"Ayo kuantar pulang." Farid tak dapat lagi menahan keinginannya untuk menghentikan wanita ini.
"Sebentar lagi, Mas. Tanggung." Ratna mengerjapkan matanya yang merah dan berair.
"Kerja memang harus bersungguh-sungguh, tetapi bukan artinya mengabaikan kesehatan. Kalau kamu sakit, maka uangmu tidak akan berguna lagi."
Ratna mempercepat ketikannya di keyboard. Bahan meeting selesai sedikit lagi.
"Ratna," panggil Farid.
"Oke, Mas!" Ratna pun tertawa puas. Akhirnya dia bisa mematikan komputer.
"Mila sudah pulang duluan. Ayo saya antar kamu."
Jam dinding menunjukkan angka sepuluh menit menuju pukul 12 malam.
"Kamu pasti capek sudah bekerja keras," ucap Farid.
"Nggak kok, Mas. Aku malah senang sekali. Oh gini ya rasanya kerja kantoran. Menyenangkan. Ketemu orang baru, dapat pengalaman baru, dapat ilmu baru."
Unik. Jika karyawan lain menggerutu diberi tugas segunung, Ratna malah menunda pulang demi menyelesaikan pekerjaan yang dia buat sendiri. Farid tidak pernah menugaskannya mengadakan seminar. Malah Ratna yang mengajukan usul dan sekarang harus menanggung banyak pekerjaan. Karyawan lain sudah punya job descriptions masing-masing.
"Memangnya saat menikah dulu suamimu nggak mengizinkan kamu kerja?" tanya Farid dalam perjalanan menuju parkiran.
"Dia memintaku untuk jadi ibu rumah tangga dan saya memenuhi keinginannya."
Penjelasan Ratna malah semakin menerbitkan penasaran. Jika Ratna patuh, lantas kenapa mereka bercerai?
"Anakmu sekarang ikut siapa?" tanya Farid mengalihkan pertanyaan ke hal lain.
"Kami nggak punya anak."
Bodoh sekali. Jawaban Ratna memperbesar rasa bersalah Farid. Tadi dia mengalihkan pertanyaan agar tidak keceplosam mengucap, "kenapa kalian bercerai?" dan sekarang Farid malah menggores luka hati Ratna lebih dalam dengan menanyakan anak.
"Maaf." Farid ingin menendang kerikil di depannya untuk menghilangkan kegugupan.
"Nggak pa-pa, Mas. Ambil hikmahnya saja. Saya jadi bisa bekerja di sini kan?" Senyuman lembut Ratna terulas.
Farid membuka pintu mobil. "Kamu betah di kost Mila?"
"Betah, Mas. Orangnya asyik-asyik. Mila juga cukup bersahabat."
"Alhamdulillah." Farid ikut senang mendengarnya. "Dia gibahin saya apa?"
"Mau banget digibahin ya, Mas?" Ratna terkekeh. "Nggak gibah sih, lebih tepatnya khawatir kenapa Mas. Farid nggak nikah-nikah." Ratna menoleh. "Nggak usah buru-buru menikah, Mas. Carilah pasangan yang cocok, jujurlah mengenai apa kesukaan dan apa yang nggak disuka." Ratna hendak menambahkan termasuk urusan seks, tetapi terlalu malu mengatakannya.
"Dasar Mila." Farid membawa mobil keluar dari pelataran butik menuju kosan. Jaraknya tidak jauh, hanya 10 menit berjalan kaki. Hanya saja jalanan lumayan sepi. Farid tidak tega membiarkan Ratna pulang sendirian.
"Mas, acaranya 2 minggu lagi. Saya deg-degan sekali," kata Ratna tiba-tiba.
"Tenang. Semua akan bantuin kamu kok. Ini bukan tanggung jawabmu seorang. Cuma karena kamu antusias banget, yang lain jadi mundur teratur."
"Maaf ya, Mas. Habis menyenangkan sekali sih mengurus ini itu. Aku jadi dapat ilmu baru pas meeting sama Ustazah Nur Rofiqah. Merasa bersalah juga sih, sampai sekarang belum berhijab." Ratna menunduk. "Mas nggak pa-pa kalau ada karyawan yang belum berhijab?"
"Kalau saya memaksamu, nanti kamu membenci Islam. Saya akan sangat berdosa kalau sampai itu terjadi."
Ratna merasa sangat beruntung memiliki atasan pengertian seperti Farid. "Semoga Mas Farid segera mendapat jodoh yang baik ya."
"Amin. Kamu juga ya, Mut."
***
Kegelisahan Ratna semakin menjadi dalam 2 minggu ke depan. Dia sengaja memilih lokasi hotel bintang tiga agar biayanya terjangkau.
Zaitun Collection hanya beriklan via media sosial dan radio. Tidak disangka pengunjungnya membludak, bahkan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan NTB. Semua berkat nama besar Ustazah Nur Rofiqah.
Ibu-ibu dan remaja putri menyimak tausyiah ustazah itu dengan saksama. Beliau menyampaikan pentingnya menjaga aurat tetap tertutup agar tidak mengundang iblis.
Bintang sinetron religi terkenal pun turut memeriahkan seminar saat menceritakan kisah hijrahnya. Betapa penuh cobaan dan mengharukan.
Dampaknya sungguh dahsyat. Stand pameran diserbu pembeli. Model gamis Zaitun Collection sold out. Farid mendatangi Ratna yang tengah melayani pembeli.
"Kamu...." Farid memastikan wanita berhijab cokelat s**u dengan khimar warna peach sungguh Ratna.
"Iya, Mas. Doakan istiqomah ya. Biar saya dan orang tua saya halal mencium wangi surga."
Ceramah sang ustazah menakutkan. Berkali-kali menyebut siksa neraka bagi wanita yang mengumbar lekuk tubuhnya. Mungkin karena itu pula produk Zaitun Collection laris manis. Para wanita takut dengan ancaman api dan besi panas.
"Gue nggak mau lagi ah beli lingerie. Ah, padahal kemarin baru beli keluaran terbaru dari Venusian Lingerie," keluh seorang wanita muda.
"Lho, nggak pa-pa kalau cuma dipakai di kamar. Salah kalau lo pakai ke Monas," sahut temannya.
"Tetap aja sih risih. Lo lihat kan foto-fotonya, pamer aurat semua!"
Farid menggeleng. Wanita kalau sudah bergosip, kejam! Dia melihat juga foto promosi di media sosial Venusian Lingerie. Bianca teramat cantik. Tubuhnya menawan. Farid menundukkan pandangan jika iklan produk dengan Bianca sebagai model berseliweran di media sosial. Meskipun agama melarang, tetapi Farid maklum. Bukankah memang Bianca berjualan lingerie. Setting foto pun selalu kamar tidur, ruang duduk, atau kamar mandi. Tidak pernah sengaja mendemonstrasikan lingerie pantas dipakai berjalan-jalan ke tempat umum.
"Iya juga ya. Bianca Cook cantik banget. Wajar aja kalau foto begitu."
"Baru saja kajiannya selesai, lo sudah lupa sama kata-kata Bu Ustazah. Kiamat sudah dekat."
Tak jauh dari tempat Farid berdiri, beberapa ibu-ibu bergerombol.
"Saya mau unfollow i********: dan sss Venusian Lingerie. Suami saya setiap malam ngeliatin foto-fotonya. Duh, sadar nggak sih sama dosa jariyah ini?"
"Sama, suami saya juga. Duh, Mbak Bianca kan cantik. Semakin cantik mestinya semakin menjaga diri kan, bukannya pamer-pamer begitu?"
"Iya, Muslim bukan ya dia?"
"Kalau dari namanya sih bukan."
Begitulah obrolan terus bergulir. Tampaknya Bianca menjadi bintangnya di sini. Farid jadi kasihan pada Bianca. Dia adalah pengusaha pakaian muslim. Perjuangannya berat saat mendirikan bisnis, tetapi relatif ringan jika dibandingkan Bianca. Lini bisnis mereka sangat berbeda. Orang menganggap Farid pengusaha baik-baik yang patut didukung. Sedangkan Bianca?
"Ada apa sih, Mas?" tegur Ratna yang melihat atasannya melamun.
Farid berjengit, kembali ke alam nyata. "Pastinya saya doakan, Ratna," ucapnya begitu dua bersahabat dan ibu-ibu tadi berlalu.
"TeSusanti kasih."
"Mas! Mut!" Rini berlari sambil melambaikan tangan dari kejauhan. "Dicariin dari tadi nggak tahunya lagi berduaan di sini."
"Kenapa sih?" tanya Farid.
"Barang kita habis, ludes, nggak ada stok," tutur Rini sembari mengatur napas.
"Jadi beneran tinggal yang di sini?" Ratna melirik rak. Hanya tersisa beberapa potong khimar. Ukurannya pun tidak lengkap lagi.
"Iyaaaa. Aku salut sama Kak Mut." Rini mencubit pipi Ratna. "Jago banget strateginya. Belajar di mana sih?"
"Aku cuma suka mengamati kok Rin. Nggak lebih."
Farid menggeleng. "Merendah terus kamu ini. Saya tahu kamu termasuk murid terpandai seangkatanmu, Mut. Nilaimu bagus."
"Waaah... Mas Farid masih ingat sama nilainya Kak Ratna. Uwu sekali. So sweet tahu!" Rini memegangi kedua pipinya dengan heboh. "Kalau kalian menikah, aku dukung!"
Farid menatap Ratna. Menikahi juniornya? Kenapa tidak pernah tebersit dalam benaknya ya?