BAB 2

1114 Words
PARA pengusaha menyesaki ballroom hotel. Bianca seakan tersesat dalam pusaran yang tidak dikenali. Rupanya dia terlalu sibuk bekerja sampai lupa bergaul. Wajah-wajah terasa asing di ruangan elegan nan mewah. Alih-alih mencari kenalan, Bianca malah asyik mengagumi betapa elegan ruangan mewah ini. Fatimah Sumarsono turun tangan sendiri mengawasi dekorasi sampai pemilihan bunga. Bunga krisan aneka warna dalam vas menghiasi setiap meja. "Ibu Bianca Cook?" Salah satu panitia mengenali Bianca yang berdiri didampingi Gita. "Iya." "Silakan, ke sebelah sini." Bianca mendapatkan mejanya sendiri. Mata semua laki-laki sehat tertuju pada Bianca saat memasuki ruangan. Gaun satin selutut berwarna merah muda yang dijahit menyatu dengan bahan lace, juga kerah cape unik yang digunting melingkar menutupi sebagian lengan dan d**a itu sangat pas membungkus tubuh sintalnya. Rambut gelombangnya telah ditata rapi dan sederhana. Kedua sisinya disatukan di belakang tekuk, lalu dihiasi dengan jepitan cantik. "Hai, ketemu lagi," sapa laki-laki di restoran tadi. Dia masih mengenakan T-shirt polos biru gelap, dilapisi blazer semi formal dan celana jins. "Terima kasih rekomendasinya. Gurame asam manisnya enak." Farid tersenyum senang. Selain berbakat di dunia fashion rupanya lidahnya juga lumayan bagus dalam merasakan. "Kita belum kenalan." Bianca mengulurkan tangan. Buru-buru Farid menyambutnya. "Farid Kamajaya dari Sabian Collection." "Bianca Cook." "CEO Aphrodite Lingerie?" Meskipun baru kali ini bertemu muka, nama Bianca sering diperbincangkan pengusaha fashion. Farid pun sejak lama bertanya-tanya apakah foto di media sosial sungguh asli atau editan. Sekarang keingin tahuannya terjawab. "Ya?" Bianca sedikit terkejut mengetahui lelaki itu tahu tentang bisnisnya. "Produk Anda banyak dibicarakan belakangan ini," puji Farid. Bianca agak tidak percaya mendengarnya. Apakah perusahannya seterkenal itu? "Terima kasih," jawab Bianca. "Apa Anda keberatan memberi tahu rahasianya?" Farid menumpuk kedua tangannya di meja. Secara kebetulan mereka duduk bersebelahan. "Sepertinya sama saja dengan kebanyakan pengusaha lain, tidak ada rahasia." Bianca membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya. "Kalau saya jawab kerja keras dan inovasi apakah Anda akan meneSusanti?" Farid mengangguk setuju, laki-laki itu menyimak dengan serius. Dia suka mendengar sesama pengusaha berbagi kesuksesan. Dia pun tidak keberatan membisiki pengalamannya jika ada yang bertanya. Sebenarnya, ide bisa didapatkan dari mana saja, tetapi kesuksesan tergantung bagaimana eksekusinya. "Kesuksesan nggak jatuh mendadak dari langit kan? Saya percaya Anda pastinya mengalami kegagalan, saya pun begitu. Namun saya mencoba terus. Yang penting, jangan pernah menyerah untuk promosi meskipun saat ini kelihatannya belum menghasilkan." "Untuk yang terakhir saya sangat setuju. Kunci segalanya adalah promosi, orang tidak akan tahu apa yang kita miliki jika tidak menunjukannya." Farid meraih gelas berisi air putih yang telah disediakan. "Bagaimana dengan bisnis Anda sendiri?" Bianca menatap teman barunya. Farid jelas sekali menjaga jarak meskipun tetap ingin kelihatan tidak canggung. "Bisnis saya bergerak di lini pakaian muslim. Awalnya khusus untuk muslimah. Ada gamis, kerudung, khimar, dan manset. Belakangan permintaan akan pakaian pria muslim pun bertambah pesat. Saya anggap peluang ini baik untuk diambil. Syukurlah banyak pengusaha senior mau saya serap ilmunya." Bianca segera menyukai kepribadian Farid. Ramah, terbuka, tetapi tetap sopan. "Kalau mau sukses memang harus mengambil semua peluang yang ada kan?" Farid mengangguk. Tak lama kemudian meja mereka kembali dihampiri orang tak terduga. Sumarsono bersama sang Istri – yang Bianca duga istri kedua – dan putri mereka yang baru menginjak usia remaja. Bianca dan Farid berdiri menjabat tangan mereka. "Wah, akhirnya saya bisa ketemu Mbak Bianca. Ternyata memang aslinya cantik," sanjung Fatimah Sumarsono. Farid tersenyum menyepakati pujian Fatimah. Orang Indonesia terkenal suka berbasa-basi, bahkan terkadang berbohong demi menyenangkan lawan bicara. Namun, sanjungan Fatimah terhadap Bianca bukanlah kebohongan. "Saya juga tidak menyangka akan diundang ke acara luar biasa ini. Terima kasih banyak sudah memberi saya kesempatan." Bianca mengambil bunga krisan dari vas. "Saya suka selera Ibu. Bunganya cantik dan segar." "Saya ada kenalan petani bunga dari Bandung. Saya ajak saja jadi penyedia untuk acara ini." Farid menyimak saja. Bahasa tubuh Bianca terlalu sayang untuk dilewatkan. Caranya mengibaskan tangan dan tertawa sungguh sangat adiktif. "Pak Farid, Mbak Bianca masih single lho." Fatimah berpromosi. "Oh ya?" Farid agak terkejut mendengarnya. Mungkin laki-laki di luar sana terkena katarak sampai tak bisa melihat kecantikan fisik nan hakiki. "Mbak Bianca sepertinya terlalu asyik bekerja sampai lupa pacaran," lanjut Fatimah. "Terkadang hubungan asmara melelahkan," ucap Bianca dengan pikiran mengawang teringat laki-laki yang dicintainya. Dia rindu. Dia harus membunuh kerinduan tak patut itu. "Tetapi menikah bikin rezeki mengalir dan berkah lho, Mbak." Fatimah menegur secara halus, mengingatkan agar Bianca tidak melupakan perintah agama. "Enakan dinafkahi seperti saya." "Sepertinya Bianca bukan tipe wanita yang betah menunggu pemberian suami. Nanti akan ada laki-laki yang menyukainya, percayalah." Farid membela. Bianca menatap Farid penuh rasa teSusanti kasih. Dunianya berbeda dengan Fatimah yang cukup puas menjadi pendamping suami. Bianca ingin punya eksistensi sendiri, bukan hanya pelayan di ranjang. "Acaranya mau dimulai." Fatimah menyenggol lengan Bianca. Setelah dipersilakan MC, Muhammad Sumarsono naik ke podium untuk menyampaikan kata sambutan. Tepuk tangan membahana. Fatimah tampak bangga pada suaminya. "Selamat sore dan selamat datang kepada para pengusaha fashion Indonesia," tutur Sumarsono di atas panggung. Bianca mencari keberadaan Gita untuk memastikan gadis itu mengingat tugasnya untuk merekam acara dengan handycam yang dia bawa. Jantung Bianca nyaris berpindah ke perut saat manik matanya bersirobok dengan manik mata yang begitu familiar. Tatapan laki-laki di seberang sana tampak memuja. Mendamba. Merindu. Gila, ini tidak bisa dibiarkan. Albizar adalah milik Ratna, sahabat sejak kuliah. Farid berusaha menyimak kata-kata Muhammad Sumarsono, akan tetapi dia menyadari teman semejanya gelisah. Farid mengikuti arah pandang Bianca. "Apa laki-laki itu mengganggumu?" tanya Farid. "A-apa?" Bianca tergeragap. "Anda kenal laki-laki itu?" Bianca dilema haruskah jujur atau berbohong. Dia tidak dapat segera menjawabnya, tetapi Farid menunggunya. "Saya bisa panggilkan sekuriti," kata Farid. "Nggak perlu. Saya kenal dia." "Baiklah kalau begitu." Farid kembali fokus ke podium. Bianca ingin mengikuti Farid, tetapi Albizar Fatih tersenyum ketika menatapnya. Senyumnya begitu tampan. Kemeja putih dan jas abu-abu sungguh menambah kadar ketampanannya. "Saya berterima kasih atas kehadiran...." Bianca seolah tidak mampu lagi mendengar kata demi kata karena atensinya kini terpusat pada Albizar yang melambaikan tangan, menyadari jika dia tengah menatap laki-laki itu. Akan tetapi apa yang ada di benaknya kini adalah beragam pertanyaan, bagaimana bisa Albizar berada di sini? Kapan datangannya? Bagaimana jika Gita mengetahuinya? Apa alasan yang akan mereka katakan? Dan berbagai macam pertanyaan lain. Bahkan Bianca tidak menyadari jika namanya telah dipanggil oleh pembawa acara, sampai kemudian lengannya diguncang pelan oleh Fatimah Sumarsono. Bianca sedikit tersipu malu karena ketahuan tidak menyimak acara. Lalu tiba-tiba saja dadanya bergemuruh, jantung Bianca berdegup kencang sebelum berdiri dari tempatnya. Dia memang sudah berlatih, tapi tetap saja berbicara di depan banyak orang di acara sepenting ini adalah pertama kali untuknya. "Selamat siang, perkenalkan saya Bianca Cook. CEO Aphrodite Lingerie." Riuh tepuk tangan terdengar, termasuk Farid dan Albizar. Keduanya menatap Bianca dengan pikiran berbeda. Farid mengikuti gerak-gerik Bianca. Usai memberikan presentasi, wanita itu keluar ruangan diikuti laki-laki dengan tampang angkuh. Siapakah dia? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD