Aku dan Abang Umar saling berpandangan, "Untuk saat ini sepertinya belum bisa Aisyah, tapi nanti kami akan coba mendiskusikannya juga."
"Baik Kak." Aisyah tersenyum.
Aku mengambil piring dan garpu lalu memotongkan mille crepes untuk kami berempat. Setelah itu, kami mulai fokus dengan makanan masing-masing dan mengobrol ringan tentang bayi yang insyaallah akan lahir nanti. Bismillah, semoga semua berjalan dengan mudah dan lancar.
"Owh iya, kandungan kamu sudah masuk berapa minggu Aisyah?
"Sudah 12 minggu Kak."
Tiba-tiba Abang Umar berdeham, "Aisyah, jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku atau Khadijah. InsyaAllah kami akan berusaha maksimal untuk memenuhinya. Karena seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya kalau anak tersebut adalah anak kami." Abang Umar mengingatkan.
Aku melihat ke arah Abang Umar. Lagi-lagi Abang Umar mengingatkan hal tersebut. Jujur aku takut Aisyah tersinggung dan marah kepada kami.
"Iya, aku paham Bang. Kamu tidak perlu selalu mengingatkan aku dan terima kasih atas tawaran kamu Bang, insyaallah aku akan bilang jika membutuhkan sesuatu." Aisyah tersenyum tipis.
"Bunda, aku sudah selesai nontonnya. Terima kasih." Arfa membuka earphone dan menyerahkan ponsel kepada Aisyah.
"Tante Khadijah, Ayah Umar."
"Iya sayang."
"Apa kalian sudah tau kalau ada calon bayi Tante dan Ayah dalam perut Bunda?"
"Alhamdulillah, kami sudah tahu sayang." Aku tersenyum.
"Alhamdulillah. Kemarin Bunda senang banget lho Tante, saat ke dokter kandungan. Terus pas kami jalan pulang, aku sempat minta kue ini. Tapi kata Bunda, Bunda akan bikin saja sekalian untuk bawa ke sini. Terus pas sudah sampai rumah, Bunda langsung bikin kue. Kuenya enak lho. Aku udah beberapa kali makan karena Bunda buat 2. 1 untuk di bawa kesini dan 1 lagi untuk dimakan rumah." Arfa nyengir.
Aku tersenyum dan Aisyah tersipu malu. Sedangkan Abang Umar tidak bergeming sedikitpun. Dia hanya fokus mendengarkan.
"Alhamdulillah, enak banget sayang."
"Alhamdulillah." Arfa tersenyum dan lanjut makan mille crepes.
Selesai makan mille crepes, Aisyah dan Arfa izin pulang karena khawatir akan menggangu pekerjaan kami. Kamipun mengiyakan dan aku mengantar Aisyah sampai pintu ke luar ruangan. Setelah itu kembali ke dalam dan memeluk Abang Umar dengan erat.
"Alhamdulillah ya Bang."
"Alhamdulillah, kamu senang?"
"Tentu saja. Bagaimana dengan kamu Bang? Calon bayi kita sudah ada di dalam rahim Aisyah. Apa kamu tidak senang?" Aku memandang wajah Abang Umar tanpa melepaskan pelukkanku.
"Tentu saja aku senang bidadariku." Abang Umar tersenyum.
"Lalu kenapa kamu tetap terdiam saat Aisyah menyampaikan kabar gembira tersebut?"
"Kamu kan tau bagaimana aku akan bersikap di depan orang lain bidadariku. Aku tidak akan menunjukkan perasaan aku yang sebenarnya. Hanya kamu yang akan aku beri tau bagaimana perasaanku sesungguhnya." Abang Umar nyengir.
"Aisyah bukan orang lain Bang, dia istrimu juga. Seharusnya kamu bisa menunjukkan perasaan kamu, terlebih ini tentang anak kita." Aku terkekeh sambil menyentuh ujung hidung Abang Umar.
"Dia hanya rahim pengganti Khadijah. Aku hanya memiliki 1 istri dan itu hanya kamu." Abang Umar mulai mengingatkan kembali dan mencium bibirku sekilas.
"Iya Bang, tapi dia tetap istrimu. Dan aku minta kamu hargai dia dan beri perhatian sedikit padanya karena biasanya wanita hamil butuh perhatian lebih." Aku melepas pelukkan perlahan.
"Baiklah bidadariku. Owh iya, kita harus melakukan apa dulu ya?" Abang Umar berjalan menuju meja kerjanya.
"Maksud kamu Bang?" Aku kembali mengerutkan kening.
"Baiknya kita melakukan apa terlebih dahulu untuk menyambut kelahiran anak kita bidadariku? Aku sangat senang dan tidak sabar untuk segera menimangnya."
Aku menarik nafas panjang. Padahal dulu saat aku ajukan tawaran untuk mencari rahim pengganti Abang Umar sempat menolaknya. Tapi sekarang, dia sangat bersemangat untuk menyambut kehadiran calon bayi kami. Untunglah aku sedikit memaksanya. Takdir Allah SWT memang yang terbaik.
"Nanti saja Bang, toh kehamilan Aisyah baru memasuki usia 12 minggu. Kita urus dokter dan rumah sakit saja terlebih dahulu untuk persiapan kelahiran bayi kita nanti sesuai dengan informasi dari Aisyah. Dan untuk permintaan Aisyah tinggal bersama kita.." Aku mengingatkan.
"Benar kata kamu Khadijah. Untuk Aisyah tinggal bersama kita, jujur aku tidak berkenan Khadijah. Kita bahas lagi jika Aisyah menanyakannya kembali. Bagaimana?"
"Baik Bang."
"Owh iya, aku baru ingat. Bagaimana kalau kita minta bantuan untuk cek kandungan dan melahirkan nanti di rumah sakit milik Tante Diana saja. Kebetulan beliau juga merupakan dokter kandungan. Walau sebenarnya jarak dari rumah kita atau Aisyah cukup jauh, tapi aku rasa itu adalah tempat yang cocok untuk Aisyah melahirkan nanti. Terlebih, insyaAllah Tante Diana juga bisa membantu kita untuk mengurus dokumen calon bayi dan beberapa hal lainnya yang mungkin dibutuhkan. Bagaimana menurut kamu?"
"Iya boleh Bang. Setahuku saat Arfa lahir, Aisyah melahirkannya secara sesar. Jadi kemungkinan saat melahirkan anak kitapun demikian. Sehingga tanggal dan waktu melahirkan bisa diatur."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang, aku akan mengabarkan Mami dan Papi terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan meminta bantuan Mami untuk bicara kepada Tante Diana terkait hal yang tadi kita bicarakan."
"Baik Bang, aku setuju. Nanti kalau Mami sudah mendapatkan persetujuan dan mengabarkan hasil yang positif kepada kita, sebaiknya kita bertemu secara langsung dengan Tante Diana."
"Baik bidadariku."
Abang Umar mengambil ponselnya dan mulai menelpon Mami. Sedangkan aku izin ke luar ruangan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Selesai mengerjakan beberapa pekerjaan, perutku mulai meminta haknya. Aku memanggil office boy untuk memanaskan dan membantu menyiapkan makan siang. Setelah itu aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Abang Umar. Ternyata Abang Umar masih fokus dengan pekerjaannya.
"Bang, makan siang yuk! Aku lapar nih."
"Sebentar bidadariku, aku selesaikan review dokumen ini dulu."
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukkan pintu dari luar. Ternyata office boy yang tadi aku mintai tolong. Akupun mempersilakannya masuk dan meminta untuk menaruh makanan dan minumannya di meja. Setelah selesai, office boy itu undur diri dan pergi meninggalkan kami.
"Bang..."
"Iya bidadariku."
Abang Umar menutup laptopnya dan berjalan menghampiri lalu duduk di sampingku. Kamipun mulai berdoa dan makan siang bersama. Selesai makan, kami segera mengambil wudhu dan shalat berjamaah di ruang shalat yang berada di ujung ruangan. Setelah selesai, aku mencium tangan Abang Umar. Dan Abang Umar menatap lekat ke arahku sambil tersenyum.
"Khadijah.."
"Iya Bang?"
"Alhamdulillah, akhirnya kita sebentar lagi akan menjadi orang tua. Aku sangat senang Khadijah karena doa-doa kita terkabul. Aku tidak menyangka usaha kita kali ini membuahkan hasil lebih cepat. Papi dan Mami juga sangat senang saat mendengarnya. Mereka sangat bersemangat Khadijah, terutama Mami."
"Alhamdulillah Bang. Aku juga sangat bahagia. Allah SWT sangat baik pada kita dan dengan cepat memberikan jawaban terbaik atas usaha kita kali ini." Aku tersenyum.
"Owh iya, barusan Mami juga mengabarkan katanya beliau telah menghubungi Tante Diana dan katanya insyaallah beliau bersedia membantu kita."
"Alhamdulillah, terus kapan kita akan bertemu dengan Tante Diana Bang?"
"InsyaAllah weekend ini setelah pulang dari rumah Mami dan Papi. Karena ternyata info dari Mami, rumah Tante Diana hanya berbeda 3 blok dari rumah beliau."
"Siap Bang, alhamdulillah kalau begitu."
"Iya Khadijah. Terkait jenis kelamin anak, menurut kamu bagaimana?"
"Apapun yang Allah SWT berikan, insyaallah aku menerimanya Bang." Aku tersenyum.
"Jujur akupun demikian bidadariku. Hanya saja jika boleh memilih, aku ingin memiliki anak laki-laki yang sehat dan kuat Khadijah. Agar bisa mengemban beban berat yang sama seperti aku." Abang Umar tersenyum.
"Kita berdoa saja Bang, insyaAllah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkannya."
***
"Kamu sudah siap bidadariku?"
"Sudah Bang."
"Ayo kita jalan sekarang."
Aku mengangguk dan kami berjalan ke luar kamar menuju tempat parkir. Setelah itu kami masuk ke dalam mobil dan mengenakan seat belt. Alhamdulillah perjalanan menuju rumah Mami Papi berjalan lancar. Saat kami sampai, Mami dan Papi menyambut kami dengan sangat bahagia. Seolah aku yang mengandung. Padahal, Aisyah yang mengandung anak kami. Aku tersenyum melihat sambutan dan mendengar ucapan selamat dari mereka. Aku jadi merasakan euforia yang berbeda. Andai benar aku yang mengandung anak Abang Umar, pasti rasanya akan jauh lebih bahagia.
"Ayo kita makan siang dulu. Mami juga sudah menyiakan beberapa makanan dan cemilan kesukaan Umar."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Mi."
"Sama-sama. Andai kamu yang mengandung, pasti akan jauh lebih membahagiakan." Gumam Mami.
Aku hanya terdiam sedangkan Abang Umar merangkulku seolah tidak perduli dengan ucapan Mami. Kamipun berjalan beriringan menuju meja makan. Setelah sampai dimeja makan, kami segera duduk dan aku mulai membantu mengambilkan makanan untuk Abang Umar. Kamipun fokus dengan makanan masing-masing sambil membicarakan beberapa hal terkait pekerjaan. Lalu Mami memandang ke arahku.
"Khadijah, kamu sudah bertemu Tante Diana?"
"Belum Mi, insyaallah pulang dari sini kami akan langsung ke rumah Tante Diana. Ya kan Bang?" Ucapku sambil kembali menyuap makananku.
"Iya Mi, kata Mami rumahnya tidak jauh dari sini kan?"
"Iya, hanya beda beberapa blok saja kok. Kalian mau Mami Papi temani?"
Aku dan Abang Umar saling berpandangan.
"Boleh saja jika tidak merepotkan Mami dan Papi."
"Tidak repot kok Khadijah, ya kan Pi?"
"Biar mereka sajalah Mi, aku sedang malas ke luar rumah."
"Astaghfirullah Pi, memang kamu tidak bosan seharian ini di rumah?"
"Tidak, aku senang di rumah karena bisa selalu bersama kamu."
Mami mengerutkan kening, "Apa-apaan sih kamu ini. Seperti anak muda saja, tidak ingat umur."
"Lho fisik boleh semakin tua, tapi jiwa harus tetap muda. Betul tidak Umar?" Papi terkekeh.
Abang Umar hanya tersenyum, tidak berani menjawab.
"Astaghfirullah Pi, kamu benar-benar ya."
Papi dan Abang Umar terkekeh.
"Dasar! Papi dan anak sama saja. Suka sekali bikin Maminya kesal."
"Sabar ya Mi, kan ada aku. Aku selalu mendukung Mami." Aku tersenyum.
"Iya, hanya kamu saja yang selalu ada di pihak Mami, Khadijah."
"Itu kan karena Mami dan Khadijah sama-sama perempuan." Ucap Abang Umar sambil menyuap makanannya.
"Owh iya, bagaimana kondisi Aisyah? Apakah semua baik-baik saja?"
"Alhamdulillah baik Mi. Ini hasil USG yang telah Aisyah lakukan. Mungkin saat ini Aisyah sedang dalam siklus mual muntah karena masih dalam tahap awal kehamilan." Aku menyerahkan hasil USG yang pernah Aisyah berikan.
"Owh iya, apa Mami dan Papi mau bertemu Aisyah?" Ucapku sambil melihat Mami dan Papi.