BAB 5

1015 Words
BIANCA membuka pintu lemari kecil tempatnya menyimpan obat ringan. Kepalanya berdenyut hebat jika berjauhan dengan Albizar. Seks menakjubkan mereka memberikan dampak baik sekaligus buruk. Hei, bukankah hormon cinta memang obat alami paling ampuh? Selain merasa lebih bugar, pipinya bersemu cantik. Di  balik efek baiknya, seks bersama Albizar pun membawa petaka bagi rumah tangga sahabatnya. Ratna bercerai dari Albizar setelah memergoki suami dan sahabatnya saling membakar gairah di kantor! Bianca terngiang wajah penuh amarah dan dendam itu. Persahabatan yang terjalin bertahun-tahun porak-poranda dalam semalam. Bianca memohon maaf, mengirimkan pesan, dan menelepon. Hasilnya, dia malah diblokir. Ratna sangat layak membencinya. “Ibu nggak pa-pa?” tanya Yuni sedikit cemas saat mendapati atasannya sedikit pucat. “Pusing sedikit, cuma karena lupa makan aja. Arman semangat banget jelasin rancangannya.” Bianca mencoba tersenyum. “Apa saya perlu bilang sama Mas Arman untuk nunda meeting?” “Jangan, nggak professional banget. Sebentar lagi pusing saya sembuh.” “Kalau begitu kami tunggu di ruangan ya, Bu.” Yuni mendorong pintu lalu keluar setelah Bianca mengangguk. Bianca meneguk obatnya dibantu segelas air. Udara AC dingin sekali. Dia merapatkan cardigan menutupi tubuhnya. Bianca sudah akan masuk ke ruang meeting ketika ponsel yang dia genggam bergetar. Begitulah atas nama profesionalitas, Bianca hanya menyetel ponselnya dalam mode getar selama meeting dengan Arman, desainer lingerie sekaligus kawan lamanya. Baginya membiarkan ponsel berdering aktif bertentangan dengan tindakan profesional dan tidak menghormati lawan bicara. Senyum Bianca terkembang melihat siapa yang menelepon.  [Jangan terlalu memikirkanku sampai sakit kepala.] Mata Bianca membelalak. “Gimana kamu bisa tahu?” [Begitulah cinta, rasanya hati dan pikiran selalu terhubung.] Satu erangan jijik lolos dari mulut Bianca. Bisa-bisanya Albizar gombal. Laki-laki itu terkesan dingin sejak zaman kuliah. Sampai bertahun-tahun kemudian pun, sikap dinginnya bertahan, seakan hatinya membeku. Kalau sekarang Albizar menggombal, artinya ada yang salah. “Aku mau lanjut meeting. Kamu jangan lupa makan.” Bianca yang biasanya tidak terlalu peduli dengan jam makan siangnya sendiri malah mengingatkan orang lain untuk makan siang. [Aku nggak bisa makan siang. Ratna belum ketemu. Aku khawatir sama dia.] Nama itu lagi, mengoyak hati Bianca, memperbesar rasa bersalahnya. Parahnya, Albizar mengatakannya enteng sekali. Dari luar Bianca memang berbeda dari perempuan lain yang memicu perdebatan, mengungkapkan kerinduan secara terang-terangan. Bagi Bianca, tindakan demikian sangat kekanakan. Dia menghindari drama meskipun terbakar cemburu.  "Ham, udah dulu ya. Aku mau lanjut meeting. Ada produk baru yang mesti diluncurkan." Bianca mengeklik ikon merah tanpa menunggu jawaban Albizar.  *** Peluncuran produk baru Venusian Lingerie selalu ditunggu-tunggu penggemar fanatiknya. Perempuan Indonesia semakin berani mengekspresikan apa yang disukai dan ingin dikenakan, terutama perempuan di kota besar.  Farid menggulir jemari di layar ponsel. Scarlett from Venusian Lingerie memenuhi laman i********: dan f*******:. Membaca nama Dewi Cinta dan Kecantikan Romawi kuno yang dijadikan merek pakaian dalam, otomatis otak Farid menghubungkannya dengan Bianca. Baru saja memikirkannya, foto wanita yang dia temui di seminar IPFI muncul. Jantungnya berdesir memandangi tubuh sintal berbalut night gown merah marun transparan.  "Astagfirullahaladzim." Farid buru-buru mengeklik tanda silang di pojok kanan laman.  "Kenapa hayo!" Rini, karyawan Zaitun Collection yang bertanggung jawab di bidang promosi cengar-cengir dekat pintu. Dia tidak sendiri, Ratna yang baru tiga hari masuk kerja ada bersamanya.  "Ada cabe di gigi kamu." Farid menunjuk gigi seri atas Rini.  "Aduh! Tadi habis makan tongkol cabe." Rini menutup mulutnya lalu kabur ke toilet untuk membersihkannya.  Ratna tersenyum simpul. Wanita ini sudah janda, akan tetapi sikapnya masih menyerupai gadis SMA. Perawakannya teramat rapuh, membangkitkan naluri iba Farid untuk melindunginya. Farid mempersilakan Ratna duduk melalui isyarat tangannya. "Gimana tiga hari kerja? Apa kamu betah?" "Betah, Pak. Semua baik sama saya." "Aku cuma setahun di atasmu, jangan panggil Bapak. Kamu bisa panggil aku Kak atau Mas seperti Mila dan Rini." Ratna terlihat sangat canggung. Jari-jarinya tertaut di atas lutut. "Baik, Mas."  "Jadi ada perlu apa kamu ke sini?" "Saya kepikiran bagaimana jika Zaitun Collection mengadakan seminar terkait busana Muslim? Betapa penting menutup aurat dengan busana syari. Selain bermanfaat dari segi agama, juga bisa untuk sarana promosi." Mata redup Ratna terlihat berapi-api saat menjelaskan. Farid terpesona. Bagaimana bisa sorot sayu dan malu-malunya hilang?  "Menarik juga idemu. Lanjutkan." "Undang seleb t****k atau orang yang sedang viral," sahut Ratna. "Kita bisa undang salah satu pemain sinetron religi yang sedang booming. Juga mengadakan semacam bazar. Sekian persen dari pendapat pakaian yang terjual akan kita sumbangkan." Farid termenung memikirkan ide Ratna yang tak disangka. "Apa kamu sudah memikirkan cara membayar mereka?" "Dari gaji saya. Potong saja, Mas." Farid terperangah dengan usul Ratna yang menurutnya tidak masuk akal. Wanita ini begitu bersemangat. Apa yang merasukinya?  "Kalau masih kurang, akan saya cicil separuh pengeluaran atau bayaran si artis." Farid masih tidak dapat berkata-kata. Keuangan butik dapat dikatakan sehat meskipun tidak melimpah. Membayar selebritis online dapat dipastikan menimbulkan defisit.  "Mas, promosi itu penting loh," lanjut Ratna lembut.  Kata siapa perempuan adalah makhluk lemah? Buktinya mereka dapat merayu laki-laki sampai merasa bersalah jika tidak menuruti.  Farid ingin menguji coba ide Ratna. Dia terlalu nyaman bergelung di zona tanpa tantangan. Belakangan bisnisnya memang tenang tanpa gelombang. Insting bisnis Farid mengatakan inilah saat yang tepat melakukan gebrakan. "Oke, kita akan coba. Kamu yang akan menjadi pengurusnya. Apakah dua bulan cukup?" "Saya akan berusaha sebaik mungkin. Mohon bimbingannya, Mas," tutur Ratna gembira.  Kegembiraan adik kelasnya ini menular. Farid pun ikut tertawa merasakan antusiasme Ratna.  "Tiga bulan lagi Zaitun Collection merayakan hari jadi ke-lima. Apa kamu bisa menyesuaikan dengan jadwal seminar?" "Siap, Pak! Eh, Mas." Ratna menjawab segera. Farid menyaksikan sendiri betapa kerasnya Ratna bekerja. Menghubungi narasumber, ustaz, ustazah, selebritis, bertanya pada banyak orang. Saat SMA, Ratna terkenal gadis introvert. Terlalu ringkih dan sering pingsan. Pada jam pelajaran olahraga pun Ratna lebih sering duduk di pinggir lapangan, menonton temannya bermain basket.  Sependek ingatan Farid, Ratna jarang tersenyum dan bergaul. Melihat Ratna berjalan ke sana-kemari dengan kecepatan tinggi karena mengejar jadwal meeting dengan berbagai pihak, merupakan pemandangan aneh sekaligus menyenangkan. Tidak jarang wanita itu berada di kantor sampai larut malam mempersiapkan bahan rapat dengan klien, seperti malam ini.  Farid tegak di ambang pintu mengawasi setiap gerak-gerik Ratna. Cangkir kopi keempatnya nyaris tandas. Ratna mengurut lehernya yang pegal. Bagaimana tidak, empat jam nonstop dia menatap layar komputer. Tak hanya itu, Ratna menguap. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD