BAB 8

1002 Words
Pameran atas prakarsa Bianca disetujui Ketua IPFI. Anak buahnya mendukung penuh ide Bianca. Bersama karyawan setianya, Bianca menyiapkan produk best seller yang selama ini laris di online shop berikut manekin untuk memamerkannya. Mobil mereka tiba di lokasi tak lebih dari satu jam kemudian. Gita dan Yuni ikut semobil bersama supir sedangkan Bianca datang dengan mobil Albizar. Ketika dalam pencarian tempat yang sudah dibagikan, seseorang memanggil namanya.  "Mbak Bianca?" Bianca langsung ingat siapa yang memanggilnya.  "Pak Farid?" "Farid saja." Laki-laki tersebut mengulurkan tangan. Bianca menyambutnya dan sedikit terkejut saat Farid menghindari kontak fisik dengannya. "Lama nggak ketemu, Rid." "Saya tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini," ucap Farid jujur. Pertemuan dengan Bianca selalu berbeda, secara instigtif Farid sebagai pria, wanita ini memiliki pesona luar biasa. Untung saja, Farid dibekali ilmu agama, jika tidak? Mungkin dia akan menyeret wanita ini. Astaghfirullah! Apa yang tengah Farid pikirkan sekarang? Bukannya Bianca seperti toksik? Namun Farid tidak mampu menghindar sama sekali. "Saya yang mengusulkan diadakan pameran. Dalam situasi serba menantang seperti sekarang, kita harus terus berinovasi kan?" Farid semakin kagum pada pola pikir, Bianca. Pengusaha lain pasrah diterpa badai ekonomi lalu gulung tikar, justru Bianca optimis mencari jalan keluar.  "Anda ikut pameran ini juga?" tanya Bianca. “Kesempatan sebagus ini tidak boleh disia-siakan. Saya sependapat dengan Anda. Pengusaha tidak boleh cepat puas. Berinovasi terus menjadi keharusan." Farid tersenyum. Cara bicara yang kaku. Bianca mengulum senyum. Dia yang biasanya agak urakan malah ikut terbawa serius.  "Di mana lokasi booth Aphrodhite Lingerie?" "Nah, itu dia yang saya cari. Petanya di mana ya? Anak buah saya dari tadi tidak menjawab telepon." "Perlu saya bantu?" "Tidak usah. Nanti akan ketemu. Anda apa sudah menemukan booth?" "Alhamdulillah. Kalau mau berkunjung, Sabyan Collection berada di sana." Farid menunjuk barisan ke tiga. Bianca baru saja akan membalas undangan Farid ketika seseorang memanggilnya.  "Bianca!" seru Albizar. Ah, kenapa sih harus teriak-teriak di sini? Mereka kan punya ponsel pintar.  "Saya pamit. Sudah harus menemukan booth sebelum karyawan saya gelisah." "Silakan. Kalau ada waktu, silakan datang ke booth saya."  “Baiklah. Sukses untuk pamerannya, Wid.”  Bianca berlari kecil menghampiri Albizar. Laki-laki itu tampak angkuh dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jins. "Siapa dia?" Albizar menyelidik dengan nada suara tidak senang begitu mereka sudah dekat. "Hanya sesama pengusaha yang bergerak di bidang fashion. Kami ketemu di seminar IPFI di Bogor," jawab Bianca asal. "Terlihat seperti pria genit," cibir Albizar berdecih. "Cemburu ya?." Mau tidak mau Bianca terkekeh geli. "Hilang deh gantengnya kalau cemburu gitu!" Dia menggamit lengan Albizar menuju booth yang rupanya tidak jauh dari sana. Sembilan puluh menit lamanya Bianca, Gita, Yuni, dan Albizar bahu membahu mendirikan booth. Manekin yang sudah dipakaikan rancangan merk Venusian Lingerie dijajarkan di depan untuk menarik pengunjung. Bianca menjatuhkan tubuhnya pada satu dari dua kursi yang tersedia. Dari tempatnya duduk, terlihat tenda Zaitun Collection. “Di sana booth Farid,” gumam Bianca. “Farid siapa?” tanya Albizar. “Kamu salah dengar.” Bianca mengipas-ngipas wajah menggunakan karton. “Aku bilang susah jadi WNI.” Albizar mengerutkan alis. Bianca melengos ke arah lain dan semakin kencang mengipas-ngipas. "Kepanasan ya?" tanya Albizar melihat Bianca berkeringat. “Haus sih, Zar, lebih tepatnya.” “Kalau gitu aku cari minuman," kata Albizar. Namun Bianca menghentikannya sejenak hingga dia berbalik. "Tolong beli buat Gita dan Yuni juga, ya. Nanti sekalian kita sarapan di sini aja." Albizar mengangguk. Kebetulan ada minimarket dekat situ, tadi dia sempat melihatnya saat memarkir mobil. Di sana dia memilih satu botol besar air mineral, dua gelas kopi siap minum, empat botol minuman berperasa jeruk dan beberapa makanan ringan. Untuk kembali ke booth Aprodhite Lingerie, Albizar melewati booth Sabyan Collection. Albizar tersentak saat matanya mengenali siapa perempuan yang sedang tersenyum sambil mendengarkan dengan baik instruksi dari laki-laki, agaknya atasannya. Albizar maju untuk memastikan. Benar saja, itu memang mantan istrinya yang beberapa bulan lalu telah dia ceraikan. Wanita yang memicu drama di media sosial hingga mengakibatkan Casandra dan dirinya kelimpungan dengan penurunan omzet.  Sebentar, apakah Ratna pembeli di booth itu ataukah salah satu karyawan? Albizar berlindung di balik tembok, mengawasi gerak-gerik Ratna. Ratna tampak gembira, alih-alih merana. Dia tertawa lebar. Tawa yang jarang ada pada saat mereka menikah dulu. Kenapa Ratna bisa secerah setelah semua kejadian yang mereka alami? Albizar mengepalkan tangan kuat-kuat dan melanjutkan jalan menuju booth Aprodhite Lingerie. Agaknya Ratna bekerja di sana sebab dia ramah pada pengunjung yang hadir. Albizar tidak dapat tenang. Meski mendampingi Bianca meladeni pertanyaan pengunjung, matanya sering terarah ke booth Sabyan Collection. Jangan sampai Bianca dan Ratna bertemu, bisa makin runyam masalah. Albizar memutar otak, apa yang harus dia lakukan untuk menarik Bianca segera angkat dari tempat ini. terlebih lagi, Albizar masih tidak bisa mengerti, bagaimana Ratna bisa sesantai itu? “Nanti pulang dari sini saya mau ke booth Sabyan ah. Adikku suka banget produknya,” kata Gita. “Iya ya, rame banget gitu,” timpal Icha. “Kamu datang ke seminarnya nggak? Ngundang ustazah dan bintang sinetron Sinar Kejora Fatimah lho. Seru banget.” Bianca mendengar bisik-bisik para karyawannya. Dia hanya melihat sekilas pada booth Sabyan Collection yang ramai pengunjung sementara booth-nya sendiri kurang begitu laris. Padahal dibandingkan gamis yang lebih dikenal sebagai pakaian khas ibu-ibu, lingerie lebih kekinian. Namun, mengapa booth-nya seret pengunjung? Apakah ada yang salah strateginya berbisnis? “Sepertinya aku harus ke sana, minta petunjuk supaya bisa laris,” gumam Bianca. “Tidak perlu. Gimanapun juga kalian bersaing,” cegah Albizar. Ini tidak bisa dibiarkan, Bianca jangan sampai ke sana. Bisa jadi pecah perang dunia ketiga, mengalahkan situasi yang memanas antara Rusia dan Ukrania, bahkan bisa lebih mengerikan. Albizar belum yakin dengan Ratna, bisa saja wanita itu akan menyindir, menarik perhatian publik dan kemudian dia dan Bianca yang akan disalahkan. Senyuman itu, seperti senyuman licik di mata Albizar. Itu ... seperti bukan Ratna. “Saingan gimana? Bisnis kami beda lho, Ham. Dia jual pakaian bidadari surge, aku jual produk ahli neraka,” tutur Bianca. “Justru karena produk kalian berbeda, makanya nggak perlu ke sana. Sudahlah, kamu fokus saja. Jangan membandingkan dengan orang lain.” “Okelah kalau gitu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD