6 - Flashback -1

1651 Words
"Kenapa aku belum bisa punya anak sih Bang? Apa salahku? Apa yang salah dan kurang dariku?" Lagi-lagi usaha kami tidak membuahkan hasil. Segala cara telah kami coba untuk mendapatkan keturunan, mulai dari prosedur alami, IVF, dan IVM. Namun sampai saat ini, belum ada hasil yang signifikan. Semua usaha kami belum memiliki hasil apapun padahal pernikahan kami akan menginjak usia 8 tahun. Bagiku waktu tersebut sudah cukup lama. Walau aku tahu tidak boleh melihat pencapaian keluarga orang lain dan membandingkan dengan keluarga kita sendiri. Tapi aku hanyalah perempuan biasa yang juga menginginkan keturunan. Aku kembali menangis dalam dekapan Abang Umar. Abang Umar memeluk erat dan mengelus rambutku perlahan. "Tenang Khadijah, insyaallah kita akan segera memiliki keturunan. Jangan terlalu bersedih, Allah tidak suka." "Tapi Bang, kita sudah melakukan banyak cara. Namun..." "Sabar bidadariku, kita cukupkan pembicaraan ini ya. Aku khawatir kamu semakin berfikir negatif. Tapi jika kamu masih ingin menangis, menangislah.." Aku kembali menangis terisak, ya Allah SWT sampai kapan kami harus sabar menanti? Sedangkan keluarga Abang Umar sangat menginginkan keturunan. *** "Aku sangat mencintaimu Khadijah, bidadari dunia akhiratku. Aku sangat bersyukur memiliki kamu. Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku." Abang Umar memelukku dengan erat dan mencium tengkuk leherku. "Aku juga bersyukur memiliki kamu imamku. Kita bersih-bersih sekarang yuk Bang, setelah itu aku akan buatkan sarapan." Aku tersenyum dan berbalik ke arah Abang Umar. Abang Umar mengangguk. Kamipun bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Seperti biasa, kami selalu mandi bersama setelah memberikan hak Abang Umar dan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Walau kami belum memiliki keturunan, tapi Abang Umar seperti bayi besar yang aku miliki. Aku mengurusnya layaknya seorang bayi. Segala hal yang berhubungan dengannya, aku kerjakan dengan teliti. Semua itu aku lakukan gar Abang Umar merasa nyaman dan tenang saat bersamaku dan ketika berjauhan dia akan selalu merindukan ku karena Abang Umar sudah tergantung padaku. Tersenyum dan bermanja adalah salah satu jurus andalanku untuk meluluhkan hatinya yang terkadang terasa kalut. Selesai bersih-bersih, aku segera menyiapkan pakaian untukku dan Abang Umar. Aku memakai pakaian terlebih dahulu lalu menyerahkan pakaian yang telah aku siapkan kepada Abang Umar. Akupun membantunya berpakaian dan menyisir rambutnya. Saat aku sedang menyiapkan tas kerja, tiba-tiba Abang Umar datang dan memelukku dari belakang. "Bidadariku.." Ucapnya sambil mencium lembut pipiku. Aku tersenyum, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan keinginan yang sudah hampir 3 tahun ini bergemuruh di dalam hati dan pikiranku. Hati Abang Umar sepertinya sedang bagus. Di kantor juga aman, tidak ada masalah dan kendala apapun. Aku mengetahuinya karena saat ini selain menjadi istri, aku juga merangkap menjadi sekretaris untuknya. Untunglah aku memiliki suami Abang Umar yang paham agama. Jadi saat mengetahui bahwa kami sulit memiliki keturunan, Abang Umar segera meminta aku untuk menjadi sekretarisnya. Akupun setuju agar aku memiliki kesibukan dan tidak terlalu memikirkan masalah keturunan. Selain itu kedua jabatan ini aku ambil juga karena kekhawatiran akan datangnya orang ketiga dalam pernikahan kami. Jadi aku berusaha maksimal untuk menghindari kemungkinannya. Dalam lubuk hati yang terdalam, Abang Umar juga pasti menginginkan keturunan untuk menjadi penerusnya. Terkadang, mertua perempuanku menyinggung masalah keturunan saat kami bertemu. Aku paham dengan sikapnya tersebut. Karena sebenarnya kedua mertuaku adalah orang yang sangat baik. Namun ketika mereka melihat anak-anak saat pertemuan keluarga atau saat kami berjalan bersama, terlihat jelas kalau mereka sangat mendambakan keturunan. Terlebih Abang Umar adalah seorang anak tunggal dari Pengusaha besar dan keluarga terpandang. Jadi penerus adalah hal yang sangat penting bagi mereka. Jujur sebenarnya aku tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan penerus. Karena masalah sebenarnya ada pada organ reproduksi dan sel telurku yang tidak bekerja secara maksimal, bukan pada Abang Umar. "Bang, apa aku boleh minta sesuatu?" Aku berbalik dan mengelus pipi sebelah kiri Abang Umar dengan tangan kananku. "Tentu saja bidadariku. InsyaAllah apapun permintaan kamu, jika aku bisa memenuhi aku akan melakukannya." Abang Umar tersenyum. "Aku minta maaf sebelumnya Bang, jujur sebenarnya aku takut menyampaikan hal ini. Tapi, sudah hampir 3 tahun ini aku memikirkannya dan ini selalu mengganggu hati dan pikiranku." Abang Umar mengerutkan kening, "Apa itu Khadijah?" "Aku ingin rahim pengganti Bang. Seorang perempuan sehat dan sholehah yang bisa mengandung keturunan untuk kamu dan keluarga." Abang Umar membulatkan mata dan melepaskan pelukkannya perlahan, "Astaghfirullah Khadijah! Apa yang sedang kamu pikirkan! Kenapa kamu bisa mengajukan permintaan seperti itu?" "Maaf Bang. Aku berfikir kalau yang memiliki masalah keturunan adalah aku. Sedangkan kamu tidak ada masalah apapun. Kamu sehat Bang, sangat sehat. Aku juga tahu sebenarnya dalam hati kamu yang terdalam juga menginginkan keturunan kan? Aku harap kamu bisa memenuhi keinginanku ini Bang." Aku tertunduk sedih, air matapun menetes dipipiku. Abang Umar menarik nafas panjang dan membalikkan badan, "Aku memang menginginkannya Khadijah, tapi bukan dari perempuan lain. Tapi dari kamu, perempuan sholehah yang aku cintai. Istriku!" Aku memegang tangan Abang Umar untuk menahannya, "Maafkan aku Bang, aku tidak ingin membuat kamu marah. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang mengganggu hati dan pikiranku selama ini. Dan aku ikhlas jika kamu juga menginginkannya Bang." Abang Umar kembali melihat ke arahku dan tersenyum tipis, "Apa maksud kamu Khadijah? Apa kamu rela di madu? Apa kamu siap berbagi ranjang dengan perempuan lain? Ingat Khadijah, kita tidak tahu perasaan kita akan bagaimana nantinya. Istri Rasulullah saja, Aisyah, tidak sanggup menerimanya. Dia sangat cemburu ketika Rasulullah menikah lagi. Apalagi kita yang hanya manusia biasa. Jangan berfikir macam-macam. Kita teruskan saja ikhtiar dan doa kepada Alah SWT." Abang Umar berjalan menuju pintu dan aku mencoba menahan pergelangan tangannya. "Tapi Bang, kita sudah berusaha hampir 8 tahun, dan sampai saat ini belum membuahkan hasil apapun. Kamu hanya perlu menikah sirih dengan perempuan sehat dan sholehah yang bersedia mengandung anakmu Bang. Saat anak itu lahir, kamu bisa segera menceraikannya. Kita bisa memenuhi seluruh kebutuhan dia dan keluarganya selama dia hamil dan memberikan sejumlah uang serta beberapa hal lainnya setelah dia melahirkan nanti Bang." Abang Umar berbalik dan menatapku sendu, "Kamu terlalu menganggap mudah Khadijah. Saat kita menjalaninya nanti pasti akan sangat sulit khususnya untuk kamu. Terlebih aku tidak yakin bisa berlaku adil padanya. Aku sangat cinta dan sayang pada kamu Khadijah." Ucap Abang Umar sendu dan memegang kedua pipiku. "Aku tidak akan memaksa kamu Bang, kamu fikirkan dan istikharah saja terlebih dahulu. Dan tolong kabarkan hasilnya saat ulang tahun pernikahan kita nanti Bang. Jawaban terbaik dari kamu, adalah kado terindah untukku insyaallah." Aku tersenyum. "InsyaAllah Khadijah, aku akan fikirkan baik-baik dan shalat istikharah. Terima kasih kamu sudah memberikan waktu agar aku bisa memikirkannya terlebih dahulu." "Sama-sama Bang. Kalau begitu, ayo kita sarapan terlebih dahulu. Setelah itu kita berangkat ke kantor. Tas kerja kita juga sudah siap." Aku tersenyum dan menyerahkan tas kerja milik Abang Umar. "Baiklah, ayo kita sarapan bidadariku." Kamipun segera ke luar dari kamar dan berjalan menuju meja makan. Di sana sudah tersedia sarapan yang telah di siapkan chef khusus. Kami sengaja mempekerjakannya agar makanan yang di sediakan dapat mengunggah selera. Untuk rasa dan variasinyapun tidak kalah dari restoran ternama ataupun hotel bintang 5. Aku bersyukur menjadi istri Abang Umar, dia menyerahkan seluruh urusan rumah tangga padaku. Terkait keuanganpun Abang Umar tidak pernah membatasi. Dia memberikan segala kebutuhan tanpa aku minta. Bahkan nilainya terlalu banyak menurutku. Dan aku tidak pernah menolak pemberiannya. Hal ini aku lakukan agar dia tetap memiliki power dan menjadi laki-laki dominan di keluarga ini. Akupun menggunakan pemberiannya dengan sangat bijak. Aku lebih memilih menggunakan uang untuk beramal dan memberi kepada orang yang membutuhkan. Karena aku memang perempuan yang telah terbiasa hidup sederhana meski aku hidup dari keluarga yang serba berkecukupan dan bisa memilih mana kebutuhan ataupun keinginan. Hal inilah yang membuat Abang Umar semakin mencintaiku. Sesampainya kami di meja makan, aku segera menyiapkan makanan untuk Abang Umar. Porsi makanan yang disiapkan memang tidak terlalu banyak. Biasanya terjadwal sesuai approval atau permintaan dariku. Hal ini kami lakukan agar tidak ada makanan berlebih. Untuk makan siang, kami juga sengaja membawa bekal dari rumah. Kami sengaja memintanya karena pekerjaan kami yang cukup padat. Sehingga kami tidak telat makan dan bisa menjaga kesehatan sejak dini. Saat makanan sudah siap, aku segera menyerahkan nasi goreng telur ceplok dan roti bakar kepada Abang Umar. Tidak lupa aku menyiapkan sarapan serupa untukku serta 2 teh manis panas untuk kami. Akupun duduk di hadapan Abang Umar dan kami mulai fokus dengan sarapan dan minuman masing-masing. Selesai sarapan, aku segera mengambil bekal kami yang sudah siap di meja makan dan kami segera berjalan ke luar rumah menuju tempat parkir. Kami masuk ke dalam mobil dan Abang Umar membantuku mengenakan seat belt. Setelah selesai diapun mengenakan seat belt untuk dirinya sendiri dan melajukan mobilnya. Perjalanan menuju kantor cukup lancar. Kami segera ke luar dari mobil dan naik ke lantai 15 yang merupakan ruang CEO berada. Iya, Abang Umar adalah Pengusaha properti dan real estate serta beberapa Perusahaan besar lainnya di Indonesia. Sesampainya kami di ruangan, aku segera ke ruang kerjaku. Sedangkan Abang Umar langsung masuk ke ruang kerjanya dan bersiap untuk bertemu dengan klien yang sudah menunggunya di ruang tamu. Akupun segera menelpon resepsionis dan memintanya agar mengizinkan klien tersebut masuk ke dalam ruangan Abang Umar. Setelah itu dan menyiapkan beberapa berkas yang perlu di review dan tanda tangani Abang Umar. Saat Abang Umar selesai rapat, aku segera masuk ke dalam ruangan dan menyerahkan berkas yang telah selesai aku review. "Terima kasih bidadariku." "Sama-sama Bang. Owh iya bagaimana rapat barusan, lancar?" "Alhamdulillah. Apa kamu tahu Khadijah ternyata proyek ini di pegang oleh Adik Tirimu, Aisyah." "Owh ya? Aku tidak tahu Bang, karena jarang berkomunikasi dengannya." Abang Umar mengangguk, "Iya, kebetulan tadi dia tidak bisa hadir karena anaknya sedang sakit." "Owh begitu Bang, nanti aku akan coba menghubunginya sekalian bertanya apakah dia akan hadir di acara anniversary kita." "Baiklah kalau begitu. Owh iya, ini saja berkasnya kan bidadariku?" "Iya, tolong tanda tangani yang ini, ini, dan ini." Aku menunjuk beberapa dokumen dan membantu Abang Umar membukanya. Benar kata Abang Umar, dalam berkas untuk pembangunan rumah sakit tersebut tertera nama Aisyah Rahma Said. Nama yang sudah sering aku dengar karena kami tinggal bersama selama 20 tahun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD