"Astaghfirullah bidadariku, apa yang kamu katakan? Bagiku, hanya kamu satu-satunya perempuan yang menarik hatiku."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Buktinya aku sangat khawatir padamu dan segera pulang ke rumah walau Aisyah berusaha menggodaku bukan?" Abang Umar meyakinkanku.
"Terima kasih Bang, aku senang mendengarnya. Tapi kali ini kita memiliki Misi sesuai dengan ucapan Aisyah barusan. Semakin cepat kamu melakukan kewajibanmu, maka insyaallah akan semakin cepat juga misi tersebut terselesaikan."
"Iya, aku paham. Hanya saja, aku butuh waktu bidadariku." Abang Umar memeluk tubuhku dan menyandarkan kepalanya dipundakku.
Aku melepaskan tanganku perlahan dan menyentuh lembut pipi Abang Umar, "Lalu kapan kamu akan siap jika tidak dipersiapkan dari sekarang sayang?"
Abang Umar mengerutkan kening dan kembali menatapku seolah di sana terdapat jawaban yang dia butuhkan.
"Kamu bisa melakukannya dengan Aisyah sambil membayangkan wajahku bukan?" Lanjutku sambil tersenyum tipis.
Hatiku sangat sakit mengucapkan hal tersebut kepada suamiku sendiri, namun aku juga tidak tahu harus berbicara apalagi. Terlebih aku tahu sifat dan watak Abang Umar yang tidak akan bergerak dan mengubah pendiriannya jika tidak dipaksa. Apalagi hal tersebut tidak sesuai dengan hatinya.
"Jadi, kamu ingin aku segera melakukan hubungan suami istri dengan Aisyah?"
Aku mengangguk perlahan dan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Abang Umar.
"Kamu yakin tidak akan menyesali hal tersebut dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelahnya Khadijah?"
"InsyaAllah Bang."
"Baiklah kalau kamu yakin, aku akan segera melaksanakannya. Tapi tolong, beri aku waktu beberapa hari ke depan agar aku bisa menerima keadaan ini Khadijah."
"Baiklah Bang."
***
Sudah satu bulan sejak Aisyah datang ke rumah kami. Hingga saat ini, Abang Umar belum bisa menemui Aisyah di rumah yang telah dia berikan untuk Aisyah dan Arfa. Mereka sama sekali tidak bertemu atau melakukan komunikasi apapun. Aku mengetahuinya karena terkadang aku mengirimkan chat kepada Aisyah untuk menanyakan keadaannya dan Arfa. Aku terdiam sejenak di meja kerjaku sambil memandang laptop dengan tatapan kosong.
Bagaimana caranya agar Abang Umar mau bertemu, menghubungi Aisyah, dan melakukan hubungan suami istri? Batinku. Beberapa saat kemudian, ada chat masuk dari grup teman-teman kuliahku. Kebetulan grup tersebut merupakan kumpulan perempuan yang berada dalam satu komunitas keagaman pada saat kuliah dulu. Beberapa waktu lalu, mereka berencana untuk berlibur bersama ke Pulau Sakala di Jawa Timur. Dan setauku mereka akan berangkat malam ini.
Tiba-tiba tercetus ide untuk mempertemukan Abang Umar dan Aisyah di kamar hotel favorit kami.
Aku akan mengajak Abang Umar untuk bermalam di sana. Tapi bukan aku yang berada di dalam kamar untuk melayaninya melainkan Aisyah. Saat mereka bersama, aku akan pergi ke Pulau Sakala dan izin kepada Abang Umar besok paginya. Untuk Arfa, aku berencana akan meminta asisten rumah tangga yang bekerja di rumah yang di tempati Aisyah untuk menjaganya. Sepertinya ini adalah ide terbaik untuk kami, aku tersenyum.
"Ada apa bidadariku? Sepertinya kamu sedang senang? Apakah ada berita baik hari ini?" Tanya Abang Umar saat menghampiri meja kerjaku.
"Tidak, aku hanya terpikirkan sesuatu yang menarik. Owh iya Bang, kita mau pulang sekarang? Kebetulan pekerjaan kita sudah selesai."
"Boleh, tapi aku mau makan sate dan sop kambing dulu di tempat langganan kita. Apakah kamu bisa menemani bidadariku?"
"Tentu saja."
Aku tersenyum miring, ini sangat pas. Abang Umar sangat menyukai sate dan sop kambing. Abang Umar terbiasa makan cukup banyak dan setelahnya hasrat untuk melakukan hubungan suami istripun akan semakin tinggi. Aku berharap Aisyah bisa memanfaatkan hal ini untuk bisa hamil dan kami bisa segera mendapatkan keturunan.
Kamipun segera bersiap untuk pulang dan berjalan beriringan menuju tempat parkir. Sesampainya di mobil, kami segera masuk dan mengenakan seat belt. Setelah siap, Abang Umarpun segera melajukan mobilnya. Dengan cepat aku segera mengirim chat di grup kuliah dan menyatakan agar mereka bisa menungguku untuk ikut bersama. Tidak lupa aku booking hotel dan membayarnya. Lalu mengirimkan chat kepada Aisyah untuk ke hotel tersebut dan memintanya untuk segera datang ke sana dan bersiap di kamar dengan menggunakan pakaian mini untuk melayani Abang Umar yang juga suaminya.
Lalu aku mengirimkan chat kepada salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Aisyah untuk menjaga Arfa. Setelah selesai, aku kembali fokus kepada Abang Umar.
"Sepertinya kamu sibuk sekali Khadijah, apakah ada sesuatu yang sedang kamu kerjakan?"
"Tidak Bang, aku hanya sedang melakukan sebuah rencana perempuan yang menggemaskan." Aku nyengir.
Abang Umar terkekeh, "Kamu memang ada-ada saja bidadariku. Tapi memang kamu selalu menggemaskan untukku."
Abang Umar mencolek hidungku dengan jari telunjuknya.
Kamipun sampai di tempat makan sate dan sop kambing langganan Abang Umar. Dengan cepat Abang Umar memesan makanan dan minuman yang sudah dia incar saat di kantor. Akupun bergegas membuka ponsel untuk melihat jawaban dari grup chat, Aisyah, dan asisten rumah tangga. Alhamdulillah semua sudah ok. Aisyah sudah di jalan menuju hotel tersebut dan teman-temanku bersedia menunggu 1jam lebih lama di tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Karena aku harus menemani Abang Umar ke hotel terlebih dahulu dan mengambil pakaian di rumah untuk kami.
Selesai makan dan minum, aku berbisik di telinga Abang Umar dan mengajaknya untuk mendatangi hotel favorit kami. Wajah Abang Umar terlihat sangat cerah dan langsung menyetujui usulanku tersebut.
"Benarkah bidadariku?"
Aku mengangguk, "Iya, aku sudah booking kamarnya barusan." Aku memperlihatkan ponselku yang berisi lembar booking elektronik.
"Let's go!"
Abang Umar segera memanggil pelayan dan membayar makanan dan minuman kami. Setelah itu, kami berjalan menuju parkiran, masuk ke dalam mobil, dan mengenakan seat belt. Setelah siap, Abang Umar segera melajukan mobilnya. Saat di jalan, seperti biasa jika banyak makan kambing Abang Umar akan mengeluh kalau badannya terasa panas.
Aku tersenyum tipis, "Ini sudah biasa kan Bang jika kamu banyak makan kambing."
"Iya, untungnya ada kamu bidadariku. Dan dengan pengertian kamu menawarkan ke hotel." Abang Umar tersenyum.
Aku mengangguk. Sesampainya kami di hotel, aku membuka ponsel dan membuka chat dari Aisyah. Dia bilang kalau sudah ada di dalam kamar dan telah siap. Aku membalas chatnya dan bergegas mengambil 1 kunci tersisa di meja resepsionis untuk Abang Umar karena kunci 1nya sudah di ambil Aisyah. Setelah mengambil kunci, aku menyerahkannya kepada Abang Umar dan memintanya untuk naik terlebih dahulu dan beralasan mau menelpon Bunda terlebih dahulu. Abang Umarpun segera naik ke atas sedangkan aku berjalan ke luar hotel sambil memesan taksi online. Aku berharap hal ini berjalan sesuai dengan rencana. Tolong bantu aku ya Allah SWT.
Akhirnya aku pergi ke luar hotel meninggalkan Abang Umar dan Aisyah. Rasa pedih dan harapan menjadi 1. Aku pulang ke rumah dan menyiapkan perlengkapan selama Abang Umar menginap di hotel dan aku berlibur sejenak. Sebenarnya aku kurang nyaman karena belum izin dengan Abang Umar, tapi mungkin ini adalah cara terbaik dari Allah SWT.
Setelah sampai di rumah, aku bergegas masuk ke dalam kamar dan menyiapkan 2 koper kecil untukku dan Abang Umar. Saat semua sudah siap, aku berjalan ke luar kamar dan memanggil supirku lalu memintanya untuk membawa koper milik Abang Umar ke hotel. Setelah itu aku duduk di sofa sejenak untuk mengatur nafasku. Saat aku merasa sudah cukup istirahat, aku kembali masuk ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap. Aku menarik nafas panjang kembali dan tidak terasa air mata menetes di pipiku. Pedih ya Allah.
Suara dering ponsel mengejutkanku. Aku segera mengambilnya di dalam tas. Ternyata Andini sahabatku. Aku segera mengangkatnya dan dia menanyakan keberadaanku. Akupun menyatakan kalau aku sedang bersiap dan sebentar lagi akan segera jalan menuju kafe. Selesai menelpon, aku mengambil koper dan berjalan ke luar kamar. Setelah itu aku menuju tempat parkir, masuk ke dalam mobil, mengenakan seat belt dan mulai melajukan mobilku. Aku berusaha tersenyum agar nanti tidak ada pertanyaan aneh dari teman-temanku khususnya Andini.
Saat sudah sampai di kafe, aku segera turun dan masuk ke dalam. Teman-temanku sudah sampai semua, mereka hanya tinggal menunggu kedatanganku saja. Akupun meminta maaf karena datang terlambat. Mereka memaklumi dan kami segera berangkat menggunakan kendaraan masing-masing menuju bandara soekarno hatta.
Perjalanan menuju Pulau Sakala di Jawa Timur sangat lancar. Saat kami sampai di pulau sakala, kami dijemput mini bus yang telah disewa panitia menuju penginapan untuk beristirahat. Untunglah aku sekamar dengan Andini.
Kami berjalan menuju kamar, lalu aku masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah aku selesai, Andinipun masuk ke kamar mandi. Akupun segera membaringkan badanku di atas tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan dini hari. Apa Abang Umar dan Aisyah sudah selesai melakukannya? Aku menggelengkan kepala, kenapa aku memikirkan hal ini lagi? Aku harus bisa mengikhlaskannya dan semoga dengan ini, Aisyah bisa segera hamil.
"Khadijah, apa kamu baik-baik saja?"
"Tentu Andini." Aku tersenyum tipis.
Andini berjalan menghampiri dan duduk disampingku, "Lalu kenapa kamu bertingkah seperti itu? Setauku kalau kamu bertingkah seperti ini, berarti ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu. Khadijah, kamu bisa percaya padaku."
Aku terdiam.
"Walau aku bukan orang yang sempurna, tapi aku juga pernah menikah seperti kamu Khadijah. Ya, meski harus kandas di tengah jalan karena suamiku sering selingkuh." Andini nyengir dan melihat kearahku.
Aku tersenyum tipis dan teringat saat memergoki mantan suami Andini sedang bersama perempuan masuk ke dalam kamar hotel. Kebetulan hotel tersebut merupakan hotel favorit aku dan Abang Umar. Saat itu kamar kami bersebelahan dan aku langsung menelpon Andini untuk memastikannya secara langsung. Saat Andini datang, kamipun mengetuk kamar tersebuf. Ternyata benar suaminya sedang bersama perempuan lain.
Perempuan itu tidak mengenakan busana apapun dan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Sedangkan mantan suami Andini hanya mengenakan celana pendek dan kaus dalam saat membuka pintu. Saat itu aku membantu Andini merekam kejadian itu ditemani oleh Abang Umar karena khawatir mantan suami Andini akan menyakiti kami.
Untunglah kami merekamnya, sehingga saat gugatan cerai diajukan oleh Andini, semua berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun.
"Jadi, apa masalahmu Khadijah?"