“HALO Assalamualaikum.”
[Walaikumsalam. Saya Albizar Fatih.]
Farid tidak mengenal nama orang meneleponnya. Meskiun demikian, dia menjawabnya dengan sopan santun dan ramah tamah.
“Selamat sore Pak Albizar. Ada yang bisa saya bantu?”
[Apa benar Anda Bapak Farid Kamajaya, CEO Sabyan Collection?]
“Benar, Pak.”
[Bisa kita bertemu besok siang di restoran? Ada yang ingin saya bicarakan.]
“Kalau boleh tahu sebelumnya ada keperluan apa ya, Pak?”
[Ini mengenai Ratna Widjati. Karyawan Anda.]
Farid menduga-duga apakah Ratna membuat masalah, tetapi sepertinya tidak mungkin.
“Ada apa dengannya?”
[Kalau Anda setuju, saya akan mengirim nama restoran dan alamatnya ke nomer Anda. Hanya satu pesan saya, tolong rahasiakan dari Ratna.]
Tidak ada angin, hujan, petir, badai, tiba-tiba saja Farid ditelepon orang tidak dikenal. Haruskah dia mengiakan ajakan orang asing ini? Namun namanya sepertinya familiar. Fatih. Di mana dia mendengar nama itu?
***
Meskipun sempat ragu, pada hari yang ditentukan Farid mendatangi lokasi yang telah dijanjikan. Albizar benar-benar mengirimkan alamat dan nama restoran. Sepi sekali. Tempatnya juga tersembunyi. Tetapi sepertinya makanan yang disajikan cukup lezat sampai banyak pengemudi ojek daring mengantri pesanan. Farid mencari-cari sosok yang mengundangnya. Beruntung Albizar melambaikan tangan memberi tanda. Farid menghampiri laki-laki yang mengenakan kemeja lengan panjang abu-abu polos tersebut.
"Bapak Albizar Fatih?"
Seseorang di hadapannya itu berdiri lalu menyodorkan tangan. "Ya, saya Albizar Fatih. Silakan duduk."
"Saya tidak menyangka akan menemui laki-laki muda, sebab suara Anda sangat berwibawa." Farid melemparkan senyum ramahnya seperti biasa.
Albizar tidak tergerak dengan sikap bersahabat Farid. Dari segi ketampanan dan kemapanan, Farid tidak sebanding dengannya. Badannya saja kurus dan tidak berbentuk. Mustahil Ratna jatuh cinta dengan pria tidak menarik seperti ini.
“Jadi, apa yang bisa saya bantu?” tanya Farid.
"Saya ingin Anda menikahi Ratna Widjati," tutur Albizar.
"Apa?" Mata Farid membulat terkejut. Bantuan yang sungguh sangat tidak terduga.
"Mungkin Anda belum mengenal saya. Baiklah, saya akan memperkenalkan diri. Saya ... Albizar Fatih, pemilik The Fatih Kitchen, putra dari Hilbram Fatih salah satu keturunan dari klan pemilik The Grand Fatih Hotel sekaligus mantan suami Ratna Widjati."
Kesan pertama yang benak Farid tangkap adalah kesombongan. Untuk nama Fatih dan kekayaannya, Farid sudah menduga. Hal yang mengejutkannya adalah laki-laki mengaku sebagai mantan suami Ratna?
"Sebentar," Farid mengangkat satu tangannya. "Saya melihat Anda bersama Bianca sekilas di seminar IPFI. "
"Benar," sahut Albizar. "Itu adalah saya."
Berbagai spekulasi berteriak dalam benak Farid. Apakah Albizar berselingkuh dengan Bianca lalu setelah bercerai malah menyesalinya?
"Kenapa saya harus menikahi Ratna?"
"Karena saya ingin menikahinya kembali. Saya masih menyayangi Ratna."
“Kalau menyayanginya, kenapa menceraikannya?”
“Apakah Anda sudah menikah?” tanya Albizar yang ditanggapi gelengan Farid. “Kalau Anda sudah menikah, akan paham mengenai banyaknya kesalah pahaman yang terjadi antara suami-istri. Anda tahu kan, wanita adalah makhluk emosional?”
"Kami ... mengalami kesalahpahaman." Albizar mengatakan hal itu sambil menatap meja. "Kesalahpahaman yang cukup besar dan dia tidak mau menerima penjelasan sehingga meminta saya untuk mengajukan perceraian."
"Terkadang, kita sebagai laki-laki tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiran para perempuan." Farid menyeletuk.
"Ya Anda benar," sahut Albizar setuju.
Tak lama kemudian, pramusaji datang dengan secangkir kopi pesanan Farid dan juga seporsi kecil kentang goreng. Kedua lelaki itu masih berdiam diri sampai pelayan kafe tersebut menjauh.
"Tapi kenapa harus saya?"
"Anda adalah atasannya dan saya pikir Ratna tidak akan jatuh hati pada Anda. Kalaupun nantinya Anda dan dia bercerai, Ratna tidak akan bersedih."
Farid diremehkan sekarang. Sungguh laki-laki angkuh. Meminta tolong pun masih sempat mencelanya. Farid menyukai Ratna ketika mereka satu sekolah di SMA dulu. Tampangnya dulu lebih parah daripada sekarang. Kurus dengan kulit sawo matang dan bau matahari. Sekarang, Farid jauh lebih bersih. Kalau mau tampan, seseorang harus punya uang.
"Meskipun Anda bukan satu-satunya kandidat, saya harap Anda bersedia." Albizar terus membujuk.
"Saya pikir ini bukan ide bagus."
"Bukan rencana yang bagus, tetapi satu-satunya cara saya mendapatkan Ratna kembali," ujar Albizar.
Farid berpikir keras, teringat pada reuni SMA mereka. Ratna tampak sedih. Dia menduga itulah saat-saat terberat wanita itu pasca bercerai. Farid tidak pernah mencari tahu. Bukankah setiap orang memiliki privasi yang harus dihormati?
"Jika Anda tidak bisa maka saya tidak mampu memaksa. Mungkin saya harus mencari pria lain."
"Jangan!" Bagaimana kalau Albizar membayar laki-laki lain untuk menjalankan niatnya?
"Baiklah, saya akan mencobanya," ucap Farid mengalah. "Tapi keputusan akhir tetap ada pada Ratna. Jika dia menolak lamaran saya. Maka saya tidak bisa membantu."
"Terima kasih, saya tidak akan melupakan jasa Anda." Albizar mengajak Farid bersalaman seakan kesepakatan yang mereka lakukan hanyalah kesepakatan bisnis yang tidak melibatkan perasaan. Dengan berat hati, Farid menyambut uluran tangan itu.
***
Ban mobil Farid melindas konblok parkiran butik Sabyan Collection. Pada jam istirahat, para karyawannya makan siang, maka suasana lebih sepi. Farid mendorong pintu kaca lalu masuk. Baru beberapa langkah, dia mendengar teriakan Mila.
"Tolong!"
Farid menaiki anak tangga sekaligus dua untuk menuju lantai atas. Teriakan minta tolong disertai isak tangis semakin jelas. Mila berjongkok di samping Ratna yang tergelatak dengan wajah penuh darah.
"Ratna kenapa, Mil?" Jantung Farid serasa akan lepas ketika berlutut di sebelah perempuan itu.
"Nggak tahu, Mas. Tadi Kak Ratna mimisan. Terus dia mau ke kamar mandi kayaknya buat bersihin. Tapi baru bangun udah ambruk."
Farid menggendong Ratna menuju mobil diikuti Mila yang masih menangis. Dia membaringkan Ratna di kursi lalu memasangkan sabuk pengaman. Farid menoleh pada Mila yang mengawasi dengan cemas. "Mil, tolong jaga butik ya!"
"Iya, Mas. Hati-hati!"
Setiba di rumah sakit, tenaga medis di UGD mengambil darah Ratna, melakukan serangkaian tindakan untuk memastikan keadaannya. Darahnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
"Rat," panggil Farid melihat perempuan itu mengerjapkan mata.
"Mas Farid. Aku...." Ratna berkata lirih.
"Kamu tadi pingsan, aku membawa ke rumah sakit," sahut Farid.
“Aku kecapekan saja, Mas. Mungkin karena ngurus seminar dan pameran, jadi mesti berturut-turut begadang.”
"Selamat sore Ibu Ratna, saya Dokter Ferdy. Boleh saya mengajukan beberapa pertanyaan?" Laki-laki muda bersnelli itu memperkenalkan diri.
Ratna mengerjap bingung, lalu mengangguk. “Silakan, Dok.”
"Pernahkah Anda menjumpai lebam tanpa Anda sadari dari mana asalnya?"
Ratna mengangguk. “Sejak di Surabaya memang saya sering lebam-lebam, Dok. Nggak tahu gimana, padahal nggak terbentur apa-apa, tahu-tahu biru saja.”