"Tidak ada, aku hanya ingin refreshing." Aku tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Jika nanti kamu membutuhkan teman untuk bercerita, datanglah padaku. InsyaAllah aku akan menjadi pendengar atau memberi saran yang baik jika aku memang tidak bisa membantumu." Andini menawarkan diri.
"Terima kasih banyak Andini. Sekarang kita istirahat sejenak sebelum adzan subuh dan sarapan pagi nanti yuk!
Andini mengangguk dan kamipun mulai memejamkan mata. Saat adzan subuh berkumandang, aku membuka mata perlahan, bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Selesai mandi dan berwudhu, aku segera menunaikan shalat subuh dan membangunkan Andini. Andini mulai membuka mata perlahan dan bangkit dari tidurnya.
"Kamu sudah shalat Khadijah?"
"Sudah, alhamdulillah. Ya sudah, kamu mandi dan wudhu dulu gih, habis itu shalat."
Andini mengangguk dan segera ke kamar mandi. Sedangkan aku membuka ponsel dan membaca al quran dengan suara pelan. Selesai membaca al quran, aku menaruh ponsel di atas nakas, membaringkan badan, dan memejamkan mataku.
**"
"Khadijah, bangun. Kita sarapan dulu yuk!"
Aku membuka mata perlahan. Sudah pagi ternyata. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponsel di atas nakas. Ternyata ada beberapa panggilan dan chat dari Abang Umar. Hal ini makin membuat perasaanku tidak nyaman dan bergegas membalas chat Abang Umar lalu izin kembali ke Jakarta kepada Andini. Kebetulan dia merupakan ketua panitia acara ini.
"Apa? Kamu mau pulang sekarang?"
Aku mengangguk.
"Kita baru saja sampai Khadijah, masa kamu sudah mau pulang?"
"Mau bagaimana lagi Andini, aku tidak mau membuat Abang Umar marah. Karena sebenarnya aku datang ke sini tanpa sepengetahuan dan izin darinya." Aku nyengir.
"Astaghfirullah Khadijah, apa kalian sedang bertengkar?"
Aku berjalan menuju lemari dan membereskan pakaianku.
"Tidak, kami hanya sedang menjalankan satu misi. Dan misi ini baru bisa dijalankan jika aku jauh sesaat dari Abang Umar." Aku mengedipkan sebelah mataku sambil tersenyum.
"Misi apa Khadijah? Kamu ini selalu membuat aku penasaran." Ucap Andini kesal.
"Nanti jika sudah waktunya, aku akan ceritakan padamu. Karena kalau sekarang, semua masih dalam proses. Doakan saja cara ini berhasil Andini."
"Baiklah Khadijah. Tanpa kamu minta pun, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan keluarga."
Aku tersenyum.
"Aku telpon supir sebentar untuk menjemput dan mengantarmu ke bandara ya." Andini menawarkan
"Baiklah, terima kasih."
Andini mengangguk dan menelpon supir lalu meminta tolong untuk disediakan 1 mobil dan supir lagi untuk mengantarku ke bandara. Selesai menelpon, Andini menyatakan kalau supirnya akan segera sampai dan meminta aku untuk menunggu di lobby.
"Terima kasih banyak Andini, aku pulang dulu ya. Tolong titip salam dan permintaan maafku kepada teman-teman yang lain."
"Baiklah Khadijah."
Aku menghampiri Andini, bersalaman, dan mencium pipi kanan dan kirinya. Setelah itu aku ke luar kamar dan berjalan menuju lobby. Aku membuka ponsel ada panggilan masuk yang tidak terjawab beberapa kali dari Abang Umar. Aku mengirimkan chat untuk meminta maaf dan mengabarkan bahwa saat ini aku sedang berada di Pulau Sakala Jawa Timur.
Aku juga mengabarkan akan pulang nanti sore. Setelah mengirim chat kepada Abang Umar, ada chat dari Andini yang menginformasikan nomor plat dan jenis mobil yang akan menjemput dan mengantarku ke bandara. Dia juga mengirimkan nomor ponsel supir dan menyatakan mobil tersebut sudah mau sampai di lobby.
Akupun segera menelpon supir tersebut dan dia menyatakan kalau saat ini akan memasuki lobby. Akupun ke luar dan benar saja Pak Rahman supir yang menjemputku dengan mobil avanzanya sudah sampai di lobby. Aku segera masuk ke dalam mobil, mengenakan seat belt, dan mengambil ponsel di tas untuk memesan tiket pesawat. Selesai memesan tiket, aku menaruh ponsel kembali ke dalam tas. Aku sengaja tidak mengabarkan kepada Abang Umar agar kedatanganku menjadi kejutan untuknya.
Alhamdulillah perjalanan menuju bandara sangat lancar, pesawat pun take-off sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Setelah sampai di bandara Soekarno Hatta, aku berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Alhamdulillah, aku sampai di rumah tepat saat adzan ashar. Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari Abang Umar. Ternyata dia ada di ruang kerja. Akupun bergegas menghampirinya dan melepaskan rasa rindu kami.
***
Sudah hampir tiga bulan sejak malam yang telah di lalui Aisyah dan Abang Umar. Aku sengaja tidak bertanya kepada Aisyah karena khawatir rasa kecewa akan datang dan memilih untuk menunggu kabar darinya. Aku dan Abang Umarpun menjalani hari seperti biasanya. Terkadang, aku dan Abang Umar datang ke rumah yang Aisyah dan Arfa tinggali dengan membawa buah tangan agar mereka merasa nyaman. Aku sengaja ikut agar Abang Umar mau ke sana. Karena jika tidak, jangankan untuk menyentuh Aisyah bertemu saja Abang Umar tidak berkenan.
"Bidadariku, berkas ini apakah sudah kamu cek?"
Aku berjalan menghampiri Abang Umar dan dengan sigap Abang Umar memelukku.
"Berkas yang mana Bang?"
"Berkas yang ini.."
Abang Umar menggelitik perutku dan membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Aku memang tidak bisa dikelitiki, rasanya geli sekali. Abang Umar berjalan menutup pintu dan kembali menghampiriku. Dia sudah siap untuk kembali menggelitik.
"Ampun Bang, cukup! Geli sekali.." Aku berlari menghindar.
"Kamu mau kemana bidadariku?"
"Abang..."
Abang Umar terus mengejarku hingga aku terengah-engah dan sengaja berhenti karena sudah tidak kuat berlari. Abang Umar tertawa dan kembali memelukku dari belakang. Tapi kali ini dia tidak menggelitik perutku.
"Kamu lucu sekali bidadariku. Kamu selalu membuat aku terhibur. Terlebih hatiku tenang jika kamu selalu bersamaku." Abang Umar tersenyum dan menatapku lembut.
"Apaan sih Bang, kamu terlalu berlebihan."
"Tidak Khadijah, aku selalu mengatakan yang sejujurnya." Abang Umar tersenyum penuh arti dan mulai menarik pinggangku lebih dekat padanya.
Tiba-tiba ketukkan pintu mengejutkan kami dan kenop pintu dicoba dibuka. Untunglah Abang Umar sempat menutup dan mengunci pintu tersebut lebih dahulu sebelum dia mulai mengisengiku.
"Assalamualaikum, Abang Umar."
Terdengar suara Aisyah dari balik pintu. Aku dan Abang Umar saling berpandangan dan merapihkan pakaian masing-masing. Lalu Abang Umar kembali ke meja kerjanya sedangkan aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Aisyah dan Arfa. Padahal ini hari kerja, ada apa sebenarnya? Batinku.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Lho, Kak Khadijah? Aku pikir Kakak sedang di toilet atau ke luar kantor." Aisyah nyengir.
"Tidak Aisyah. Ayo silahkan masuk dan duduk. Kalian mau minum apa?"
"Aku air bening saja, kalau Arfa coklat hangat Kak." Aisyah tersenyum.
Aku memanggil office boy dan memintanya untuk menyediakan minuman dan beberapa cemilan untuk kami. Setelah selesai, aku duduk menemani Aisyah dan Arfa. Sedangkan Abang Umar masih fokus dengan pekerjaannya.
"Jadi, ada apa kalian datang kesini? Kamu sedang libur kerja Aisyah?"
"Aku sengaja cuti Kak, karena ada hal yang harus aku sampaikan pada kamu. Sekalian, aku membawakan ini untuk kalian."
Aisyah membawakan mille crepes dan menyerahkannya padaku.
"Terima kasih banyak Aisyah, jadi apa yang mau kamu sampaikan?"
Beberapa saat kemudian, office boy datang mengantarkan minuman dan cemilan untuk kami. Aku memintanya untuk di taruh di meja. Selesai, menaruh makanan dan minuman di meja, office boy tersebut izin undur diri. Akupun mengizinkannya.
"Owh iya Pak, tolong ambilkan piring dan garpu ya."
"Baik Bu."
Office boy tersebut berjalan ke luar ruangan, membuka pintu, dan menutupnya kembali.
"Jadi, ada apa Aisyah?"
Aisyah mengambil sesuatu dari tasnya dan menunjukkannya padaku.
"Aku hamil Kak, alhamdulillah."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah SWT."
Aku melihat hasil USG tersebut. Abang Umarpun berjalan menghampiri dan duduk di sampingku. Kami melihat hasil USG tersebut dan aku menyerahkan hasil USG kepada Abang Umar agar dia lebih yakin. Terlihat kantung rahim yang sudah mulai membesar dan tanda titik di dalamnya. Jantungnya sudah ada, masyaAllah. Foto yang sangat aku dambakan dan ada dalam rahimku, saat ini ada di dalam rahim Aisyah. Aku tersenyum tipis dan terharu melihatnya.
"MasyaAllah, ini anak kita Khadijah?"
Aku dan Aisyah mengangguk, "Iya Bang."
"Terima kasih Aisyah."
"Sama-sama Bang." Aisyah tersenyum.
"Kita jaga anak ini bersama-sama ya?"
"InsyaAllah bidadariku."
Abang Umar memeluk erat tubuhku seolah aku yang sedang hamil. Tiba-tiba pintu terbuka.
"Maaf Bu Khadijah, tadi saat saya mau masuk terdengar suara kalau ada yang hamil. Apakah itu Ibu?"
Aku dan Abang Umar saling pandang, bingung untuk menjawabnya.
"Betul Pak, Ibu Khadijah saat ini sedang mengandung."
Aku dan Abang Umar memandang Aisyah bersamaan.
"Alhamdulillah, selamat ya Bu."
"Terima kasih banyak ya Pak."
"Owh iya, ini piring dan garpunya Bu."
"Terima kasih banyak ya Pak."
"Saya izin kembali ke pantry ya Bu."
"Silahkan Pak."
Setelah Office Boy itu ke luar dan menutup pintu kembali, aku melihat ke arah Aisyah.
"Kenapa kamu berbohong Aisyah?"
"Aku tidak berbohong Kak, anak ini kan memang anak Kakak dan Abang Umar. Kalau Kakak tidak bilang Kakak sedang hamil dari sekarang, orang-orang akan curiga dan berfikir anak ini adalah anak kandung Abang Umar dari hubungan yang tidak sah. Kakak tidak mau hal itu terjadi kan?"
"Benar kata kamu Aisyah."
"Makanya, Kakak harus berpura-pura hamil dari sekarang. Terlebih, anak ini nantinya akan masuk ke dalam Kartu Keluarga kalian. Jangan lupa untuk atur dokter dan rumah sakit juga Kak, sehingga anak ini seolah lahir dari rahim kamu Kak." Aisyah mengingatkan.
Aku dan Abang Umar terdiam. Benar kata Aisyah, aku dan Abang Umar sempat terlewat untuk merencanakan hal tersebut. Aku termenung dan mulai berfikir beberapa hal terkait kehamilan hingga saat Aisyah akan melahirkan nanti. Semua harus diatur dengan baik. Jangan sampai ada yang terlewat lagi.
"Kak?"
"Iya Aisyah, terima kasih kamu sudah mengingatkan kami. Aku dan Abang Umar akan berdiskusi terkait hal tersebut. Sekarang, kita makan mille crepes buatan kamu dulu sebagai perayaan kehamilan kamu ini. Sepertinya enak." Aku tersenyum.
"Siap Kak. Kak, jika Abang Umar dan Kakak berkenan, bolehkah kami tinggal bersama kalian?"