Bab 4 Pertanda Buruk

1434 Words
Pemandangan yang sama dialami seluruh penjuru desa. Langit menghitam tatkala ribuan burung gagak menutupi angkasa. Penduduk Desa Rannon kebingungan, sebab makhluk tersebut tidak segera menghilang dari pandangan. Semua orang takut keluar rumah akibat kegelapan yang memperburuk pandangan mata mereka. Belum lagi serangan beberapa gagak, seolah mencegah setiap orang keluar rumah untuk memperoleh sesuatu, terutama bahan makanan, menjadi sulit didapatkan. Para kepala rumah tangga dan pemuda yang ingin bekerja harus berjibaku dengan serbuan gagak-gagak. Kesulitan yang berlangsung selama berhari-hari tersebut menyebabkan mereka nekat untuk melakukan pembasmian besar-besaran. Kabar ini terdengar hingga ke telinga Taja dan ibunya. “Seperti pertanda buruk,” desah Miszha, teringat perjalanan suaminya yang baru saja dimulai. Mengapa peristiwa buruk ini terjadi kala suaminya tidak berada di rumah? Masih lekat betul dalam ingatannya tentang ucapan Tetua Desa yang memerintahkan agar setiap keluarga mengirimkan wakil untuk ikut memberantas ‘hama’ tak diundang itu. “Bukan Tuhan yang mengirim burung-burung itu ke desa kita. Biasanya, firasat Dyma benar. Ayahmu mampu membaca gejala alam yang terasa ganjil bahkan lebih baik daripada Tetua Desa,” sambungnya kemudian. “Ibu takut?” Mata Taja melirik ibunya yang langsung salah tingkah. Sebagai istri seorang kesatria, wanita itu tidak semestinya takut, namun jika kedatangan gagak-gagak memang pertanda buruk, maka nyali siapapun akan menciut. Antara ya dan tidak, Miszha tidak langsung mengomentari pertanyaan putri semata wayangnya. Butuh beberapa saat bagi dirinya untuk menimbang jawaban yang tepat. Jangan sampai ketakutan tersebut justru menimbulkan ide buruk di benak putrinya yang mudah tersulut emosi. Ia sangat mengenal watak Taja. Jemarinya berhenti menelusuri pola kambium pada permukaan meja kayu sederhana buatan suaminya. Tanpa sadar, wajahnya sedikit memucat. “Ta-takut? Tidak! Kita, bangsa Rhoden tidak pernah mengenal takut. Bukankah sebentar lagi Ibu akan bergabung dengan warga untuk memerangi burung-burung terkutuk itu? Akan Ibu buktikan, takut hanyalah penyakit bagi mereka yang bermental pengecut.” Meskipun Sang Ibu berusaha menutupi getar nada bicaranya, Taja dapat merasakan bimbang di sana. Gadis itu tersenyum remeh, kemudian berniat menenangkan batin ibunya dengan berkata, “Tenang, Bu, izinkanlah aku, putrimu, menggantikan tugasmu. Aku bukan lagi gadis kecil yang harus kau lindungi setiap hari. Lihat, ototku cukup kuat!” Memamerkan otot lengan yang menyembul malu-malu, cukup meredakan kegelisahan Miszha yang kemudian tertawa lepas menyaksikan tingkah lucu Taja. “Sudahlah, Taja. Lupakan ototmu yang payah itu. Wanita seperti kita hanya akan berotot untuk melayani suami dan keluarga. Pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, kesibukan di ladang, adalah tiga hal yang akan kau lakukan di masa depan. Ingat itu.” Seperti biasa, kecaman ibunya tidak menyurutkan niat Taja walau setapak. Tekadnya sudah bulat. Baginya, inilah giliran putri Dyma untuk unjuk diri, apapun yang akan terjadi. Ia pun bangkit dari tempat duduknya di ruang makan. “Mana sanggup aku menentangmu, Bu. Tapi melihatmu menderita dengan menggantikan tugas Ayah, akan lebih membuatku tersiksa. Bila Ibu ingin bergabung dengan Tetua, silakan. Itu berarti aku pun akan berdiri di depanmu untuk melindungmu,” tegas Taja. Sepasang mata Miszha berkaca-kaca. Tangan kanannya cepat mencegah Taja meninggalkan dirinya. “Jangan pernah kau berani … !” Sorot mata mereka saling beradu. Miszha, sebagai seorang ibu, tentu merasa wajib melindungi putrinya. Apa yang akan dikatakan Dyma jika Taja sampai celaka? Sebaliknya, Taja ingin diperlakukan dewasa. Sampai kapan ia dianggap putri kecil yang cuma bisa merenungi nasib? Sedikitpun tiada rasa benci atas kehendak Sang Ibu yang sulit diluluhkan. Perlahan, tatapan itu pun meredup. Mereka sama-sama mencoba mencairkan suasana. “Maafkan aku, Ibu. Aku hanya tidak sanggup kehilanganmu,” ungkap Taja. “Ibu juga minta maaf. Tidak seharusnya Ibu terus mengekang keinginanmu. Tetapi percayalah, berada di luar sana, tentu sangat berbahaya! Kau tidak tahu keganasan makhluk bersayap itu.” “Tetua Desa dan kelompoknya juga tidak tahu apa-apa. Berikan saja bekal terbaik untukku, Bu. Selanjutnya, tinggal doa dan restumu. Lagi pula, aku tidak berencana mati konyol. Mereka hanyalah burung-burung tersesat!” Nyatanya, keangkuhan Taja berbanding terbalik dengan situasi yang dihadapinya. Belum berperang, ia malah ditertawakan dengan kaum laki-laki yang sudah berkumpul di kediaman Tetua Desa. Kehadirannya dinilai lucu bagi semua orang yang hadir di pertemuan tersebut. “Putri Dyma, bagaimana kau keluar rumah tadi? Menawarkan para gagak itu remah roti sehingga memberimu jalan menuju kemari?” celetuk salah seorang di antara mereka, sontak disambut gelak tawa tamu-tamu yang lain. Taja tetap tenang. Ia merasa telah cukup dewasa untuk menangani para pria di depannya yang justru bersikap kekanak-kanakan. Mencoba berpikir dingin tidaklah mudah, namun demi nama baik keluarga dan nasib desanya, maka ia harus mau mengalah. “Remah roti yang banyak.” Kata-katanya mulai membelah kerumunan warga yang masih menanti kehadiran Tetua Desa. “Sayangnya, aku kehabisan makanan sehingga harus mengorbankan daging kelinci bekal makan malamku. Tahukah kalian? Ternyata gagak-gagak itu lebih menyukai daging kelinci yang kubawa. Entahlah dengan daging manusia. Adakah yang belum hadir malam ini? Siapa tahu … .” Para lelaki dalam balai pertemuan itu saling pandang. Termakan ucapan Taja yang memaksa mereka untuk memeriksa beberapa rekan yang belum tampak batang hidungnya. “Memang, sewaktu aku membunuh beberapa ekor, kulihat bercak darah di paruhnya. Mungkin saja darah binatang, tetapi … bagaimana jika ucapan gadis itu benar?” Seseorang menceritakan pengalamannya dan langsung menyebabkan suasana menjadi riuh. “DIAM!” Suara setengah serak itu terdengar berjuang keras meredam kepanikan. Dalam waktu singkat, suasana kembali hening dan semua orang memberi kesempatan Tetua Desa untuk duduk sebelum memulai petuahnya. “Taja, apakah kau mewakili ayahmu?” tanyanya, setelah memeriksa sekeliling dan hanya gadis itu saja di antara semua pria yang bersedia hadir mewakili keluarganya. Taja mengangguk. “Seperti yang Anda lihat. Ayahku tengah dalam perjalanan menuju istana untuk melanjutkan tugasnya. Mustahil ibuku yang lemah lembut itu kubiarkan berada di sarang lebah ini, jadi kuputuskan untuk menggantikan mereka berdua,” terangnya. “Sarang lebah?” Alis Tetua Desa naik. “Jika kau tidak bisa menghormati pertemuan ini, sebaiknya kau pulang untuk