Pelindung atau Pemangsa?

1588 Words
Leonard pulang sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bukan karena urusan bisnis di Zurich selesai, tapi karena pertanyaan yang terus berputar di benaknya: Apakah cinta Nayla masih miliknya? Atau hanya sisa luka yang tertinggal untuk dipertahankan? Ia tiba tengah malam. Hujan mengguyur kota seperti rintik amarah yang tak terbendung. Mobilnya berhenti di depan rumah keluarga Atmajaya yang remang dan sunyi. Tak ada penyambutan. Tak ada pelukan. Hanya langkah kakinya yang berat menyusuri lorong, menuju kamar mereka kamar yang beberapa malam terakhir menjadi saksi kehampaan Nayla. Ketika ia membuka pintu, Nayla tertidur di sofa dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Matanya bengkak. Tangannya masih menggenggam ponsel. Dan layar ponsel itu... memperlihatkan pesan terakhir Leonard yang ia baca berulang kali. Leonard menatap wajah itu lama. Lalu mendekat. Duduk di hadapannya. “Bangunlah, Nayla,” bisiknya pelan. “Aku tak datang untuk menghukum. Aku datang untuk mencari kebenaran tentang kita.” *** Beberapa jam kemudian, Nayla terbangun oleh suara pintu kamar mandi. Ia menoleh dan mendapati Leonard sedang berdiri, mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang longgar. Tatapan mereka bertemu. Tak ada pelarian kali ini. Nayla bangkit dari sofa. “Kau pulang...” Leonard mengangguk. “Dan aku tak ingin jawaban dari semalam. Aku ingin kenyataan dari malam ini.” Ia berjalan mendekat. Lalu berhenti beberapa langkah di depan Nayla. “Apakah kau mencintainya?” Pertanyaan itu terdengar seperti palu di d**a. Nayla menggeleng. “Tidak.” “Apakah kau pernah mencintainya?” Diam. Lalu pelan Nayla menjawab, “Ya. Tapi itu sudah mati sejak aku mengenalmu.” Leonard menatap matanya lebih dalam. “Kalau begitu, kenapa kau diam saat dia mencium bibirmu?” Nayla menggenggam tangannya. “Karena aku terkejut. Karena aku... takut. Takut bahwa masa laluku masih punya kekuasaan. Tapi aku juga sadar, satu-satunya pria yang bisa menumbangkan pertahananku sepenuhnya... adalah kamu.” *** Leonard menghela napas panjang. “Di dunia ini, Nayla, terlalu banyak yang memanggil dirinya pelindung... padahal mereka pemangsa.” Ia mendekat, meletakkan tangannya di pipi Nayla. “Alvaro memanggilmu agar kabur. Aku menarikmu agar berdiri. Dia cium kau karena ingin mengklaim. Aku peluk kau karena ingin melindungi.” “Dan aku memilih pelindungku,” bisik Nayla. Tapi Leonard belum memeluknya. Matanya masih menyimpan jarak. “Aku bukan pria suci, Nayla. Aku pernah membiarkan perempuan menangis karena aku terlalu keras. Aku pernah menjatuhkan orang yang mempercayai aku. Tapi aku tak pernah bermain-main dengan hati yang jujur.” Nayla menyentuh dadanya. “Kalau begitu, ajari aku... bagaimana mencintai tanpa rasa takut akan kehilangan.” *** Beberapa jam setelah fajar menyingsing, Leonard mengumpulkan seluruh pengawal pribadi dan kepala keamanan. “Aku ingin laporan pergerakan Alvaro. Siapa pun yang memberinya akses ke rumah ini, siapa pun yang memberinya kesempatan mendekati istriku aku ingin mereka dikeluarkan.” “Leonard,” sela Nayla, “kau tak harus mengusir semua orang. Ini bukan soal rumah, ini soal... aku.” Leonard menatapnya lama. “Kalau kau merasa perlu bicara lagi dengannya, aku tidak akan mencegah. Tapi kalau dia menyentuhmu sekali lagi, aku akan pastikan tangannya tak bisa menyentuh siapa pun lagi.” *** Di tempat lain, Aurora sedang berdiri di depan jendela tinggi penthouse mewah. Ia menerima foto dari bawahannya foto Leonard memeluk Nayla semalam. “Dia memaafkannya,” gumamnya pelan. Nathan yang duduk di sofa hanya mendecakkan lidah. “Kau bilang Nayla akan goyah.” “Dan aku salah,” balas Aurora, wajahnya datar. “Tapi manusia tidak bisa bertahan hanya dengan cinta. Mereka juga perlu... rasa aman.” Nathan mengangkat alis. “Dan kau yakin bisa menggoyahkan rasa itu?” Aurora tersenyum samar. “Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kebenaran yang sangat gelap, bahkan cinta pun enggan meneranginya.” *** Siangnya, Nayla menerima email tanpa identitas. Hanya satu file video pendek berdurasi 1 menit 20 detik. Rekaman itu memperlihatkan ibunya duduk dalam ruang interogasi, diwawancarai oleh Mahesa sendiri. “Apa kau setuju dengan skema transfer dana?” tanya Mahesa. Wanita itu menunduk. “Saya hanya ingin Nayla bisa hidup layak. Kalau saya tidak menurut, Anda ancam akan membunuh suami saya.” Mahesa tertawa pendek. “Dan kamu percaya itu ancaman? Sayang... itu janji.” *** Nayla menutup laptopnya dengan tangan gemetar. Ia sadar: ini bukan hanya soal reputasi. Ini soal kehidupan. Jika rekaman itu bocor ke media, seluruh warisan Mahesa bisa runtuh. Termasuk Leonard. Dan jika Leonard tahu ibunya bukan korban, tapi bagian dari sistem yang melanggengkan kekejaman itu... mungkinkah dia masih mau mencintai Nayla? *** Malamnya, Nayla dan Leonard duduk di ruang baca. “Ada sesuatu yang harus kau tahu,” ucap Nayla lirih. Leonard hanya memandangi wajahnya. Menunggu. Nayla lalu membuka laptop dan memutar video itu di hadapannya. Selama 1 menit 20 detik, Leonard tak berkata apa pun. Wajahnya tetap dingin, hanya rahangnya mengeras. “Dia melakukan semua itu... demi aku,” bisik Nayla. Leonard akhirnya bicara. “Dan itu artinya… ibumu... adalah bagian dari mesin Mahesa.” Nayla menunduk. “Kalau kau tak bisa lagi memercayaiku, aku mengerti. Aku akan pergi.” Leonard bangkit. Tapi bukan untuk pergi. Ia berdiri di belakang Nayla, lalu memeluknya erat dari belakang. “Aku mencintaimu bukan karena keluargamu suci. Tapi karena kau berani mengakui bahwa masa lalumu kelam. Itu... lebih jujur dari setengah manusia yang pernah duduk di dewan direksi ini.” *** Nayla menahan air matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa dicintai bukan sebagai wanita yang harus sempurna… tapi sebagai wanita yang luka dan tetap bertahan. Dan malam itu, dalam pelukan Leonard, ia tahu: Ia tidak sedang dipeluk oleh pemangsa. Ia sedang dipeluk oleh pelindung… yang siap menghunuskan pedang bagi siapa pun yang menyakitinya. *** Di pagi berikutnya, udara di rumah Atmajaya terasa lebih sunyi dari biasanya. Seolah dinding-dindingnya menyimpan percakapan yang tak ingin didengar siapa pun. Nayla berdiri di balkon lantai dua, memandangi langit yang mendung. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang mulai mendingin. Tapi bukan kopi itu yang membuatnya gelisah, melainkan ingatan akan pelukan Leonard semalam. Hangat… sekaligus menggetarkan. Ia ingin mempercayai bahwa pelukan itu adalah tanda kepercayaan yang tak tergoyahkan. Tapi jauh di lubuk hatinya, ketakutan terus mengintai: sampai kapan Leonard bisa bertahan… jika lebih banyak kebenaran pahit terungkap? *** Di ruang kerjanya, Leonard berdiri di depan layar besar yang menampilkan grafik saham, laporan keuangan, dan... satu folder baru dari tim investigasi internal. Labelnya sederhana: "Alvaro Raharja – Keterlibatan Non-Publik." Ia mengkliknya. Terdapat laporan bahwa Alvaro tengah mendekati salah satu pemegang saham kunci yang dulu loyal pada Mahesa. Dugaan sementara: Alvaro sedang menyiapkan struktur bayangan untuk mendirikan perusahaan pesaing berbasis data warisan Mahesa yang tidak pernah tercatat secara resmi. “Dia tak hanya ingin Nayla,” gumam Leonard. “Dia ingin warisan ini.” *** Beberapa saat kemudian, Nayla masuk ke ruang kerja. “Aku perlu bicara soal ibuku,” katanya tanpa basa-basi. Leonard menoleh. “Aku sudah tahu.” “Kau marah?” “Tidak,” Leonard menjawab jujur. “Aku kecewa, mungkin. Tapi bukan padamu. Aku kecewa karena sistem yang menciptakan semua ini.” Nayla mendekat. “Kalau rekaman itu bocor, bukan hanya nama ibuku yang hancur, tapi kau juga. Kau akan dicap sebagai pewaris kekuasaan dari sistem yang memaksa orang untuk tunduk.” “Aku tak peduli reputasi,” Leonard menatapnya. “Aku hanya peduli satu hal: apakah kau masih di sisiku saat semua runtuh.” Nayla tersenyum pahit. “Kalau aku di sisimu, bukan berarti badai akan reda. Tapi setidaknya, kau tak akan menanggungnya sendirian.” *** Beberapa jam kemudian, mereka berdua bertemu dengan pengacara keluarga dan penasihat media. “Kita bisa cegah penyebaran video itu kalau kita tahu siapa yang menyimpan salinannya,” kata pengacara. “Tapi ini bukan hanya tentang video,” ujar Leonard tegas. “Ini tentang permainan dua lapis: Alvaro memanfaatkan sisi pribadi Nayla untuk menjatuhkan sisi profesionalku.” “Lalu, apa langkah selanjutnya?” Leonard menoleh ke arah Nayla. “Kita akan buka masa lalu kita... sebelum mereka sempat menggunakannya.” Mata pengacara terbelalak. “Maksud Anda...?” “Kita yang rilis video itu.” *** Keputusan itu gila. Tapi brilian. Beberapa hari kemudian, media ekonomi dan politik nasional dikejutkan oleh pernyataan resmi dari Leonard dan Nayla: Sebuah video pengakuan yang membongkar hubungan ibunda Nayla dengan Mahesa dan bagaimana Mahesa menggunakan kekuasaan untuk menekan, bukan hanya bisnis, tapi juga kehidupan pribadi orang-orang di sekitarnya. Alih-alih panik, publik justru… simpati. Netizen menyuarakan dukungan. Beberapa komisaris mengapresiasi keterbukaan Leonard. Dan yang paling menyakitkan bagi Aurora dan Alvaro? Permainan mereka kehilangan senjata utamanya. *** Malam itu, setelah konferensi pers usai, Nayla duduk bersandar di d**a Leonard di sofa ruang kerja. “Aku takut... dunia akan membenciku.” Leonard membelai rambutnya. “Dunia tak butuh wanita sempurna. Dunia butuh wanita yang berani hidup dengan jujur.” Nayla menatap matanya. “Dan jika suatu hari aku tak sanggup berdiri lagi?” Leonard mengangkat dagunya lembut. “Kalau kau jatuh, aku akan duduk di sampingmu. Kalau kau merangkak, aku akan menjatuhkan diri agar kita sejajar. Tapi kalau kau berlari... aku takkan membiarkan siapa pun menyentuhmu.” *** Dan malam itu, di ranjang yang pernah dingin karena jarak dan curiga, tubuh mereka bersatu kembali. Bukan hanya karena cinta, tapi karena kebenaran yang akhirnya membuat mereka telanjang sepenuhnya bukan di kulit, tapi di jiwa. Pelukan Leonard bukan lagi benteng. Ciuman Nayla bukan lagi pelarian. Dan desahan di antara napas mereka bukan lagi kesakitan... melainkan kelegaan, bahwa mereka masih saling memilih bahkan setelah semua luka terbuka. *** Tapi di luar sana, dalam bayang-bayang gedung tua yang dulu menjadi tempat Mahesa mengatur kekuasaannya, Alvaro dan Aurora menyusun rencana baru. Karena dalam permainan kekuasaan, jika satu rahasia gagal menjatuhkan lawan, maka satu-satunya cara yang tersisa... adalah merusak hati yang saling percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD