BAB 10

1160 Words
"Ada gusi yang bengkak?" "Mungkin, Dok." Ratna tidak yakin. “Cuma kalau menggosok gigi sering berdarah.” "Saya periksa tadi ada bagian di leher atau ketiak yang menonjol. Apakah sakit?" "Oh ya, Dok? Saya malah nggak tahu. Apa itu berbahaya?" Ratna tidak bisa tenang lagi sekarang. "Berdasarkan tes laboratorium, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan." Dokter Ferdy menatap Farid sejenak lalu bertanya, "Apakah Bapak keluarga Ibu Ratna?" Farid mengangguk saja. "Saya kakaknya."  "Silakan ikut ke ruangan saya." Penjelasan Dokter Ferdy berikutnya sangat mengiris hati Farid. Ratna dirujuk kepada ahli kanker. Acute Myeloid Leukaemia atau AML, biasanya menyerang pasien berusia lanjut atau anak kecil. Dalam tubuh penderita, mengalir sel darah putih yang belum matang sehingga kesulitan memerangi infeksi. Untuk melawan sel kanker agar tidak kian ganas, Ratna harus menjalani kemoterapi. Hari-hari Farid pun dihabiskan untuk merawat Ratna. Kondisinya benar-benar parah. Mual, muntah, dan lemas. Keadaan Ratna memburuk dengan cepat. Usai muntah-muntah dalam perjalanan dari rumah sakit menuju indekos, Ratna pulang diantar Farid. “Nggak perlu ke kantor lagi, kamu istirahat saja,” titah Farid tegas. Ratna tak enak hati harus pulang lebih awal. Apalagi Farid yang terkenal membatasi diri dengan pergaulan lawan jenis pun masuk ke kamarnya, membantu berbaring bahkan membelikan bubur segala. Saat ojek daring tiba membawa bubur pesanan, Farid menyuapi Ratna. “Biar aku makan sendiri, Mas.”  “Tidak apa, Mut. Kamu berbaring saja dan makan.” Farid ngotot menyuapi wanita itu. “Tapi kita bukan mahram.” Bukannya bermaksud kasar, tetapi Ratna menepis tangan Farid demi kebaikannya. Farid meletakkan mangkuk Ratna di meja kecil. “Kalau begitu kita halalkan saja.”  “Maksudnya apa?” "Bagaimana kalau kita menikah?" "Tapi Mas Farid tahu kan aku sakit, aku nggak bisa melayani sebagai istri apalagi memberikan keturunan." "Aku menikahimu karena Allah. Bukankah tujuan menikah untuk beribadah? Dan kamu juga membutuhkan seseorang untuk menjaga, kan?" Ratna tak mampu menjawab. Terombang-ambing oleh bimbang. Mungkin Albizar dulu menikahinya lantaran kasihan, tidak puas dengan kondisi Ratna, lalu mencari pelepasan di luar sana. Apakah Farid akan melakukan hal serupa? Menikahinya, berjanji menjaga,tapi lalu menikam hatinya telak?  "Demi Allah, Ratna. Menikahlah denganku," pinta Farid sekali lagi. "Janji Mas Farid akan setia, nggak akan melirik wanita lain," lirih Ratna. "Aku berjanji, Ratna." Ratna tak tahu berapa lama lagi sisa usianya. Kalau pun Farid ingkar janji, dia sudah terlatih menghadapi pengkhianatan. Ditambah lagi sekarang dia sakit parah. Kalau nekat kembali ke Surabaya, Ratna khawatir akan merepotkan orang tuanya. Ditambah lagi kakak-kakaknya mungkin mengasihani sekaligus mencibir. Hanya dalam beberapa detik Ratna sanggup memikirkan sisi positif dan negatif jika dia menerima atau menolak lamaran. Kepalanya akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku menerima." Farid ingin memeluk wanita itu untuk meluapkan rasa lega, tetapi teringat larangan dalam agama. Berduaan seperti ini saja dilarang. Maka dia hanya tersenyum. "Aku akan mengabarkan ini pada keluargaku. Aku balik ke kantor dulu, Ratna. Jaga diri baik-baik. Asalamualaikum," pamit Farid. Tak percaya rasanya Ratna menerima lamaran Farid. Laki-laki itu menyalakan mesin mobil tetapi terlalu senang untuk cepat-cepat melajukannya. Farid mengambil ponsel untuk menghubungi ibunda tercinta.  "Bun, aku melamar seseorang." Kemudian dia bisa mendengar jerit ibunya yang ikut senang. Bahkan Farid sampai harus menjauhkan telinganya dari ponsel sebelum kemudian diserbu berbagai pertanyaan. [Siapa, Rid? Kenal di mana? Kok ndak bilang sama Bunda? Kirim fotonya ya, Rid.] "Namanya Ratna, Bun. Adik kelas Farid dulu di SMA. Sekarang kerja di butik sebagai finance merangkap admin medsos," jelas Farid. Akan tetapi, satu yang paling menggelitik pikirannya adalah satu hal. Dia pun mengungkapkannya, "Tapi, Bun ... Ratna bukan seorang gadis." Untuk sesaat, percakapan tersebut tak ada suara. Farid memejamkan mata, jika sampai bundanya tidak menyetujui maka dia harus memikirkan cara seandainya Ratna menerima lamarannya. [Bunda ndak masalah. Selama dia perempuan baik-baik. Apa dia sudah memiliki anak?] Farid menghela napas lega, dia tahu bundanya memang seorang yang bijak. "Belum, Bun." [Padahal kalau dia punyai anak maka kamu akan dapat buy one get two.] "Bun," pekik Farid tak percaya jika bundanya malah melempar lelucon di tengah pembicaraan serius mereka. Beberapa detik kemudian suaranya kembali serius dan menanyakan kapan mereka akan datang ke Surabaya untuk bertemu dan melakukan perkenalan dengan keluarga. *** KESEHATAN Bianca bermasalah beberapa hari terakhir. Pusing, mual, perut serasa diserang angin p****g beliung. Dia membalurkan minyak kayu putih ke perut hingga d**a. Gejala mualnya mereda sesaat lalu kembali menimbulkan rasa tidak nyaman. Nafsu makannya yang meningkat malah menjadi bumerang ketika dimasuki oatmeal. Barangkali sambil menjawab pesan yang masuk Bianca dapat makan dengan baik. Ya, benar begitu. Maka dia pun membuka pesan paling bawah. Albizar Fatih: Farid ingkar janji. Setelah  menikahi Ratna, dia menolak menceraikannya. Beberapa waktu lalu, kedua laki-laki itu berkelahi sampai menghancurkan sebuah kafe lantaran niat Albizar melakukan poligami terganjal keengganan Farid menceraikan Ratna. Mereka bagaikan remaja belasan tahun yang gelut karena memperebutkan gadis. Betapa memalukan. Pemilik kafe membawa Albizar dan Farid ke kantor polisi. Pilihannya hanya dua, mengganti kerugian atau masuk penjara. Bianca kalang kabut dibuatnya. Untunglah Farid mau ikut menanggung biaya ganti rugi. Albizar belum kapok membahas masalah Ratna. Bianca jadi sebal. “Ya ampun, sudah siang!” gumam Bianca semakin uring-uringan. Oatmeal yang dia buat untuk sarapan akhirnya habis dengan susah payah. Dia memaksa tubuhnya meneSusanti asupan. Hari ini dia akan sangat sibuk, sehingga sarapan adalah kewajiban. Keringat dingin terus mengaliri kening Bianca sepanjang perjalanan dari apartemen menuju kantor. Seharusnya dia istirahat saja kan, bukannya memaksa kerja begini? “Selamat pagi, Bu,” sapa Icha saat pintu berlogo Aprodhite Lingerie dibuka Bianca. Hidungnya mengendus-ngendus udara saat atasannya lewat. Tumben, bukan aroma cherry blossom dan teh hijau yang terhidu, malah minyak kayu putih. Tidak sempat membalas salam karyawannya, Bianca buru-buru ke kamar mandi. Semua mata kini memandangi punggungnya yang menjauh. Pintu kamar kecil tertutup. Lampu menyala. Keran memancarkan air. “Bu Bianca kenapa?” tanya Gita khawatir. Yuni dan Icha serempak mengangkat bahu, akan tetapi tatapan mereka terpaku pada pintu toilet, harap-harap cemas menanti kedatangan Bianca. Dan, ketika pintu benar-benar terbuka, mereka sama-sama sibuk mengetik sesuatu di komputer. “Ibu nggak pa-pa?” Gita mendongak memberanikan diri bertanya. “Nggak apa.” Bianca tersenyum lemah. Yuni melirik amplop berisi sketsa pensil dari Arman. Pagi-pagi tadi desainer langganan Aprodhite Lingerie itu mengantarkan untuk mendapatkan penilaian dari Bianca secepatnya. Namun melihat kondisi Bianca yang tidak begitu baik, bagaimana cara Yuni menyampaikannya? “Itu amplop apa, Nis?” tegur Bianca. “Itu… Anu… Rancangan sketsa pensil Mas Arman.” “Oh, sudah diantar? Sini saya lihat.” Meskipun bibir Bianca pucat dan jemarinya gemetar, sontak dia diliputi antusiasme. Diambilnya amplop cokelat di atas meja Yuni dan dibukanya. Rancangan Arman selalu memukau. Bahkan baru dalam bentuk kasar saja sudah dapat dibayangkan bagaimana cantiknya. Bianca bersandar di kursi. “Cocok banget pakai sutra dan renda. Kita kasih beberapa pilihan warna. Bagusnya apa ya?” “Model seperti ini bagusnya warna hitam, gold, silver, dan kalau mau coba lilac, Bu. Itu warna yang lagi viral,” usul Icha. Bianca baru saja hendak membuka mulut ketika perutnya terasa mual lagi. Dia berlari ke toilet sambil membekap mulutnya. Isi perutnya terpaksa disetor ke kloset. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD