PERCAKAPAN Farid dengan Ratna bukanlah percakapan mengesankan, justru menusuk hatinya. Emosi wanita itu begitu kuat sampai dapat dirasakan semua orang terdekat. Kenapa matanya begitu sedih? Kenapa menyimpan banyak sekali duka? Dalam perjalanan menuju Jakarta, Farid merenung. Itu bukan kesedihan biasa, tetapi penuh luka dan dendam. Berbeda dengan kesedihan saat ibunya dahulu ditinggal sang ayah. Dukanya tidak berselubung amarah. Bukankah Ratna sudah menikah? Jangan-jangan ada masalah dengan pernikahannya.
Farid menggeleng, mengusir rasa keingin tahuan yang menurutnya kelewat batas. Apakah sikap cueknya akan urusan pribadi orang lain ini salah? Apakah karena ini dia jadi melajang, lantaran terlalu cuek? Farid dan kakak perempuannya, Wening dibesarkan di bawah satu atap, makan nasi dari dandang yang sama, tetapi orang tuanya mendidik secara Islami. Artinya, mereka dilarang membicarakan keburukan sesama, sebab diibaratkan seperti memakan bangkai saudara.
Mobil Farid tiba di rest area. Beberapa saat bersandar di badan mobil, menghadap ke barat. Matahari terbenam di balik Gunung Ungaran memulas warna angkasa jingga. Azan memanggil umat Nabi Muhammad untuk mendirikan salat magrib.
Keluar dari musala, Farid membeli camilan dan air mineral sebagai pengganjal perut. Hidup melajang ada enaknya, bebas drama, bebas dari mulut cerewet. Artinya, tidak ada yang memperhatikan atau menyarankan ini itu. Sambil menyupir, dia menggigit roti keju.
Tepat tengah malam Farid baru memasuki kawasan Jakarta. Perlu waktu satu jam lagi untuk menuju townhouse sewaan di perbatasan Jakarta dengan Bogor. Farid memiliki tanah cukup luas dekat butik, hasil keringat dari jualan pakaian Muslim yang ditekuni sejak masa kuliah. Tanah itu belum dibangunnya. Niatnya mau menyesuaikan dengan keinginan istrinya kelak.
Sunyi. Farid terbiasa dengan derap langkahnya berbaur kerik jangkrik di sepetak halaman. Jomblo merasa biasa-biasa saja dengan kesendirian. Malah bahagia karena bebas melakukan apa saja, meskipun terkadang kesepian. Perasaan itu diatasinya dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Tabungan Farid sangat cukup untuk menikah dan umrah. Justru orang lain yang prihatin, termasuk para karyawannya. Mila pernah menceletuk bahwa isi rumah Farid sudah lengkap, cuma kurang istri.
Kunci pintu depan diputar sampai terbuka. Farid meraba dinding mencari saklar. Begitu lampu menyala, Farid mendudukkan badan di atas sofa untuk melepas kaus kaki. Ponsel Farid meraung. Rupanya sang Bunda menelepon.
"Assalamualaikum," salam Farid, tak pernah lupa menerapkan ajaran Bunda dan Ayah.
[Walaikumsalam. Kamu sudah makan?]
"Sudah terlalu malam, Bun. Mau mandi lalu tidur. Bunda kok belum tidur?"
[Bunda mana bisa tidur, mikirin kamu sudah sampai mana. Mestinya istrimu yang ngingetin, yang perhatian sama kamu.]
"Saya bukan anak kecil, Bund. Tadi di acara reuni sudah makan soto lamongan."
[Makan ayam terus, kapan makan sayur?]
"Inggih, Bun, tapi ini ayamnya ayam kampung." Farid membela diri.
[Kamu ini. Lagian kenapa sih kamu harus cepat-cepat pulang ke Jakarta? Sudah lama kamu ndak pulang, sekalinya pulang sebentar tenanan tho, Le.]
"Saya nggak bisa lama-lama, Bun. Sherly besok sudah berhenti kerja. Jadi Farid harus mulai cari karyawan pengganti."
[Kamu takut ditanyain perihal menikah lagi ya?]
Agama yang dianutnya mengajurkan pemeluknya untuk berumah tangga. Menikah, melakukan ibadah paling enak kata teman-temannya. Maka, alasan Farid meninggalkan Rima yang masih rindu tentu bukan itu.
"Tidak kok, Bun. Saya mau menikah suatu saat."
[Barangkali jodohmu masih nyangkut di tempat lain. Kamu usaha terus, Le.]
Farid tersenyum mendengar celotehan ibunda tercinta. "Iya, Bun."
[Makan yang sehat, istirahat yang cukup. Menikahlah, biar Bunda nggak kepikiran kamu terus.]
“Iya, Bun. Doakan saja yang terbaik.”
Farid menatap nanar pada layar ponsel. Terkadang, kesendirian juga membuatnya berpikir untuk mencari pasangan. Akan sangat menyenangkan ketika makan ditemani seseorang yang kita cintai. Ada yang sudah menyiapkan teh serta sarapan setiap bangun tidur. Tidak lupa mengucapkan selamat pagi dengan manis. Namun, dia juga sadar. Pernikahan tidak selalu seindah cerita di negeri dongeng.
Kakak pertamanya sering kabur ke rumah di awal pernikahan. Syukurlah sekarang mereka tampak sudah lebih tenteram. Terlebih ketika mempunyai buah hati. Masing-masing tahu kapan waktunya untuk mengalah demi anak tercinta.
***
Punggung Farid sakit akibat berkendara dari ujung timur Pulau Jawa sampai hampir ke barat. Jadilah dia merebahkan diri di ranjang sambil melihat grup reuni pada w******p. Pasti ulah Budi. Nomornya tahu-tahu ada di sana. Dari sekian banyak chat yang belum terbaca ada satu pesan menarik perhatiannya. Nomor tersebut belum dia simpan di kontak, tapi nama pemiliknya terlihat Ratna Widjati.
Teman-teman, kalau ada yang punya loker, tolong kabari ya.
Ratna kelihatan sangat butuh pekerjaan. Salah, dia pasti butuh uang, karena sejatinya orang yang minta pekerjaan sedang butuh uang tetapi malu mengemis. Maka Farid pun mengirimkan pesan pribadi langsung ke nomernya.
Farid Kamajaya:
Kamu serius ingin mencari pekerjaan?
Ratna mengirim emot tersenyum melihat kembali membalas.
Ratna Widjati:
Apa saja, Kak, yang penting halal.
Farid Kamajaya:
Apa sudah minta izin suamimu? Bukankah kamu sudah menikah?
Ratna Widjati:
Sudah nggak perlu izin suami kok.
Farid Kamajaya:
Nggak boleh gitu. Ridho suami adalah penting.
Ratna Widjati:
Tidak ada kewajiban untuk memberitahu suami untuk orang yang sudah tidak bersuami bukan?
Aku harus meminta izin pada suami siapa agar ridho?
Seketika Farid jadi merasa tidak enak. Orang tuanya tidak pernah mengajarinya untuk menceramahi orang lain. Apa haknya? Baiklah, kesalahan ini harus segera diluruskan.
Farid Kamajaya:
Maaf, aku tidak tahu. Kupikir kamu masih bersama suamimu.
Ratna Widjati:
Tidak masalah. Jadi, apa Kakak mau menawarkan pekerjaan?
Farid Kamajaya:
Aku sedang mencari karyawan untuk butikku. Kalau kamu pernah mendengar merek Sabyan Collection, itu adalah butikku. Karyawan lamaku baru saja mengundurkan diri karena telah menikah dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Kamu bisa menjadi admin yang mengurus semua sosial media milik Sabyan Collection. Kamu hanya perlu duduk di depan komputer kantor untuk memantau dan membalas beberapa pertanyaan yang konsumen ajukan. Gimana?
Ratna Widjati:
Aku rasa aku bisa melakukannya. Aku bisa mencobanya. Kedengarannya tidak cukup sulit. Apakah aku harus ke Jakarta?
Farid Kamajaya:
Tentu saja, kantorku di Jakarta.
Ratna Widjati:
Baiklah, lusa aku akan kembali ke Jakarta.
Farid Kamajaya:
Oke.
Apa kamu sudah punya tempat tinggal?
Ratna Widjati:
Belum. Kakak punya infromasi tempat tinggal?
Farid Kamajaya:
Nanti aku tanya ke Mila. Karyawanku. Dia juga tinggal di kostan.
Pesan WhatApps terakhir dari Ratna adalah terima kasih. Farid menyandarkan kepala di bantal. Akhirnya dia tidak perlu susah-susah mencari dan menyeeleksi orang yang tidak dikenal untuk menggantikan Sherly. Farid menguap. Kelopak matanya memberat, lalu jatuh.