PERTEMUAN singkat dengan Bianca sedikit membekas di benak Farid. Wanita yang cantik, cerdas, dan kuat. Sedikit banyak ada kemiripan dengan Bundanya yang membanting tulang untuk menafkahi dua anaknya pasca berpulangnya Ayahanda Farid. Akan tetapi Farid tidak mencari-carinya meskipun mendapatkan fakta dari Fatimah bahwa Bianca masih sendiri.
Farid tak pernah punya waktu memikirkan cinta. Dia terlalu mencintai pekerjaannya melebihi apa pun. Maka, tidak ada pilihan selain kembali melakukan rutinitas. Menemui perancang, menemui penjahit, mengecek laporan keuangan, melobi pihak lain agar mau menjadi reseller produk Sabian Collection.
Sore itu sepulang dari Bandung menemui penjahit konveksi langganannya, Farid iseng membuka f*******: pribadi. Dia lebih sering mengunggah produk ke f*******: perusahaan. Hasilnya lumayan, berkat sss ads. Kaum emak-emak suka berselancar di sana.
Banyak sekali notifikasi saking terlalu lamanya tidak dibuka. Farid mengecek satu persatu. Rata-rata permintaan pertemanan. Sebentar. Matanya mulai terfokus pada satu akun. Alumni SMA-nya mengundang ke acara reuni. Bertempat di restoran milik Ariani Ramlan, junior di bawah Farid setahun. Dengar-dengar dia dinikahi pengusaha yang mengekspor produk kulit ke Eropa. Suaminya memodali Ariani mendirikan restoran tak jauh dari Jalan Taman Sampoerna.
Punggung Farid bersandar di kursi, menimbang-nimbang haruskah bergabung dengan teman-temannya? Ketika asyik berpikir, ponselnya bergetar. Satu nomer tidak dikenal mengirimkan pesan.
+6281 7896 xxxx xxxx
Masbro, awakmu kelingan aku po ra? Budianto.
Nama pasaran. Hanya satu kata pula. Mau menjawab tidak, nanti dikira sombong. Kenapa sih orang suka berteka-teki? Farid mencoba peruntungan.
Farid Kamajaya:
Budi sing kanca sak kelase Ariani?
+6281 7896 xxxx xxxx:
Iya, betul Masbro. Piye kabare?
Farid mengelus d**a. Syukurlah tebakannya benar. Ingatannya akan Budianto samar-samar saja. Farid jarang bergaul dengan adik kelas. Kemungkinan besar Budianto dulu berpenampilan biasa saja. Bukan anak yang akan diingat guru karena terlalu pintar atau terlalu bodoh. Pastinya juga bukan jenis siswa langganan kena hukum.
Farid Kamajaya:
Baik. Kabarmu gimana?
+6281 7896 xxxx xxxx:
Kudengar Masbro jadi pengusaha sukses.
Farid menggaruk belakang kepalanya. Kabar dari mana pula? Benar dia membuka bisnis, kecil-kecilan saja. Sabian Collection belum dapat dikatakan sukses. Saingannya masih banyak. Pangsa pasar yang terlayani belum sampai 2%.
Farid Kamajaya:
Jauhlah, Bro kalau dibilang sukses. Aminkan saja.
Farid kemudian menyimpan nomer Budi ke kontak w******p. Kini nama dan foto profilnya terpampang. Rupanya Budi menyukai ikan cupang. Atau mungkin berdagang cupang? Sebab dia memajang foto ikan biru elektrik yang berekor dan bersirip indah itu.
Budianto:
Aku tertarik sama bisnismu. Boleh nggak kalau kerjasama?
Farid Kamajaya:
Kerjasama gimana, Bro?
Budianto:
Jual saham po ra, Masbro? Prospeknya bagus lho bisnis sampeyan.
Farid Kamajaya:
Iso wae, Bro.
Budianto:
Sungguh lho ini. Masbro datang ke reunian di restorannya Ariani minggu ngarep tho? Awake dhewe ketemu lah.
Farid berpikir-bikir. Tidak ada ruginya dicoba. Siapa tahu memang dia membutuhkan dana suatu hari kan? Sekarang pun butuh untuk memperluas sayap bisnisnya.
Farid Kamajaya:
Sip, Bro. Sampai ketemu.
***
Dari yang tidak niat mau datang sampai harus datang lantaran tawaran menggiurkan dari Budi, Farid menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya saat tengah malam. Hanya tidur 2 jam saja lalu lanjut menyopir lagi.
"Farid! Aduh, Le.... Kok ndak bilang mau datang?" Susanti, Ibunda Farid tergopoh-gopoh menyambut.
Farid langsung mencium punggung tangan Bundanya. Farid memiliki satu kakak perempuan bernama Wening yang sudah menikah dan pindah bersama suaminya. Praktis Susanti tinggal sendiri.
"Mendadak, Bu. Ada undangan reuni SMA."
"Oh, gitu. Coba kalau kamu bilang mau datang, Ibu kan masak soto ceker kesukaanmu." Susanti kemudian celingukan mencari sesuatu atau seseorang?
"Cari apa, bu?"
"Mana calonmu?"
Nah, ini dia salah satu alasan Farid pulang ke Surabaya diam-diam. Malas diinterogasi. Farid pun melepas sepatu, menyelipkan kaus kaki ke dalamnya lalu beranjak ke ruang tamu.
"Tahun depan usiamu 30, Wid. Ingat kan? Mau sampai kapan kamu sendiri terus?" Nada Susanti sarat akan kekhawatiran. Putranya tidak buruk rupa, punya usaha pula. Kurang apa sih untuk berumah tangga?
"Pernikahan adalah penyempurna separuh agama. Asalkan calonmu agamanya bagus, soleha, Bunda merestui. Nggak perlu cari yang gimana-gimana." Belum sempat Farid menjawab, Susanti sudah meberondong dengan lanjutan kalimat lagi.
"Mau cari yang gimana-gimana, Bu? Cari yang biasa saja juga nggak ada yang mau." Farid kemudian merebahkan diri di sofa. Bokongnya terasa panas setelah menyetir semalaman sampai matahari terbit.
"Yo wis, kamu tidur dulu, istirahat. Nanti kita obrolin lagi soal calonmu."
Namun, Farid keterusan tidur sampai pukul 12 siang, waktu reuni SMA dijadwalkan digelar. Alarm ponselnyalah yang membangunkannya dari alam mimpi. Padahal dia tengah berada di atas podium meneSusanti penghargaan sebagai pengusaha tersukses tahun ini. Farid bangun, mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia menyempatkan salat asar dahulu. Ambil wudhu sekalian cuci muka.
"Lho, sudah mau pergi lagi?" tegur Susanti ketika Farid menyisir rapi rambutnya sehabis salat.
"Mau ke acara reuni."
"Ke sini cuma sebentar. Bunda ditinggal tidur!" Susanti mengomel tak teSusanti.
"Bunda...." Farid meraih tangan Susanti, membawa ke kening. "Saya sekalian cari calon istri lho. Siapa tahu ketemu."
Kemarahan Susanti pun berkurang. "Benar? Nanti pulang bawa calon istri?"
"Amin, Bun. Kalau memang jodoh, pasti didekatkan sama Tuhan kan?"
Dengan berat hati, Susanti mengantar putra bungsu dan satu-satunya menuju mobil. Betapa bangga pada Farid. Tidak percuma merantau ke ibukota sebab kisah suksesnya sampai ke tetangga-tetangga. Bahkan beberapa di antara mereka menjadi reseller produk Sabian Collection.
"Hati-hati, Wid." Susanti melambaikan tangan melepas putranya.
"Saya langsung balik ke Jakarta ya, Bun. Kalau ada libur panjang, saya ke sini lagi." Farid membalas lambaian tangan keriput sang Bunda
***
Mobil Farid tiba di pelataran sebuah restoran yang terkenal di kalangan pejabat. Mengadaptasi bentuk limas dari rumah joglo, dari luar restoran saja sudah terasa kental nuansa Jawa. Foto hitam putih kawasan ikonik Surabaya terpajang di dinding-dindingnya. Rupanya Ariani ingin menyuguhkan suasana Jawa modern. Berfokus pada hidangan khas Jawa Timur, Ariani menyasar pangsa pasar wisatawan baik domestik maupun internasional. Oleh sebab itu, Ariani gencar berpromosi memperkenalkan restoran meski suaminya tak menuntut apa pun. Hanya ingin Ariani punya kesibukan daripada hanya arisan atau nonton drama Korea.
Farid kurang familiar dengan wajah-wajah di sana. Namun, tangan menyentuh punggungnya disertai suara seorang laki-laki yang berkata, "Masbro!"
"Budi?" Farid memperhatikan laki-laki sedikit kurus dan kurang tinggi di hadapannya.
"Iya. Sini, sini, kita ngobrol."
Budi memperkenalkan Farid pada teman-teman satu angkatannya. Kebanyakan Farid ingat. Ada Beni si pembuat onar yang rupanya jadi polisi. Ada Fiad si anak pintar yang sekarang jadi staf di DPR RI. Banyak lagi lainnya. Mereka membicarakan bisnis lalu mengenang masa sekolah sambil menyantap hidangan khas Jawa Timur.
Farid izin ke toilet sebentar. Percakapan tetap bergulir di belakangnya. Intinya Farid belum tertarik pada tawaran Budi untuk membeli 40% saham Sabian Collection. Bisa-bisa nanti dia diatur-atur kan? Sekeluarnya dari toilet, Farid memutuskan duduk di teras. Sesosok wanita menyendiri dengan tatapan terarah lurus ke taman.
"Boleh gabung?" tanya Farid, merasa mengenal wanita ini.
Wanita yang dipanggilnya terlonjak padahal Farid tidak berteriak.
"Maaf, kaget ya?" Farid terkekeh.
"Kak Farid?" tanya wanita itu tak yakin.
"Sebentar, sepertinya kita saling kenal." Farid menyilangkan tangan di depan d**a.
"Kakak dulu menolongku saat pingsan di lapangan." Wanita itu berbisik malu. "Aku ingat. Kamu sekelas di bawahku kan?"
Wanita itu melenggut. "Iya, nggak pernah. Aku Ratna kalau kakak lupa."
Farid mengangguk. Akhirnya ada orang yang mau mengajaknya bicara bukan karena melihat uang atau bisnisnya.
"Seingatku, Kakak setahun di atasku. Reuni untuk angkatanku saja."
"Aku diajak Budi. Dia mau membeli 40% saham usaha fashionku. Kamu kenal Budi kan?"
Ratna mengangguk pelan. "Usaha apa?"
"Aku buka usaha busana muslim perempuan. Menjual gamis, hijab, dan sejenisnya."
"Gimana dunia fashion?"
"Pemainnya sudah banyak. Bisa dibilang mulai jenuh, menuju red ocean. Pengusaha baru mesti pintar mencai celah. Entah harga yang bersahabat atau model yang unik. Waktu aku ke seminar Ikatan Pengusaha Fashion Indonesia, ketemu rekan-rekan seperjuangan. Ada satu yang lagi naik daun. Bianca Cook. Kamu pernah dengar?"
Ratna menggeleng. Jujur saja Farid kasihan melihatnya. Wanita ini tampak sama rapuhnya dengan saat SMA dulu. Teman-temannya sudah banyak berubah, hanya Ratna yang sama saja.
"Dia pengusaha lingerie. Aku kagum karena baru tiga tahun berjalan secara online, perkembangannya lumayan pesat. Aku sampai terpikir mau banting setir usaha lingerie saja yang pemain lokalnya belum banyak. "
"Busana muslim bagus, Kak. Jauh dari hujatan." Ratna seperti membelanya. Farid jadi tersenyum dibuatnya. "Usaha Kakak ada di mana?"
"Aku hijrah ke Jakarta selepas SMA. Sambil kuliah sambil mulai usaha kecil-kecilan. Sempat bangkrut beberapa kali. Bisnis busana muslimah tampaknya cocok buatku. Nggak susah memasarkannya."
Sesungguhnya Farid mencari karyawan baru untuk menggantikan salah satu karyawannya yang mengundurkan diri.
"Kamu sendiri sibuk apa?" tanya Farid balik.
"Aku pengangguran. Sekarang aku sedang cari pekerjaan, tapi nggak ada yang mau menerimaku."
"Sebenarnya karyawanku ada yang mau mengundurkan diri. Aku akan mencari pengganti dalam waktu dekat."
"Aku mau," sambar Ratna cepat sebelum Farid berubah pikiran.
"Kamu mau? Yakin?"
Ratna mengangguk. Dia paham dasar-dasar akuntansi. Sedikit lupa tapi kalau belajar sedikit masih bisa menyegarkan memori.
"Aku sudah sebulan ini mencari kerja tetapi belum berhasil. Aku nggak enak merepotkan orang tuaku, Kak."
"Aku pertimbangkan, Rat. Tetapi aku nggak bisa menjanjikan apa-apa karena kantorku masih kecil. Belum sebesar butik busana muslim lainnya."
Ratna mengangguk. Senyum samarnya yang misterius itu memikat Farid. Sejak SMA sesungguhnya dia sering mengamati gadis penyendiri ini. Tak menyangka akan bertemu di sini.
***