Namanya mendadak memenuhi media sosial, surat kabar, bahkan menjadi bahan perbincangan dalam rapat para petinggi bisnis Jakarta.
“Siapa Nayla Adisti?”
“Perempuan misterius yang mendampingi Leonard Atmajaya.”
“Dari mana dia berasal? Bagaimana dia bisa menikah dengan pewaris paling dingin se-Asia Tenggara?”
Nayla menatap layar ponsel yang penuh pemberitahuan dan artikel daring. Sebagian besar penuh dengan spekulasi, bahkan fitnah. Ada yang menyebutnya p*****r kelas atas, ada pula yang menuduhnya sebagai perempuan yang menjebak Leonard demi harta. Tapi Nayla hanya tersenyum tipis. Dunia luar tidak pernah benar-benar peduli pada kebenaran, mereka hanya menyukai sensasi.
Leonard berdiri di belakangnya, mengenakan jas hitamnya yang sempurna, dasi bergaris halus, dan aroma parfum mewah yang menyeruak lembut.
“Kau terlalu tenang untuk seseorang yang tengah dihancurkan media,” ujarnya datar.
Nayla menoleh, menyimpan ponselnya. “Dan kau terlalu diam untuk seseorang yang memaksakan pernikahan ini ke publik.”
Leonard menatapnya, lama. Ada sesuatu dalam mata Nayla yang tidak biasa. Ia tidak pernah melihat tatapan seperti itu pada Aurora, atau perempuan mana pun. Tatapan yang seolah berkata: Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku tidak takut.
“Dewan ingin bertemu denganmu,” ucap Leonard akhirnya.
“Sudah kuduga,” balas Nayla. “Mereka ingin tahu apakah aku boneka atau musuh.”
“Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Cukup tersenyum dan mainkan peran.”
Nayla bangkit dari sofa, melangkah ke lemari kaca dan membuka kotak perhiasan yang baru dikirim dari butik mewah. Ia memilih anting berlian sederhana, lalu melihat dirinya di cermin.
“Aku tidak pernah menjadi aktris yang baik, Leonard.”
“Beruntungnya, aku tidak menyukai akting murahan.”
Tatapan mereka bertemu di cermin. Sekilas, seolah ada pengakuan diam-diam di antara dua orang yang bermain di medan perang yang sama.
***
Ruang rapat dewan komisaris dipenuhi wajah-wajah tua, penuh keriput dan raut curiga. Mereka tidak menyembunyikan kebencian mereka terhadap pernikahan ini. Aurora duduk paling ujung, menyilangkan kaki dengan anggun tapi wajahnya penuh racun.
“Selamat datang, Nyonya Atmajaya,” ucap Pak Santosa, salah satu dewan senior, dengan senyum plastik.
Nayla membalas dengan senyum sopan. “Terima kasih, Pak. Senang bisa bergabung dalam rapat penting seperti ini.”
“Kami ingin tahu satu hal,” potong Aurora tajam. “Apa motivasimu menikah dengan Leonard?”
Beberapa anggota dewan terbatuk kecil, kaget dengan keberanian Aurora. Tapi Nayla hanya memiringkan kepala dan menatap Aurora tanpa gentar.
“Apakah itu pertanyaan profesional... atau personal?” Nayla balas menyerang.
Aurora sempat bungkam. Nayla melanjutkan, “Saya menikah dengan suami saya karena saya menghormati pilihan kami berdua. Saya tahu banyak yang tidak setuju. Tapi saya tidak merasa perlu menjelaskan keputusan pribadi kami kepada siapa pun yang tidak terlibat dalam rumah tangga kami.”
Santosa berdeham. “Tentu saja. Tapi sebagai bagian dari keluarga besar Atmajaya Corp, kami berhak memastikan bahwa keputusan Leonard tidak akan berdampak buruk bagi perusahaan.”
Leonard yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya tegas dan mengintimidasi.
“Keputusan saya tidak bisa diganggu gugat. Nayla adalah istriku. Ia juga telah menandatangani perjanjian pranikah yang mengikat. Tidak ada hak waris, tidak ada saham, tidak ada akses ke sistem internal perusahaan. Kalian tenang saja ini tetap kerajaan kalian seperti biasa.”
Beberapa anggota komisaris mengangguk, sedikit lega. Tapi tidak dengan Aurora.
“Dan kau benar-benar percaya wanita seperti dia akan diam selamanya?” bisiknya lirih pada Leonard saat mereka berjalan keluar.
Leonard menoleh, menatap mantan tunangannya itu penuh kebosanan. “Wanita seperti dia… lebih berbahaya daripada yang kau duga.”
Aurora tersenyum sinis. “Bagus. Karena aku sangat suka bermain dengan bahaya.”
***
Di dalam mobil menuju rumah, Nayla duduk diam di samping Leonard. Jari-jarinya menyentuh ujung cincin kawin emas putih yang dikenakan secara simbolik.
“Kau menikmati saat aku membungkam mereka?” tanya Leonard tanpa melihat ke arahnya.
“Aku bisa membela diriku sendiri,” jawab Nayla. “Tapi terima kasih sudah menyisakan ruang untuk sedikit keangkuhan.”
Leonard mengangguk pelan. “Kau membuat mereka takut, dan itu bagus.”
“Kau tidak takut padaku?” Nayla menatapnya.
Leonard hanya menatap ke depan. “Kau wanita yang tidak seharusnya kupilih… tapi justru itu yang membuatmu menarik.”
Nayla menyandarkan tubuh ke jok mobil. “Dan kamu lelaki yang seharusnya tidak kucintai. Untungnya aku tidak sedang jatuh cinta.”
Keheningan menyelimuti. Tapi mereka berdua tahu: pernyataan seperti itu… hanya berlaku sampai rasa itu benar-benar datang menghantam.
***
Malam itu, Nayla berdiri di balkon penthouse, mengenakan kemeja Leonard yang kebesaran. Angin malam Jakarta mengusap wajahnya. Ia membuka laci kecil di sisi meja balkon dan mengeluarkan foto lama—foto keluarganya sebelum kehancuran.
Di balik pernikahan ini, Nayla punya misi.
Ia ingin tahu… siapa sebenarnya yang menghancurkan ayahnya.
Ia ingin tahu… apakah Leonard terlibat.
Dan jika ya, maka pernikahan ini bukanlah awal dari cinta. Tapi… kehancuran perlahan.
Pintu balkon terbuka. Leonard muncul, menyampirkan mantel di bahu Nayla.
“Kau bisa kedinginan.”
“Pernikahan ini dingin sejak awal,” jawab Nayla, tanpa menoleh.
Leonard menatap punggungnya. “Aku tidak berniat menyakitimu, Nayla.”
“Lalu kenapa aku merasa sudah terluka sejak hari pertama?”
Leonard tak menjawab. Ia hanya berdiri di sampingnya, menatap kota yang gemerlap namun penuh kepalsuan.
Di dalam dua hati yang tak saling percaya, cinta tak tumbuh dengan mudah. Tapi ketegangan... dan rasa ingin tahu... tumbuh subur.
Dan di sanalah bahaya itu mulai muncul.
***
Pagi berikutnya, sinar matahari menyusup lewat tirai tipis jendela kamar. Nayla terbangun lebih awal dari Leonard. Ia berdiri di dapur, menyeduh kopi hitam tanpa gula, mengenakan setelan semi-formal biru gelap yang mencolok kontras dengan warna putih ruangan penthouse itu.
Hari ini ia dijadwalkan mendampingi Leonard dalam pertemuan resmi dengan investor Jepang. Sebuah langkah simbolik untuk memperlihatkan kekompakan pasangan pewaris dan istrinya.
Leonard keluar dari kamar dengan rambut masih basah dan dasi yang belum terikat sempurna. Sejenak ia berhenti, memandangi Nayla dari belakang. Gerakan tangan Nayla, rapi dan elegan. Tidak seperti wanita “kontrak” yang dibayangkannya. Ada yang berbeda dari perempuan ini. Terlalu tenang, terlalu tenang untuk seorang korban.
“Kau tidak tidur lagi setelah subuh?” tanyanya, berjalan ke meja makan.
“Aku terbiasa bangun lebih pagi dari musuh-musuhku,” jawab Nayla sambil menyerahkan cangkir kopi. “Dan aku tidak tidur nyenyak di ranjang yang masih dingin.”
Leonard menerima cangkir itu tanpa komentar. “Kau mulai terbiasa dengan permainan ini, ya?”
Nayla menatapnya dengan tajam. “Aku tidak main-main, Leonard. Aku tidak akan jadi wanita diam yang hanya kau bawa untuk pemanis media. Jika aku di sini, aku harus tahu semua yang terjadi. Termasuk dokumen perjanjian merger yang dulu menghancurkan perusahaan ayahku.”
Leonard menegang. Untuk pertama kalinya, ia merasa pertahanannya runtuh setengah inci.
“Perusahaan ayahmu?” ulangnya.
Nayla mengangguk pelan. “Dulu ayahku punya perusahaan logistik bernama Adisti Prima Trans. Tiga bulan sebelum bangkrut, mereka ditawari merger dengan cabang kecil dari Atmajaya Group. Tapi seminggu setelah perjanjian ditandatangani, saham kami dilikuidasi. Tidak ada transparansi, tidak ada tanggung jawab. Dan ayahku... bunuh diri seminggu kemudian.”
Leonard terdiam. Ia mengingat sekilas laporan merger kecil bertahun-tahun lalu, tapi terlalu banyak nama, terlalu banyak korporasi satelit yang digunakan keluarganya sebagai pion bisnis.
“Kau pikir aku terpilih secara acak?” Nayla melanjutkan, suaranya tetap tenang tapi dingin. “Aku menandatangani kontrak karena ingin masuk ke jantung keluarga ini. Aku ingin tahu... apakah kamu bagian dari kehancuran itu, atau hanya bayang-bayangnya?”
Leonard menaruh cangkir kopinya dengan bunyi kecil. Tatapannya berubah. Tidak lagi memandang Nayla sebagai perempuan yang ia kendalikan.
“Jika kau ingin balas dendam, kenapa tidak menikamku saja saat aku tidur?” suaranya datar, tapi nadanya menusuk.
“Karena yang paling menyakitkan bukan kematian,” bisik Nayla, mendekat, “tapi ketika kau harus hidup bersama rasa bersalah yang terus membusuk di dalam kepalamu.”
Keheningan menggantung di antara mereka.
Dan dalam keheningan itu, Leonard sadar… bahwa wanita di hadapannya bukan sekadar istri kontrak.
Dia adalah teka-teki.
Sebuah ancaman.
Dan mungkin... satu-satunya orang yang cukup berani menantangnya di tempat paling rapuh: dalam dirinya sendiri.
***
Di ruang rapat lantai 56, pertemuan dengan investor Jepang dimulai.
Nayla duduk tenang di sisi Leonard, hanya berbicara ketika perlu, tapi setiap kata yang keluar darinya menunjukkan pengetahuan yang dalam tentang perusahaan dan arah investasi. Bahkan salah satu investor wanita, Madam Sato, sempat tersenyum kagum saat Nayla menjelaskan konsep CSR baru mereka dalam bahasa Jepang fasih.
Setelah rapat selesai, Leonard melangkah cepat ke ruangannya. Nayla mengikutinya. Tapi sebelum dia sempat bicara, Leonard berbalik dan menghentikannya.
“Mulai sekarang, kau akan duduk di rapat-rapat inti,” katanya tanpa basa-basi.
“Karena penampilan publik?” Nayla menyipitkan mata.
“Karena kau bukan wanita yang seharusnya hanya berdiri di sampingku.”
Nayla terdiam sesaat. Tidak tahu apakah itu pujian... atau peringatan.
***
Malamnya, ketika Nayla turun ke dapur untuk mengambil air, ia melihat ada berkas di meja makan. Tebal. Tertulis: “Adisti Prima Trans – Dokumen Merger 2016.”
Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama. Terdapat tanda tangan Mahesa Atmajaya ayah Leonard dan seorang wakil dari pihak Adisti, ayahnya.
Tapi yang membuatnya membeku adalah lembar tambahan di bagian bawah.
Catatan tangan Mahesa, dengan tulisan:
“Hapus cabang ini setelah akuisisi selesai. Perusahaan kecil ini hanya alat untuk melindungi transfer aset fiktif dari proyek timur.”
Nayla terduduk.
Ayahnya bukan sekadar tertipu.
Ia telah dijadikan korban cuci tangan oleh salah satu orang paling kuat di negeri ini.
Leonard berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan Nayla yang tak menyadari kehadirannya.
“Kau memberiku jawaban,” ucap Nayla akhirnya, menatap ke arah pria itu.
Leonard tak bicara. Ia hanya mendekat, menatap lembaran itu, lalu duduk di seberangnya.
“Ayahku...” bisik Nayla. “Dia membunuh ayahku, secara tidak langsung.”
Leonard menarik napas panjang. “Aku tahu ayahku kejam, tapi aku tidak tahu dia sampai sejahat itu. Dia menyembunyikan terlalu banyak hal. Bahkan dariku.”
Nayla menatapnya, matanya berkaca-kaca tapi penuh kendali. “Lalu sekarang? Apa kamu akan meneruskan warisan itu, Leonard?”
Pertanyaan itu seperti pisau. Tepat di d**a.
Dan Leonard tahu... malam itu, ia tidak hanya kehilangan kepercayaannya pada keluarga. Tapi juga sesuatu yang lebih dalam: dirinya sendiri.