Langit Jakarta sore itu tampak murung. Awan gelap menggantung rendah di atas gedung pencakar langit Atmajaya Corp. Di lantai 51, ruang rapat utama biasanya dipenuhi dengan suara debat antar eksekutif kini sunyi. Yang terdengar hanyalah detik jam dinding, dan napas tertahan dari pria yang duduk di ujung meja, mengenakan jas hitam Armani dengan mata yang dingin dan penuh perhitungan.
Leonard Atmajaya, 32 tahun, CEO sementara dan pewaris tunggal kerajaan bisnis senilai triliunan itu, menatap dokumen di tangannya. Surat dari ayahnya. Warisan yang dijanjikan akan berpindah ke tangannya… hanya dengan satu syarat: ia harus menikah dalam waktu tiga bulan.
“Menikah?” gumam Leonard pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Di seberangnya, berdiri seorang pengacara keluarga tua, Pak Wiryawan, yang sudah mengabdi sejak Leonard kecil.
“Benar, Tuan Leonard. Itu adalah syarat terakhir dari almarhum Mahesa Atmajaya. Tidak menikah dalam waktu tiga bulan, maka posisi CEO utama dan saham penuh akan jatuh ke tangan dewan komisaris.”
Leonard mencibir. “Itu berarti jatuh ke tangan Aurora dan para parasit lainnya.”
Wiryawan mengangguk pelan. “Saya tahu ini mendadak. Tapi keputusan ini tidak bisa diganggu gugat. Almarhum sudah menandatangani dokumen ini tiga minggu sebelum wafat.”
Leonard bangkit, berjalan ke jendela kaca besar dan menatap kota yang sibuk di bawah. Ia tak suka pernikahan. Cinta, bagi Leonard, adalah kelemahan. Ibunya meninggalkannya sejak kecil. Ayahnya menikah lagi hanya untuk kepentingan politik perusahaan. Ia belajar lebih cepat dari siapa pun: kepercayaan adalah mata uang yang paling cepat kehilangan nilainya.
“Tiga bulan,” gumamnya lagi. “Dan aku akan kehilangan segalanya jika tidak menurut…”
***
Di sisi lain kota, tepatnya di sebuah flat sempit yang disewa harian, Nayla Adisti menatap layar laptopnya yang penuh notifikasi tagihan. Listrik, air, pinjaman pendidikan, dan… utang rumah sakit ibunya yang belum lunas.
Ia mengembuskan napas berat dan kembali fokus mengetik. Sejak dipecat dari kantor hukum tempatnya bekerja karena fitnah pelecehan dari anak komisaris, Nayla hidup dalam bayang-bayang kemiskinan dan tekanan. Ia tidak takut miskin. Ia hanya muak terus ditindas.
Notifikasi baru masuk. Sebuah email dari alamat yang tidak dikenal:
“Saya membutuhkan istri kontrak. Bayaran Anda: 10 Miliar Rupiah untuk dua tahun pernikahan. Butuh tanggapan dalam 24 jam.”
Nayla menegang. Tangannya bergetar. Jelas ini jebakan, pikirnya. Tapi ada lampiran detail: kontrak hukum, identitas pengirim, bahkan NDA (Non-Disclosure Agreement). Semuanya… legal dan sah.
Nama pengirimnya membuat jantung Nayla berhenti berdetak sejenak.
Leonard Mahesa Atmajaya.
Nama itu bagaikan kutukan di hidupnya. Karena dialah leluhur keluarga Atmajaya yang dulu menghancurkan keluarga Nayla. Perusahaan orangtuanya bangkrut karena merger palsu dengan grup Atmajaya. Ibunya kehilangan segalanya. Ayahnya bunuh diri.
Nayla hampir memblokir email itu.
Tapi kemudian ia melihat wajah ibunya di ranjang rumah sakit. Napas yang lemah. Waktu yang terus berjalan.
10 miliar. Dua tahun. Dan kesempatan membalas dendam... atau mungkin, memperbaiki segalanya.
***
Keesokan malamnya, di sebuah lounge hotel mewah, Nayla datang mengenakan gaun hitam sederhana. Ia menolak riasan, hanya memakai lipstik tipis dan sepatu murah yang mulai usang di ujung. Tapi tetap saja, auranya membuat orang menoleh.
Leonard sudah menunggu. Duduk dengan angkuhnya, minum wine sendirian.
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali.
Dan dunia, untuk sesaat, diam.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Leonard.
“Saya datang bukan untuk basa-basi,” Nayla duduk, menatapnya lurus. “Kenapa saya?”
Leonard mengangkat bahu. “Karena kau cerdas, tak punya ikatan, dan yang paling penting, butuh uang. Dan aku butuh istri yang tidak akan ikut campur.”
“Kau tidak khawatir aku akan membocorkan semuanya ke media?”
“Sudah tandatangan NDA, kan?”
Nayla diam. Lelaki ini memang cerdik. Licik seperti yang ia bayangkan.
Leonard menyandarkan tubuhnya. “Kontrak pernikahan. Tidak ada cinta. Tidak ada kewajiban seksual kecuali disepakati bersama. Durasi dua tahun. Setelah itu, kamu bebas. Tapi selama itu, kamu adalah istriku di hadapan hukum dan dunia.”
“Kau tidak ingin anak?”
Leonard menatapnya dalam. “Anak hanya masalah tambahan. Tidak.”
Nayla mencibir. “Tapi kamu ingin pewaris perusahaan besar, dan menikah adalah syarat. Ironis.”
Leonard tidak tertawa. “Ini bukan lelucon.”
“Aku tahu.” Nayla menatapnya tajam. “Dan aku punya syarat juga.”
Leonard menaikkan alis. Ini baru menarik.
“Satu: uang muka 1 miliar malam ini. Dua: kontrak harus menjamin tidak akan ada pelecehan atau tindakan yang melanggar hak pribadi. Tiga: aku punya hidup di luarmu. Aku bukan boneka.”
Leonard mengangguk tanpa ragu. “Kau pintar.”
“Dan kau putus asa,” balas Nayla.
Mereka saling menatap. Api sudah mulai menyala tapi bukan cinta. Bukan hasrat.
Ini adalah kontrak.
Perjanjian.
Permainan yang berbahaya.
***
Dua minggu kemudian, media digemparkan dengan berita mengejutkan:
"Leonard Atmajaya Menikah Diam-diam! Siapa Wanita Misterius Itu?"
Di balik kilatan kamera, Leonard menggenggam tangan Nayla dengan kuat. Senyum palsu di wajahnya. Tapi matanya penuh luka dan perhitungan.
Dan Nayla dalam gaun putih sewaan, menatap dunia dengan kepala tegak.
Pernikahan ini adalah awal dari akhir.
Atau mungkin…
awal dari kehancuran dan cinta yang tak bisa ditebak.
***
Dua hari setelah pernikahan mereka, apartemen penthouse Leonard yang dingin seperti museum seni modern itu berubah sunyi, bukan karena kenyamanan... tapi karena ketegangan yang menggantung di antara dua orang asing yang kini resmi menjadi suami istri.
Nayla duduk di ujung ranjang king-size, membaca ulang salinan kontrak mereka. Di poin ke-12 tertulis: tidak ada klaim hak waris kecuali jika dikabulkan oleh pihak pertama secara tertulis. Tertanda: Leonard Mahesa Atmajaya.
Ia tak terkejut. Lelaki itu memang menjadikan hukum sebagai perisai dan senjata. Tapi Nayla bukan perempuan biasa. Ia juga tumbuh dengan luka. Luka yang tak sembuh oleh waktu, hanya membatu.
Langkah kaki terdengar mendekat. Leonard muncul dari balik pintu kamar mandi, hanya mengenakan celana panjang satin dan tubuh bagian atas yang basah. Penuh otot, penuh luka masa lalu.
Nayla tetap menatap kontrak. Tidak teralihkan.
“Kau akan tidur di sini?” tanya Leonard datar.
“Bukankah itu bagian dari pernikahan?” Nayla menoleh, tenang. “Atau kamu punya kamar cadangan untuk istrimu yang hanya dibutuhkan di depan publik?”
Leonard tersenyum kecil. “Aku punya banyak kamar. Tapi terserah kamu. Aku tidak menyentuh wanita tanpa izin.”
“Bagus,” sahut Nayla sambil bangkit dan meletakkan kontrak di meja. “Kau mungkin CEO, tapi ini bukan kantor.”
Leonard menatapnya lama. Di balik ketegasan perempuan itu, ada sesuatu yang membuatnya… terusik.
“Apa kau benar-benar tidak peduli pada siapa aku?” tanyanya tiba-tiba.
“Kenapa? Kau ingin aku terpesona karena kau Atmajaya?” Nayla menahan senyum sinis. “Aku lebih suka memikat pria biasa daripada membungkuk pada pewaris yang berpikir dunia ini miliknya.”
Leonard tertawa pendek. “Kau benar-benar tidak takut padaku.”
“Aku sudah kehilangan segalanya, Leonard,” bisik Nayla, nada suaranya berubah lebih dalam. “Apa lagi yang bisa kau ambil?”
Kalimat itu membuat d**a Leonard mengencang sesaat. Ia tak menjawab. Hanya menatap Nayla saat perempuan itu berjalan ke arah balkon, membuka pintu, dan berdiri di luar. Angin malam menyapu rambutnya.
Ia begitu tenang. Tapi Leonard tahu, seseorang tak akan setenang itu jika tidak menyimpan badai di dalam dirinya.
***
Keesokan harinya, kantor Atmajaya Corp mendidih dengan gosip dan bisik-bisik para eksekutif. Leonard membawa istrinya ke rapat dewan. Sebuah langkah radikal yang segera membuat Aurora mantan tunangannya meradang.
“Dia bukan siapa-siapa, Leonard,” bisik Aurora saat sempat berdua dengannya di lorong. “Hanya p*****r kontrak. Apa kamu pikir dewan akan menghargai pilihan impulsifmu?”
Leonard menatap Aurora dingin. “Kau lupa siapa yang punya tanda tangan terakhir?”
“Dan kau lupa… siapa yang tahu rahasiamu?” bisik Aurora, mendekat begitu dekat hingga hanya Leonard yang bisa mendengarnya. “Rahasia yang bisa membuatmu kehilangan semuanya.”
Senyum Leonard tak bergeser. Tapi matanya menajam.
“Aku tak peduli siapa yang kau ancam. Tapi ingat satu hal, Aurora,” suaranya nyaris tak terdengar, “wanita yang bisa kubeli dengan cincin, lebih jujur daripada wanita yang menjual dirinya dengan skandal.”
Aurora menegang. Leonard melangkah pergi tanpa menoleh.
***
Sementara itu, Nayla berada di ruangan kecil di lantai 50, diberi ruangan kerja pribadi oleh Leonard atas nama “direktur CSR sementara”. Posisinya hanya simbolis. Tapi cukup untuk membuat media dan karyawan menganggapnya lebih dari sekadar istri pengganti.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor asing:
“Kau pikir permainan ini tidak berbahaya? Hati-hati, Nayla. Kau sedang bermain di sarang ular.”
Jantung Nayla berdetak cepat. Tapi wajahnya tetap tenang. Ia tahu… ini bukan tentang cinta. Ini tentang perang.
Dan ia belum kalah.
***
Malamnya, Leonard masuk ke kamar dan mendapati Nayla duduk di kursi malas, mengenakan kemeja tidurnya sendiri, membaca buku tua karya Freud tentang ilusi ego.
“Pernah membaca tentang d******i psikologis?” tanya Nayla, tanpa menoleh.
“Pernah hidup di dalamnya,” jawab Leonard, melepaskan dasinya.
“Bagus,” Nayla menutup buku dan menatapnya. “Karena pernikahan ini akan jadi eksperimen paling rumit dalam hidupmu.”
Mata mereka saling mengunci.
Tidak ada cinta di sini.
Tidak ada kelembutan.
Yang ada hanya dua manusia yang sama-sama terluka, sama-sama keras, dan sama-sama…
berbahaya.
Dan malam pun menutup bab pertama dari permainan yang belum sepenuhnya dimulai.