menemani ibumu. Kehadiranmu cuma menjadi bahan olok-olok di antara kami sehingga merepotkan pekerjaan. Jadi sebaiknya … kau lekas pergi, angkat kaki dari tempat ini.” “Mengusirku secara halus?” sindir Taja. Ia tahu bahwa keluarganya tidak akan dianggap karena kekurangan anggota keluarga yang laki-laki. Saat inilah, nyalinya sedang diuji. “Siapa yang menghinaku pertama kali? Kalian. Ketika aku membalas, Tetua merasa tidak terima? Tentang jati diriku yang ternyata adalah seorang perempuan, kumohon, jangan terhalang dengan itu. Apapun yang akan terjadi, aku janji tidak akan mengeluh. Janji keturunan Kesatria Rhoden akan terus dipegang sampai mati.” Tetua Desa menatap lurus ke arahnya. Pelan, sebentuk senyum menghiasi bibirnya yang nyaris tertutup kumis putih. Ucapnya, “Baiklah, terserah kau saja. Dengarkan saja dan ikuti hasil keputusan kami. Jika kau memang teguh memegang janji, maka inilah jalan terbaik.” “Tentu. Aku tidak akan mengganggu. Silakan berdiskusi, aku akan duduk diam di sini.” Taja duduk mendengarkan pertemuan tersebut, membiarkan kaum lelaki desa yang saling urun rembuk atas masalah serius di desa mereka, hingga tercapai keputusan untuk memberantas burung-burung gagak dengan cara memberi racun pada makanannya. “Bila mereka sudah lemas dan berjatuhan ke bumi, langsung tusuk dengan ujung pedang atau besi panjang apapun yang kalian punya. Dengan demikian, kita tidak perlu susah payah memancing mereka turun dengan cara yang berbahaya,” tutur Tetua Desa, mengakhiri keputusannya. Maka, malam berikutnya, rencana itu mulai dilakukan. Semua hewan ternak sudah harus dikurung di dalam kandang. Jangan sampai umpan beracun termakan oleh hewan ternak milik para penduduk desa. Semua orang bergerak, terutama di tempat-tempat yang akan dilalui para gagak untuk beristirahat. Setelah beberapa hari terganggu oleh kawanan burung berwarna gelap itu, orang-orang tahu persis ke mana harus meletakkan umpan. “Kau yakin ini akan berhasil, Taja?” tanya Miszha, selesai meramu umpan beracun untuk dibawa putrinya menuju ladang. “Entahlah, Bu. Jika kedatangan gagak-gagak itu adalah pertanda buruk seperti dugaanmu, maka kematian tidak akan mencegah musibah berikutnya. Namun, tidak ada salahnya mencoba. Bukankah kita ingin hidup normal seperti biasanya?” Miszha tak lagi mendebat putrinya. Ketimbang memperkeruh keadaan, ia memilih untuk diam dan memberi restu putrinya untuk membantu warga desa. “Hati-hati!” Nasihatnya hanya dibalas senyum tulus gadis berusia delapan belas yang sudah seharusnya memberinya seorang cucu. Taja anak yang baik. Wataknya yang keras adalah buah perpaduan Miszha dengan Dyma, suaminya. Jadi buat apa dipermasalahkan? Jika memang tekadnya telah sedemikian kuat untuk menunda pernikahan dan mengabdi kepada istana, maka selanjutnya adalah dukungan keluarga. Mengingat kesalahannya, Miszha berjanji untuk berubah sikap. Taja berhak untuk hidup bahagia. Merasa lebih mantap keluar rumah kali ini, Taja melangkah menuju ladang tanpa beban. Di sana, ia akan bergabung dengan beberapa orang dalam sebuah kelompok yang sudah ditetapkan oleh Tetua Desa. Sementara kelompok-kelompok lain akan menyebar umpan dari arah yang berbeda, sebelum para gagak pengganggu itu kembali berdatangan dan menampakkan diri dalam jumlah yang fantastis! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD