Dua Pewaris, Satu Tahta

1594 Words
Nama Atmajaya tak pernah lahir dari kelembutan. Ia ditempa dari kebohongan, kesepakatan gelap, dan darah yang tidak pernah benar-benar dibersihkan dari lantai rapat perusahaan. Tapi pagi itu, dua orang yang mewarisi nama besar itu Leonard dan Nathan akan duduk di meja yang sama untuk pertama kalinya. Dan hanya salah satu dari mereka yang akan keluar sebagai raja. *** Ruang rapat utama Atmajaya Corp dipenuhi para direksi, komisaris, investor, dan wartawan ekonomi. Ini bukan rapat biasa ini adalah pertemuan mendadak yang disebut “pertemuan keluarga terbatas” atas desakan hukum setelah Nathan mengajukan gugatan hak waris dengan membawa surat wasiat versi rahasia yang ia curi dari ruang bawah. Aurora duduk manis di deretan belakang, mengenakan blazer merah darah, bibirnya menyungging senyum yang tampak netral… tapi menyimpan banyak pisau di baliknya. Nayla duduk di sisi Leonard, mengenakan gaun hitam elegan tanpa perhiasan mencolok. Wajahnya tenang, tapi pandangannya tajam seperti ksatria yang sedang mengukur musuhnya di arena duel. “Pihak kami telah menyerahkan bukti legal bahwa klien kami, Nathan Alvaro, adalah anak kandung Mahesa Atmajaya dari hubungan yang tidak sah, namun diakui secara finansial dan pribadi oleh almarhum,” ujar kuasa hukum Nathan di hadapan forum. “Dan menurut surat wasiat yang kami miliki, Nathan berhak atas 40% saham aktif perusahaan serta posisi strategis dalam direksi.” Leonard bersandar di kursinya. Tak terkejut, tapi tidak juga santai. Ia berdiri. “Benar, ayah saya menulis wasiat itu. Tapi surat tersebut belum pernah disahkan notaris karena Mahesa meninggal sebelum finalisasi legal dilakukan. Di mata hukum itu hanya draft pribadi, bukan dokumen sah.” Beberapa direktur mulai berbisik-bisik. Suasana memanas. Nathan berdiri. “Ayah kita mungkin tidak sempat mengesahkan surat itu, tapi ia memberi saya akses ke sebagian aset dan properti di luar negeri. Termasuk dana di Swiss yang tidak pernah kau sentuh, Leonard.” Wartawan langsung mencatat cepat. Kamera mulai merekam tanpa henti. Nayla membisikkan sesuatu di telinga Leonard. Leonard mengangguk, lalu mengangkat dokumen. “Saya juga punya surat. Ditulis Mahesa dua minggu sebelum dia mati. Isinya menyatakan bahwa seluruh keputusan final soal warisan akan dilakukan setelah pemantauan karakter masing-masing pewaris. Surat ini ditandatangani oleh Mahesa dan dua saksi dari dewan komisaris.” Nathan terdiam sesaat. Leonard menatap langsung mata saudara tirinya. “Artinya, pewaris utama bukan hanya ditentukan dari darah… tapi dari siapa yang cukup stabil untuk memimpin kerajaan ini.” *** Pertemuan diskors dua jam untuk sidang internal dewan. Di luar ruangan, para media sibuk melempar spekulasi. Tapi di ruang kecil dekat lift eksekutif, dua pewaris yang kini saling membenci berdiri berhadapan tanpa kamera. “Kau tidak pantas mewarisi nama ini,” desis Nathan. “Kau yang datang mencuri rumah ini seperti serigala lapar,” balas Leonard tenang. “Aku tak akan kalah, Leonard. Kau terlalu lunak. Lihat dirimu dikelilingi oleh istri yang punya latar belakang mencurigakan, para staf yang membocorkan data, dan komisaris yang mulai berpihak padaku.” Leonard mendekat. “Dan kau lupa satu hal.” “Apa?” “Aku tidak akan membiarkan satu pewaris bayangan merusak semua yang aku bangun. Bahkan jika itu artinya… aku harus melawan darah dagingku sendiri.” *** Di ruang lain, Nayla memeriksa kembali dokumen milik almarhum ayahnya: catatan merger, transfer aset, rekaman percakapan Mahesa-Adrian Raharja. Salah satu rekaman diaktifkan. Suara Mahesa terdengar jelas: “Anak yang sah bukan hanya ditentukan dari s****a, Adrian. Tapi dari siapa yang bisa menahan diri untuk tidak membunuh demi kekuasaan.” Dan di akhir rekaman, suara Mahesa menyebut satu nama: “Leonard… akan jadi pewaris. Nathan… tak pernah punya kendali.” Nayla menggenggam ponsel. Ia tahu: ini senjata pamungkas. *** Setelah dewan kembali, suasana lebih panas. Nathan meluncurkan tekanan terakhir: ancaman akan membawa kasus ini ke pengadilan waris, yang bisa mengganggu harga saham, menarik investor keluar, dan menyebabkan kerugian miliaran. Leonard tetap tenang. Lalu Nayla berdiri. “Jika tujuan Nathan hanya saham dan kursi direksi, maka bawa ini ke pengadilan. Tapi jika tujuannya menghancurkan Leonard, maka dengarkan rekaman ini lebih dulu.” Ia menekan tombol. Suara Mahesa mengisi ruang. Para anggota dewan terdiam. Nathan membatu. Aurora… menyeringai kecut. *** Setelah rekaman selesai, suasana berubah drastis. Beberapa komisaris berdiri, membatalkan dukungan untuk Nathan. Investor mulai bergerak keluar ruangan, menunjukkan arah pasar yang mulai berpihak pada Leonard. Nathan menatap Nayla, marah bercampur frustrasi. “Jadi ini rencanamu? Mempermainkan dua pewaris untuk melihat siapa yang akan kau pertahankan?” Nayla menatapnya tajam. “Bukan begitu caraku bermain, Nathan. Aku hanya bantu tunjukkan… siapa yang memang lahir untuk duduk di tahta.” *** Pertemuan ditutup dengan keputusan: Nathan boleh mengajukan gugatan perdata, tapi tidak akan diakui sebagai pewaris eksekutif perusahaan. Semua pengawasan atas saham Leonard dan masa depan Atmajaya Corp tetap di tangan CEO sah: Leonard Atmajaya. Saat Nathan keluar ruangan, Aurora mengejarnya. “Kita belum selesai,” katanya. Nathan tersenyum pahit. “Kau bilang aku bisa menyingkirkan Leonard. Tapi kau lupa satu hal.” “Apa?” “Dia punya istri… yang lebih berbahaya darimu.” *** Malamnya, di rumah, Leonard dan Nayla duduk berdampingan di ruang kerja Mahesa yang kini jadi tempat perencanaan masa depan mereka. “Ini belum selesai,” ujar Nayla. Leonard mengangguk. “Tapi untuk hari ini… kita menang.” Ia menggenggam tangan Nayla. “Kau tidak perlu jadi wanita sempurna untukku. Kau hanya perlu tetap di sisiku… saat semua ini semakin gelap.” Nayla menatap matanya. “Aku tidak akan pergi.” Dan di atas tahta yang masih panas karena ambisi dan darah, dua pewaris itu… akhirnya memilih untuk memerintah bersama. Tapi di balik bayangan, Aurora dan Nathan belum berhenti merajut akhir mereka. Karena dalam cerita ini… hanya satu tahta yang akan bertahan. *** Setelah pertemuan rapat itu bubar, gedung Atmajaya Corp tak langsung tenang. Beberapa kamera masih berputar di luar, para wartawan berbisik dengan nada penuh intrik, dan di dalam ruang CEO, Nayla dan Leonard akhirnya bisa menghembuskan napas lega untuk sesaat. Leonard membuka dasinya perlahan. Lengan kemejanya digulung, memperlihatkan bekas goresan luka lama di dekat pergelangan tangan. “Pernah ingin menyerah?” tanya Nayla, menyodorkan segelas air. Leonard menerima gelas itu, mengangguk kecil. “Hampir setiap hari sejak Ayah meninggal. Tapi hari ini... untuk pertama kalinya, aku merasa layak berada di kursi ini.” “Karena kau memang pantas.” Leonard menatapnya. “Aku tidak akan bisa melakukannya tanpamu.” Nayla tersenyum kecil. “Dan aku tidak akan pernah percaya pada kekuasaan... sampai aku jatuh cinta pada pemiliknya.” Ia berjalan mendekat, menyentuh bahu Leonard, lalu memeluknya dari belakang. Dalam diam itu, keduanya tahu: kemenangan hari ini bukan akhir. Itu baru pembuka perang panjang yang belum selesai. *** Di tempat lain, Nathan berdiri di jembatan layang yang menghadap ke pusat kota. Rokok menyala di tangannya, dan napasnya berat. Aurora berdiri di sampingnya, angin malam meniup rambut panjangnya ke arah wajahnya yang dingin. “Kau kecewa?” tanya Aurora datar. Nathan tertawa kecil. “Aku marah. Tapi tidak terkejut. Leonard memang selalu selangkah di depan... apalagi dengan wanita seperti Nayla di sisinya.” Aurora menyipitkan mata. “Kau bilang dia mudah dikendalikan.” “Dia memang. Tapi hanya saat dia sendirian. Sekarang… dia punya Nayla.” Aurora melipat tangannya. “Kita harus memisahkan mereka. Lalu pukul di titik paling rapuh.” “Cinta mereka?” Aurora tersenyum. “Cinta mereka... terlalu kuat. Tapi rahasia Nayla? Itu titik lemahnya. Dan aku punya orang dalam yang bisa menggalinya lebih dalam dari siapa pun.” Nathan membuang rokoknya ke aspal. “Kalau begitu, kita rebut tahtanya... bukan dari kekuasaan, tapi dari keretakan di ranjangnya.” *** Keesokan harinya, Nayla menerima paket tanpa nama di meja kerjanya di rumah. Di dalamnya, sebuah kotak kecil berisi bros antik yang pernah dikenakan ibunya… saat menghadiri acara amal Mahesa, bertahun-tahun lalu. Nayla menegang. Bersama kotak itu, sepucuk surat: “Kau pikir kau bisa menyembunyikan asalmu, Nayla Raharja? Jika Leonard tahu bahwa ibumu adalah bagian dari proyek kotor Mahesa, apakah dia masih memanggilmu istrinya?” Tangannya gemetar. Leonard belum tahu siapa ibunya sebenarnya. Hanya tahu bahwa Nayla anak dari pria yang dijebak Mahesa. Tapi kenyataannya, ibunya… pernah bekerja di balik layar yayasan Mahesa, membantu pencucian dana dan membungkam saksi kunci. Bukan karena jahat, tapi karena terjebak. Dan kini, bayangan masa lalu itu muncul kembali, menjanjikan kehancuran. *** Malamnya, Leonard duduk bersama Nayla di balkon rumah. “Besok kau ikut denganku ke Zurich,” katanya pelan. “Zurich?” “Ada pertemuan dengan pemegang saham lama Ayah. Dan... kita perlu amankan dokumen asli yang disimpan di safety deposit box. Kalau Nathan lebih dulu sampai di sana, dia bisa membalikkan permainan.” Nayla terdiam sesaat. “Kita tak bisa pergi berdua.” Leonard menoleh. “Kenapa?” Nayla menggenggam tangannya. “Karena ada seseorang dari masa laluku… yang akan mencariku jika kita pergi.” “Siapa?” Nayla menatap matanya dengan jujur. “Orang yang tahu siapa ibuku sebenarnya. Dan aku harus hadapi dia di sini. Sendirian.” Leonard terdiam. Lama. Lalu menarik Nayla ke pelukannya. “Aku percaya padamu.” *** Beberapa jam kemudian, di tempat gelap yang tak disebutkan, Aurora menerima laporan dari mata-matanya. “Mereka akan terpisah,” ujar si pria. “Leonard ke Zurich. Nayla tinggal.” Aurora tersenyum puas. “Bagus. Pisahkan mereka… lalu kita buka luka yang selama ini tersembunyi.” Ia menatap foto Nayla dan ibunya foto lawas yang diambil dalam pesta mewah yang sudah lama dibungkus sejarah. “Setiap tahta selalu punya keretakan. Dan Nayla... adalah retakan itu.” *** Dan malam itu, ketika Nayla berbaring sendirian di ranjang yang biasanya hangat oleh pelukan Leonard, ia tahu satu hal: Kekuasaan tidak hanya direnggut lewat perang. Tapi lewat rahasia. Lewat cinta. Dan lewat pengkhianatan kecil yang datang perlahan… seperti bisikan di balik punggung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD