Papi dan Mami saling berpandangan, "Sepertinya tidak perlu Khadijah, kami cukup mendapatkan informasi dari kalian saja."
"Baiklah kalau begitu Mi." Aku tersenyum.
"Ingat Umar jangan sampai keterusan bersama Aisyah. Toh dia sudah hamil, jadi tidak ada alasan untuk kamu sering bersama atau menemuinya lagi. Cukup Khadijah saja yang memberikan perhatian tersebut. Agar tidak ada salah paham nantinya." Mami mengingatka.n
"Baik Mi. Lagipula sejak awal memang bukan aku kok yang ingin mendekati dan bersama Aisyah. Semua ini adalah ren..."
"Abang Umar, kamu mau sate kambingnya lagi?" Aku menekankan ucapanku agar Abang Umar tidak melanjutkan pembicaraannya.
"Tidak Khadijah, aku rasa sudah cukup." Abang Umar nyengir.
"Ren apa Umar."
"Rencana kami Mi."
"Iya, rencana kalian yang membuat kami bingung. Untunglah Aisyah cepat hamil. Semoga tidak ada kendala apapun sampai dia melahirkan dan proses dokumen selesai."
"Iya Mi."
Selesai makan, kami ditemani Mami dan Papi pergi bersama mengunakan mobil Papi ke rumah Tante Diana yang hanya berbeda 3 blok. Sesampainya disana, Tante Diana sedang ke luar rumah. Hanya ada anak semata wayangnya Rizka yang saat ini sedang libur kuliah. Rizka kuliah jurusan kedokteran dan sedang mengambil spesialis ahli saraf.
Wajahnya sangat manis. Dia juga merupakan tipe perempuan yang supel dan mudah bergaul. Sepertinya dia akan menjadi dokter yang baik dan pengertian kepada pasiennya. Sambil menunggu Tante Diana, kami mengobrol tentang kesehatan. Dulu, Papi sangat ingin memiliki anak yang berprofesi sebagai seorang dokter. Sayang beliau tidak bisa mewujudkannya karena hanya memiliki 1 orang anak. Itupun sulit untuk mendapatkannya.
Mami dan Papi baru memiliki Abang Umar ketika umur pernikahan mereka menginjak usia 5 tahun. Sama seperti aku dan Abang Umar, mereka melakukan banyak cara untuk mendapatkannya. Alhamdulillah, buah dari kesabaran mereka membuahkan hasil yang baik. Makanya aku sangat bersyukur Aisyah bisa cepat mengandung anak Abang Umar. Karena riwayat keluarga Abang Umar yang cukup sulit mendapatkan keturunan. Memang Allah SWT selalu tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Itulah yang selalu tertanam dalam benakku.
Saat kami sedang asik mengobrol, Tante Diana datang sambil membawa 2 kantong belanja. Rizkapun izin kepada kami untuk membantu Tante Diana. Kami mengangguk, Rizkapun bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Tante Diana. Rizka mengambil kantong belanjaan dan membantu membawakan belanjaan tersebut ke dapur. Sedangkan Tante Diana berjalan menghampiri kami. Wajah Tante Diana sangat mirip dengan Rizka, beliau sangat manis dan sikapnyapun ramah.
Aku dan Abang Umar bangkit dari tempat duduk dan bersalaman dengan beliau. Mami memeluk Tante Diana dan mencium pipi kanan kirinya. Sedangkan Papi hanya menangkupkan kedua tangan di d**a sama seperti Tante Diana.
"Maaf ya, tadi aku ke luar sebentar. Kalian sudah menunggu lama?"
"Belum lama kok, baru sekitar 10 - 15 menit yang lalu. Lagipula kan ada Rizka yang menemani. Rizka itu sama seperti kamu Diana, dia sangat ramah. Padahal kita sudah lama tidak bertemu." Mami tersenyum.
"Iya. Padahal kita keluarga dan rumah juga berbeda 3 blok, tapi bertemu hanya setahun sekali pada saat Idul Fitri." Tante Diana terkekeh.
"Iya, antara kesibukan masing-masing atau apa itu masih menjadi misteri." Mami nyengir.
"Sepertinya karena kesibukan sih. Ya nggak Ian?"
Papi mengangguk.
"Owh iya, ayo silahkan duduk kembali."
Kamipun kembali duduk di sofa ruang tamu.
"Sepertinya kita harus sering bertemu deh Di, untuk mempererat tali silaturahmi. Khawatir anak-anak kita nanti tidak saling mengenal satu sama lain. Saat Idul Fitri juga kan ada yang tidak bisa hadir."
"Betul, aku setuju. Mungkin bisa dimulai dengan melakukan arisan keluarga. Bagaimana menurut kamu?"
"Ide yang bagus Di. Nanti kita coba diskusikan di grup keluarga saja. Mudah-mudahan mereka setuju."
"Baiklah. Hmm.. Sepertinya kalian terlalu asik mengobrol ya? Jadi baru disediakan minuman saja oleh asisten rumah tangga kami." Tante Diana sambil mengerutkan kening.
"Begitulah. Kamu kan tau, Ian sangat ingin memiliki anak yang berprofesi sebagai dokter. Tapi, apalah daya kami hanya memiliki 1 orang anak laki-laki. Dan dia harus meneruskan perusahaan kami dan juga perusahaannya sendiri." Mami memijat kepalanya yang sepertinya tidak sakit.
"Bi Sum.." Lanjut Tante Diana.
"Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri kami, "Tolong bawakan cemilan dan kue ya."
"Baik Nyonya."
"Iya aku paham. Dia sangat ingin memiliki anak seorang dokter. Tapi ketika seorang dokter mendekatinya dia malah menghindar dan tidak memberikan kesempatan sedikitpun." Tante Diana terkekeh.
"Astaghfirullah Diana, sudahlah. Jangan membahas masa lalu. Bikin aku malu saja di depan anak-anak." Papi tersipu.
"Kenapa musti malu? Bukankah itu suatu kebanggaan tersendiri? Betul kan Dit?"
Mami mengangguk dan tersenyum tipis, "Entahlah, aku bingung apakah hal tersebut bisa disebut suatu kebangaan." Mami melihat kearah Papi.
"Wah, jangan-jangan Papi seorang yang cukup terkenal zaman kuliah dulu." Kicau Abang Umar penasaran.
"Sangat. Banyak perempuan yang mendekati Papi kamu Umar. Tapi Papimu hanya menginginkan Mami kamu untuk menjadi pendamping hidupnya." Tante Diana tersenyum.
"Iya karena Papi dan Mami juga sudah saling kenal sejak mereka kecil kan Tante?" Beo Abang Umar lagi
"Iya. Walau mereka sempat terpisah karena Papimu pindah ke Jakarta. Tapi alhamdulillah, takdir mempertemukan mereka kembali di tempat kerja. Walau tidak lama, tapi cukup untuk mereka saling bertemu dan menyadari keberadaan satu sama lain."
"Iya, padahal hanya 1 bulan ya Tante. Memang Allah SWTlah pemilik rencana sebaik-baiknya."
"Betul."
"Sudahlah, kenapa jadi bahas kami? Bikin malu saja. Ya kan sayang? "
Mami mengangguk, "Iya, kasihan Ian. Imagenya bisa turun nanti di depan Umar."
"Tidak Dit, justru dia bangga punya Papi yang berpegang teguh pada pendiriannya dan menetapkan hati sejak kecil pada Maminya. Sehingga tidak ada 1 pun perempuan yang singgah di hati Papinya."
"Betul Tante. Makanya aku berpegang teguh untuk menikahi Khadijah saat pandangan pertama. Aku sudah yakin dia adalah pendamping terbaik untuk hidupku. Baik di dunia maupun akhirat."
Tante Diana mengerutkan kening, "Lalu kenapa kamu menikah lagi Umar? Bahkan sekarang istri keduamu itu sedang mengandung."
Aku dan Umar saling pandang. Sepertinya Mami belum menceritakan masalah kami secara keseluruhan.
"Masalah mereka sama seperti aku dan Ian, Diana. Hanya saja mereka lebih lama mendapatkannya. Lalu Khadijah memiliki ide untuk mencari rahim pengganti. Karena hal tersebut diawali dengan pernikahan walau secara sirih, kamipun menyetujuinya. Alhamdulillah sekarang istri keduanya sudah hamil sehingga rencana mereka untuk mendapatkan keturunan dimudahkan oleh Allah SWT dan ini menunjukkan kalau Allah SWT ridho akan keputusan tersebut."
Tante Diana membulatkan kedua matanya, "Apa? Jadi kamu sendiri yang mengajukan istri untuk suami kamu Khadijah? Tante tidak habis fikir. Itu adalah keputusan yang berat Khadijah. Karena kita adalah seorang perempuan yang selalu menggunakan perasaan."
"Memang tidak mudah Tante, akupun hanya perempuan biasa. Hanya saja aku berfikir ini jalan terbaik untuk keluarga kami. Dan tujuan kami disini adalah untuk meminta bantuan Tante terkait tempat, proses melahirkan, dan kelengkapan dokumen yang dibutuhkan."
"Iya sayang, insyaallah Tante pasti membantu kalian. Untuk detailnya akan kita bahas pada saat mendekati kelahiran bayinya ya, karena setahu Tante kehamilan baru menginjak usia 12 minggu kan?"
"Betul Tante."
"Tapi Khadijah, bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa semua baik-baik saja?"
"Insyaallah aku baik-baik saja Tante." Aku tersenyum.
"Owh ya kalau boleh tahu, siapa istri kedua Umar? Apa kalian sudah bertemu dengannya?" Tante Diana melihat Mami dan Papi bergantian.
Mami menarik nafas panjang, "Dia adalah Aisyah, Adik Tiri Khadijah."
Tante Diana membulatkan mata, "Apa? Kok bisa?"
"Iya, dia adalah seorang single parent dan kebetulan saat Khadijah dan Umar sedang mencari rahim pengganti, Aisyah mendengarnya secara langsung. Diapun langsung mengajukan diri sebagai rahim pengganti kepada Khadijah." Mami tersenyum getir.
"Berarti ada imbalan khusus yang kalian berikan ya?"
Aku dan Abang Umar mengangguk.
"Bukankah itu hal yang sudah pasti Diana?"
"Iya, itu adalah hal yang besar Dit. Tidak mungkin seseorang langsung mengajukan diri tanpa imbalan apapun."
"Betul. Terlebih Aisyah menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk anak semata wayangnya, Arfa."
"Arfa yang kata kamu pernah menjadi model iklan s**u itu?"
"Betul, kamu masih ingat Diana?"
"Iya. Anak itu sangat tampan dan menggemaskan. Tapi sepertinya dia tidak muncul di iklan manapun lagi. Padahal ekspresinya dalam iklan tersebut sangat natural. Dia sangat berbakat untuk menjadi seorang aktor."
"Entahlah. Mungkin kamu mengetahui alasan Aisyah, Khadijah?"
"Setahuku pekerjaan tersebut sangat melelahkan untuk anak seumuran Arfa Mi. Terlebih setelah mencoba iklan tersebut, Arfa sudah mulai masuk sekolah. Aisyah tidak mau waktu belajar dan sosialisasi Arfa bersama teman-temannya terganggu."
"Sayang sekali, padahal dia anak yang hebat. Kenapa Aisyah tidak melakukan home schooling saja sama seperti Tante? Rizka juga home schooling dan alhamdulillah dia masih bisa bersosialisasi dengan teman-temannya."
"Setiap orang tua memiliki keinginan dan keputusan berbeda-beda Diana. Mungkin Aisyah fikir ini adalah yang terbaik untuk Arfa. Belajar dan bermain sejak dini dengan teman sebayanya."
"Iya kamu benar Dit. Maaf Tante terkesan ikut campur. Ini adalah sifat yang sebenarnya sudah lama ingin Tante rubah, tapi sulit sekali untuk mengubahnya." Tante Diana menunduk menyesal.
"Tidak masalah Tante." Aku tersenyum.
Beberapa saat kemudian, asisten rumah tangga datang menyediakan beberapa cemilan dan kue untuk kami. Lalu kembali izin pamit setelah selesai menyajikannya.
"Ayo silahkan dimakan cemilannya, ini semua buatan Rizka lho. Kebetulan dia sedang senang bereksperimen membuat macam-macam cake dan kue kering."
"Mama, Rizka kan jadi malu." Rizka berjalan menghampiri dari arah dapur dan duduk disamping Tante Diana.
Aku, Abang Umar, Mami, dan Papi mulai mencobanya.
"Rasanya enak dan tidak terlalu manis. Kamu hebat Rizka, dengan kesibukan yang kamu miliki, kamu masih bisa membuat cemilan seperti ini."
"Benar Khadijah, rasanya sangat pas dilidah. Dan Mami rasa cemilan ini sangat menjual dan bisa dijadikan side job jika merupakan salah satu hobi kamu Rizka." Mami mengusulkan.
"Tante dan Khadijah terlalu memuji. Tapi memang sudah lama membuat roti dan kue menjadi salah satu hobi aku. Beberapa waktu lalu juga sempat terlintas untuk membuat sebuah toko roti dan kue. Cuma aku masih mengumpulkan uang untuk modal sambil banyak bereksperimen membuat roti dan kue yang sedang hits menjadi roti dan kue ala Rizka." Rizka nyengir.
"Semangat Rizka, Tante yakin toko roti dan kue kamu akan hits. Terlebih kalau mereka tau toko tersebut milik seorang dokter. Mereka pasti berfikir nilai gizi pada roti dan kue tersebut sudah ditakar sebelumnya."
"Benar Tante. Aku memang sengaja membuat roti dan kue yang membuat seseorang tidak menyesal setelah memakannya. Dan harga yang di bandrolpun tidak semahal cemilan sehat yang dijual dipasaran seperti sekarang. Jadi banyak orang yang bisa makan cemilan tersebut tanpa harus menimbang-nimbang untuk membelinya."
"Tante setuju Rizka, dan jika kamu membutuhkan investor, Tante bersedia menjadi investor penuh untuk kamu. Karena Tante yakin roti dan kue tersebut akan laris manis." Mami tersenyum.
"Terima kasih banyak Tante." Ucap Rizka salah tingkah.
"Owh iya sepertinya kami harus segera pulang Diana, sudah cukup sore dan besok merupakan hari kerja. Umar dan Khadijah juga tadi ikut mobil kami jadi dia harus ke rumah kami terlebih dahulu untuk mengambil mobil mereka."
"Iya Tante, kami pamit dulu ya. Tolong kabari jika mungkin ada sesuatu hal terkait persalinan atau hal lain yang berhubungan."
"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan ya. Terima kasih sudah datang berkunjung."
"Sama-sama Tante, justru kami yang harusnya berterima kasih."
"Sama-sama Khadijah."
Kami bangkit dari tempat duduk dan mulai bersalaman satu sama lain. Setelah itu Tante Diana dan Rizka mengantar kami sampai tempat parkir.