DI kedai kopi rumah sakit, Bianca menenangkan diri sembari berpikir. Dia lupa total doa Bahasa Arab yang dulu diajarkan guru agamanya saat meminta keselamatan. Tuhan, Ya Allah yang Maha Penyayang, aku perempuan berdarah Sunda dan Belanda. Nggak ada setetes pun darah Arab dalam tubuhku. Maka wajar saja kalau aku nggak bisa berdoa pakai bahasa yang negaranya pun belum pernah kudatangi. Tolong jangan marah. Aku akan berdoa menggunakan Bahasa Indonesia. Kumohon selamatkanlah Lithania. Aku percaya Allah Maha Pintar, pasti memahami doaku. Bianca mendesah dalam hati. Apakah Allah akan menganggapnya kurang ajar karena berkata seperti itu dalam doa? Dia terlalu kalut memikirkan nasib Lithania. Tapi sudahlah, lagipula Tuhan maha pemurah, maha pengasih, maha pengampun. Tuhan pasti tahu doanya semat

