7 - Flashback Anniversary - 2

1702 Words
"Bidadariku, bagaimana untuk acara anniversary nanti? Semua sudah siap?" Abang Umar menghampiri dan mencium pipi sebelah kananku. "Sudah Bang alhamdulillah. Mami dan Bunda juga membantu untuk acara anniversary kita kali ini." Aku tersenyum. "Alhamdulillah, maaf aku tidak bisa membantu kamu Khadijah." "Tidak apa-apa Bang, kamu kan sedang sibuk. Aku tidak mau menambah beban kamu dengan acara ini." "Terima kasih bidadariku, sekarang kita istirahat yuk. Biar lebih fresh saat acara besok." "Iya Bang." *** Aku dan Abang Umar sudah bersiap dan akan segera berangkat ke hotel, tempat acara anniversary kami yang ke-8. Sesampainya di sana, kami langsung masuk ke dalam dan bertemu ketua panitia yang memegang acara dan mengecek semua persiapan yang ada. Di sana ternyata sudah ada Mami dan Bunda yang telah datang terlebih dahulu dan mengecek semuanya. Sehingga kami tidak perlu mengeceknya kembali. Kamipun segera masuk ke ruang rias dan bersiap untuk acara yang akan di adakan saat makan malam nanti. Tidak lupa aku dan Abang Umar wudhu terlebih dahulu sebelum bersiap agar saat sudah siap nanti dan adzan berkumandang, kami bisa shalat isya terlebih dahulu. Setelah itu baru kami mengikuti acara yang telah disiapkan. Selesai berias, adzan isya tiba. Kami segera menunaikan shalat isya berjamaah. Setelah selesai shalat, kamipun berjalan menuju tempat acara. Di sana sudah banyak tamu yang hadir. Kami mulai bertegur sapa dan beramah tamah kepada beberapa tamu. Beberapa saat kemudian, acarapun di mulai. Semua tamu datang menghampiri mengucapkan selamat kepada kami. Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar. Saat sudah waktunya makan bersama, aku dan Abang Umar menyingkir dan duduk di bangku VIP yang sudah di siapkan untuk kami. "Happy anniversary bidadari surgaku." "Happy anniversary suamiku." Abang Umar segera menghampiri dan memberikan kotak perhiasan padaku. "Aku pakaikan ya." Abang Umar tersenyum, bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiriku. Aku mengangguk dan tersenyum. Abang Umar segera mengenakan cincin dan gelang ke tangan sebelah kananku dan mencium pipi kananku. Setelah itu dia berbalik dan berjalan kembali ke tempat duduknya. "Terima kasih banyak Bang. Owh iya, aku juga siapkan ini untuk kamu. Semoga kamu suka ya." Saat Abang Umar sudah duduk, aku membuka kotak berwarna biru tua dan memperlihatkannya kepada Abang Umar. Aku memberikan jam tangan dan memakaikannya di pergelangan tangan sebelah kiri Abang Umar. "Apapun yang kamu berikan, aku pasti menyukainya bidadariku." Aku tersenyum, "Ayo kita makan sekarang Bang, khawatir nanti ada tamu yang menghampiri dan kita tidak sempat makan." "Siap bidadariku." Kamipun segera makan dan minum yang telah di siapkan sebelumnya oleh panitia. "Bang, bagaimana perasaan kamu hari ini?" Ucapku sambil menyuap makanan. "Bahagia pastinya." Abang Umar tersenyum dan melihat lurus ke arahku. "Bang, maaf aku ingin mengingatkan terkait permintaan aku beberapa hari lalu. Apakah kamu sudah bisa menjawabnya?" Abang Umar menarik nafas panjang, "Apa harus hari ini Khadijah?" "Aku sangat berharap kamu menjawab hari ini Bang." Ucapku tegas. "Jujur sebenarnya aku tidak bisa mengartikan arti dari shalat istikharah ini Khadijah. Hanya saja di dalam mimpiku, aku sedang menggendong bayi perempuan dan kamu menggandeng seorang anak laki-laki. Lalu di belakangmu, ada Aisyah Adik tiri kamu." Aku mengerutkan kening, "Aisyah?" Abang Umar mengangguk, "Iya, aku juga kurang paham kenapa ada Aisyah di sana." "Lagipula, andaipun aku setuju aku tidak tahu apakah bisa tidur dengan perempuan yang tidak aku cintai Khadijah. Terlebih lagi-lagi aku berfikir itu akan sangat menyakiti kamu." Abang Umar menunduk dengan wajah sendu. "Aku tidak masalah Bang, yang penting hati kamu tetap untukku." Aku tersenyum. "Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan kita nantinya Khadijah. Aku juga tidak bisa menjanjikan apapun jika ada 2 perempuan dalam hidupku." Aku terdiam sejenak, "Iya aku paham Bang, tapi kamu mau mencobanya kan? Abang Umar terdiam. "Jika kamu mau, kamu pasti bisa menjalaninya dan tetap menjadikan aku satu-satunya perempuan di hati kamu Bang. Maaf jika aku terkesan egois, tapi ini semua aku lakukan bukan untuk aku. Melainkan untuk kamu dan keluarga besar kita." "Maksud kamu?" Aku menarik nafas panjang, "Kamu adalah anak tunggal Bang. Kamu dan keluarga butuh penerus." "Bisakah kamu memikirkan kita saja Khadijah?" "Tidak bisa Bang. Pernikahan itu dia keluarga, bukan hanya kita. Aku harap kamu paham itu." Abang Umar menunduk dan kembali menatap sendu kearahku. "Baiklah kalau itu maumu Khadijah, ayo kita coba. Aku serahkan semua pencarian ini pada kamu. Kamu yang memilihkan perempuan yang cocok untuk aku nikahi dan menjadi rahim pengganti untukmu. Janjikan padanya sesuai apa yang kamu bilang sebelumnya. Kita akan memenuhi seluruh kebutuhannya dan keluarga dari sandang, pangan, dan papan. Dan setelah melahirkan nanti, dia harus menyerahkan bayi tersebut kepada kita dan aku akan memberikan imbalan uang sebesar 1 milyar, rumah, mobil, dan sebuah tempat usaha untuknya. Agar dia bisa mandiri dan tidak kekurangan setelah menyerahkan bayi tersebut kepada kita." Aku tersenyum, "Alhamdulillah, terima kasih banyak Bang. Ini adalah kado terindah untukku di hari anniversary pernikahan kita ke - 8. Mudah-mudahan di anniversary ke 9 kita nanti, sudah ada anggota baru dalam keluarga kita." "Aamiin insyaallah." Abang Umar kembali terdiam, mengambil cangkir di hadapannya, dan minum perlahan. "Aku mencintaimu Bang. Aku sangat berharap dengan usaha kita kali ini." Abang Umar tersenyum tipis. "Ayo Bang, kita sapa tamu lagi. Tidak enak kalau kita meninggalkan tamu terlalu lama." "Iya bidadariku." Kami bangkit dari tempat duduk dan menggandeng tangan Abang Umar. Kami berjalan menuju tempat para tamu yang sedang menikmati makanan dan minuman untuk beramah tamah. Seperti biasanya ketika kami muncul, Abang Umar langsung dihampiri beberapa klien. Aku menemaninya sebentar lalu izin untuk bertegur sapa dengan keluarga. Abang Umar mengangguk mengizinkan dan aku mulai menjauh darinya. Saat aku sedang mengambil minuman, Aisyah datang menghampiriku. Perempuan yang dari tadi aku cari, tapi tidak terlihat barang hidungnya sekalipun. Dia adalah Adik Tiriku. Kami menjadi keluarga karena Bunda dan Ayah kami yang menikah setelah bercerai dan ditinggalkan oleh pasangan masing-masing. Bunda ditinggal Ayah tanpa alasan lalu tiba-tiba bercerai, sedangkan Ibunya Aisyah meninggal pada saat melahirkannya. Hubungan kami tidak terlalu dekat, tapi tidak jauh juga. Kami menjalani hidup masing-masing dan tidak menggangu satu sama lain. Bundapun tidak memiliki keturunan setelah menikah lagi. Sepertinya Bunda dan Ayah sudah sepakat untuk tidak lagi memiliki keturunan selain kami berdua. "Kak, apakah kita bisa bicara sebentar?" "Iya boleh, kenapa Aisyah?" "Boleh mengobrol di sana Kak?" Aisyah menunjuk bagian pojok taman sebelah kiri yang cukup sepi. Aku mengerutkan kening, "Apakah harus di tempat gelap dan sepi seperti itu Aisyah?" "Iya Kak. Aku ingin membicarakan hal penting dan kalau disini, aku khawatir ada telinga lain yang mendengar dan hal yang aku bicarakan nanti akan menjadi pembicaraan yang tidak enak." "Baiklah kalau begitu, ayo kita ke sana." Aku dan Aisyah berjalan menuju tempat yang Aisyah tunjuk tadi. "Jadi, apa yang mau kamu bicarakan Aisyah?" Kamipun berdiri berhadapan dan saling berpandangan dalam gelap. "Kak, aku mau minta maaf sebelumnya. Tadi aku sempat mendengar pembicaraan Kakak dan Abang Umar terkait... Rahim pengganti. Apakah itu benar?" Aku berdeham, "Kamu mendengar sampai mana?" "Semuanya Kak." Aku mengerutkan kening, "Lalu?" "Jika Kakak dan Abang Umar berkenan, aku mau menawarkan diri untuk menjadi rahim pengganti Kakak." Aku membulatkan mata, "Kamu yakin dengan ucapan kamu Aisyah? Ini bukan hal yang mudah, terlebih... kamu hanya bertugas sebagai rahim pengganti saja. Tidak ada perlakuan khusus yang akan kamu dapatkan dari Abang Umar karena aku tidak akan merelakannya." Ucapku tegas karena sebenarnya aku tahu kalau Aisyah sempat menyukai Abang Umar. "Iya. Tapi selama aku hamil nanti, seluruh kebutuhan aku dan anakku akan kalian tanggung kan? Lalu setelah melahirkan nanti, kalian akan memberikan rumah, mobil, tempat usaha, dan uang 1 milyar untuk kami." Aku kembali mengerutkan kening, "Apa kamu sedang mengalami kesulitan ekonomi Aisyah?" "Tidak Kak, aku hanya ingin membantumu sekaligus mendapatkan yang kalian janjikan untuk anakku, Arfa." Aisyah memang perempuan yang tepat untuk menjadi rahim pengganti. Dia adalah perempuan yang sehat dan sholehah. Sayangnya, dia mendapatkan cobaan yang sangat besar. Dia diperkosa oleh laki-laki yang bahkan tidak diketahui wajahnya dan hamil. Pada saat itu dia tetap mempertahankan kehamilannya dan melahirkan seorang anak laki-laki. Walau lahir tanpa Ayah, Arfa yang merupakan anak laki-laki Aisyah, tidak pernah kekurangan apapun. Aisyah selalu berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan anaknya sendiri. "Kamu yakin dengan keputusan kamu? Apa tidak sebaiknya kamu memikirkan kembali? Karena aku berencanan jika semua hasil tes bagus pada saat berkunjung ke dokter kandungan, kamu akan segera menikah secara sirih dengan Abang Umar dan siap mengandung anak kami. Setelah melahirkan nanti, kalian juga akan segera bercerai dan menyerahkan anak tersebut kepada kami." "Aku sangat yakin Kak, insyaallah." "Baiklah kalau begitu. Aku akan coba diskusikan hal ini terlebih dahulu dengan Abang Umar. Nanti akan aku kabari jika sudah ada perkembangan." "Baik Kak." "Owh iya, satu hal lagi. Selama kamu hamil, akupun akan berpura-pura hamil sehingga akta lahir bayi tersebut nanti akan menyandang nama aku dan Abang Umar. Kamu sama sekali tidak ada hak akan bayi yang kamu kandung nanti. Apakah kamu tidak masalah?" "Insyaallah aku tidak masalah Kak." "Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu ya, khawatir Abang Umar sedang mencariku." Aku berjalan meninggalkan Aisyah. "Iya Kak." Aku berbalik dan kembali menghampiri Aisyah, "Owh iya, apa kamu sedang menjadi kepala proyek pembangunan rumah sakit? Karena aku sempat melihat kontrak kerja dan ternyata ada nama kamu di sana. Tapi katanya kamu tidak bisa hadir dalam rapat beberapa hari lalu dengan alasan anak kamu sakit." "Iya betul Kak. Maaf aku juga baru tahu belum lama ini dan tidak sempat mengabari Kakak karena kondisi kesehatan Arfa yang sedang kurang sehat." "Memang Arfa sakit apa Aisyah." "Demam, batuk pilek Kak. Tapi karena aku adalah orang tua tungggal, dia menjadi sangat manja dan selalu ingin berada di dekatku kalau sedang kurang sehat." "Tapi sekarang bagaimana keadaan Arfa?" "Alhamdulillah, Arfa sudah sehat Kak. Itu dia sedang bermain dengan Ayah dan Bunda." Aisyah menunjuk ke arah Ayah Bunda. "Alhamdulillah kalau begitu, aku jalan dulu ya." Aku berbalik meninggalkan Aisyah dan berjalan menuju Abang Umar berada. "Kamu dari mana bidadariku?" Bisik Abang Umar. "Tadi aku habis bicara dengan Aisyah Bang." "Aisyah Adik tiri kamu?" Aku mengangguk. Kamipun lanjut menyapa para tamu dan keluarga. Setelah para tamu dan keluarga pulang satu persatu, aku dan Abang Umar bersiap untuk pulang. Perjalanan menuju rumahpun cukup lancar. Sesampainya di rumah, kami segera beres-beres dan istirahat. "Abang, bagaimana hari ini kamu capek kah?" "Lumayan bidadariku, apa ada yang ingin kamu sampaikan?" "Tadi Aisyah datang menghampiriku dan dia mendengar semua pembicaraan kita Bang." Abang Umar membulatkan matanya, "Lalu?" "Dia ingin menjadi rahim pengganti untuk aku Bang. Bagaimana menurut kamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD