Tamu Tak Diundang dari Masa Lalu

1653 Words
Hari itu dimulai seperti biasa. Atau setidaknya, berusaha terlihat biasa. Leonard duduk di meja makan dengan setelan abu-abu, membuka laporan saham yang bergerak naik-turun akibat spekulasi pasar. Nayla berdiri di belakangnya, menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen sambil memandangi layar ponsel yang terus-menerus menampilkan pesan tak dikenal: “Dia akan datang hari ini. Siapkah kau membukanya kembali?” Belum sempat ia mencerna maksud pesan itu, bunyi bel rumah terdengar panjang dan mengganggu keheningan pagi. Keduanya saling menatap. Leonard berdiri lebih dulu. “Aku yang buka.” Tapi yang berdiri di balik pintu bukanlah kurir, bukan pula staf perusahaan. Itu seorang pria. Berusia sekitar awal empat puluhan, tinggi, berpenampilan elegan dengan setelan hitam dan rambut tertata rapi. Matanya menyala dengan kombinasi pesona dan ancaman. Senyum tipis di bibirnya menyimpan masa lalu yang tidak bisa dihindari. “Leonard Atmajaya,” ucapnya. “Sudah lama, ya?” Leonard menyipitkan mata. “Nathan.” Nayla muncul di belakang suaminya. “Siapa dia?” Pria itu menoleh. “Kau pasti Nayla. Aku… saudara tirinya.” *** Nathan Atmajaya. Anak Mahesa dari wanita simpanan yang disembunyikan bertahun-tahun. Tak pernah diakui secara sah. Tapi kabarnya, Nathan pernah dikirim ke luar negeri oleh Mahesa sendiri untuk dijauhkan dari bisnis keluarga. Ia adalah bayangan keluarga. Bayangan yang kini kembali… membawa agenda. Leonard mempersilakannya masuk dengan ketegangan yang bisa dirasakan dari ujung jari. Nayla memperhatikan cara Leonard menggertakkan rahangnya, cara Nathan duduk santai seolah rumah itu miliknya. “Kenapa kau di sini?” tanya Leonard tanpa basa-basi. “Aku dapat undangan,” jawab Nathan ringan. “Dari siapa?” Nathan tersenyum. “Dari masa lalu kita. Dan dari seseorang yang ingin melihat Atmajaya Corp terbakar dari dalam.” Nayla menatap tajam. “Aurora?” Nathan hanya mengangkat bahu. “Aku tak suka menyebut nama perempuan yang dulu hampir menikah denganku, tapi malah mengejar pewaris yang diakui.” Leonard mengepal tangan di pangkuannya. “Jadi kau datang untuk balas dendam?” “Tidak,” jawab Nathan. “Aku datang untuk mengambil bagianku. Warisan yang selama ini ditahan. Dan… mungkin juga wanita yang bisa memimpin bersamaku.” Tatapan matanya terarah langsung pada Nayla. Suasana berubah membeku. *** Beberapa jam kemudian, Nathan sudah pergi. Tapi jejaknya masih terasa seperti racun yang perlahan menyebar di udara. Leonard menutup pintu ruang kerja dengan keras. “Dia kembali bukan sekadar menuntut warisan. Dia ingin menghancurkan segalanya.” “Dan dia kenal baik Aurora,” kata Nayla. “Bahkan lebih baik dari yang kita tahu.” Leonard menatap istrinya. “Kau lihat bagaimana dia memperhatikanmu?” “Ya. Dan aku tidak menyukainya.” Leonard berjalan mendekat, menahan pinggang Nayla dan berkata pelan, “Mulai hari ini, apa pun yang kau dengar dari masa laluku… dari mereka... jangan percaya sebelum kau tanya langsung padaku.” Nayla menatapnya. “Dan kalau kau menyembunyikan sesuatu?” Leonard menunduk sedikit. “Aku tak akan berani. Karena aku lebih takut kehilanganmu... daripada kehilangan saham perusahaan.” *** Sore harinya, Nayla menerima pesan baru: “Nathan bukan hanya tamu tak diundang. Dia pewaris sah kedua. Dan dia tahu siapa kamu, Nayla. Semua rahasiamu.” Pesan itu disertai foto: Nayla sedang duduk di ruang rumah sakit tua, bersama seorang pria yang wajahnya disensor. Tapi Nayla tahu persis siapa orang dalam foto itu. Ayah kandungnya. Bukan pria yang dibesarkan oleh media sebagai ayah kandungnya, bukan pengacara sederhana yang mati dalam bangkrut… tapi seseorang yang punya hubungan dengan dunia Mahesa yang jauh lebih dalam. Nayla terduduk di kursi, dadanya sesak. Jika Nathan benar-benar tahu, maka waktunya tak lama. Karena begitu Leonard tahu rahasia itu, semuanya bisa runtuh. Cinta. Kepercayaan. Bahkan keselamatannya sendiri. *** Malamnya, Leonard duduk sendirian di kamar kerja Mahesa yang tak pernah dibuka. Ruangan itu penuh aroma kayu tua dan buku hukum lama. Tapi di dalam laci rahasia meja, ia menemukan hal yang jauh lebih penting: Surat wasiat revisi terakhir. Ada dua nama tertulis: Leonard Atmajaya… dan Nathan Alvaro. Alvaro. Leonard terdiam. “Alvaro…” bisiknya. Seketika kepalanya menoleh. Matanya membulat. Ia ingat sesuatu yang Nayla sebut di awal pernikahan mereka tentang Alvaro, sahabatnya dulu, yang juga pernah muncul di hidup Nayla. Apakah ini… orang yang sama? *** Di luar kamar kerja, Nayla berdiri sambil memegangi foto yang tadi ia terima. Nafasnya tidak beraturan. Ia hendak masuk dan jujur mengatakan semuanya, termasuk tentang ayah kandungnya, tentang pria bernama Adrian Raharja yang punya koneksi dengan Mahesa. Tapi sebelum ia sempat mengetuk… Leonard membuka pintu dari dalam. Mereka saling menatap. Sama-sama ingin bicara. Sama-sama menyimpan potongan bom waktu di balik d**a. “Kita harus bicara,” ucap Nayla pelan. “Aku juga,” jawab Leonard, suaranya nyaris serak. Tapi belum sempat kata berikutnya meluncur, telepon Leonard berbunyi. Ia mengangkatnya, wajahnya berubah dalam hitungan detik. “Ada apa?” tanya Nayla waspada. Leonard menatapnya, raut wajahnya dingin dan tajam. “Ada penyusup yang masuk ke rumah... dan mengambil salinan dokumen dari ruang bawah.” “Siapa?” Leonard mendekat. Bibirnya hanya berbisik: “Nathan.” Dan malam itu, mereka sadar satu hal: Masa lalu bukan hanya datang bertamu. Tapi ia membawa bom, dan meletakkannya di tengah rumah. *** Malam itu, semua terasa terlalu sunyi untuk rumah sebesar itu. Leonard menyusuri lorong menuju ruang bawah tanah yang hanya bisa diakses dengan sidik jari milik Mahesa. Tempat itu semula adalah ruang penyimpanan anggur, tapi Mahesa mengubahnya menjadi ruang arsip rahasia sejak sepuluh tahun lalu. Kini pintu elektronik itu terbuka retakannya memancarkan cahaya merah. Dan di dalamnya, rak-rak besi berisi dokumen hukum, catatan merger, surat wasiat, serta rekaman keuangan masa lalu. Salah satu map cokelat tua… hilang. Leonard mengepal tangannya. Ia tahu hanya segelintir orang yang tahu ruangan ini eksis. Salah satunya… dirinya. Satunya lagi… Mahesa. Tapi Mahesa sudah mati. Dan kini, jejak digital menunjukkan bahwa pintu itu dibuka dengan sidik jari palsu yang disalin melalui perangkat canggih dengan akses biometrik yang bisa dibeli di pasar gelap. Siapa lagi yang punya koneksi semacam itu? Nathan. Dan jika benar Nathan mencuri dokumen itu, maka ia punya bukti untuk menyerang Leonard secara hukum. *** Sementara itu, Nayla duduk sendirian di balkon kamar mereka, menggenggam foto yang tadi ia terima. Foto dirinya bersama seorang pria berkacamata dan senyum hangat pria yang selama ini ia sembunyikan dari dunia. Ayah kandungnya: Adrian Raharja, seorang mantan penasihat hukum Mahesa… yang menghilang setelah skandal merger besar-besaran antara Atmajaya Corp dan Santosa Group. Orang-orang bilang Adrian mati bunuh diri karena dijadikan kambing hitam. Tapi Nayla tahu yang sebenarnya: Adrian “menghilang” karena menyimpan terlalu banyak kebenaran tentang Mahesa dan... proyek rahasia yang melibatkan pencucian uang lewat yayasan amal. Nayla tahu, jika informasi ini sampai jatuh ke tangan Nathan atau Aurora, maka bukan hanya Leonard yang akan hancur. Tapi dirinya juga. Karena nama Nayla yang sebenarnya adalah Nayla Raharja, bukan Nayla Pranata ada di beberapa dokumen rahasia milik Adrian. *** Tak lama kemudian, Leonard kembali ke kamar. Wajahnya gelap, tatapannya seperti badai yang belum sempat meledak. “Dia ambil salinan surat wasiat yang mencantumkan dua pewaris. Itu bisa jadi senjata hukum jika dibuka di pengadilan waris.” Nayla berdiri. “Lalu kita harus selangkah lebih cepat.” Leonard menatapnya. “Apa kau tahu... kenapa dia datang sekarang?” Diam. Lalu Nayla berkata pelan, “Karena dia tahu kamu mulai mempercayaiku.” Leonard mendekat. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Nayla. “Aku butuh kau jujur malam ini.” Nayla menelan ludah. “Aku bukan siapa yang kau kira. Namaku Nayla Raharja. Ayahku bukan pengacara kecil yang bangkrut seperti yang kusampaikan dulu. Tapi mantan tangan kanan Mahesa.” Mata Leonard melebar. “Dia menghilang setelah skandal merger. Dan aku... menyusup ke hidupmu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya, ya, aku mencurigaimu. Tapi sekarang... aku mencintaimu, Leonard. Dan itu membuat segalanya jadi berantakan.” Sunyi. Sunyi yang menusuk seperti jarum ke kulit. Leonard melangkah mundur. “Kau... menyusup?” “Untuk mencari kebenaran, bukan untuk menghancurkanmu.” “Tapi tetap saja... kau berbohong.” “Aku mencoba melindungi kita,” desak Nayla. “Jika kau tahu siapa ayahku dari awal, kau tak akan pernah memercayaiku.” Leonard memalingkan wajah. “Kau benar.” Nayla menahan air matanya. “Tapi sekarang, aku rela buka semuanya. Kita lawan Nathan dan Aurora bersama. Aku punya semua catatan ayahku. Dan aku tahu, dia bukan hanya menyimpan rahasia Mahesa... tapi juga menyimpan satu kunci besar: siapa pewaris sebenarnya yang dipilih Mahesa sebelum ia mati.” Leonard menatapnya tajam. “Apa maksudmu?” Nayla menggenggam tangannya. “Mahesa mungkin mencantumkan dua nama. Tapi hanya satu pewaris yang ia persiapkan. Dan itu... bukan Nathan.” *** Di tempat lain, Nathan duduk di suite hotel mewah, menatap dokumen hasil curiannya sambil menyeruput scotch. Aurora duduk bersilang kaki di sofa seberang, membaca salinan yang sama. “Kita akan pecah belah mereka,” gumam Nathan. “Nayla sudah mulai goyah.” Aurora tersenyum dingin. “Dan Leonard? Dia hanya butuh satu alasan kecil untuk kehilangan kendali.” Nathan memandangnya. “Setelah dia hancur, aku ambil tempatnya. Dan kau?” Aurora berdiri, mendekat, lalu berbisik di telinganya, “Aku duduk di singgasananya.” Keduanya tertawa pelan, seperti dua iblis yang menunggu guntur jatuh dari langit. *** Kembali di rumah, Nayla berdiri di depan Leonard, tatapan mereka masih panas oleh emosi. “Aku tahu aku bohong. Tapi kalau kita terus mencurigai satu sama lain, maka kita sudah kalah bahkan sebelum perang dimulai.” Leonard akhirnya bicara. Suaranya pelan. “Kalau aku terjatuh di perang ini... siapa yang akan berdiri menggantikanku?” Nayla menatapnya lurus. “Aku.” Ia mendekat dan meraih wajah Leonard. “Karena cinta kita... bukan tentang siapa yang berdarah lebih banyak. Tapi siapa yang tetap berdiri setelah badai datang.” Leonard menyentuh dahinya ke dahi Nayla. “Kalau begitu... mari kita habisi mereka. Satu per satu.” *** Dan malam itu, untuk pertama kalinya, dua pewaris sejati dari generasi penuh racun… memulai rencana balas dendam yang bukan lagi tentang uang, warisan, atau nama baik tapi tentang cinta yang tak bisa lagi dipatahkan… bahkan oleh masa lalu yang paling kelam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD