BAB 1 — PUKUL 02.13
Suara detik jam dinding terdengar lebih jelas ketika seluruh rumah telah terlelap.
Tik...
Tik...
Tik...
Nadira membuka matanya perlahan.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, tetapi tenggorokannya terasa kering dan kepalanya sedikit berat. Ia mengusap wajah sebelum meraba sisi ranjang.
Kosong.
Tangannya hanya menyentuh seprai yang dingin.
"Mas Arga?"
Tidak ada jawaban.
Nadira mengangkat tubuhnya dan duduk. Cahaya lampu dari luar kamar menyusup melalui celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
Ia melihat jam digital di atas meja kecil.
02.13.
Nadira mengerutkan kening.
Arga biasanya tidak pernah bangun pada jam seperti ini.
Sejak menikah tujuh tahun lalu, Nadira sudah hafal kebiasaan suaminya. Arga akan tidur sekitar pukul sebelas malam, terkadang lebih larut jika ada pekerjaan, lalu bangun pukul lima untuk salat dan berolahraga sebentar.
Kalaupun terbangun tengah malam, laki-laki itu biasanya hanya minum air lalu kembali tidur.
Nadira turun dari ranjang.
Kakinya menyentuh lantai yang dingin.
Ia berjalan keluar kamar sambil merapikan rambutnya.
Rumah mereka cukup besar. Lantai bawah memiliki ruang keluarga, ruang makan, dapur, dan sebuah ruang kerja kecil milik Arga. Di lantai atas terdapat tiga kamar tidur dan sebuah balkon.
Saat Nadira menuruni tangga, ia mendengar suara pintu depan tertutup.
Ia berhenti.
"Mas Arga?"
Tidak ada jawaban.
Nadira mempercepat langkah.
Pintu depan ternyata masih terkunci dari dalam.
Ia berdiri beberapa detik, bingung.
Mungkin ia salah dengar.
Nadira berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Saat melewati ruang keluarga, matanya menangkap cahaya dari ruang kerja Arga.
Pintunya terbuka sedikit.
Nadira mendekat.
"Mas?"
Tidak ada siapa-siapa.
Laptop Arga masih menyala.
Nadira berdiri di depan meja.
Layar laptop menunjukkan dokumen pekerjaan dengan beberapa angka dan tabel. Ia tidak terlalu mengerti urusan perusahaan suaminya.
Namun ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Sebuah gelas kopi berada di samping laptop.
Masih hangat.
Nadira menyentuh sisi gelas itu.
Hangat.
Berarti Arga baru saja berada di sini.
Ia menoleh ke seluruh ruangan.
"Ke mana dia?"
Nadira keluar dari ruang kerja.
Dari arah garasi terdengar suara samar.
Ia berjalan ke sana.
Pintu garasi terbuka.
Mobil Arga tidak ada.
Nadira berdiri terpaku.
Jam menunjukkan pukul 02.16.
Suaminya pergi keluar rumah tanpa membangunkannya.
Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun pernikahan mereka.
Perasaan tidak nyaman mulai muncul.
Bukan karena Arga pergi.
Tetapi karena beberapa minggu terakhir, Nadira memang merasa ada sesuatu yang berubah dari suaminya.
Arga menjadi lebih sering membawa ponselnya ke kamar mandi.
Ia juga sering mematikan layar ketika Nadira mendekat.
Dan dua kali dalam sebulan terakhir, Arga pulang lebih malam dengan alasan bertemu klien.
Nadira sebenarnya ingin bertanya.
Namun ia selalu mengurungkan niat.
Bukan karena tidak curiga.
Ia hanya takut pertanyaannya akan membuka sesuatu yang tidak ingin ia ketahui.
Nadira kembali ke kamar.
Ia mencoba tidur.
Tetapi matanya tidak mau terpejam.
Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar suara mobil masuk ke halaman.
Nadira langsung bangkit.
Ia tidak keluar kamar.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki menaiki tangga.
Pintu kamar terbuka.
Arga masuk.
"Belum tidur?"
Nadira memunggungi suaminya.
"Baru bangun."
Arga meletakkan sesuatu di meja.
"Kenapa?"
Nadira berbalik.
"Kamu dari mana?"
Arga terdiam sepersekian detik.
"Keluar sebentar."
"Jam dua pagi?"
"Ada urusan."
Nadira memperhatikan wajah suaminya.
Arga terlihat tenang.
Terlalu tenang.
"Urusan apa?"
"Kerjaan."
Jawaban singkat.
Nadira tidak langsung membalas.
Arga mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Beberapa menit kemudian suara shower terdengar.
Nadira menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Namun malam itu ia memilih diam.
Pagi datang seperti biasa.
Nadira menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Dimas duduk di meja makan sambil memainkan ponsel.
"Ma, telurku jangan pakai saus."
Nadira tersenyum.
"Sejak kapan kamu tidak suka saus?"
"Sejak kemarin."
"Kemarin kamu minta saus."
"Itu kemarin."
Nadira tertawa kecil.
"Dasar."
Dimas tersenyum.
Anak itu memang sedang berada di usia ketika keinginannya berubah hampir setiap hari.
Arga turun beberapa menit kemudian.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia duduk di kursinya.
"Selamat pagi."
"Pagi," jawab Nadira.
Dimas mengangguk.
"Pak."
Arga mengambil koran digital dari tabletnya.
Nadira memperhatikannya diam-diam.
Tidak ada tanda-tanda bahwa laki-laki itu kurang tidur.
"Mas."
"Hm?"
"Tadi malam kamu keluar?"
Arga berhenti membaca.
"Hanya sebentar."
"Jam berapa?"
"Kenapa ditanya lagi?"
Nada suara Arga sedikit berubah.
Nadira tersenyum tipis.
"Aku cuma penasaran."
"Ada urusan pekerjaan."
Dimas memandang keduanya.
"Papa sama Mama bertengkar?"
Nadira langsung tersenyum.
"Enggak."
Arga juga tersenyum.
"Papa sama Mama cuma ngobrol."
Dimas kembali makan.
Nadira menundukkan wajah.
Ia tidak ingin membicarakan masalah itu di depan anaknya.
Setelah sarapan, Arga bersiap pergi.
Seperti biasa, Nadira berdiri di dekat pintu.
"Hati-hati."
Arga mencium keningnya.
Namun ketika laki-laki itu berbalik, Nadira melihat sesuatu.
Ada goresan kecil di bagian belakang leher Arga.
Seperti bekas kuku.
Nadira terdiam.
"Mas."
Arga menoleh.
"Kenapa?"
"Itu lehermu."
Arga refleks menyentuh bagian belakang leher.
"Oh."
"Kenapa?"
"Tadi kena ranting."
"Ranting?"
"Iya."
Nadira menatapnya.
Jawaban itu terasa aneh.
Namun sebelum ia bertanya lagi, Arga sudah berjalan menuju mobil.
Mobil meninggalkan halaman.
Nadira berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan.
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Sangat kecil.
Tetapi cukup untuk membuat pikirannya terus bekerja.
Siang harinya, Nadira pergi berbelanja.
Kehidupan rumah tangga mereka sebenarnya sederhana.
Ia mengurus rumah, mengantar Dimas sekolah jika jadwal memungkinkan, membeli kebutuhan dapur, sesekali bertemu teman, dan mengurus berbagai hal kecil yang sering tidak dianggap penting oleh orang lain.
Namun justru dari hal-hal kecil itulah Nadira mengetahui banyak hal tentang keluarganya.
Ia tahu berapa banyak beras yang tersisa.
Ia tahu kapan Dimas mulai kehabisan buku tulis.
Ia tahu Arga lebih suka kopi tanpa gula.
Ia tahu suaminya tidak pernah memakai parfum saat bekerja.
Karena itu, ketika sore menjelang dan Arga pulang, Nadira langsung menyadari sesuatu.
Ada aroma parfum asing di bajunya.
Wangi lembut.
Bukan parfum pria.
Nadira berdiri di dapur ketika Arga melewatinya.
"Mas."
Arga berhenti.
"Ada apa?"
"Kamu pakai parfum?"
Arga mencium bagian bajunya.
"Enggak."
Nadira diam.
Arga berjalan menuju kamar.
"Aku capek."
Pintu kamar tertutup.
Nadira tetap berdiri di dapur.
Tangannya menggenggam ujung meja.
Ia tidak ingin menjadi istri yang terlalu curiga.
Tidak ingin menjadi perempuan yang setiap hari memeriksa suaminya.
Namun nalurinya mengatakan ada sesuatu.
Malam itu mereka makan bersama seperti biasa.
Dimas bercerita tentang sekolah.
Arga tertawa beberapa kali.
Nadira ikut tersenyum.
Rumah itu tampak normal.
Hangat.
Bahagia.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik senyum mereka, sebuah rahasia perlahan sedang bergerak mendekati permukaan.
Pukul sebelas malam, Arga tertidur.
Nadira masih membaca buku.
Ia menoleh.
Suaminya terlihat pulas.
Nadira mematikan lampu.
Beberapa jam kemudian, ia kembali terbangun.
Tanpa alasan.
Matanya langsung tertuju pada jam digital.
02.13.
Nadira mengernyit.
Ia menoleh ke samping.
Arga masih berada di sana.
Tidur.
Nadira menghela napas lega.
Mungkin kejadian semalam hanya kebetulan.
Ia hampir kembali memejamkan mata ketika terdengar suara getaran.
Bzzzt...
Bzzzt...
Suara itu berasal dari bawah tempat tidur.
Nadira membuka mata lebar.
Ia duduk perlahan.
Getaran kembali terdengar.
Bzzzt...
Bzzzt...
Nadira menatap Arga.
Suaminya masih tidur.
Dengan hati-hati, Nadira turun dari ranjang.
Ia berlutut dan melihat ke bawah tempat tidur.
Tidak ada apa-apa.
Namun suara getaran masih terdengar.
Bzzzt...
Nadira meraba lantai.
Tangannya menyentuh sesuatu.
Sebuah ponsel.
Bukan ponsel yang biasa digunakan Arga.
Warnanya hitam.
Tanpa casing.
Nadira mengangkatnya.
Layar menyala.
Tidak ada nama pemilik.
Tidak ada wallpaper.
Hanya satu notifikasi pesan.
Pesan baru.
Nadira menatap Arga.
Kemudian kembali melihat layar.
Tangannya sedikit gemetar ketika ia menekan notifikasi tersebut.
Pesannya hanya terdiri dari satu kalimat.
"Tanyakan kepada suamimu apa yang terjadi tujuh tahun lalu."
Nadira membeku.
Tujuh tahun.
Usia pernikahannya dengan Arga.
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Kemudian sebuah pesan baru masuk.
Bzzzt...
Nadira hampir menjatuhkan ponsel.
Kali ini hanya ada empat kata.
"Dia belum mengatakan semuanya."
Nadira perlahan mengangkat wajah.
Arga masih tidur.
Tetapi tepat ketika ia hendak membangunkannya, ponsel itu kembali bergetar.
Satu pesan terakhir masuk.
Nadira membacanya.
Dan seluruh tubuhnya terasa dingin.
"Jangan percaya suamimu."
Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki.
Nadira menoleh ke arah pintu.
Langkah itu berhenti tepat di depan kamar mereka.
Lalu...
gagang pintu bergerak perlahan.
Klik.