Ciuman Untuk Sang Iblis

1474 Words
Dalam setiap kerajaan yang tumbuh dari ambisi dan darah, selalu ada satu momen ketika cinta diuji oleh kesetiaan... dan dicium oleh pengkhianatan. Malam itu, saat Leonard berangkat ke Zurich, Nayla berdiri di ambang rumah yang mulai terasa seperti medan perang. Ia tidak tahu bahwa malam ini, seseorang dari masa lalu akan datang bukan untuk meminta penjelasan, tetapi untuk mengambil sesuatu yang pernah menjadi miliknya: hatinya. *** Rumah keluarga Atmajaya sunyi, seperti raksasa tidur yang menyimpan rahasia. Nayla duduk di perpustakaan, menelusuri kembali dokumen lawas milik Adrian ayah kandungnya. Semakin dalam ia membaca, semakin jelas keterlibatan ibunya dalam operasi kelam Mahesa. Ia tahu, jika Leonard tahu semua ini, dunia mereka akan runtuh. Dan saat bel rumah berdentang, jantung Nayla ikut melompat. Ia membuka pintu… dan menemukan seorang pria berdiri di bawah cahaya bulan, mengenakan jaket hitam panjang, wajahnya tampan dengan mata kelam yang menyimpan badai. “Sudah lama, Nayla.” Suara itu seperti cermin masa lalu yang retak dan berdarah. “Alvaro…” *** Alvaro Raharja. Saudara tirinya dari pernikahan gelap sang ayah yang dulu nyaris menjadi tunangannya sebelum semua rahasia terbongkar. Hubungan mereka rumit, kabur antara kasih sayang dan pengkhianatan. Pria yang dulu menyelamatkannya saat Adrian menghilang, pria yang dulu… dicintainya sebelum Leonard datang. Kini, ia berdiri di hadapannya lagi. “Aku dengar suamimu sedang ke luar negeri,” kata Alvaro sembari masuk begitu saja. “Kau sendirian?” Nayla menahan nafas. “Kenapa kau ke sini?” “Aku ingin memperingatkanmu. Aurora sedang membuka arsip Yayasan Mahesa. Nama ibumu akan muncul. Dan saat itu terjadi… Leonard akan tahu siapa kau sebenarnya.” Nayla menutup pintu. “Dia akan mengerti.” “Tidak,” jawab Alvaro dingin. “Karena dia pewaris Mahesa. Dan kau anak dari pengkhianat Mahesa. Cinta tidak cukup untuk menjembatani dua dunia yang dibangun atas darah dan kehancuran.” “Jadi kau datang hanya untuk menakutiku?” Alvaro mendekat, matanya menusuk ke dalam. “Aku datang untuk menawarkan pilihan: ikut denganku, keluar dari rumah ini, dan kubantu bersihkan namamu. Atau... tetap di sini dan tunggu kehancuran datang.” Nayla tersenyum tipis. “Kau pikir aku akan lari darinya?” “Aku tahu kau pernah ingin lari darinya, dari dunia ini... dan dari cintamu padaku yang belum sepenuhnya mati.” Nayla membeku. Alvaro mengangkat tangan, menyentuh dagunya lembut. “Kau ingat malam saat kita bersembunyi dari Adrian? Saat kau bilang... aku satu-satunya yang membuatmu merasa aman?” Nayla menarik diri. “Itu sebelum aku tahu siapa kau sebenarnya.” “Dan sekarang kau tahu siapa Leonard sebenarnya, Nayla. Dia bukan hanya CEO. Dia pewaris kekejaman Mahesa. Dan kau tahu apa yang dilakukan Mahesa pada ibumu...” *** Nayla menatap Alvaro, matanya bergetar. “Leonard… berbeda.” “Kau yakin?” bisik Alvaro, lalu menunduk… dan menciumnya. Ciuman itu tak lembut. Tak penuh gairah. Itu ciuman untuk menguji. Ciuman yang ingin memanggil kembali masa lalu cinta yang lama tertimbun. Dan selama tiga detik, Nayla tidak menolak. Tiga detik cukup untuk membuatnya kembali pada titik paling gelap dari sejarahnya. Lalu ia menampar Alvaro, keras. “Jangan pernah lakukan itu lagi!” Alvaro tersenyum miring, menahan rasa sakit di pipinya. “Kau bereaksi... bukan karena marah. Tapi karena takut kau masih menyukaiku.” “Keluar.” “Kau akan butuh aku nanti,” katanya. “Karena saat Leonard tahu semua... kau akan kehilangan bukan hanya cintanya, tapi juga kekuasaannya.” *** Setelah Alvaro pergi, Nayla berdiri lama di depan kaca, menatap pantulan wajahnya sendiri penuh keraguan, amarah, dan rasa bersalah. Tangannya menyentuh bibirnya. Ciuman itu... mengusik. Tapi tidak menghidupkan. Yang menghidupkannya adalah ingatan akan Leonard pelukan hangat, tatapan tajam yang berubah lembut saat menyebut namanya. Ia berjalan ke kamar, membuka lemari rahasia, dan mengambil kotak kecil berisi rekaman audio Mahesa yang belum pernah ia serahkan pada Leonard. Rekaman itu bukan hanya berisi strategi keuangan. Tapi... pengakuan Mahesa soal wanita yang pernah ia hancurkan: ibu Nayla. “Dia bukan korban. Dia bagian dari permainan. Tapi dia satu-satunya yang membuatku takut.” Nayla menatap langit-langit kamar. “Dan aku... adalah hasil dari ketakutan itu.” *** Pagi harinya, Leonard menelepon. Wajahnya muncul di layar, dengan latar belakang ruang pertemuan Zurich yang dingin dan elegan. “Ada yang aneh. Salah satu deposit box dibobol duluan. Tapi bukan oleh Nathan.” Nayla menahan napas. “Siapa?” Leonard ragu. “Ada nama dalam log pengunjung... Alvaro Raharja.” Jantung Nayla mencelos. “Dia sudah di sini sebelum aku. Dan dia meninggalkan pesan untukku.” “Apa pesannya?” Leonard menatap langsung ke kamera. “Cium istrimu sebelum aku melakukannya lagi.” Nayla menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya menegang. Leonard mendekatkan wajah ke kamera. “Apa maksudnya, Nayla?” Dan saat itu juga, Nayla tahu: Perang tak lagi tentang saham atau pewaris. Tapi tentang siapa yang bisa mencuri hati lebih dulu… dan siapa yang cukup kuat untuk tidak tergoda oleh iblis dalam balutan masa lalu. *** “Cium istrimu sebelum aku melakukannya lagi.” Kalimat itu menggantung di udara, lebih tajam daripada pisau. Di layar, Leonard menatap Nayla dengan sorot mata yang tak biasa bukan hanya marah, tapi juga hancur. “Nayla,” suaranya berat. “Apa maksudnya dia?” Nayla menelan ludah. “Alvaro datang tadi malam. Dia tahu banyak tentang ibuku, dan—” “Dan?” potong Leonard. “Dia... menciumku,” jawab Nayla lirih. Hening. Nafas Leonard terlihat menggumpal di udara dingin Zurich, padahal ia berada di dalam ruangan. “Apa kau membalasnya?” “Tidak.” Terlambat. Kebohongan kecil, dan Leonard tahu. “Berapa detik kau membiarkannya?” “Leonard... tolong dengarkan aku—” “Berapa detik, Nayla?” “Tiga detik.” Jawaban itu jatuh seperti palu godam. *** Leonard memejamkan mata sejenak. “Kau tahu apa yang paling aku takutkan? Bukan tentang perusahaan. Bukan tentang Nathan. Tapi tentang kehilangan kepercayaan pada satu-satunya orang yang bisa kutelanjangi tanpa takut ditikam.” “Leonard, aku terkejut. Itu bukan—” “Bukan pengkhianatan?” desis Leonard. “Kalau dia menyentuh tubuhmu dan kau diam, itu pengkhianatan. Tapi kalau dia menyentuh jiwamu… dan kau ragu… itu pengkhianatan yang lebih dalam.” Air mata mulai membasahi wajah Nayla. “Aku takut, Leo. Aku takut kau tinggalkan aku saat tahu siapa aku sebenarnya. Aku takut... cinta kita tidak cukup kuat untuk menahan masa lalu yang kotor ini.” Leonard menatapnya. “Cinta kita cukup kuat. Tapi hanya jika keduanya berani jujur... bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang siapa yang menyentuhmu hari ini.” *** Beberapa jam setelah panggilan itu, Nayla duduk sendirian di kamar, menggenggam rekaman terakhir yang disimpan Adrian untuk dirinya. Ia menekan tombol play. “Kalau rekaman ini sampai padamu, Nayla... berarti kau sudah berdiri di tepi jurang. Tapi jurang itu bukan Leonard. Jurang itu... adalah hatimu sendiri. Jangan biarkan cinta masa lalu mematahkan cinta masa depanmu.” Nayla menatap jendela malam, dan tahu… Ia harus memilih: antara menutup luka atau membiarkan luka itu menjatuhkannya ke dalam pelukan orang yang salah. *** Sementara itu, di Zurich, Leonard duduk bersama salah satu penasihat senior Mahesa yang kini sudah pensiun Tuan Bram. “Mahesa tahu Alvaro menyimpan banyak informasi yang bisa menjatuhkan siapa saja,” ujar Bram. “Tapi dia tidak pernah membunuhnya.” “Kenapa?” “Karena Alvaro adalah bagian dari eksperimen Mahesa tentang warisan, tentang pewaris alternatif. Mahesa punya ide gila untuk melihat siapa yang akan lebih pantas, anak yang tumbuh dalam kekuasaan atau anak yang tumbuh dalam luka.” Leonard bersandar, wajahnya berat. “Dan Nayla?” Bram menatapnya dalam-dalam. “Nayla... adalah keseimbangan dari dua sisi itu. Itulah kenapa dia berbahaya. Bukan karena dia berbohong. Tapi karena dia bisa mengubah apapun yang disentuhnya menjadi kekuatan atau kehancuran.” *** Malam itu, Nayla mengetik surat panjang untuk Leonard. "Jika aku harus memilih, maka aku memilihmu. Bukan karena kau suamiku, tapi karena bersamamu... aku jadi lebih berani menghadapi bagian tergelap dari diriku sendiri. Ciuman dari Alvaro bukanlah tanda bahwa aku ingin kembali. Itu adalah luka yang belum sempat kututup. Tapi sekarang... aku memilih menyembuhkannya bersamamu." Ia menekan send. Tapi tak ada balasan. Hanya tanda “dibaca” yang menggantung seperti tali tak terlihat. *** Di Zurich, Leonard menatap layar ponselnya. Lalu menatap ke luar jendela hotel yang dipenuhi salju. Perang dalam hatinya belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya sejak Alvaro muncul, ia tidak hanya marah... ia takut kehilangan Nayla. Dan itu membuatnya sadar, bahwa di medan perang kekuasaan ini, musuh terbesarnya bukan Nathan... bukan Aurora… tapi egonya sendiri. Dan kalau ia ingin Nayla tetap di sisinya… ia harus mencintainya dalam kebenaran, bukan dalam kendali. *** Saat malam hampir berganti pagi, Nayla menerima satu pesan: “Aku akan pulang. Tapi bukan sebagai pria yang hanya ingin menang. Aku akan pulang sebagai pria yang ingin memperjuangkanmu... kalau kau masih menginginkanku.” — Leonard Dan ketika pesan itu selesai dibaca, Nayla hanya berbisik pada dirinya sendiri: "Aku masih menginginkanmu, Leonard. Bahkan setelah ciuman untuk sang iblis..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD