu. Aku mau belajar karena untuk diriku sendiri.”
“Taja, kau sangat keras kepala! Lalu untuk apa hidupmu nanti? Selamanya menua tanpa siapapun yang berada di sampingmu? Hidup macam apa itu?!”
“Kehidupanku.”
Mendengar jawaban itu, Miszha mengalah. Tiada guna berkeluh kesah sebab pada akhirnya akan sia-sia belaka. Taja tidak pernah sependapat dengannya. Walau demikian, ia tetap ingat pesan suaminya untuk memberi putri mereka waktu, termasuk untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan, termasuk cita-citanya yang aneh.
“Menjadi Kesatria Utama? Wanita?” Miszha tergelak, sampai hampir tertusuk jarum jahitnya sendiri. “Apakah menurutmu, kita sudah kehabisan kaum pria di negeri ini?”
“Memang tidak, tapi mereka semua bodoh, kecuali ayah.”
Miszha semakin terpingkal dengan jawaban buntu putrinya yang semakin tidak masuk akal. “Maaf kalau ibumu ini tertawa tapi … itu pendapat yang gila.”
“Sekarang Ibu menilaiku gila?” Taja kesal namun masih sangat sayang ibunya, membiarkan pelukan wanita yang telah melahirkannya itu terasa hangat di punggungnya.
“Ya, Tuhan. Lindungilah Taja-ku ini. Dengar, begini saja, lupakan semua debat kita yang tak berujung itu. Pikirkan saja soal pernikahan, bagaimana? Bila ayahmu telah memperoleh pria yang tepat, maka kau akan setuju. Bukankah itu lebih mudah diterima?” bujuk Miszha.
Alis Taja naik. “Memang lebih mudah … ,” gumamnya.
“Benar.”
“Tapi juga lebih bodoh karena itu sama saja menghentikan cita-citaku, Ibu. Aku harus menurut pada perintah suamiku. Apa gunanya sebuah pernikahan jika tidak sesuai dengan isi hatiku?”
“Lalu apa yang sesuai dengan isi hatimu? Taja, pikirkanlah, suatu hari nanti kau akan menua dan membutuhkan sebuah keluarga untuk menopang kehidupanmu kelak.”
“Pasti, Ibu.” Taja menghela napas. Sampai kapanpun ia akan kalah berdebat dari wanita yang satu ini. “Ibu, aku tidak dilahirkan untuk berdebat denganmu. Kau … telah memberiku segalanya termasuk kehidupan yang kumiliki saat ini. Namun aku tidak mampu menolak hasrat untuk menjadi diri sendiri. Salahkah bila berbeda dari yang lain? Ibu … .” Taja akhirnya bersimpuh dan mencium punggung kedua tangan ibunya sembari memohon restunya.
“Taja.” Miszha tak mampu lagi melanjutkan ‘perang’ urat saraf yang mungkin bisa menjauhkannya dari buah hatinya. Dibelainya rambut panjang Taja dengan penuh kasih. “Baiklah, Nak. Ayahmu benar, kami harus memberimu waktu. Tidak adil rasanya bila Rhoden harus kehilangan salah satu calon kesatrianya yang paling andal.”
“Terima kasih, Bu.” Disambutnya pelukan ibu yang sangat disayanginya. Seorang wanita yang mirip sosok bidadari, dan tanpanya, kehidupan tidak akan pernah sama.
Sementara itu, perjalanan Dyma tidak menemui hambatan berarti. Malam itu, mereka memutuskan beristirahat sebelum mencapai istana raja besok pagi. Dalam hening malam dan dipadu suara raungan serigala, mereka berlindung di sekitar api unggun kecil, sambil sekadar bercakap-cakap untuk melepas penat dan menghabiskan malam. Saling berjaga bergantian agar tetap waspada dari mara bahaya.
Usai tertawa menyimak cerita lucu salah seorang rekan, Dyma mengganti topik pembicaraan.
“Kudengar, Raja akan mendatangkan sesuatu dari wilayah manusia modern. Mungkin sebuah mesin untuk pertanian, sama seperti yang dimiliki kerajaan tetangga kita, Eyn.”
Kawan-kawannya, termasuk Amran, menoleh ke arahnya karena tertarik.
“Benarkah? Lalu siapa yang akan menjalankan benda itu? Kuda? Hahahaha!”
Mereka pun tergelak.
“Memang, seharusnya kuda yang menjalankannya, tetapi tidak. Mesin itu akan bergerak sendiri sesuai perintah yang disebut … ehm … .”
“Program?” sambung Amran.
“Ya, Amran benar! Program! Bahkan sistem kerjanya seperti robot. Jadi, para petani dan hewan-hewan peliharaannya tidak perlu susah payah bekerja. Mereka akan pensiun. Pertanyaannya, bagaimana jika seumpama, peran kita sebagai prajurit juga diganti?” ucap Dyma membayangkan kata-katanya, terungkap melalui pelupuk matanya yang lelah.
“Maksudmu drone?” tambah Amran lagi.
“Ya, ya, Amran. Drone, robot, atau apalah namanya. Bila memang itu akan terjadi, maka situasi akan memanas dan dunia akan menggila.” Pendapat Dyma tidak ditentang rekan-rekannya.
Banyak kerajaan yang masih bertahan di tengah konflik pelik dunia modern yang beradu kemajuan teknologi, namun tidak menutup kemungkinan bahwa Rhoden akan terkena getahnya. Masalahnya, mereka hidup di zaman yang sama dan harus mulai bertahan karenanya.
“Entahlah, Dyma. Kau pun tahu, kerajaan kita rawan perang karena bermasalah. Berbeda dengan Kerajaan Eyn, negeri kita memiliki raja yang tak tahu apa-apa. Selama tidak ada perubahan, celah sedikit saja bisa melebar dan itu berbahaya.” Salah seorang rekannya berpendapat.
“Masih ingat Bafrac? Dia yang paling parah. Kenali musuhmu dan jangan kasihani pengkhianat karena orang-orang seperti mereka akan menusuk kita dari belakang!”
Mengenang peristiwa itu memang menyakitkan. Hingga sekarang, luka di hati dan ingatan Dyma masih terbuka. Sangat disayangkan, mengingat Bafrac adalah teman masa kecilnya. Namun semua sudah menjadi bubur, pertikaian itu tidak mungkin disesali lagi.
“Hei, kalian dengar itu?” Amran terbangun setelah telinganya menangkap suara berisik dari kejauhan. Suara-suara yang akhirnya kian mendekat dan berasal dari atas langit.
“Burung? Banyak sekali!” seru yang lain, sesudah menyadari penyebab pasti suara berisik tersebut yang kemudian menghilang, seiring berlalunya burung-burung itu, cukup jauh dari atas kepala mereka. “Apakah mereka bermigrasi?”
“Langit lumayan gelap. Kita tidak tahu burung apa yang lewat hingga sebanyak itu.”
“Biarkan. Mereka juga makhluk hidup. Istirahat lebih penting. Amran dan yang lainnya, kalian tidurlah. Aku akan berjaga menggantikan dua rekan kita.” kata Dyma, bangkit dari tempat duduknya.
“Aku ikut denganmu.”
Dyma menepuk bangga bahu Amran yang bersemangat mengikuti jejak prajurit istana itu. Namun, baik Dyma maupun kesatria yang lain tidak menyadari bahaya yang datang, tepat menuju desa-desa tempat tinggal mereka. Ancaman seorang penyihir yang datang melalui kemunculan gagak-gagak. Bencana di seluruh Rhoden.
***