Bab 5 Gumpalan Hitam dengan Kabut Kelabu

1827 Words
Langkah kaki seorang gadis berpenampilan seperti kesatria terus menyusuri jalan Desa Rannon yang sengaja dibiarkan beralas tanah berkerikil. Sebagai bagian dari Suku Urcan yang mendiami wilayah tersebut, Taja, demikian pula warga lainnya, harus terbiasa dengan medan tempat tinggal mereka yang masih terasa tidak nyaman. Meskipun demikian, kedekatan mereka dengan alam menjadi tidak terpisahkan. Hampir tidak ada teknologi modern yang mereka gunakan. Bila seseorang memilikinya karena pernah berinteraksi dengan dunia di luar sana yang sarat dengan kehidupan serba praktis, sudah dapat dipastikan bahwa alat tersebut mustahil digunakan. Selanjutnya, tibalah ia di kawasan tepi sungai yang cukup lebar dengan arus deras. Untuk menuju ladang, Taja harus melewati jembatan kayu yang terbuat dari sebuah pohon besar di hutan. Jembatan yang sama semenjak pertama kali melangkahkan kaki kecilnya bersama Dyma, Sang Ayah, saat usianya baru tiga tahun. Hingga kini, tetap menjadi fasilitas penghubung antara Desa Rannon dengan wilayah ladang dan hutan yang sangat luas, juga ke beberapa desa lain dengan arah yang sama. Di bibir jembatan, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang memiliki tujuan sama dengannya. Dia memandangnya penuh kebencian. Hawa dendam yang menusuk tentu sangat dimaklumi Taja. Siapapun kerabat Bafrac, musuh ayahnya, tentu tidak akan senang bertemu muka dengannya. Sayangnya, mereka tinggal di desa yang sama. “Bagaimana kabar ayahmu? Masih menjilat alas kaki raja?” tanyanya, tentu bermaksud mengobarkan api yang semula hanyalah berupa percikan. Taja memang tipikal gadis tinggi emosi, namun tidak bodoh. Ia tahu, orang seperti dia sangat pandai memutarbalikkan fakta demi mencemarkan nama baik keluarganya. Oleh karena itu, ia memilih diam. Kakinya tetap berjalan tanpa menghiraukan hinaan sumbang di belakangnya. “Kenapa diam?!” Suara orang itu kian meninggi. “Kau pikir keluargaku memaafkan ayahmu? Berkat fitnah kejam Dyma, kini Bafrac tinggal entah ke mana! Anak-anaknya masih kecil. Istrinya menikah lagi dan meninggalkan mereka. Kalau Bafrac harus menanggung kesalahannya, maka ayahmu juga harus ikut merasakannya! Kau, tidak mungkin lolos dari masalah ini, Taja! Anak-anak Bafrac sudah mulai kudidik untuk membencimu!” Ujaran kebencian tersebut terus terlontar sehingga gadis itu mengurungkan langkahnya. Taja hanya menoleh sedikit tanpa memutar punggungnya agar kembali berhadapan dengan tetangga desanya itu. Ucapnya, “Aneh. Ayahku tidak sekalipun mengajariku untuk membenci keluarga kalian. Bafrac yang telah terbukti berkhianat, masih saja kau bela? Malah menyebarkan racun di mana-mana bahwa ayahkulah yang bersalah. Dunia ini memang terbalik, tapi aku tidak heran. Rasanya aku sudah terbiasa dengan kemunafikan. Katakan, berapa harta Bafrac yang ingin kau dapatkan?” “Apa maksudmu?!” “Jangan pura-pura! Jika Bafrac tidak berkantong tebal, mana mungkin kau mau merawat anak-anaknya. Setidaknya, itulah yang kau harapkan apabila Bafrac kembali dari pengasingan ‘kan?” Menunggu beberapa saat dan tidak kunjung mendapat balasan, Taja memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Ia tidak merasa menang. Peristiwa kelam yang telah merenggangkan persahabatan dua lelaki Suku Urcan hanya meninggalkan kebencian yang tak berujung dan hal itu sangat disesalkan. Sebaliknya, kerabat Bafrac tersebut tetap berdiri sembari menatap tajam sosok Taja yang kian tenggelam oleh deretan pohon dan tanaman yang menghalangi penglihatannya. Ladang pun mulai terlihat. Para wakil desa telah bersiap, mengatur umpan-umpan beracun yang dibawa warga, satu demi satu. Ketika Taja datang, mereka sigap mengambil bungkusan di tangannya. “Di mana Dyma?” tanya salah satu dari mereka yang mengenali Taja. “Pergi ke istana. Bekerja seperti biasanya dan aku menggantikannya. Ada apa?” Seorang wakil desa tersebut menarik napas panjang lantas mengembuskannya pelan, seolah tak yakin dengan masa depan Desa Rannon yang sedang menghadapi masalah. “Andai ayahmu di sini, Tetua Desa tidak akan secemas ini,” ucapnya lirih, berusaha agar tidak terdengar rekan-rekannya yang lain. “Bukankah semua akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Tetua? Kita tinggal mengumpankan racun dan membunuh semua gagak?” Taja harus sedikit berpura demi mendapatkan informasi yang lebih dalam. Tebakannya benar. “Baik-baik saja?” Kenalan ayahnya itu menggeleng, lalu lanjutnya, “Ini buruk! Sangat buruk! Munculnya ribuan gagak itu bukanlah kebetulan atau sekadar hama yang bisa disingkirkan. Firasatku mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi. Ini seperti ulah penyihir.” “Apapun itu, kita harus menghadapinya ‘kan? Kalian sudah semestinya mempertahankan desa.” Tersirat nada menuntut dalam kalimat Taja. Ia yakin benar. Bagaimana nasib para wanita dan anak-anak seumpama kaum lelaki menyerah kalah dan memilih mundur? Sambil menyeka keringat yang mulai deras mengucur meskipun malam itu cukup dingin, pria tersebut mengangguk ragu. “Se-semoga. Berdoalah, Taja. Kucoba menyingkirkan prasangka yang justru membuatku semakin gugup.” Apapun alasannya, Taja maklum. Bahkan ibunya pun mengungkapkan kekhawatiran yang sama. Gagak-gagak yang akan segera memenuhi langit sebentar lagi, memang bukan fenomena alam biasa. Mereka seperti digerakkan oleh sesuatu atau … seseorang. Proses penyebaran umpan berupa potongan-potongan kecil daging unggas telah merata. Para wakil desa telah selesai mengatur segalanya sesuai rencana, kemudian memerintahkan semua orang untuk pulang atau ikut berjuang. Mereka yang bertekad memerangi para gagak, tentu saja memilih tinggal, bersembunyi di tempat strategis sambil menunggu aba-aba untuk menyerang. Tetapi bagi sebagian kecil warga yang berpikir terlalu panjang atau memikirkan diri sendiri, angkat kaki dari ladang adalah jalan terbaik. Sedangkan Taja? Dia memilih tempat yang sempurna untuk mengamati peristiwa yang akan terjadi. Dua orang tetangganya saling pandang keheranan ketika mendapati seorang gadis ikut bersiap menyambut para gagak, tepat di samping mereka. “Apa yang kau lakukan, Putri Dyma? Pulanglah dan jaga ibumu! Ini bukan pertunjukan badut, tidak ada yang bisa kau tonton di sini.” Seorang di antaranya memprotes keras. “Sulitkah kalian mengerti? Dengan begini aku sedang melindungi ibuku. Jika sewaktu-waktu kalian gagal melindungi desa karena terlalu takut, maka aku tidak akan terlambat memberitahu ibuku untuk segera meninggalkan desa.” Taja memiliki alasannya sendiri dan berhasil membuat mereka bungkam. Setelah beberapa saat, Taja baru memperhatikan bahwa ia tidak membawa senjata. Hanya sebuah belati tidak cukup! Ia butuh benda lain yang lebih besar dan tajam. Pedang, misalnya? Tapi di mana mendapatkannya pada saat seperti ini? Ketika suasana langit berubah mencekam dan suara-suara di kejauhan mulai terdengar kian menderu seolah membawa kabar petaka, semua orang yang menunggu pun semakin cemas. Di atas sana, gelap bukan berasal dari awan mendung yang siap menumpahkan isinya untuk membasahi bumi, melainkan rombongan ribuan gagak yang kembali mendatangi desa sehingga menutupi cahaya angkasa. “Itu mereka!” Hampir histeris, mulut pria ini dibekap oleh tangan temannya. Ketakutan bagi sebagian orang memang bisa dimaklumi, betapa dalam kondisi seperti itu, tidak semua lelaki desa memiliki keahlian bertempur atau membaca bahaya seperti halnya para kesatria. Belum mengangkat pedang untuk menyudahi teror burung-burung tersebut, lutut mereka sudah gemetar. Lelaki di sebelah Taja termasuk berani. Ia justru nyaris kehilangan kesabaran untuk menumpas mereka secepatnya. Sebilah pedang telah siap dalam genggaman. “Cepatlah kalian makan umpan-umpan itu! Lalu rasakan tebasan pedangku!” Saat menatap Taja, dia baru menyadari bahwa anak tetangganya itu tidak membawa senjata, namun sempat menangkap sebilah belati yang diam tenang menunggu giliran. Pemandangan itu menyebabkan senyum sinisnya terkesan menghina. “Dan belati kecil itu? Kau mau menebas leher dan menusuk jantung mereka satu persatu? Jangan membuatku tertawa!” Kali ini Taja menghindari perdebatan. Ia terus memusatkan perhatian pada pemandangan yang sangat menakjubkan baginya. Dalam hitungan detik, aroma potongan kecil daging segar langsung disambar oleh para gagak yang kelaparan. Masalahnya, jumlah umpan beracun tersebut tidak sebanding dengan perut ribuan gagak yang menyantapnya. Adegan berikutnya justru membuat mata semua orang terpana. Gagak-gagak yang belum mendapatkan bagian menjadi marah dan mulai bersikap liar! Mereka saling serang. Gagak yang mati semakin banyak. Ada yang mati akibat racun dan sisanya karena menjadi korban serangan kawanannya sendiri. “Apa ini? Mereka saling serang!” “Bukankah itu bagus? Kita tidak perlu repot-repot menghabisi mereka.” Taja berpikir sebaliknya. Hawa membunuh yang tiba-tiba menguasai makhluk bersayap tersebut, bukan berasal dari sifat alamiahnya. “Ini mustahil terjadi,” gumamnya. Mengakibatkan kedua pria tersebut tercengang menatapnya. “Apa maksudmu?” Taja merasa tak perlu menjawab. Ia cukup mendongak dan pertanyaan dua pria itu pun terjawab dengan sendirinya. Semua mata menyaksikan keanehan berikutnya yang terjadi ketika gumpalan hitam mulai terbentuk dari bangkai-bangkai gagak yang semula berjatuhan di tanah. Gumpalan pekat tersebut turut menutupi sinar bulan. Malam itu, hanya kegelapan yang menguasai langit Desa Rannon. Jika tidak ada secercah pantulan sinar bulan yang menembus asap kelabu yang timbul dari gumpalan itu, maka hampir dipastikan bahwa mereka akan kesulitan mengetahui peristiwa yang sedang terjadi. Mereka berharap cemas. Akankah muncul binatang yang lebih besar, atau makhluk si pembuat onar? Penyihir, lebih tepatnya, adalah makhluk yang dianggap sangat buruk. Sedikit dari mereka yang dapat dipercaya. Saat ini, kesempatan hidup seorang penyihir hanya terbuka di tengah masyarakat yang memilih menjauh dari peradaban modern. Kerajaan Rhoden contohnya. Sasaran empuk yang memungkinkan para penyihir dapat kembali berkuasa. Namun, sesuatu yang ditakutkan tidak kunjung muncul dari balik gumpalan pekat tersebut. Hingga asap terakhir lenyap, hanyalah menyisakan terang bulan yang kembali menerangi langit Rannon. Merasa aman, bahkan ribuan gagak tinggal puluhan saja dan memilih meninggalkan ladang, warga yang semula bersembunyi, kini satu per satu menampakkan diri, keluar dari tempat persembunyian mereka. Beberapa orang yang masih mendendam pada gagak yang meresahkan, sempat menusuk bangkai yang tergeletak dengan pedang dalam genggaman. Mereka tinggal membereskan bangkai yang tersisa. Itupun tak banyak jumlahnya. Gumpalan hitam tadi telah menelan sebagian besar bangkai serta gagak-gagak yang berada di dekatnya. “Tidak ada penyihir. Apa yang sedang terjadi?” Beragam pertanyaan muncul, namun tak seorang pun yang mampu menjawab tentang fenomena ganjil yang terjadi. Usai mengumpulkan sisa bangkai untuk dikubur besok pagi, warga memutuskan untuk pulang. Kejadian itu akhirnya diketahui Miszha yang menyimak baik-baik penjelasan putrinya. “Tidak terjadi apapun?” tanyanya. Taja berusaha mengatur napas dengan meneguk minuman yang telah disediakan ibunya, kemudian menggeleng. “Buat apa aku berbohong padamu, Bu? Kukatakan semua yang kusaksikan. Semua orang yang kau tanyai akan menjawab sama seperti ucapanku. Jadi, tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Kabar tentang para penyihir atau apapun itu, tidak terbukti sama sekali,” terang Taja yakin. “Taja …,” ucap Miszha sempat terhenti, “Mulai besok, awasilah warga. Desa kita belum lepas dari keanehan yang berpotensi berubah menjadi bencana.” “Ibu … .” “Jangan membantah! Hatiku belum lega walaupun gagak-gagak itu telah tiada. Ingat, sesuatu yang tak terlihat, belum tentu tidak ada. Kita hanya belum merasakan kehadirannya.” “Apalagi yang Ibu rasakan kali ini?” Taja duduk dan memperhatikan kata-kata wanita yang kecantikannya sulit pudar itu. Beberapa kerut memang menjadi hiasan abadi, namun bukan berarti mengurangi jelita masa muda yang kini ia turunkan pada putri tercinta. “Entahlah. Lakukan saja perintah Ibu. Ingat, bersikaplah wajar seperti biasa. Jangan sampai penduduk desa merasa tidak nyaman karena sikapmu. Bagaimanapun, mereka menyangka bahwa situasi telah aman. Mereka tidak akan suka jika kau bersikap berlebihan.” Taja merenung. Jangankan warga desa, ia sendiri juga belum memercayai firasat ibunya. Namun, ia tetap harus melaksanakan perintah itu demi keselamatan banyak orang. Mengingat pertemuannya dengan salah seorang kerabat Bafrac, hatinya sedikit kesal. Ibunya masih saja memikirkan desa, sementara segelintir orang justru membenci keluarganya. Lain kali, Taja tidak akan tinggal diam. Senyum gadis itu mengembang sebagai tanda bahwa ia tidak lagi mempertanyakan pemikiran Sang Ibu. Benar atau salah, ia akan tetap mendukungnya. “Baiklah. Besok pagi. Semoga kegelisahan itu tidak terjadi.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD