"Sekarang, Arfa tidur lagi ya, besok kita akan pergi setelah shalat subuh dan sarapan. Jadi, Arfa akan terlihat segar dan tidak mengantuk saat jalan-jalan nanti." "Iya Tante. Bunda, Ayah, Arfa masuk ke kamar lagi ya, mau lanjut tidur." "Iya sayang." Jawab Aisyah dan Abang Umar bersamaan. Aku melihat ke arah Abang Umar dan Aisyah. Merekapun saling berpandangan dan tersenyum. Perasaan apa ini? Kenapa rasanya pedih sekali. Arfapun kembali masuk ke dalam kamar dan aku berjalan menghampiri Abang Umar. Aku memegang pundak Abang Umar untuk menyadarkannya karena pandangannya yang masih terpaku pada Aisyah. Abang Umar tergagap dan meminta maaf kepadaku. Aku tersenyum tipis dan menggandeng tangan Abang Umar. Aisyah tersenyum dan memberitahukan kamar yang bisa kami tempati untuk istirahat. Aku

